Series
94
BAB 27
SENJATA DAN KENDALI DIRI
Pagi itu, suasana halaman rumah Elarion terasa berbeda.
Di atas meja kayu terdapat beberapa senjata.
Pedang pendek.
Belati.
Busur kecil.
Dan beberapa tongkat latihan.
Fiona berhenti di depan meja.
“Apakah kita benar-benar akan menggunakan itu?”
“Tidak semuanya,” jawab Elarion.
Darrien memperhatikan pedang pendek di atas meja.
“Kenapa sekarang?”
“Karena kalian sudah belajar mengendalikan tubuh dan sihir.”
Elarion mengambil sebuah pedang latihan.
“Sekarang kalian harus belajar bagaimana mempertahankan diri jika sihir kalian tidak bisa digunakan.”
Darrien mengangguk.
Fiona memandang belati kecil.
“Kalau ini?”
“Untuk keadaan darurat.”
Elarion mengambilnya dari meja.
“Senjata bukan mainan.”
Nada suaranya menjadi serius.
“Jangan pernah menggunakannya karena marah.”
Darrien mengangguk.
Fiona juga.
Elarion kemudian memberikan pedang latihan kepada Darrien.
“Pegang.”
Darrien menggenggamnya.
“Jangan terlalu kuat.”
Darrien sedikit mengendurkan tangannya.
“Sekarang, gerakkan.”
Darrien mencoba beberapa gerakan dasar.
Langkahnya masih kaku.
Namun ia cepat memahami posisi tubuh.
Elarion memperhatikan.
“Kau belajar cepat.”
Darrien mengangguk.
Fiona mendapat pedang latihan yang lebih ringan.
Ia mencoba mengikuti gerakan Darrien.
Namun beberapa kali hampir kehilangan keseimbangan.
“Aku tidak bisa.”
“Bukan tidak bisa.”
Elarion membetulkan posisinya.
“Kau hanya mencoba menggunakan kekuatan yang tidak cocok untukmu.”
Ia menunjukkan langkah kecil ke samping.
“Gunakan kaki.”
Fiona mencobanya.
Kali ini ia bergerak lebih ringan.
Elarion mengangguk.
“Begitu.”
Darrien memperhatikan.
“Dia lebih cepat.”
“Dan kau lebih kuat.”
Fiona tersenyum.
“Berarti kami cocok.”
Darrien menatapnya.
“Jangan terlalu percaya diri.”
“Kenapa?”
“Karena aku masih bisa mengalahkanmu.”
Fiona mengangkat pedangnya.
“Coba saja.”
Elarion menghela napas.
“Kalian belum selesai latihan.”
Namun mereka sudah saling berhadapan.
Elarion akhirnya mengangguk.
“Baik. Satu ronde.”
Darrien bergerak lebih dulu.
Fiona menghindar.
Ia menggunakan langkah yang baru saja diajarkan.
Darrien berbalik dan menyerang lagi.
Fiona menangkis.
Mereka bergerak beberapa kali.
Tidak ada yang benar-benar menang.
Namun perlahan, gerakan mereka semakin teratur.
Elarion mengamati keduanya.
Darrien mengandalkan kekuatan dan pertahanan.
Fiona mengandalkan kecepatan dan gerakan.
Akhirnya Elarion mengangkat tangan.
“Cukup.”
Mereka berhenti.
Darrien terengah.
Fiona juga.
Elarion tersenyum.
“Lebih baik.”
Fiona menatap pedangnya.
“Aku ingin menjadi lebih kuat.”
Elarion menatapnya.
“Kenapa?”
Fiona melihat Darrien.
“Karena aku tidak ingin selalu dilindungi.”
Darrien terdiam.
Fiona tersenyum kepadanya.
“Aku juga ingin bisa melindungimu.”
Darrien menatapnya beberapa detik.
Kemudian tersenyum tipis.
“Kalau begitu, aku akan menunggumu menjadi lebih kuat.”
Elarion memperhatikan keduanya.
Kemudian ia berkata,
“Bagus.”
Ia mengambil senjata dari tangan mereka.
“Karena tujuan latihan ini bukan membuat kalian menjadi pembunuh.”
Darrien menatapnya.
“Lalu?”
“Menjadi seseorang yang mampu memilih.”
Elarion menyimpan senjata itu.
“Memilih kapan bertarung.”
“Memilih kapan bertahan.”
“Dan memilih kapan meletakkan senjata.”
Keduanya mengangguk.
Hari itu, pelajaran mereka bertambah satu lagi.
Mereka tidak hanya belajar menggunakan kekuatan.
Mereka mulai belajar mengendalikan diri.
Dan bagi dua anak yang suatu hari nanti akan menghadapi dunia yang jauh lebih kejam daripada yang mereka bayangkan…
pelajaran itu mungkin akan menjadi yang paling penting.
Share this novel