361. Istana Yang Pernah Menjadi Rumah

Romance Completed 594

BAB 361 — ISTANA YANG PERNAH MENJADI RUMAH

Malam mulai turun di atas Istana Lunaris.

Setelah Edward dan Gloria kembali menuju Veyth melalui teleportation circle—

suasana di dalam istana perlahan kembali tenang.

Zeith dan Seraphine juga akhirnya memutuskan untuk beristirahat setelah seharian berjalan dan menikmati waktu bersama.

“Cukup untuk hari ini,” ujar Zeith sambil menghela napas.

Seraphine tersenyum.

“Setuju.”

Keduanya kemudian meninggalkan ruangan.

Tidak lama kemudian—

Elyon juga pergi untuk mengurus urusannya sendiri.

Setelah beberapa hari sibuk membantu memperbaiki catatan sejarah, akhirnya sebagian besar pekerjaan yang berhubungan dengan masa lalu telah selesai.

Ia merasa sudah waktunya kembali mengurus kehidupannya sendiri.

Ace dan Rowan masih berada di sekitar lorong utama.

Keduanya terlihat jauh lebih santai dibandingkan biasanya.

Rowan meregangkan tubuh.

“Setidaknya kita masih punya tiga hari.”

Ace mengangguk.

“Benar.”

Ia tersenyum.

“Masih tiga hari sebelum kembali ke Veyth.”

Keduanya terlihat puas.

Tidak ada latihan.

Tidak ada kewajiban kerajaan.

Dan setidaknya—

mereka berharap demikian.

Namun—

satu suara terdengar dari belakang mereka.

“Ya.”

Kevin berdiri beberapa langkah jauhnya.

“Masih tiga hari sebelum kembali ke Veyth.”

Darrien yang sedang berdiri di dekat Fiona langsung menoleh.

Kevin memandangnya.

Kemudian berkata dengan tenang,

“Besok kita lanjutkan latihan.”

Darrien membeku.

“….”

Kevin melanjutkan.

“Jangan lupa.”

Kemudian ia berjalan pergi.

Tidak menunggu jawaban.

Darrien hanya menatap punggung Kevin yang semakin menjauh.

Beberapa detik kemudian—

ia menghela napas panjang.

“Aku tahu.”

Fiona yang berada di sampingnya menahan senyum.

Ace langsung tertawa.

“Kasihan sekali.”

Rowan mengangguk.

“Liburan tiga hari.”

Ace menambahkan,

“Dengan latihan setiap pagi.”

Darrien menatap mereka.

“Kalian tertawa sekarang.”

Ace langsung mengangkat tangan.

“Aku tidak mengatakan apa-apa.”

Rowan memalingkan wajah.

“Aku juga.”

Elarion yang berdiri tidak jauh dari sana hanya tersenyum kecil.

Ia sendiri sedang memikirkan apa yang akan dilakukannya selama tiga hari ke depan.

Setidaknya—

untuk sementara, semua orang memiliki waktu untuk melakukan apa pun yang mereka inginkan.

***

Setelah yang lain mulai meninggalkan lorong—

Darrien dan Fiona akhirnya berjalan berdua.

Tidak ada tujuan tertentu.

Fiona hanya memilih satu jalur kecil di dalam istana.

Darrien mengikutinya.

“Ke mana?”

Fiona menoleh sebentar.

“Berkeliling.”

Darrien tersenyum.

“Baik.”

Fiona terus berjalan.

Mereka melewati aula yang luas.

Kemudian sebuah lorong dengan jendela-jendela tinggi.

Lalu sebuah tangga yang menuju ke bagian istana yang lebih tenang.

Darrien memperhatikan semuanya.

Ada beberapa bagian yang tampak sangat tua.

Namun tetap terawat.

Fiona berhenti di salah satu sudut.

“Di sini…”

Ia menunjuk sebuah ruangan kecil.

“…dulu adalah ruang membaca.”

Darrien masuk.

Tidak banyak yang tersisa.

Beberapa rak.

Beberapa meja.

Dan jendela besar yang menghadap taman.

“Dulu aku sering berada di sini.”

Darrien melihat sekeliling.

“Sendirian?”

Fiona mengangguk.

“Kadang.”

Kemudian ia berjalan lagi.

***

Mereka melewati satu ruangan ke ruangan lainnya.

Fiona mulai memperkenalkan bagian-bagian istana yang dahulu ia bangun sendiri.

Ruang pertemuan.

Taman dalam.

Lorong yang mengarah ke Crystal Garden.

Beberapa balkon.

Dan sebuah aula kecil yang dahulu digunakan untuk menerima tamu.

Setiap tempat memiliki cerita.

Setiap sudut menyimpan kenangan.

Namun Fiona tidak terlihat sedih.

Ia hanya bercerita.

Tenang.

Sesekali tersenyum.

Darrien mendengarkan tanpa memotong.

Sampai akhirnya—

mereka tiba di sebuah balkon tinggi.

Dari sana—

seluruh bagian istana terlihat.

Cahaya malam menerangi halaman.

Angin bergerak perlahan.

Fiona berdiri di dekat pagar balkon.

Darrien berdiri di sampingnya.

Ia memandang istana tersebut.

Kemudian berkata,

“Jadi…”

Fiona menoleh.

“Ini benar-benar istanamu?”

Fiona tersenyum kecil.

“Dulu.”

Darrien mengamati bangunan di depan mereka.

“Dan kau yang membangunnya?”

“Ya.”

“Sendiri?”

Fiona mengangguk.

“Dengan sihir.”

Darrien tertawa kecil.

“Seharusnya aku tidak terkejut.”

Fiona ikut tersenyum.

Kemudian mereka kembali diam.

Beberapa saat.

Darrien akhirnya bertanya,

“Kau tidak menyesal?”

Fiona menoleh.

“Menyesal?”

“Memberikan istana yang kau bangun sendiri kepada Zeith dan Seraphine.”

Fiona tidak langsung menjawab.

Ia kembali memandang istana.

Angin malam menyentuh rambutnya.

Wajahnya perlahan menjadi lebih tenang.

Ia berpikir cukup lama.

Kemudian—

Fiona menggeleng.

“Tidak.”

Darrien menunggu.

Fiona menarik napas.

“Karena…”

Ia melihat pemandangan di depannya.

“…di era itu, sudah tidak ada lagi sesuatu yang benar-benar berharga bagiku yang perlu dipertahankan.”

Darrien terdiam.

Fiona melanjutkan dengan suara pelan.

“Semua yang membuat tempat itu menjadi rumah…”

Ia berhenti.

“…sudah tidak ada.”

Tatapannya sedikit berubah.

Bukan sedih.

Melainkan seperti seseorang yang sudah menerima kenyataan setelah menunggu terlalu lama.

“Kenangan masih ada.”

“Tempatnya masih ada.”

“Bangunannya masih ada.”

“Tapi…”

Fiona menyentuh pagar balkon dengan lembut.

“…orang-orang yang membuatnya berarti sudah pergi.”

Darrien menatapnya.

Fiona tersenyum kecil.

“Jadi aku tidak merasa kehilangan ketika memberikannya.”

Ia menoleh kepada Darrien.

“Karena bagiku…”

“…rumah bukanlah dinding.”

Darrien terdiam.

Fiona tersenyum.

“Rumah adalah tempat di mana orang yang kita cintai berada.”

Beberapa detik berlalu.

Darrien perlahan mendekat.

Ia berdiri di samping Fiona.

“Kalau begitu…”

Fiona menoleh.

Darrien tersenyum.

“…kau sudah menemukan rumahmu lagi.”

Fiona membeku.

Matanya sedikit melebar.

Darrien tidak mengatakan apa-apa lagi.

Ia hanya berdiri di sana.

Fiona menundukkan kepala.

Senyum kecil muncul di wajahnya.

“Ya…”

Ia menggenggam tangan Darrien.

“Kurasa begitu.”

Angin malam kembali berhembus.

Dan untuk pertama kalinya—

istana yang pernah dibangun Fiona dua ribu lima ratus tahun lalu tidak lagi terasa seperti peninggalan masa lalu.

Kini—

tempat itu menjadi saksi bahwa sesuatu yang telah hilang begitu lama…

akhirnya kembali.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience