Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Series
382
Get the app for full experience
BAB 115
WAKTU UNTUK BERDUA
Sore mulai turun di Veyra.
Setelah penelitian yang melelahkan, Elarion akhirnya meminta Darrien dan Fiona beristirahat.
“Pergilah keluar sebentar.”
Darrien menatapnya.
“Kau mengusir kami?”
Elarion tersenyum.
“Aku menyelamatkan kalian dari percobaan berikutnya.”
Fiona tertawa.
“Kalau begitu kami pergi.”
Darrien menghela napas.
“Baiklah.”
Mereka berjalan keluar dari kediaman Rowan.
Tanpa membawa buku.
Tanpa membawa kristal.
Tanpa membawa daftar penelitian.
Untuk beberapa jam—
mereka hanya berdua.
***
Veyra masih ramai.
Namun sore itu terasa lebih tenang.
Fiona berjalan sambil melihat berbagai toko.
“Darrien.”
“Hm?”
“Menurutmu kita sudah melihat semua bagian kota ini?”
“Belum.”
“Bagus.”
Fiona tersenyum.
“Maka kita masih punya banyak tempat untuk dikunjungi.”
Darrien mengangguk.
“Kita bisa kembali lagi besok.”
Fiona menatapnya.
“Bukan hanya besok.”
Ia berhenti sebentar.
“Suatu hari nanti.”
Darrien tersenyum.
“Baik.”
Mereka berjalan melewati sebuah jembatan kecil.
Di bawahnya, air sungai memantulkan cahaya matahari sore.
Fiona bersandar pada pagar.
“Veyra indah.”
“Ya.”
“Dulu aku hanya mengenal Akasia.”
Darrien berdiri di sampingnya.
“Aku juga.”
Fiona menatap air.
“Sekarang aku ingin melihat semuanya.”
Darrien tersenyum.
“Lunareth?”
“Lunareth.”
Ia menatapnya.
“Bukan hanya kota.”
“Pegunungan.”
“Hutan.”
“Kerajaan.”
“Dan semua ras yang belum kita temui.”
Darrien tertawa kecil.
“Termasuk vampir?”
Fiona langsung tersenyum.
“Termasuk vampir.”
Ia kemudian memandang langit.
“Menurutmu mereka seperti apa?”
“Entahlah.”
“Kalau mereka ternyata menakutkan?”
“Kita lari.”
Fiona tertawa.
“Kau masih ingat?”
“Tentu.”
Mereka tertawa bersama.
***
Setelah berjalan cukup jauh, mereka menemukan sebuah taman kecil.
Tidak seramai taman utama kota.
Hanya beberapa pohon dan bangku batu.
Fiona duduk.
Darrien ikut duduk di sampingnya.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.
Angin sore berembus perlahan.
Daun perak di leher Fiona bergerak sedikit.
Darrien memperhatikannya.
“Masih menyukainya?”
Fiona memegang kalung itu.
“Sekali lagi kau bertanya?”
“Aku ingin memastikan.”
Fiona tersenyum.
“Aku sangat menyukainya.”
Darrien tersenyum.
“Bagus.”
Fiona menatapnya.
“Kenapa kau begitu senang?”
“Karena aku yang membantu membuatnya.”
“Elarion juga membantu.”
“Ya.”
Fiona tersenyum jahil.
“Tapi kau yang paling banyak memberi ide.”
Darrien mengangkat bahu.
“Kalau begitu aku akan menganggap itu sebagai pujian.”
Fiona tertawa.
Kemudian ia terdiam.
“Darrien.”
“Hm?”
“Terima kasih.”
“Untuk apa?”
“Untuk semuanya.”
Darrien menatapnya.
Fiona melanjutkan.
“Dulu, ketika aku tidak tahu harus ke mana…”
Ia tersenyum kecil.
“…kau selalu ada.”
Darrien tidak langsung menjawab.
Ia kemudian berkata,
“Karena aku ingin tetap di sampingmu.”
Fiona menatapnya.
Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.
“Aku tahu.”
Darrien tersenyum.
“Bagus.”
Fiona menundukkan kepala.
“Dan sekarang…”
Ia memainkan ujung kalungnya.
“Kalau kau benar-benar pewaris kerajaan…”
Darrien menghela napas.
“Jangan mulai.”
Fiona tertawa.
“Aku belum selesai.”
Darrien menatapnya.
“Lanjutkan.”
Fiona tersenyum.
“Kalau kau benar-benar pewaris…”
Ia menggenggam tangannya.
“…aku tetap akan berjalan di sampingmu.”
Darrien terdiam.
Kemudian ia menggenggam tangan Fiona kembali.
“Kalau begitu…”
Ia menatap mata Fiona.
“…aku juga akan tetap berjalan di sampingmu.”
Tidak ada janji besar.
Tidak ada kata-kata rumit.
Hanya dua tangan yang saling menggenggam.
Dan untuk sore itu—
itu sudah cukup.
***
Matahari semakin rendah.
Fiona akhirnya berdiri.
“Kita harus kembali sebelum Elarion mengira kita hilang.”
Darrien tertawa.
“Dia mungkin sedang menyiapkan percobaan berikutnya.”
“Kalau begitu kita harus cepat.”
Mereka mulai berjalan pulang.
Namun setelah beberapa langkah—
Fiona berhenti.
“Darrien.”
“Hm?”
Ia tersenyum.
“Aku senang kita datang ke Veyra.”
Darrien menatapnya.
“Aku juga.”
Kemudian mereka melanjutkan perjalanan.
Berdampingan.
Tanpa mengetahui apa yang menunggu mereka setelah semua penelitian selesai.
Untuk sementara—
mereka hanya menikmati sore itu.
Berdua.
