Series
382
BAB 332 — KEPUTUSAN YANG TERTUNDA
Malam semakin dalam.
Fiona masih berada di tepi Danau Lunaris.
Ia duduk diam di bawah pohon yang sama.
Namun kali ini—
pikirannya jauh lebih berat.
Ia sudah menunjukkan semuanya.
Bukan dengan kata-kata.
Melainkan dengan kenangan.
Mereka telah melihat dunia lamanya.
Mereka telah melihat Darrien.
Mereka telah melihat bagaimana mereka bertemu.
Bagaimana mereka saling mencintai.
Bagaimana semuanya berakhir.
Dan bagaimana—
ia membawa Darrien ke kehidupan baru.
Fiona menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Aku benar-benar pengecut…”
Ia menghela napas.
Bukannya menjelaskan dengan tenang—
ia malah memperlihatkan semuanya melalui sihir.
Kemudian pergi.
Lagi.
Fiona menurunkan tangannya.
“Sekarang mereka pasti memiliki lebih banyak pertanyaan.”
Ia tersenyum pahit.
“Bahkan mungkin membenciku.”
Pikiran itu membuat dadanya terasa sesak.
Namun yang paling ia takutkan bukan Elyon.
Bukan Elarion.
Bukan Zeith atau Seraphine.
Bukan Edward dan Gloria.
Hanya Darrien.
Fiona memandang permukaan danau.
“Aku bahkan tidak berani melihat wajahmu…”
Ia menggenggam ujung pakaiannya.
“Padahal ribuan tahun yang lalu aku rela menghancurkan seluruh dunia hanya agar jiwamu tetap bersamaku.”
Fiona tertawa kecil.
“Dan sekarang…”
Ia menghela napas.
“…aku bahkan takut mendengar jawabanmu.”
***
Di Crystal Hall—
tidak ada seorang pun yang langsung pergi.
Semua masih duduk atau berdiri dalam keheningan.
Pemandangan yang mereka lihat tadi terlalu besar untuk diproses dalam beberapa menit.
Akhirnya—
Elyon berdiri.
“Kita harus mengambil keputusan.”
Semua menatapnya.
“Pertama…”
Ia melihat ke arah pintu tempat Fiona menghilang.
“Kita tidak akan mengejarnya.”
Darrien menatapnya.
Elyon melanjutkan,
“Dia sudah meminta waktu.”
Elarion mengangguk.
“Benar.”
Edward terlihat masih sangat terpukul.
“Tapi kami baru saja mengetahui apa yang terjadi kepada anak kami.”
Ia menatap Darrien.
“Aku ingin tahu semuanya.”
Gloria menggenggam tangannya.
“Aku juga.”
Elyon mengangguk.
“Dan kalian akan mendapatkan jawabannya.”
Ia berhenti.
“Tapi bukan dengan memaksanya.”
Zeith menyetujui.
“Jika dia bersedia menjelaskan, kita akan mendengarkan.”
Seraphine mengangguk.
“Kita tidak boleh membuatnya merasa terpojok.”
***
Ace mengangkat tangan.
“Jadi…”
Semua menoleh.
“Kita hanya menunggu?”
Rowan menjawab,
“Untuk saat ini.”
Ace menghela napas.
“Padahal aku masih punya banyak pertanyaan.”
Kevin meliriknya.
“Semua orang juga.”
Ace terdiam.
“Benar.”
Elarion kemudian berkata,
“Namun ada sesuatu yang lebih penting.”
Ia menunjuk lantai Crystal Hall.
“Simbol itu.”
Semua kembali melihat Silver Leaf yang masih samar.
“Crystal Hall bereaksi terhadap Fiona.”
Sylvester mengangguk.
“Dan setelah ia pergi…”
Ia melihat ke arah ruang kosong tempat kristal utama sebelumnya berada.
“…reaksinya berhenti.”
Elyon berpikir.
“Artinya hubungan itu bukan kebetulan.”
Zeith menyilangkan tangan.
“Namun kita tetap belum tahu apa hubungan sebenarnya.”
“Dan kita tidak boleh membuat kesimpulan sebelum Fiona menjelaskannya.”
***
Darrien masih diam.
Edward menatapnya.
“Kau…”
Darrien mengangkat wajah.
Edward terdiam sejenak.
Kemudian berkata,
“Apakah kau mengingat sesuatu?”
Darrien menggeleng.
“Tidak.”
Ia menatap tangannya.
“Aku melihat semuanya.”
“Tapi aku tidak mengingat pernah hidup seperti itu.”
Gloria mendekatinya.
“Tidak apa-apa.”
Darrien mengangguk kecil.
Namun kemudian—
ia teringat sesuatu.
Fiona.
Tatapannya.
Cara ia terus menghindari matanya.
Dan kalimat yang pernah ia ucapkan.
*Kalau aku menjadi monster… apakah kau masih akan berada di sisiku?*
Darrien mengepalkan tangan.
“Aku tahu satu hal.”
Semua menoleh.
Darrien berkata pelan,
“Dia takut.”
Elarion mengangguk.
“Ya.”
“Dan dia takut kepadaku.”
Tidak ada yang membantah.
Darrien menatap pintu.
“Bukan karena aku akan menyakitinya.”
Ia menarik napas.
“Dia takut aku akan meninggalkannya.”
***
Seraphine menatap Darrien dengan lembut.
“Lalu apa yang akan kau lakukan?”
Darrien tidak langsung menjawab.
Ia berdiri.
“Aku akan menunggunya.”
Ace mengangkat alis.
“Tidak mengejarnya?”
Darrien menggeleng.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena dia sudah terlalu lama melarikan diri.”
Darrien menatap pintu.
“Kalau aku mengejarnya sekarang…”
Ia tersenyum tipis.
“…dia mungkin akan berlari lebih jauh.”
Rowan mengangguk.
“Masuk akal.”
Darrien kemudian berkata,
“Jadi ketika dia kembali…”
Ia berhenti.
“Aku akan menjawab pertanyaannya.”
***
Di tepi danau—
Fiona masih duduk sendirian.
Ia memandang bulan.
Kemudian berdiri.
“Aku harus kembali.”
Ia menghela napas.
Namun langkahnya berhenti.
“Besok.”
Fiona tersenyum kecil.
“Besok aku akan kembali.”
Ia menyentuh anting Silver Leaf di telinganya.
Kemudian kalung dan gelangnya.
Tiga simbol yang kini menyatu dengan dirinya.
“Aku akan menjelaskan semuanya.”
Namun kali ini—
ia tidak berkata bahwa dirinya akan langsung pergi setelah itu.
Karena untuk pertama kalinya—
Fiona mulai mempertimbangkan sesuatu yang jauh lebih sederhana.
**Tetap tinggal.**
Bukan sebagai Saintess.
Bukan sebagai seseorang dari dua ribu lima ratus tahun yang lalu.
Bukan sebagai penjaga jiwa Darrien.
Hanya—
sebagai Fiona.
Dan mungkin…
untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun—
ia ingin mengetahui bagaimana rasanya dicintai tanpa harus takut kehilangan.
Share this novel