508. Pertanyaan Yang Tertunda

Romance Completed 594

BAB 508 — PERTANYAAN YANG TERTUNDA

Setelah sarapan selesai...

Tidak ada seorang pun yang langsung meninggalkan meja.

Bukan karena makanannya masih banyak.

Bukan karena mereka ingin menikmati teh lebih lama.

Tetapi karena semua orang tahu...

waktu yang mereka sepakati akhirnya tiba.

Fiona duduk dengan tenang di salah satu sisi meja.

Darrien berada di sampingnya.

Di seberang mereka duduk Edward dan Gloria.

Zeith dan Seraphine berada tidak jauh dari mereka.

Elarion dan Elyon duduk berdampingan.

Rowan membawa beberapa catatan.

Kevin menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan kedua tangan terlipat di dada.

Dan Ace...

duduk paling ujung.

Untuk pertama kalinya sejak kembali dari Shadowcresent, dia terlihat sangat serius.

Setidaknya selama tiga puluh detik.

Fiona memperhatikan mereka satu per satu.

Kemudian menghela napas kecil.

“Jadi...”

Dia meletakkan cangkir tehnya.

“Ini sesi pertanyaan?”

Tidak ada yang langsung menjawab.

Ace mengangkat satu tangan.

“Secara teknis—”

Kevin langsung menoleh.

“Ace.”

Ace menutup mulut.

“...Aku diam.”

Rowan menahan senyum.

Elarion menggeleng kecil.

Fiona justru tersenyum.

“Tidak apa-apa.”

Ace mengangkat alis.

“Boleh bicara?”

“Boleh.”

Ace menunjuk dirinya sendiri.

“Benar-benar boleh?”

“Ya.”

Ace tersenyum puas.

“Syukurlah. Sembilan hari terakhir sangat menyiksa.”

Kevin langsung memukul bahunya pelan.

“Dia baru saja sembuh.”

“Aku tidak membicarakan Fiona.”

Ace menunjuk dirinya sendiri.

“Aku membicarakan aku.”

Beberapa orang tertawa kecil.

Bahkan Fiona.

Suasana yang sebelumnya tegang akhirnya sedikit mencair.

Darrien menatap Fiona dari samping.

Melihat senyum itu...

rasanya seperti mendapatkan sesuatu yang telah hilang terlalu lama.

Namun setelah tawa kecil mereda, Elarion akhirnya membuka pembicaraan.

“Baik.”

Dia meletakkan kedua tangannya di atas meja.

“Kita mulai dari hal yang paling sederhana.”

Fiona mengangguk.

Elarion menatapnya serius.

“Bagaimana kau bisa menyembuhkan luka itu sendiri?”

Fiona berpikir sebentar.

“Pure Light.”

Elarion memejamkan mata.

“Aku tahu jawabannya.”

Fiona tersenyum.

“Lalu?”

“Bagaimana caranya?”

Fiona mengangkat bahu.

“Aku hanya menggunakan kekuatanku.”

Elarion menatapnya.

“Fiona.”

“Ya?”

“Kami sudah menggunakan hampir semua metode penyembuhan yang kami punya.”

Elarion menunjuk Sylvester.

“Lunaris juga.”

Sylvester mengangguk.

“Bahkan beberapa metode yang seharusnya hanya digunakan dalam kondisi ekstrem.”

Fiona menatap mereka.

“Aku tahu.”

“Lalu?”

Fiona diam sejenak.

“Karena itu bukan luka biasa.”

Ruangan langsung kembali serius.

Darrien menatapnya.

Elarion sedikit maju.

“Jelaskan.”

Fiona menunduk.

“Serangan Raizen tidak hanya melukai tubuhku.”

Tangannya perlahan menyentuh dadanya.

“Magicure-ku juga terkena.”

Elyon langsung memperhatikan.

“Karena energi Shadowcresent?”

Fiona mengangguk.

“Ya.”

“Dan Pure Light-mu?”

“Masih ada.”

Elarion mengerutkan kening.

“Lalu kenapa Pure Light tidak langsung menghilangkan pengaruhnya?”

Fiona terdiam.

Pertanyaan itu membuat matanya turun.

“Aku tidak menggunakannya.”

Semua orang membeku.

Darrien menoleh.

Elarion berkedip.

“...Apa?”

“Aku tidak menggunakan Pure Light untuk menyembuhkan diriku.”

Keheningan.

Ace perlahan menatap Kevin.

Kevin menatap balik.

Rowan menutup catatannya.

Elyon memijat pelipis.

Elarion menarik napas panjang.

“Kau sadar bahwa kami menghabiskan berhari-hari mencari cara untuk menyelamatkanmu?”

Fiona mengangguk.

“Ya.”

“Kami membawa penyembuh dari berbagai tempat.”

“Ya.”

“Ramuan langka.”

“Ya.”

“Buku.”

“Ya.”

“Ritual.”

“Ya.”

Fiona mengangguk lagi.

Elarion menatapnya lama.

“Dan kau sebenarnya hanya...”

Fiona tersenyum kecil.

“...ingin berpikir.”

Ace menundukkan kepala.

Bahu Kevin bergerak sedikit.

Elyon menutup matanya.

Rowan akhirnya berbisik,

“Sulit dipercaya.”

Fiona menatap mereka.

“Maaf.”

Darrien segera menyentuh tangannya.

“Jangan.”

Fiona menoleh.

Darrien menggeleng pelan.

“Kau tidak perlu meminta maaf karena membutuhkan waktu.”

Tatapan mereka bertemu.

Fiona tersenyum tipis.

Elarion akhirnya menghela napas.

“Baik.”

Dia mengambil catatannya kembali.

“Pertanyaan kedua.”

Kali ini ekspresinya jauh lebih hati-hati.

“Apa yang terjadi selama kau berada di dalam kondisi tidak sadar?”

Fiona diam.

Matanya bergerak sedikit.

Seolah-olah sebuah taman kristal kembali muncul dalam pikirannya.

“Aku berada di tempat yang sama seperti sebelumnya.”

Elyon langsung bertanya,

“Crystal Palace?”

Fiona mengangguk.

“Ya.”

Rowan menulis sesuatu.

“Apakah itu ruang mental?”

“Lebih dari itu.”

“Dimensi?”

Fiona berpikir.

“Mungkin.”

Elarion menatapnya.

“Mungkin?”

“Aku tidak yakin bagaimana menjelaskannya.”

Dia menarik napas.

“Di sana aku bisa melihat dunia luar.”

Darrien sedikit menegang.

“Melihat kami?”

Fiona menatapnya.

“Ya.”

Darrien diam.

Fiona melanjutkan.

“Aku melihat kalian mencoba menyembuhkanku.”

Tatapannya berpindah kepada Sylvester.

“Aku melihat orang-orang Lunaris datang.”

Kemudian kepada Elarion.

“Aku melihat kalian membaca semua buku.”

Kemudian kepada Darrien.

“Dan aku melihatmu.”

Darrien menundukkan pandangan sebentar.

Fiona tersenyum kecil.

“Kau tidak pernah meninggalkan sisiku.”

Darrien menggenggam tangannya.

“Aku tidak akan.”

Ruangan kembali hening.

Gloria tersenyum lembut.

Namun kemudian Zeith akhirnya berbicara.

“Lalu mengapa kau memilih untuk tetap berada di sana?”

Fiona terdiam.

Kali ini...

jawabannya tidak langsung keluar.

Dia menatap permukaan meja.

“Aku perlu memahami semuanya.”

“Darrien?”

Fiona mengangguk.

“Darrien.”

“Raizen?”

Fiona kembali mengangguk.

“Raizen.”

Seraphine memperhatikan wajah Fiona.

“Dan dirimu sendiri?”

