229. Tekanan Yang Semakin Meningkat

Romance Series 382

BAB 229

BOOM!

Tubuh Darrien kembali terdorong ke belakang.

Kakinya menyeret tanah beberapa meter sebelum akhirnya ia berhasil menghentikan dirinya.

Debu tipis berterbangan di sekelilingnya.

Darrien menarik napas panjang.

Dadanya naik turun.

Namun ketika ia mengangkat kepalanya—

Kevin masih berdiri di tempatnya.

Tenang.

Tidak ada perubahan berarti pada napasnya.

Tidak ada tanda kelelahan.

Bahkan ekspresinya masih terlihat santai.

Darrien menatapnya beberapa detik.

“…”

Kemudian ia mengusap wajahnya.

“Kenapa kau masih terlihat seperti baru mulai pemanasan?”

Kevin mengangkat alis.

“Karena memang begitu.”

Darrien menutup matanya.

Ia menarik napas.

Kemudian mengembuskannya perlahan.

“Benar.”

Ia membuka mata lagi.

“Aku seharusnya tidak bertanya.”

Di luar barrier—

Fiona langsung menutup mulutnya.

Bahu gadis itu bergetar menahan tawa.

Ace sudah tidak mampu menahannya.

“Hahaha!”

Rowan ikut tertawa.

“Darrien benar-benar mulai putus asa.”

Elarion hanya menghela napas kecil.

Namun sudut bibirnya juga sedikit terangkat.

“Fokus, Darrien.”

Darrien mengangkat satu tangan dari dalam arena.

“Aku sedang mencoba!”

Kevin menatapnya.

“Kalau begitu, jangan terlalu banyak bicara.”

Darrien menatap Kevin.

“Baik.”

Hening.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga—

Kevin menghilang.

Darrien langsung bergerak.

WHOOSH!

Serangan pertama melewati bahunya.

Darrien memutar tubuh.

Serangan kedua datang dari samping.

Ia menunduk.

Serangan ketiga—

Darrien melompat.

Serangan keempat datang dari belakang.

Ia memutar tubuh di udara dan berhasil menghindar.

Darrien mendarat.

Kakinya bahkan belum sepenuhnya menyentuh tanah ketika Kevin kembali menyerang.

Darrien mengangkat lengannya.

BAM!

Benturan keras terdengar.

Darrien terdorong mundur.

Namun kali ini ia tidak kehilangan keseimbangan.

Ia memutar tubuh dan menggunakan momentum dari serangan Kevin.

Kemudian—

menyerang balik.

Kevin menghindar.

Darrien mengejar.

Kevin bergerak ke kiri.

Darrien mengubah arah.

Kevin mundur.

Darrien tidak langsung mengejar.

Ia berhenti.

Mengamati.

Perpindahan berat tubuh.

Posisi kaki.

Gerakan bahu.

Aliran energi.

Semua yang diajarkan Elarion kembali muncul di pikirannya.

**Jangan mengejar tubuh lawan.**

**Baca gerakannya sebelum dia bergerak.**

Darrien menarik napas.

Kevin bergerak.

Darrien tidak.

Kevin mengubah arah.

Darrien masih diam.

Kemudian—

serangan datang.

Darrien menghindar.

Serangan itu hanya melewati beberapa sentimeter dari wajahnya.

Kevin berhenti sejenak.

Senyum kecil muncul di wajahnya.

“Bagus.”

Darrien juga tersenyum.

“Sekarang aku mulai bisa melihatnya.”

Kevin mengangguk.

“Karena kau akhirnya berhenti mengejar.”

Darrien mengerutkan kening.

Kevin melanjutkan,

“Kau mulai menunggu.”

“Lalu membaca.”

Darrien mengepalkan tangannya.

“Jadi itu yang kau inginkan sejak awal?”

“Ya.”

Kevin mengambil posisi lagi.

“Bertarung bukan hanya tentang siapa yang lebih cepat.”

“Kalau kau terus mengejar kecepatan lawan, kau akan selalu berada satu langkah di belakang.”

Darrien mengangguk perlahan.

Ia mengerti.

Kemudian—

Kevin kembali bergerak.

Kali ini lebih cepat.

Darrien langsung mengikuti.

BOOM!

Keduanya bertabrakan.

Darrien berhasil menahan serangan pertama.

Namun Kevin mengubah arah.

Serangan kedua.

Darrien menangkis.

Serangan ketiga.

Ia menghindar.

Keempat—

Darrien menunduk.

Kelima—

Darrien memutar tubuh.

Ia mulai mengikuti ritme Kevin.

Tidak sempurna.

Namun jauh lebih baik daripada sebelumnya.

Di luar barrier—

Fiona memperhatikan tanpa berkedip.

Matanya mengikuti setiap gerakan.

Ia tidak hanya melihat Darrien.

Ia memperhatikan Kevin.

Bagaimana Kevin memindahkan berat tubuhnya.

Bagaimana ia mengubah arah tanpa gerakan besar.

Bagaimana ia bisa mempercepat langkah tanpa memberikan tanda yang jelas.

Fiona perlahan menyadari sesuatu.

“Elarion.”

“Hm?”

“Kevin hampir tidak melakukan gerakan besar.”

Elarion menoleh kepadanya.

“Benar.”

“Kenapa?”

“Karena dia tidak perlu.”

Elarion menunjuk ke arah arena.

“Gerakan kecil sudah cukup untuk mengubah arah serangannya.”

Fiona kembali melihat Kevin.

“Jadi…”

“Kalau aku bisa membaca gerakan kecil itu…”

“Kau bisa memahami ke mana serangan berikutnya akan bergerak.”

Fiona mengangguk.

“Oh…”

Elarion tersenyum.

“Kau juga belajar.”

Fiona tersenyum kecil.

“Aku hanya menonton.”

“Menonton dengan benar juga merupakan latihan.”

Fiona kembali menatap arena.

Ia tidak menjawab.

Namun matanya semakin fokus.

***

Di dalam battlefield—

Darrien mulai menemukan ritmenya.

Kevin menyerang.

Darrien menghindar.

Kevin mengubah arah.

Darrien mengikuti.

Kemudian Darrien tiba-tiba berhenti.

Kevin juga berhenti.

Keduanya berdiri beberapa meter jauhnya.

Darrien menarik napas.

Ia tersenyum.

“Aku mulai bisa membacanya.”

Kevin mengangguk.

“Bagus.”

Darrien tidak membuang waktu.

Ia langsung menyerang.

Satu serangan.

Kevin menangkis.

Serangan kedua.

Kevin menghindar.

Darrien mengubah ritme.

Mundur.

Maju.

Berhenti.

Kemudian menyerang lagi.

Kevin menahan semuanya.

Namun kali ini—

Darrien tidak lagi sekadar bertahan.

Ia mulai memaksa Kevin bergerak.

Fiona membulatkan mata.

“Darrien…”

Ace yang berdiri di sampingnya ikut memperhatikan.

“Dia menekan Kevin.”

Rowan mengangguk.

“Dan Kevin membiarkannya?”

Elarion menggeleng.

“Tidak.”

“Apa?”

“Kevin sedang menguji seberapa jauh Darrien bisa mempertahankan ritme itu.”

Mereka kembali diam.

Di dalam arena—

Darrien mengubah arah.

Kemudian menyerang.

BAM!

Kevin menangkis.

Darrien tidak berhenti.

Serangan kedua.

Ketiga.

Keempat.

Kevin menahan semuanya.

Namun Darrien menggunakan satu celah kecil.

Ia memutar tubuh.

Lalu—

BAM!

Tangannya berhasil menyentuh bahu Kevin.

Tidak keras.

Tidak cukup untuk melukainya.

Tetapi—

berhasil.

Darrien berhenti.

Matanya membesar.

Kevin melihat bahunya.

Kemudian menatap Darrien.

Beberapa detik berlalu.

Darrien perlahan tersenyum.

“Aku berhasil.”

Kevin mengangkat alis.

“Ya.”

“Aku benar-benar berhasil menyentuhmu.”

“Ya.”

Darrien semakin percaya diri.

“Aku membuatmu mundur tadi.”

Kevin mengangguk.

“Benar.”

Darrien hampir tertawa.

“Berarti aku semakin dekat.”

Kevin tersenyum tipis.

“Jangan terlalu bangga.”

Darrien berhenti.

“Kenapa?”

Kevin mengangkat satu tangan.

“Karena sekarang…”

Auranya berubah.

Darrien langsung merasakan tekanan yang berbeda.

Senyumnya perlahan menghilang.

“…”

Fiona juga merasakannya dari luar barrier.

“Dia…”

Elarion menyipitkan mata.

“Ya.”

Ace menelan ludah.

“Jangan bilang…”

Rowan menatap Kevin.

“Dia meningkatkan level lagi.”

Fiona menatap mereka.

“Bukankah tadi dia bilang itu baru upgrade pertama?”

Elarion menghela napas.

“Dan sekarang kita tahu kenapa.”

Darrien menatap Kevin dengan tidak percaya.

“Kau belum serius?”

Kevin menjawab santai.

“Belum.”

Darrien menatap langit.

“…”

Kemudian ia mengusap wajahnya.

“Kenapa aku bertanya…”

Fiona langsung tertawa.

Ace dan Rowan juga tidak mampu menahannya.

Namun Kevin tetap tenang.

Ia mengambil posisi.

“Sekarang.”

Darrien kembali menatapnya.

“Apa?”

“Kita naik lagi.”

Darrien menghela napas.

“Berapa banyak level yang kau punya?”

Kevin berpikir sebentar.

“Cukup.”

Darrien langsung menghela napas panjang.

“Jawaban yang sangat tidak membantu.”

Kevin tersenyum.

Kemudian—

ia bergerak.

BOOM!

Darrien hampir tidak sempat bereaksi.

Kecepatannya berbeda.

Jauh lebih cepat.

Darrien menghindar.

Serangan berikutnya datang dari arah lain.

Ia menangkis.

Tubuhnya terdorong.

Namun Darrien segera menggunakan momentum tersebut untuk berputar.

Ia menyerang balik.

Kevin menghindar.

Darrien mengejar.

Kevin mundur.

Darrien terus menekan.

Kali ini—

Kevin benar-benar harus bergerak beberapa langkah untuk menghindari serangkaian serangan Darrien.

Fiona tersenyum lebar.

“Dia berhasil!”

Ace bersiul.

“Bagus!”

Rowan mengangguk.

“Dia benar-benar berkembang.”

Elarion tetap tenang.

Namun matanya menunjukkan kepuasan.

“Dia mulai menemukan caranya sendiri.”

Di dalam arena—

Darrien menyerang lagi.

Kevin menangkis.

Darrien mengubah arah.

Kevin mengikutinya.

Darrien kembali mengubah ritme.

Dan untuk sesaat—

mereka terlihat hampir seimbang.

Kemudian Kevin tersenyum.

Darrien langsung menyadarinya.

“Kenapa kau tersenyum?”

“Karena…”

Kevin menahan serangan Darrien.

“…kau mulai menyenangkan untuk dilatih.”

Darrien mengerutkan kening.

“Dil—”

Kevin menggunakan momentum tubuh Darrien.

Dalam satu gerakan—

Darrien terlempar.

“WOAH!”

Tubuhnya berguling beberapa meter.

Namun ia segera bangkit.

Ia mengusap sudut bibirnya.

Kemudian—

tertawa kecil.

“Begitu rupanya.”

Kevin menatapnya.

“Masih mau lanjut?”

Darrien berdiri tegak.

“Tentu.”

Ia mengepalkan kedua tangannya.

“Kalau aku berhenti sekarang…”

Tatapannya menjadi tajam.

“…aku tidak akan pernah tahu seberapa jauh aku bisa berkembang.”

Kevin mengangguk puas.

“Jawaban yang benar.”

Di luar barrier—

Fiona tersenyum.

Elarion juga terlihat puas.

Ace dan Rowan saling berpandangan.

Ace berbisik,

“Dia mulai gila.”

Rowan mengangguk.

“Sedikit.”

Fiona tertawa.

“Bukan gila.”

Ia menatap Darrien.

“Dia sedang belajar.”

Di dalam arena—

Kevin kembali mengambil posisi.

“Kalau begitu…”

Tekanan di sekitar tubuhnya kembali meningkat.

Darrien membeku.

“Tunggu.”

Kevin tersenyum.

“Apa?”

“Ini belum selesai?”

“Belum.”

Darrien menatapnya dengan tatapan tidak percaya.

“Kau serius?”

Kevin mengangguk.

“Ya.”

Darrien menarik napas panjang.

Kemudian tersenyum.

“Baiklah.”

Ia kembali mengambil posisi.

“Kalau begitu…”

Tatapannya menjadi semakin tajam.

“…aku juga akan menikmatinya.”

Kevin tersenyum.

“Begitu seharusnya.”

Dan dalam sekejap—

keduanya kembali bergerak.

BOOM!

Gelombang energi kembali mengguncang battlefield.

Fiona, Elarion, Ace, dan Rowan hanya bisa menatap dari luar barrier.

Hari keempat latihan—

ternyata baru saja memasuki tahap yang sebenarnya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience