357. Hari Biasa Di Lunaris

Romance Completed 594

BAB 357 — HARI BIASA DI LUNARIS

Setelah meninggalkan Danau Lunaris—

Fiona dan Darrien tidak langsung kembali ke istana.

Keduanya berjalan mengikuti jalan kecil yang mengarah menuju kota.

Hari itu terasa begitu tenang.

Tidak ada rapat kerajaan.

Tidak ada pembicaraan tentang sejarah.

Tidak ada latihan.

Dan untuk sementara—

tidak ada siapa pun yang mengejar mereka.

Fiona berjalan di samping Darrien.

Tangannya sesekali menyentuh tangan Darrien.

Hingga akhirnya—

Darrien menggenggamnya.

Fiona melirik.

Namun kali ini ia tidak menarik tangannya.

Ia hanya tersenyum kecil.

“Ke mana kita?”

Darrien mengangkat bahu.

“Tidak tahu.”

Fiona menatapnya.

“Kau yang mengajakku berjalan.”

“Aku hanya mengikutimu.”

“Jadi sekarang aku yang bertanggung jawab?”

Darrien tersenyum.

“Sepertinya.”

Fiona menghela napas.

“Kau benar-benar pandai mencari alasan.”

“Belajar dari seseorang.”

Fiona langsung menatapnya.

“Siapa?”

Darrien tersenyum.

“Monster kecilku.”

Fiona:

“…”

Ia langsung mencubit lengannya.

“Aduh.”

Darrien tertawa.

***

Tidak lama kemudian—

mereka tiba di pasar kota Lunaris.

Suasananya jauh lebih ramai daripada lingkungan istana.

Pedagang berteriak menawarkan barang.

Anak-anak berlarian.

Kereta kecil membawa hasil panen melewati jalan.

Aroma makanan memenuhi udara.

Fiona memperhatikan semuanya dengan mata berbinar.

Ia sudah hidup sangat lama.

Namun tetap saja—

pasar selalu memiliki sesuatu yang menarik.

Darrien menyadarinya.

“Kau ingin melihat-lihat?”

Fiona mengangguk.

“Sedikit.”

“Baik.”

***

Pedagang pertama yang mereka temui menjual buah-buahan kristal.

Bukan buah biasa.

Kulitnya transparan seperti kaca.

Cahaya lembut bergerak di dalamnya.

Fiona mengambil satu.

“Apa ini?”

Pedagang itu tersenyum.

“Crystal Berry.”

“Rasanya?”

“Manis.”

Darrien mengambil satu juga.

Pedagang itu langsung berkata,

“Jangan makan kulitnya.”

Darrien berhenti.

“…Kenapa?”

“Karena itu bukan kulit.”

Fiona menoleh.

“Lalu?”

Pedagang itu menunjuk buah tersebut.

“Itu kristal pelindung.”

Darrien:

“….”

Fiona tertawa.

Pedagang itu kemudian menunjukkan cara membukanya.

Begitu kristalnya pecah—

cairan manis mengalir keluar.

Fiona mencicipinya.

Matanya sedikit membesar.

“Enak.”

Darrien ikut mencoba.

“Hm.”

“Bagaimana?”

“Manis.”

Fiona tersenyum.

“Jelas.”

Darrien mengambil dua lagi.

Pedagang itu tersenyum.

“Untuk pasangan?”

Fiona langsung terdiam.

Darrien menjawab santai.

“Ya.”

Wajah Fiona langsung memerah.

Pedagang itu tertawa.

***

Mereka melanjutkan perjalanan.

Di sudut lain—

ada pedagang yang menjual botol kecil berisi cahaya.

Setiap botol memiliki warna berbeda.

Fiona mendekat.

“Apa ini?”

Pedagang tersebut menjawab,

“Light Moths.”

Fiona melihat ke dalam botol.

Seekor makhluk kecil bercahaya bergerak di dalamnya.

“Untuk apa?”

“Untuk penerangan.”

“Tidak berbahaya?”

“Tidak.”

Pedagang itu membuka satu botol.

Makhluk kecil itu keluar.

Ia terbang mengelilingi Fiona.

Fiona tersenyum.

Darrien memperhatikan.

“Sepertinya menyukaimu.”

Fiona mengulurkan jari.

Makhluk itu hinggap di sana.

Pedagang tersebut terkejut.

“Jarang sekali mereka memilih manusia.”

Fiona hanya tersenyum.

“Aku juga tidak tahu kenapa.”

Darrien menatapnya.

“Aku tahu.”

Fiona menoleh.

“Apa?”

“Karena kau aneh.”

Fiona memukul lengannya.

***

Mereka kemudian menemukan toko kecil yang menjual barang-barang aneh.

Bukan senjata.

Bukan perhiasan.

Bukan pakaian.

Melainkan—

barang-barang yang dibuat dari sisa-sisa magicure.

Ada batu yang berubah suhu mengikuti emosi pemiliknya.

Ada sendok yang bisa menghangatkan makanan.

Ada cangkir yang akan mengisi dirinya sendiri dengan air ketika kosong.

Dan sebuah jam kecil yang hanya bergerak ketika seseorang berbohong.

Fiona mengambil jam itu.

Ia menatap Darrien.

Darrien menatapnya.

Fiona mengangkat alis.

“Coba.”

Darrien tersenyum.

“Aku tidak pernah berbohong kepadamu.”

Jam itu tidak bergerak.

Fiona tersenyum puas.

“Bagus.”

Kemudian Darrien mengambil jam tersebut.

Ia menatap Fiona.

“Sekarang giliranmu.”

Fiona membeku.

“Aku?”

Darrien mengangguk.

“Pernah berbohong kepadaku?”

Fiona berpikir.

Kemudian menjawab,

“Tidak.”

Jam itu—

**TIK.**

Jarumnya bergerak.

Fiona:

“….”

Darrien:

“….”

Pedagang:

“….”

Fiona perlahan meletakkan jam itu kembali.

“Aku ingin pergi.”

Darrien langsung tertawa.

“Jangan lari.”

“Aku tidak lari!”

“Kau baru saja mau pergi.”

“Itu berbeda!”

***

Mereka akhirnya sampai di bagian pasar yang lebih tenang.

Ada seorang nenek yang menjual benih tanaman ajaib.

Berbeda dari tanaman biasa—

setiap benih memiliki kemampuan tertentu.

Ada benih yang akan tumbuh menjadi bunga bercahaya.

Ada yang bisa menyimpan air.

Ada yang menghasilkan aroma tertentu.

Dan ada satu jenis yang hanya mekar ketika seseorang menyanyikan lagu di dekatnya.

Fiona memperhatikan semuanya.

“Ini menarik.”

Nenek itu tersenyum.

“Ambillah satu.”

Fiona mengambil benih kecil berbentuk seperti daun.

“Yang ini?”

“Silverleaf.”

Fiona terdiam.

Darrien menatap benih tersebut.

Nenek itu tidak tahu apa-apa.

Ia hanya berkata,

“Katanya bunga itu tumbuh paling baik jika ditanam oleh seseorang yang memiliki hati tenang.”

Fiona tersenyum kecil.

“Aku akan mencobanya.”

Darrien membayar benih itu.

Fiona menoleh.

“Kau yang bayar?”

“Ya.”

“Kenapa?”

“Hadiah.”

Fiona tersenyum.

“Terima kasih.”

Darrien mengangguk.

***

Mereka terus berjalan hingga matahari mulai sedikit condong.

Tidak ada tujuan khusus.

Tidak ada rencana.

Mereka hanya berjalan.

Berhenti ketika melihat sesuatu menarik.

Mencicipi makanan baru.

Berbicara dengan pedagang.

Sesekali tertawa.

Dan untuk Fiona—

hari sederhana seperti itu terasa jauh lebih berharga daripada apa pun.

Karena dulu—

ia tidak memiliki kesempatan untuk menjalani kehidupan seperti ini.

Tidak sebagai Saintess.

Tidak sebagai legenda.

Hanya sebagai seorang wanita yang berjalan di pasar bersama orang yang dicintainya.

Darrien menggenggam tangannya sedikit lebih erat.

Fiona tersenyum.

“Terima kasih.”

“Untuk?”

“Hari ini.”

Darrien menatapnya.

“Kalau kau menyukainya…”

Ia tersenyum.

“…kita bisa melakukannya lagi.”

Fiona mengangguk.

“Besok?”

“Besok.”

***

DI ISTANA LUNARIS

Sementara itu—

suasana di istana jauh lebih tenang.

Zeith kembali mengurus urusan kerajaan.

Seraphine memeriksa beberapa dokumen yang tertunda selama beberapa hari terakhir.

Edward dan Gloria berbicara dengan beberapa pejabat Veyth mengenai hubungan kedua kerajaan.

Elyon menyelesaikan salinan akhir catatan sejarah yang baru.

Tidak ada lagi perubahan besar.

Hanya pekerjaan kecil yang harus diselesaikan.

***

Elyon menutup dokumen terakhir.

Ia menghela napas.

“Setidaknya bagian ini selesai.”

Zeith tersenyum.

“Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, kita bisa mengurus masalah normal.”

Seraphine tertawa kecil.

“Jangan katakan itu terlalu cepat.”

Zeith menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena setiap kali kita menganggap semuanya tenang…”

Ia melirik ke arah pintu.

“…sesuatu terjadi.”

Edward tertawa.

Gloria mengangguk.

“Mungkin kali ini benar-benar tenang.”

***

Di sisi lain istana—

beberapa penjaga sedang berbicara mengenai perubahan catatan kerajaan.

Sebagian mulai mempersiapkan arsip baru.

Sebagian lagi memastikan dokumen lama tidak dihancurkan.

Karena keputusan mereka jelas.

Sejarah lama tidak akan dimusnahkan.

Ia akan disimpan sebagai catatan masa lalu.

Namun versi yang benar akan diberikan kepada generasi berikutnya.

***

Dan di area latihan—

Kevin berdiri sendirian.

Ia melihat lapangan kosong.

Kemudian melihat ke arah istana.

“Besok.”

Ia tersenyum kecil.

“Latihan lagi.”

Tidak jauh dari sana—

Ace, Rowan, dan Elarion yang kebetulan mendengarnya langsung saling memandang.

Ace menghela napas.

“Kenapa aku merasa kasihan kepada Darrien?”

Rowan menjawab,

“Karena memang pantas dikasihani.”

Elarion tertawa kecil.

***

Sementara itu—

di jalan pasar Lunaris,

Fiona dan Darrien masih berjalan bersama.

Tidak ada yang tahu ke mana mereka akan pergi setelah ini.

Tidak ada yang peduli.

Untuk hari itu—

mereka hanya ingin menikmati kehidupan sederhana.

Dan mungkin—

setelah ribuan tahun penuh kehilangan,

kehidupan sederhana itulah yang paling mereka butuhkan.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience