Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Series
382
Get the app for full experience
BAB 160
HARI LIBUR
Pagi itu terasa berbeda.
Tidak ada latihan.
Tidak ada penelitian.
Tidak ada dokumen kerajaan.
Dan untuk pertama kalinya setelah beberapa hari—
tidak ada seorang pun yang membicarakan segel Darrien.
Elarion bahkan meninggalkan ruang eliksirnya.
Rowan, Kevin, dan Ace juga sudah terlihat jauh lebih segar setelah tidur cukup.
Fiona berjalan di tengah kelompok.
Darrien berada di sampingnya.
Mereka semua menuju kota.
Hari ini—
mereka sepakat untuk beristirahat.
“Jadi kita benar-benar tidak akan melakukan penelitian hari ini?”
Kevin bertanya untuk memastikan.
Elarion menggeleng.
“Tidak.”
Kevin langsung tersenyum.
“Bagus.”
Ace menepuk bahunya.
“Jangan bicara soal penelitian.”
“Setuju.”
Rowan menguap.
“Aku bahkan tidak mau mendengar kata ‘istana’.”
Fiona tertawa.
“Kalian benar-benar trauma.”
“Bukan trauma.”
Kevin menghela napas.
“Cuma tidak ingin mengulanginya.”
Darrien tersenyum.
“Bukankah itu sama?”
Kevin menatapnya.
“Diam.”
Semua tertawa.
***
Begitu memasuki kota—
suasana langsung berubah.
Jalanan ramai.
Pedagang membuka toko.
Orang-orang berlalu-lalang.
Aroma makanan memenuhi udara.
Fiona langsung berhenti di sebuah kios.
“Lihat!”
Darrien ikut berhenti.
“Apa?”
Fiona menunjuk beberapa makanan yang dijual.
“Aku mau mencoba itu.”
Darrien tersenyum.
“Baik.”
Elarion berjalan melewati mereka.
“Kalian baru berjalan beberapa langkah.”
Fiona tersenyum.
“Kita sedang liburan.”
Elarion menghela napas.
“Benar.”
Ia akhirnya ikut berhenti.
***
Mereka berjalan dari satu toko ke toko lain.
Rowan membeli beberapa makanan.
Kevin menemukan sebuah toko senjata dan langsung tertarik.
Ace malah sibuk mencari tempat untuk duduk.
Elarion membeli beberapa bahan ramuan meskipun sudah berjanji tidak melakukan penelitian.
Fiona melihatnya.
“Kau bilang libur.”
Elarion terdiam.
“…Ini bukan penelitian.”
Fiona menyipitkan mata.
“Benarkah?”
“Bahan biasa.”
Kevin tertawa.
“Kami sudah tahu kebiasaanmu.”
Elarion hanya menghela napas.
***
Darrien dan Fiona berjalan sedikit lebih jauh dari yang lain.
Fiona melihat berbagai toko dengan mata berbinar.
Darrien memperhatikannya.
“Kau ingin membeli sesuatu?”
Fiona berpikir.
“Belum tahu.”
Kemudian ia menunjuk sebuah toko.
“Yang itu.”
Darrien mengikuti arah jarinya.
Sebuah toko kecil dengan berbagai perhiasan sederhana.
Darrien tersenyum.
“Kau memang suka benda seperti itu.”
Fiona tertawa.
“Tidak salah, kan?”
“Tidak.”
Mereka berjalan masuk.
Sementara itu—
dari luar toko, Kevin melihat mereka.
Ia menyenggol Rowan.
“Lihat.”
Rowan menoleh.
“Hmm?”
“Pasangan itu.”
Rowan tersenyum.
“Mereka memang selalu bersama.”
Ace ikut melihat.
“Biarkan saja.”
Elarion yang mendengar percakapan itu hanya menggeleng.
“Jangan ganggu mereka.”
Kevin tertawa.
“Kami tidak melakukan apa-apa.”
***
Hari terus berjalan.
Mereka makan bersama.
Berjalan bersama.
Tertawa.
Bahkan sempat berhenti di sebuah taman kecil sebelum kembali berkeliling.
Tidak ada yang membicarakan penelitian.
Tidak ada yang membahas Crystal Hall.
Tidak ada yang mencoba mencari jawaban mengenai Darrien.
Hari itu benar-benar hanya milik mereka.
Setelah berhari-hari menghadapi sesuatu yang tidak mereka pahami—
akhirnya mereka bisa menjadi sekelompok orang biasa.
Menikmati hari biasa.
Dan untuk sementara—
itu sudah cukup.
