Series
382
BAB 267 — LIBURAN YANG AKHIRNYA TIBA
Keheningan di lapangan latihan akhirnya pecah.
Darrien masih berdiri di tengah arena.
Tubuhnya lelah.
Pakaian latihannya penuh debu.
Beberapa bagian rambutnya bahkan masih basah oleh keringat.
Namun—
ia tersenyum.
Untuk pertama kalinya setelah tiga bulan terakhir—
latihan bersama Kevin benar-benar selesai.
Fiona adalah orang pertama yang mendekatinya.
“Darrien.”
Darrien menoleh.
Fiona tersenyum lebar.
“Selamat.”
Darrien tersenyum kembali.
“Terima kasih.”
Fiona melihat kondisi arena.
Kemudian melihat Darrien lagi.
“Kau terlihat seperti baru saja berperang.”
Darrien menghela napas.
“Rasanya memang seperti itu.”
Ace langsung tertawa.
“Bukan seperti perang.”
Ia menunjuk arena.
“Ini lebih mirip perang yang berlangsung selama tiga bulan.”
Rowan mengangguk.
“Dan Darrien adalah korban utamanya.”
Darrien menatap mereka.
“Kalian berdua seharusnya menghiburku.”
Ace tersenyum.
“Kami sedang menghiburmu.”
“Dengan menertawakanku?”
“Ya.”
Rowan menambahkan dengan santai,
“Itu bentuk dukungan kami.”
Darrien terdiam.
“Dukungan yang aneh.”
Elarion berjalan mendekat.
Ia memperhatikan Darrien beberapa saat.
Kemudian tersenyum tipis.
“Namun hasilnya terlihat.”
Darrien menoleh kepadanya.
“Menurutmu?”
“Ya.”
Elarion mengamati aliran mana Darrien.
“Gerakanmu jauh lebih tenang.”
“Penggunaan mana jauh lebih efisien.”
“Dan kau tidak lagi membiarkan emosimu mengendalikan sihirmu.”
Darrien tersenyum.
“Kevin benar-benar memaksaku sampai ke titik itu.”
Ace tertawa.
“Memaksamu?”
Rowan menyela,
“Lebih tepatnya menghancurkanmu berkali-kali sampai kau belajar.”
“Terima kasih atas penjelasannya.”
Fiona menahan tawanya.
Darrien memandang mereka semua.
Mereka benar-benar terlihat bahagia.
Dan untuk sesaat—
rasa lelahnya terasa sepadan.
***
Kevin berdiri agak jauh dari mereka.
Ia tidak ikut dalam percakapan.
Setelah memastikan Darrien benar-benar menyelesaikan ujian terakhirnya—
ia hanya memasukkan senjatanya kembali.
Kemudian berbalik.
Darrien melihatnya.
“Kevin.”
Kevin berhenti.
Darrien tersenyum.
“Terima kasih.”
Kevin menoleh.
Beberapa detik mereka saling memandang.
Kemudian Kevin mengangguk.
“Jaga hasil latihanmu.”
Darrien mengangguk.
“Akan kulakukan.”
Kevin kemudian berjalan meninggalkan arena.
Ace memperhatikannya.
“Dia pergi begitu saja?”
Elarion mengangguk.
“Dia harus melapor kepada Raja Edward dan Ratu Gloria.”
Rowan tersenyum.
“Pasti laporan yang sangat panjang.”
Darrien menghela napas.
“Semoga dia tidak mengatakan semua kesalahanku.”
Ace tertawa.
“Kalau Kevin benar-benar menceritakannya, mungkin butuh waktu seharian.”
Darrien langsung menatapnya.
“Jangan beri dia ide.”
***
Beberapa waktu kemudian—
Kevin tiba di ruang kerja kerajaan.
Raja Edward dan Ratu Gloria sudah berada di sana.
Kevin memberi hormat.
“Yang Mulia.”
Edward mengangkat pandangan.
“Bagaimana?”
Kevin menjawab tanpa ragu.
“Latihan selesai.”
Gloria langsung tersenyum.
“Dan?”
“Pangeran Darrien telah memenuhi tahap yang ditentukan.”
Edward tersenyum puas.
“Benarkah?”
Kevin mengangguk.
“Dia mampu mempertahankan kontrol mana dalam kondisi tekanan tinggi.”
“Penggunaan dark magic tanpa chant juga sudah jauh lebih stabil.”
“Indra, kecepatan, pengamatan, dan pernapasannya sudah terintegrasi dalam pertarungan.”
Edward bersandar pada kursinya.
Ia terlihat sangat lega.
“Bagus.”
Gloria tersenyum.
“Berarti dia benar-benar siap.”
Kevin mengangguk.
“Ya.”
Edward kemudian tertawa kecil.
“Kalau begitu…”
Ia berdiri.
“Malam ini kita mengadakan pesta.”
Kevin terdiam.
“Pesta?”
“Ya.”
Edward tersenyum.
“Untuk merayakan selesainya latihan Darrien.”
Ia menatap Kevin.
“Dan sebagai ucapan terima kasih atas semua yang telah kau lakukan.”
Kevin mengangguk.
“Terima kasih, Yang Mulia.”
Namun ekspresinya tetap tenang.
Edward dan Gloria saling berpandangan.
Keduanya tahu—
Kevin telah memberikan waktu dan tenaganya selama berbulan-bulan.
Maka malam ini—
setidaknya mereka ingin memberinya penghargaan yang layak.
***
Malam tiba.
Ruang makan kerajaan kembali dipenuhi hidangan.
Namun kali ini—
tidak ada tamu dari kerajaan lain.
Tidak ada upacara.
Tidak ada protokol yang berlebihan.
Hanya keluarga dan orang-orang terdekat mereka.
Darrien duduk bersama Fiona.
Ace, Rowan, Elarion, Kevin, Edward, dan Gloria juga berada di meja yang sama.
Suasananya jauh lebih santai.
Makanan terus disajikan.
Percakapan berlangsung tanpa tekanan.
Ace bahkan beberapa kali menceritakan kejadian-kejadian lucu selama latihan.
Darrien langsung membantah beberapa bagian.
“Itu tidak seperti yang kau ceritakan.”
Ace tertawa.
“Bagaimana? Bukankah kau memang pernah terlempar sampai keluar arena?”
“Itu satu kali.”
Rowan mengangkat jarinya.
“Dua kali.”
Darrien menatapnya.
“…Kenapa kalian mengingat semuanya?”
Fiona tertawa kecil.
“Karena itu lucu.”
Darrien menatap Fiona.
“Bahkan kau?”
Fiona mengangguk.
“Terutama aku.”
Darrien akhirnya ikut tertawa.
Suasana meja menjadi semakin hangat.
Bahkan Kevin yang biasanya hanya diam terlihat lebih santai.
***
Setelah beberapa saat—
Darrien akhirnya menyandarkan tubuhnya.
Kemudian ia berkata,
“Kalau latihan sudah selesai…”
Semua orang menoleh kepadanya.
Darrien tersenyum.
“Berarti kita benar-benar bisa pergi ke Lunaris sekarang, kan?”
Edward langsung tersenyum.
“Akhirnya kau mengatakannya.”
Darrien mengangkat alis.
“Ayah sudah menunggu?”
“Sudah.”
Gloria tertawa kecil.
“Kau pikir kami lupa?”
Edward kemudian mengambil sebuah surat yang sebelumnya telah disimpan di dekatnya.
“Surat dari Lunaris tiba beberapa hari lalu.”
Darrien memperhatikan.
“Dari Raja Zeith?”
“Dan Ratu Seraphine.”
Edward membuka surat itu.
“Mereka ingin memastikan tanggal kunjungan kalian.”
Darrien mengangguk.
Gloria tersenyum.
“Terutama karena Ratu Seraphine benar-benar menyukai Fiona.”
Fiona yang sedang minum hampir tersedak.
“Aku?”
Gloria tertawa.
“Ya.”
Darrien tersenyum.
“Sepertinya kau sudah mendapatkan penggemar baru.”
Fiona memandangnya.
“Jangan mengejek.”
“Aku tidak mengejek.”
Darrien tersenyum.
“Aku hanya mengatakan kenyataan.”
Edward tertawa.
“Ratu Seraphine bahkan menuliskan bahwa ia berharap Fiona dapat tinggal beberapa hari di Lunaris.”
Fiona berkedip.
“Beberapa hari?”
“Ya.”
Darrien menatap Fiona.
Kemudian tersenyum kecil.
“Sepertinya kau akan mendapatkan liburan.”
Fiona tersenyum.
“Mungkin.”
***
Edward kemudian meletakkan surat itu kembali.
“Kalau begitu…”
Ia melihat semua orang di meja.
“Kita berangkat tiga hari lagi.”
Darrien mengangguk.
“Baik.”
Edward melanjutkan,
“Ace dan Rowan akan ikut.”
Keduanya langsung mengangguk.
“Siap.”
Kemudian Edward menatap Kevin.
“Dan kau juga.”
Kevin terdiam.
“Yang Mulia?”
Edward tersenyum.
“Kau akan mengawal mereka.”
Kevin mengangguk.
“Tentu.”
Namun Edward kemudian menambahkan,
“Anggap saja ini sebagai liburanmu.”
Kevin membeku.
Darrien perlahan menoleh kepadanya.
Ace menahan tawa.
Rowan langsung menunduk.
Edward tersenyum lebar.
“Sebagai permintaan maaf dariku karena selama ini kau bahkan tidak mendapatkan waktu untuk beristirahat.”
Kevin terdiam cukup lama.
Kemudian—
ia tersenyum kecil.
“Kalau begitu…”
Ia mengangguk.
“Saya menerimanya.”
Darrien langsung tertawa.
“Selamat, Kevin.”
Ace mengangkat gelasnya.
“Untuk liburan Kevin.”
Rowan ikut mengangkat gelas.
“Semoga tidak ada latihan.”
Kevin menatap mereka.
“Tidak akan ada.”
Darrien langsung terlihat lega.
“Syukurlah.”
Kevin menambahkan,
“Selama perjalanan.”
Darrien berhenti.
“…Apa?”
Kevin hanya tersenyum tipis.
“Aku tidak bilang apa-apa.”
Darrien menatapnya curiga.
Ace dan Rowan langsung tertawa.
Fiona menutup mulutnya sambil tersenyum.
Bahkan Edward dan Gloria ikut tertawa.
***
Malam semakin larut.
Setelah makan malam selesai—
mereka akhirnya kembali ke kamar masing-masing.
Tiga hari.
Hanya tiga hari lagi—
dan mereka akan berangkat menuju Lunaris.
Darrien berdiri sebentar di depan jendela kamarnya.
Ia memandang langit malam.
Untuk pertama kalinya setelah tiga bulan—
tidak ada latihan yang menunggunya pagi berikutnya.
Ia tersenyum.
“Liburan…”
Kemudian—
ia menguap.
“Benar-benar liburan.”
Di tempat lain—
Kevin juga kembali ke kamarnya.
Ia meletakkan perlengkapannya.
Menutup pintu.
Kemudian—
untuk pertama kalinya setelah sekian lama—
ia tidak perlu memikirkan jadwal latihan esok pagi.
Kevin duduk.
Menghela napas.
Dan sebuah senyum puas muncul di wajahnya.
Akhirnya.
Liburan.
Tanpa latihan.
Tanpa magical dummy.
Tanpa Darrien yang mengeluh.
Kevin memejamkan mata.
“Tenang.”
Tiga hari.
Ia hanya perlu menikmati tiga hari itu.
Kemudian—
Lunaris.
Dan untuk saat ini—
itu sudah cukup.
Share this novel