308. Awal Dari Kehidupan Baru

Romance Series 382

BAB 308 — AWAL DARI KEHIDUPAN BARU

Mimpi itu kembali berubah.

Tidak ada lagi medan perang.

Tidak ada lagi kerajaan yang terbakar.

Tidak ada lagi tangisan.

Yang tersisa—

adalah sebuah ruangan kecil.

Suara tangisan bayi terdengar.

Sang Saintess berdiri di sudut ruangan.

Tidak seorang pun dapat melihatnya.

Ia tersenyum.

Di hadapannya—

seorang bayi kecil berada dalam pelukan Queen Gloria.

Darrien.

Untuk pertama kalinya—

ia melihat kehidupan baru yang telah ia berikan kepadanya.

Sang Saintess menutup mulutnya sendiri.

“…”

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Benar-benar lahir…”

Bayi kecil itu bergerak.

Kemudian—

menangis.

Sang Saintess tertawa kecil.

“Kau masih sama.”

Ia mendekat.

Tidak seorang pun menyadari keberadaannya.

Ia berdiri di sisi tempat tidur.

Melihat bayi tersebut tumbuh.

Hari demi hari.

Bulan demi bulan.

Tahun demi tahun.

***

Darrien tumbuh menjadi seorang anak laki-laki yang aktif.

Terlalu aktif.

Ia berlari ke sana kemari.

Memanjat.

Terkadang membuat para pelayan kewalahan.

Dan setiap kali ia melakukan sesuatu yang tidak seharusnya—

Sang Saintess yang tidak terlihat hanya tertawa dari kejauhan.

“Benar-benar…”

Ia menahan tawa.

“Masih sama seperti dulu.”

Namun ada sesuatu yang membuatnya semakin bahagia.

Kekuatan sihir Darrien.

Meski masih kecil—

potensi di dalam tubuhnya begitu besar.

Berbagai jenis sihir muncul secara alami.

Sang Saintess memperhatikannya dengan mata berbinar.

“Banyak sekali…”

Ia tertawa.

“Sepertinya kau masih menyimpan semuanya.”

Namun semakin lama ia mengamati—

senyumnya perlahan berubah.

Karena sebuah pemikiran tiba-tiba muncul.

Ia terdiam.

“…”

Kemudian—

wajahnya berubah serius.

“Tunggu.”

Ia menatap Darrien kecil.

“Kalau dia tumbuh dewasa…”

Ia mulai menghitung sesuatu dalam pikirannya.

“Bukankah…”

Ia berhenti.

Kemudian ekspresinya berubah menjadi panik.

“Bukankah dia seharusnya menikah dengan orang lain?”

Sang Saintess menatap anak itu.

Kemudian menutup wajahnya.

“Aku tidak bisa begitu saja muncul di depannya dan mengatakan…”

Ia menirukan dirinya sendiri.

> “Halo, aku kekasihmu dari kehidupan sebelumnya.”

Ia langsung menggeleng.

“Tidak.”

“Mustahil.”

Ia menatap Darrien lagi.

“Dia bahkan tidak memiliki ingatan tentangku.”

Wajahnya mulai murung.

“Aku tidak bisa memaksanya.”

Ia terdiam cukup lama.

Kemudian—

sebuah pemikiran muncul.

Matanya perlahan membesar.

“Oh.”

Senyum kecil muncul.

Kemudian semakin lebar.

“Oh…”

Ia mulai tertawa.

“Hehehe…”

Sang Saintess menatap Darrien kecil.

“Aku punya cara.”

***

Beberapa waktu kemudian—

sebuah rencana mulai terbentuk di dalam pikirannya.

Bukan rencana sederhana.

Ia membutuhkan tempat yang jauh.

Tempat yang tidak dikenal oleh kerajaan.

Tempat di mana Darrien bisa tumbuh tanpa ada yang mengenali aura atau darah aslinya.

Tempat di mana—

mereka dapat memulai kembali.

“Kalau begitu…”

Sang Saintess menatap peta.

“Aku akan membawa kita ke tempat yang jauh.”

Jarinya berhenti pada satu wilayah.

**Akasia.**

Sebuah kota yang jauh dari pusat kerajaan.

Cukup jauh.

Cukup kecil.

Dan cukup sederhana untuk menyembunyikan keberadaan mereka.

Sang Saintess tersenyum.

“Akasia.”

Kemudian ia menatap Darrien kecil.

“Maaf.”

Ia menghela napas.

“Tapi aku benar-benar tidak tahu cara lain.”

***

Malam tiba.

Istana menjadi sunyi.

Darrien kecil telah tertidur.

Sang Saintess muncul di samping tempat tidurnya.

Ia mengangkat tubuh kecil itu dengan hati-hati.

Darrien hanya bergerak sedikit.

Namun tidak terbangun.

Sang Saintess membawanya pergi.

Tidak ada seorang pun yang menyadari.

Tidak ada penjaga yang melihat.

Tidak ada yang tahu bahwa malam itu—

seorang anak kerajaan telah meninggalkan istana.

***

Perjalanan berlangsung lama.

Sampai akhirnya—

mereka tiba di Akasia.

Sang Saintess berdiri di depan sebuah bangunan sederhana.

Sebuah panti asuhan.

Ia menatap tempat itu.

Kemudian melihat Darrien yang masih tertidur dalam pelukannya.

Wajahnya lembut.

Tidak ada lagi seorang pangeran.

Tidak ada lagi pewaris darah kerajaan.

Hanya seorang anak kecil.

Anak yang ingin ia lindungi.

Sang Saintess mengusap rambutnya.

“Mulai sekarang…”

Suaranya bergetar.

“…kau akan hidup sebagai anak biasa.”

Ia menunduk.

Kemudian memberikan sebuah kecupan lembut di dahi Darrien.

“Maafkan aku.”

Air mata kecil muncul di matanya.

“Aku hanya ingin kita punya kesempatan.”

Ia menarik napas panjang.

Kemudian mulai menggunakan sihir.

***

Cahaya kuno muncul.

Penampilan Darrien berubah.

Jejak darah bangsawannya disembunyikan.

Aura sihirnya ditekan.

Kekuatan yang terlalu besar di dalam tubuhnya—

disegel.

Ingatan yang berhubungan dengan kehidupan sebelumnya—

dikunci jauh di dalam jiwanya.

Tidak dihancurkan.

Hanya—

ditidurkan.

Sang Saintess kemudian menatap dirinya sendiri.

Ia tahu belum selesai.

“Kalau aku tetap seperti ini…”

Ia tidak akan bisa tinggal di sisinya.

Maka—

ia melakukan hal yang sama kepada dirinya sendiri.

Penampilannya berubah.

Aura kunonya menghilang.

Sihirnya disegel.

Ingatan tentang kehidupan sebelumnya ditutup.

Identitasnya—

dihapus dari kesadaran mereka sendiri.

Ia tidak lagi menjadi Saintess.

Tidak lagi menjadi seseorang yang dikenal oleh dunia.

Ia menjadi—

seorang anak manusia biasa.

Seorang gadis kecil.

**Fiona.**

Usianya kini hanya lima tahun.

Sedangkan Darrien—

tujuh tahun.

Dua anak.

Tanpa kerajaan.

Tanpa keluarga.

Tanpa kekuatan.

Tanpa sihir.

Tanpa masa lalu.

Dan tanpa ingatan tentang siapa mereka sebenarnya.

***

Sang Saintess menatap Darrien untuk terakhir kalinya sebelum sihir terakhir selesai.

Namun kali ini—

ia tidak dapat mengingat siapa dirinya.

Tidak dapat mengingat mengapa ia melakukan semua ini.

Tidak dapat mengingat siapa anak laki-laki yang berada di sampingnya.

Ia hanya tahu satu hal—

ia tidak ingin meninggalkannya.

Keduanya kemudian diletakkan dengan hati-hati di depan panti asuhan.

Darrien tertidur di sisi gadis kecil itu.

Fiona juga tertidur.

Dua anak kecil yang tidak memiliki apa-apa.

Tidak ada nama keluarga.

Tidak ada gelar.

Tidak ada kekuatan.

Tidak ada sihir.

Tidak ada kenangan.

Hanya dua kehidupan baru—

yang dimulai dari tempat yang sama.

***

Pagi berikutnya—

pintu panti asuhan terbuka.

Seorang pengurus menemukan dua anak kecil tertidur di depan pintu.

“Anak-anak?”

Ia terkejut.

Ia melihat sekeliling.

Tidak ada orang tua.

Tidak ada surat.

Hanya dua anak.

Dan nama yang tertulis *Darrien* dan *Fiona*.

Seorang anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun.

Dan seorang gadis kecil berusia sekitar lima tahun.

Pengurus itu akhirnya membawa mereka masuk.

Tidak ada seorang pun yang mengetahui—

bahwa dua anak tersebut bukan anak biasa.

Tidak ada seorang pun yang tahu—

bahwa salah satunya membawa jiwa dari seorang Dark Elf kuno.

Dan yang lainnya—

adalah Saintess yang pernah menghancurkan dunia demi orang yang dicintainya.

Mereka hanya tahu—

dua anak yatim telah ditemukan di depan panti asuhan Akasia.

Dan sejak hari itu—

kisah mereka sebagai manusia dimulai.

**Darrien.**

**Fiona.**

Dua anak tanpa masa lalu.

Dua jiwa yang telah kehilangan ingatan.

Dan sebuah cinta lama—

yang bahkan mereka sendiri sudah tidak mampu mengingat.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience