348. Jejak Dalam Mimpi

Romance Completed 594

BAB 348 — JEJAK DALAM MIMPI

Fajar perlahan muncul di atas Lunaris.

Cahaya keemasan mulai menyentuh sisi-sisi istana.

Namun di salah satu kamar—

Darrien sudah terbangun.

Ia duduk di tepi tempat tidurnya.

Untuk beberapa saat, ia hanya diam.

Tatapannya kosong.

Pikirannya masih tertinggal di tempat yang ia lihat dalam tidurnya.

Angin.

Pepohonan.

Magicure yang begitu murni.

Dan—

pakaian itu.

Darrien perlahan menundukkan kepala.

Ia masih bisa mengingatnya dengan jelas.

Pakaian formal yang dikenakan sosok dalam penglihatannya.

Pakaian yang sama.

Pakaian yang pernah ia lihat ketika Fiona menunjukkan kenangan masa lalu melalui magic mirror.

Pakaian seorang Grandmaster.

Darrien mengerutkan kening.

“Kenapa…?”

Ia mengusap wajahnya.

“Kenapa aku melihat pakaian itu?”

Ia tidak tahu jawabannya.

Namun satu hal terus mengganggu pikirannya.

Magicure.

Darrien memejamkan mata.

Ia mencoba mengingat kembali sensasi yang ia rasakan dalam mimpi itu.

Begitu murni.

Begitu padat.

Begitu berbeda dari magicure yang ada di Lunaris sekarang.

Ia pernah merasakan magicure dalam jumlah besar.

Di medan perang.

Di hutan.

Di Crystal Hall.

Bahkan ketika bertarung melawan makhluk-makhluk kuat.

Namun tidak ada satu pun yang terasa seperti itu.

Magicure dalam mimpinya bukan hanya kuat.

Ia terasa—

alami.

Seolah-olah seluruh dunia bernapas bersamanya.

Darrien membuka matanya.

“Magicure zaman itu…”

Ia terdiam.

Apakah memang berbeda?

Atau—

mungkin tempat yang ia lihat memiliki sesuatu yang berbeda?

Darrien menatap tangannya.

Tidak ada perubahan.

Tidak ada ingatan baru.

Tidak ada kekuatan aneh.

Hanya perasaan yang masih tertinggal di dalam dirinya.

Namun pakaian itu…

dan magicure itu…

terlalu nyata untuk dianggap sebagai mimpi biasa.

Darrien berdiri.

Ia berjalan menuju jendela.

Cahaya pagi menyinari wajahnya.

“Kalau memang ada petunjuk…”

Tatapannya menjadi serius.

“…aku harus menemukannya.”

Namun ia tahu satu hal.

Ia tidak memiliki banyak petunjuk.

Tidak tahu tempatnya.

Tidak tahu kapan itu terjadi.

Tidak tahu siapa dirinya dalam mimpi tersebut.

Dan ia bahkan tidak yakin apakah mimpi itu benar-benar berhubungan dengan masa lalunya.

Namun ada satu orang—

yang mungkin mengetahui jawabannya.

Fiona.

Darrien terdiam.

Kemudian menghela napas.

“Dia pasti tahu.”

Namun begitu memikirkan Fiona—

ia kembali mengingat bagaimana wanita itu melarikan diri darinya kemarin.

Darrien tersenyum kecil.

“Dan dia mungkin akan menghindar lagi.”

Ia menggeleng.

“Baiklah.”

Kali ini—

ia tidak akan mengejarnya secara paksa.

Ia hanya akan mendekat.

Perlahan.

Mencari kesempatan.

Mencari jawaban.

Dan mungkin—

mencari tahu apa sebenarnya yang sedang Fiona sembunyikan darinya.

***

Darrien meninggalkan kamarnya.

Ia berjalan menyusuri lorong istana.

Namun langkahnya tidak menuju area latihan.

Tidak menuju ruang diskusi.

Tidak juga menuju ruang makan.

Ia memilih arah yang menurut sensing-nya paling mungkin membawa dirinya mendekati Fiona.

Tidak terlalu cepat.

Tidak terlalu mencolok.

Hanya cukup dekat untuk merasakan keberadaannya.

Darrien berhenti di persimpangan lorong.

Ia memejamkan mata.

Beberapa detik kemudian—

sebuah aura lembut terasa di kejauhan.

Silver Leaf.

Fiona.

Darrien membuka mata.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

“Ketemu.”

Namun ia tidak langsung bergerak.

Ia hanya berdiri di sana.

Mengingat perkataannya sendiri.

*Jangan memaksanya.*

*Kalau dia belum siap, tunggu.*

Darrien menarik napas.

Kemudian berjalan perlahan.

Bukan untuk mengejar Fiona.

Melainkan untuk berada sedikit lebih dekat dengannya.

Karena jika mimpi itu memang membawa sebuah petunjuk—

Darrien ingin mencari jawabannya sendiri.

Dan mungkin…

jawaban itu berada tepat di samping wanita yang selama ini terus mencoba menghindarinya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience