Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Series
382
Get the app for full experience
BAB 119
KENAPA SELALU BERTEMU?
Sore semakin ramai ketika Darrien dan Fiona berjalan melewati jalan utama Veyra.
Fiona masih membawa boneka kecil yang baru dibelinya.
Ia tersenyum puas.
“Lucu sekali.”
Darrien melirik boneka itu.
“Kalau kau terus membeli barang seperti itu, kamar kita nanti penuh.”
“Kamar kita?”
Darrien langsung terdiam.
Fiona juga.
Keduanya saling memandang.
Fiona kemudian tersenyum kecil.
“Maksudmu kamar di kediaman Rowan.”
“Ya.”
“Benar.”
Darrien menggaruk belakang kepalanya.
“Jangan salah paham.”
“Aku tidak bilang apa-apa.”
Fiona menahan tawa.
Mereka terus berjalan.
Namun beberapa langkah kemudian—
Fiona berhenti.
“Darrien.”
“Hm?”
Ia menunjuk ke depan.
“Lihat.”
Darrien mengikuti arah jarinya.
Seorang pria sedang berdiri di dekat sebuah toko.
Rambut terang.
Jubah pengelana.
Wajah tampan yang mudah dikenali.
Elyon.
Darrien menatapnya beberapa detik.
Kemudian menghela napas.
“Lagi?”
Elyon yang mendengar suara itu menoleh.
Ia tersenyum.
“Sepertinya kita bertemu lagi.”
Darrien menyilangkan tangan.
“Veyra tidak sebesar itu.”
Fiona langsung tertawa.
Elyon mengangkat alis.
“Apakah kau tidak senang melihatku?”
“Bukan begitu.”
Darrien menatapnya.
“Entah kenapa setiap kali kami keluar…”
Ia menunjuk Elyon.
“…kau selalu muncul.”
Elyon tertawa kecil.
“Mungkin kita memiliki kebiasaan berjalan di tempat yang sama.”
Fiona tersenyum.
“Elyon memang sedang tinggal di Veyra untuk sementara.”
Darrien menoleh kepadanya.
“Benarkah?”
Elyon mengangguk.
“Ada beberapa hal yang ingin kuteliti.”
Darrien langsung melihat Fiona.
Kemudian melihat Elyon.
“Daun itu lagi?”
Elyon tersenyum.
“Sebagian.”
Fiona memegang kalungnya.
“Sudah menemukan sesuatu?”
“Belum.”
Elyon menggeleng.
“Tapi aku menemukan beberapa catatan menarik.”
Darrien menghela napas.
“Kau benar-benar serius.”
“Memang.”
Elyon kemudian memperhatikan boneka di tangan Fiona.
“Itu baru?”
Fiona mengangguk.
“Ya.”
Darrien menyela.
“Dan sekarang dia ingin membeli semua benda lucu yang dilihatnya.”
Fiona memelototinya.
“Tidak semuanya.”
“Berapa banyak?”
“Tidak banyak.”
Darrien menunjuk tasnya.
“Dua.”
Fiona terdiam.
“Dua masih sedikit.”
Elyon tertawa.
“Kurasa itu masih dalam batas wajar.”
Darrien menatapnya.
“Jangan membelanya.”
“Kenapa?”
“Karena nanti dia benar-benar membeli yang ketiga.”
Fiona langsung tersenyum.
“Sekarang aku jadi ingin membeli yang ketiga.”
Darrien memejamkan mata.
“Jangan.”
Elyon tertawa lagi.
Untuk beberapa saat mereka hanya berbicara ringan.
Tidak ada penelitian.
Tidak ada kerajaan.
Tidak ada rahasia.
Namun Elyon sesekali tetap memperhatikan kalung Fiona.
Cahaya perak di permukaannya masih tenang.
Tidak ada reaksi aneh.
Setidaknya—
belum.
Fiona kemudian bertanya,
“Elyon.”
“Hm?”
“Kau tinggal di mana selama di Veyra?”
Elyon menunjuk sebuah penginapan di ujung jalan.
“Di sana.”
Darrien mengangguk.
“Pantas saja.”
Elyon mengangkat alis.
“Pantas apa?”
“Tidak ada.”
Fiona tertawa.
Darrien kemudian menatap jalan di depan.
“Kami harus kembali.”
“Elarion mungkin sudah menunggu.”
Elyon mengangguk.
“Baik.”
Namun sebelum mereka pergi—
Fiona tiba-tiba berkata,
“Sampai jumpa lagi.”
Elyon tersenyum.
“Semoga tidak terlalu sering.”
Darrien langsung menatapnya.
“Itu pertama kalinya kita setuju.”
Fiona tertawa.
Elyon hanya tersenyum.
Darrien dan Fiona kemudian melanjutkan perjalanan.
Setelah mereka cukup jauh—
Fiona berkata,
“Kau benar-benar tidak suka bertemu Elyon.”
Darrien menggeleng.
“Bukan tidak suka.”
“Lalu?”
“Dia terlalu sering muncul.”
Fiona tertawa.
“Mungkin memang kebetulan.”
Darrien menatap jalan di depan.
“Semoga.”
Di belakang mereka—
Elyon memperhatikan keduanya pergi.
Ia kemudian melihat daun perak di leher Fiona untuk terakhir kalinya.
“Menarik.”
Kemudian ia berbalik.
Sementara Darrien dan Fiona melanjutkan perjalanan pulang—
Darrien hanya memiliki satu pikiran.
Entah bagaimana caranya—
pria itu selalu muncul di tempat mereka berada.
Dan itu mulai membuatnya sedikit curiga.
Bukan terhadap Elyon.
Hanya terhadap keberuntungan mereka sendiri.
