Series
94
BAB 9
WAKTU YANG SEMAKIN SEMPIT
Keesokan harinya, Darrien bangun lebih awal dari biasanya.
Ia memeriksa tas kecil yang disembunyikannya di bawah papan kayu longgar di dekat gudang.
Masih ada.
Makanan kering.
Air.
Pakaian.
Dan daun perak milik Fiona.
Semuanya masih lengkap.
Darrien menghela napas lega.
Namun ketika ia keluar dari gudang, ia melihat sesuatu yang membuat langkahnya berhenti.
Pintu belakang panti yang biasanya tidak pernah dikunci kini memiliki gembok baru.
Darrien mendekat.
Ia menyentuh gembok itu.
Masih baru.
Seseorang sengaja memasangnya.
“Darrien?”
Ia segera berbalik.
Fiona berdiri beberapa langkah di belakangnya.
“Apa yang kau lakukan?”
“Tidak apa-apa.”
Darrien memasukkan tangannya ke saku.
“Pintunya dikunci.”
Fiona ikut melihat.
“Kenapa?”
Darrien menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
Mereka kembali ke dalam.
Sepanjang pagi, Darrien memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah ada.
Jendela belakang ditutup.
Pintu gudang dikunci.
Maria beberapa kali berjalan melewati halaman tanpa alasan yang jelas.
Dan setiap kali Darrien melihat ke arahnya, wanita itu seolah sudah lebih dulu memperhatikannya.
Darrien mulai merasa tidak nyaman.
Saat Fiona sedang membantu membawa air, Maria menghampirinya.
“Kau dan Darrien akhir-akhir ini sering berbisik, ya?”
Fiona terdiam.
“Kami hanya berbicara.”
Maria tersenyum.
“Tentu.”
Ia mengusap rambut Fiona.
Gerakannya lembut.
Terlalu lembut.
“Tidak ada yang kalian sembunyikan dariku, kan?”
Fiona menggeleng.
“Tidak.”
Maria tersenyum lagi.
“Bagus.”
Ia kemudian pergi.
Fiona menatap punggungnya.
Entah mengapa, sentuhan wanita itu membuat kulitnya terasa dingin.
Sore harinya, Fiona menceritakan semuanya kepada Darrien.
“Dia bertanya apakah kita menyembunyikan sesuatu.”
Darrien langsung menatapnya.
“Dia bilang begitu?”
Fiona mengangguk.
Darrien terdiam.
Ia menatap jendela.
Kemudian pintu.
Lalu kembali kepada Fiona.
“Kita harus pergi lebih cepat.”
Fiona menelan ludah.
“Sekarang?”
“Belum.”
Darrien menggeleng.
“Kita belum punya cukup makanan.”
Ia berpikir sejenak.
“Malam lusa.”
Fiona mengangguk.
“Baik.”
Darrien menggenggam tangannya.
“Kita harus diam sampai saatnya tiba.”
Fiona membalas genggamannya.
“Aku tidak akan mengatakan apa pun.”
Malam itu, mereka kembali ke kamar seperti biasa.
Namun tidak lama setelah lampu padam, terdengar suara langkah kaki di lorong.
Berhenti.
Kemudian terdengar suara kunci diputar.
Darrien membuka mata.
Ia tidak bergerak.
Suara pintu depan panti terbuka.
Beberapa suara laki-laki terdengar dari luar.
Darrien perlahan bangkit dan mendekati jendela.
Dari celah tirai, ia melihat beberapa bayangan berdiri di halaman.
Orang asing.
Dan Maria sedang berbicara dengan mereka.
Darrien mengepalkan tangannya.
Ia tidak bisa mendengar percakapan mereka.
Tetapi ia tahu satu hal.
Mereka tidak boleh menunggu sampai lusa.
Rencana mereka telah berubah.
Mereka harus pergi malam ini.
Share this novel