Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Series
382
Get the app for full experience
BAB 175
MENUJU LEMBAH
Sore mulai turun ketika pintu kediaman terbuka.
Rowan masuk lebih dulu.
Kevin dan Ace mengikuti di belakangnya.
Ketiganya baru saja kembali setelah beberapa urusan di luar.
Kevin langsung menjatuhkan tubuhnya ke kursi.
“Akhirnya…”
Ia menghela napas panjang.
“Rumah.”
Rowan tertawa kecil.
“Kau terlihat seperti baru kembali dari perang.”
“Aku hanya lelah.”
Ace berjalan menuju ruang tengah.
Namun ia berhenti.
“Ada catatan.”
Kevin menoleh.
“Dari siapa?”
Ace mengambil selembar kertas dari atas meja.
Ia membacanya.
> Kami pergi ke lembah lagi untuk piknik.
> Kami akan kembali nanti.
Kevin terdiam.
Kemudian mengangkat alis.
“Piknik lagi?”
Rowan tertawa.
“Sepertinya Fiona benar-benar menyukai tempat itu.”
Ace mengangguk.
“Darrien juga ikut.”
Kevin bersandar di kursinya.
“Elarion juga?”
“Ya.”
Kevin berpikir sebentar.
Kemudian berdiri.
“Kalau begitu…”
Rowan menatapnya.
“Apa?”
“Kita ikut.”
Ace tersenyum.
“Baru pulang sudah mau pergi lagi?”
Kevin mengambil kembali barang yang tadi ia letakkan.
“Aku tidak mau melewatkan makanan.”
Rowan menggeleng sambil tertawa.
“Kau memang tidak pernah berubah.”
Ace juga akhirnya mengambil perlengkapannya.
“Baiklah.”
Rowan berdiri.
“Kalau begitu kita pergi bersama.”
***
Tidak lama kemudian—
ketiganya kembali meninggalkan kediaman.
Mereka berjalan menuju lembah yang sama.
Tidak terburu-buru.
Tidak mengetahui bahwa di tempat tujuan—
sesuatu yang jauh berbeda sedang terjadi.
***
Di lembah—
**BOOM!**
Darrien kembali menahan serangan.
Tubuhnya terdorong beberapa langkah.
Darah tipis terlihat di pelipisnya.
Napasnya semakin berat.
Namun ia masih berdiri.
Di hadapannya—
Koga.
Dan Musaka.
Koga baru saja turun ke medan pertempuran.
Aura yang keluar darinya jauh lebih berat daripada para bawahannya.
Darrien menatapnya tajam.
“Jadi kau orangnya.”
Koga tersenyum.
“Sepertinya begitu.”
Musaka berdiri di sampingnya.
“Kali ini aku tidak akan membiarkanmu melarikan diri.”
Darrien menghapus darah dari sudut bibirnya.
“Aku juga tidak berniat melarikan diri.”
Dark Magic kembali berkumpul.
***
Tidak jauh dari sana—
Elarion sedang bertarung melawan beberapa vampire.
Akar-akar besar muncul dari tanah.
Namun salah satu vampire menghancurkannya dengan mudah.
Elarion mengerutkan kening.
“Mereka benar-benar merepotkan.”
Di sisi lain—
Elyon menahan dua vampire sekaligus.
Light Magic memenuhi kedua tangannya.
Ia berhasil mendorong mereka mundur.
Namun belum mengeluarkan seluruh kekuatannya.
Matanya tetap tajam.
Ia masih mengamati.
Mencari tahu.
Seberapa kuat mereka.
Dan siapa sebenarnya Koga.
***
Fiona berdiri di tempat yang relatif aman.
Tidak ada satu pun vampire yang menyerangnya.
Ia menyadarinya.
“Mereka memang sengaja tidak menyentuhku.”
Elarion sempat melirik ke arahnya.
“Jangan keluar dari posisi itu.”
Fiona mengangguk.
Namun matanya tetap tertuju pada Darrien.
Ia melihat bagaimana Darrien terus menghadapi Koga dan Musaka.
Dan semakin lama—
gerakannya mulai terlihat semakin berat.
***
Koga menyerang.
Darrien menahan.
**CLANG!**
Musaka datang dari sisi lain.
Darrien menghindar.
Kemudian membalas dengan Dark Magic.
**BOOM!**
Musaka mundur.
Namun Koga langsung kembali menyerang.
Darrien menahan serangan itu dengan kedua tangannya.
Tanah di bawah kakinya retak.
Koga tersenyum.
“Menarik.”
Darrien mendengus.
“Aku belum selesai.”
***
Di luar lembah—
Rowan, Kevin, dan Ace terus berjalan.
Mereka semakin dekat.
Kevin membawa beberapa makanan tambahan.
“Semoga mereka belum mulai makan.”
Ace tertawa.
“Kau benar-benar datang hanya karena makanan?”
“Tidak.”
Kevin berhenti sebentar.
“Aku juga ingin melihat tempat itu lagi.”
Rowan menggeleng.
“Alasan yang bagus.”
Mereka melanjutkan perjalanan.
Tidak ada satu pun dari mereka yang mengetahui—
bahwa sebuah penghalang besar telah menutup lembah.
Dan bahwa orang-orang yang mereka cari—
sedang bertarung di dalamnya.
***
Kembali di lembah—
Musaka menatap Darrien.
Senyumnya perlahan muncul kembali.
“Kau masih belum tahu alasan sebenarnya kami datang.”
Darrien menatapnya.
“Kalau begitu katakan.”
Musaka tertawa.
“Kau akan segera tahu.”
Koga berdiri diam di sampingnya.
Kemudian Musaka akhirnya berkata—
“Gadis itu…”
Ia menunjuk Fiona.
“…adalah bagian dari kesepakatan kami.”
Darrien membeku.
Musaka tersenyum.
“Jika aku berhasil membalas dendam…”
Ia menatap Koga.
“…Fiona akan menjadi hadiahnya.”
Dark Magic didalam Darrien berhenti.
Untuk waktu detik—
seluruh lembah terasa sunyi.
Kemudian—
**BOOOOOOM!**
Sihir hitam meledak dari tubuh Darrien.
Koga akhirnya membuka matanya sedikit lebih lebar.
Musaka mundur setengah langkah.
Dan jauh di luar lembah—
tiga orang yang tidak mengetahui apa pun…
semakin dekat menuju tempat itu.