Fiona mengangkat mata.

“Terutama diriku sendiri.”

Tidak ada yang memotong.

Fiona menarik napas perlahan.

“Aku kehilangan ingatanku.”

Dia memandang Darrien.

“Kemudian aku mendapatkan kehidupan lain.”

Tatapannya menjadi sedikit sendu.

“Aku mencintai Darrien.”

Darrien diam.

“Aku juga mencintai Raizen.”

Tidak ada kemarahan dalam suaranya.

Hanya kejujuran.

“Apa yang terjadi selama beberapa bulan itu tetap nyata bagiku.”

Fiona menundukkan kepala.

“Aku tidak bisa mengatakan semuanya adalah kebohongan hanya karena sekarang aku sudah mengingat Darrien.”

Darrien tidak bergerak.

Tangannya masih menggenggam tangan Fiona.

Namun jari-jarinya perlahan mengerat.

Fiona merasakan itu.

Dia menoleh kepadanya.

Darrien tersenyum kecil.

“Aku mengerti.”

Fiona terlihat sedikit terkejut.

“Kau tidak marah?”

Darrien menggeleng.

“Aku ingin kau kembali.”

Suaranya lembut.

“Tapi aku tidak ingin memaksamu membenci seseorang hanya untuk membuktikan bahwa kau mencintaiku.”

Fiona terdiam.

Matanya perlahan berkaca-kaca.

Darrien mengusap punggung tangannya.

“Yang penting... kau memilih untuk kembali.”

Fiona tersenyum.

“Ya.”

Elarion membiarkan mereka beberapa detik.

Kemudian...

“Baik.”

Dia menarik napas.

“Kita lanjut.”

Ace mengangkat tangan lagi.

“Boleh aku bertanya?”

Semua orang menoleh.

Ace terlihat sedikit gugup.

Fiona mengangguk.

Ace berpikir.

Kemudian bertanya dengan sangat serius,

“Kalau ternyata kau bisa menyembuhkan diri sendiri kapan saja...”

Kevin sudah mulai menutup wajah.

Ace melanjutkan,

“...kenapa tidak dilakukan sebelum kami membawa tiga jenis ramuan, tujuh buku, dan hampir seluruh tenaga medis Veyth?”

Hening.

Fiona menatapnya.

Ace menatap Fiona.

Kemudian Fiona tertawa.

“Karena aku tidak tahu kalian akan separah itu.”

Elarion menatap langit-langit.

Elyon tertawa kecil.

Rowan menutup mulutnya.

Kevin menggeleng.

Ace memegang dadanya.

“Setidaknya dia jujur.”

Fiona tersenyum.

Namun suasana kembali tenang setelah itu.

Karena masih ada satu pertanyaan besar.

Pertanyaan yang belum berani disentuh siapa pun.

Darrien menyadarinya.

Dia melihat wajah orang-orang di meja.

Kemudian menatap Fiona.

Tidak ada yang perlu mengatakannya.

Mereka semua tahu.

Tentang malam itu.

Tentang Raizen.

Tentang serangan terakhir.

Tentang ingatan yang kembali.

Tentang pilihan Fiona.

Fiona pun tahu.

Dia meletakkan cangkirnya perlahan.

“Kalau kalian ingin bertanya tentang Raizen...”

Semua orang terdiam.

Fiona menatap mereka satu per satu.

“...aku akan menjawab.”

Namun sebelum siapa pun berbicara...

Darrien menggenggam tangannya lebih erat.

Bukan untuk menghentikannya.

Hanya untuk mengingatkan bahwa dia ada di sana.

Fiona menoleh.

Mereka saling pandang.

Kemudian Fiona tersenyum kecil.

“Aku sudah siap.”

Ruangan kembali sunyi.

Kali ini...

tidak ada seorang pun yang bercanda.

Karena pertanyaan berikutnya...

akan membuka bagian paling rumit dari semuanya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience