216. Sang Boss

Romance Series 390

BAB 216
SANG BOSS

Suasana di dalam barrier berubah.

Para magical dummy yang memenuhi arena perlahan menghilang.

Hanya satu sosok yang tersisa.

Kevin.

Namun wujudnya sudah berbeda.

Aura sihirnya meningkat.

Tekanan yang muncul dari tubuhnya membuat udara di sekitarnya terasa berat.

Darrien berdiri beberapa langkah di depannya.

Napasnya masih berat setelah menghadapi puluhan magical dummy.

Namun matanya tetap tajam.

Ia tahu—

ini adalah tahap terakhir.

Sang Boss.

Kevin mengangkat kepalanya.

“Bagaimana?”

Darrien mengatur napas.

“Masih bisa.”

Senyum kecil muncul di wajah Kevin.

“Bagus.”

Ia mengangkat tangannya.

“Kalau begitu…”

“Serang aku.”

Darrien tidak menunggu.

**WHOOSH!**

Tubuhnya melesat.

Dark Magic memenuhi kedua kakinya.

Ia bergerak jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya.

Namun Kevin menghilang dari tempatnya.

**BOOM!**

Serangan Darrien menghantam tanah.

Darrien segera berbalik.

Kevin sudah berada di belakangnya.

Darrien menunduk.

Sebuah serangan melewati kepalanya.

Ia memutar tubuh dan menyerang balik.

Kevin menangkis.

**BAM!**

Gelombang energi menyebar di antara mereka.

Darrien terdorong beberapa langkah.

Namun ia tidak jatuh.

Ia langsung maju lagi.

Serangan demi serangan.

Kevin menahan semuanya.

Sesekali—

Kevin sengaja membuka celah.

Darrien langsung memanfaatkannya.

Namun setiap kali Darrien merasa sudah mendekati kemenangan—

Kevin kembali meningkatkan kecepatannya.

“Lebih cepat.”

Darrien mengertakkan gigi.

Ia meningkatkan Dark Magic.

“Lebih kuat.”

Darrien menyerang.

Kevin menangkis.

“Jangan kehilangan fokus.”

Darrien menghindar.

“Jangan hanya melihatku.”

Darrien langsung menyadari maksudnya.

Ia mengamati arena.

Tidak ada dummy lain.

Tidak ada musuh lain.

Namun Kevin masih terus bergerak.

Darrien tersenyum tipis.

“Jadi ini maksudmu…”

Kevin mengangkat alis.

“Apa?”

“Kau ingin aku tetap memperhatikan semuanya.”

“Benar.”

Darrien mengambil posisi.

“Kalau begitu…”

Dark Magic kembali mengalir.

“…aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama.”

Ia melesat.

Kali ini—

gerakannya tidak liar.

Tidak dipenuhi amarah.

Ia mengendalikan napasnya.

Mengendalikan sihirnya.

Dan mengendalikan pikirannya.

Kevin menyerang.

Darrien menghindar.

Kevin kembali menyerang.

Darrien membaca arahnya.

Kemudian—

**BAM!**

Serangan Darrien mengenai bahu Kevin.

Kevin terdorong satu langkah.

Sunyi.

Darrien sendiri terlihat sedikit terkejut.

Ia berhasil.

Kevin menyentuh bahunya.

Kemudian—

tertawa.

“Bagus.”

Darrien tersenyum.

“Akhirnya.”

Kevin mengangkat kepalanya.

Namun senyumnya semakin lebar.

“Jangan terlalu cepat puas.”

Darrien langsung merasa tidak nyaman.

“Kenapa?”

Kevin menghilang.

Darrien membulatkan mata.

**BOOM!**

Sebuah serangan menghantam pertahanannya.

Darrien terdorong jauh.

Ia berguling dan berhenti di tanah.

Fiona yang berada di luar barrier langsung berdiri.

Namun ia tetap tidak masuk.

Elarion memperhatikan dengan tenang.

“Dia masih bisa.”

Fiona mengangguk.

“Aku tahu.”

Darrien bangkit.

Keringat mengalir dari wajahnya.

Napasnya semakin berat.

Namun ia tersenyum.

“Begitu caramu membalas dendam?”

Kevin tertawa.

“Ini?”

Ia kembali mengambil posisi.

“Belum.”

Darrien terdiam.

Kevin mengangkat tangannya.

Auranya kembali meningkat.

“Sekarang baru bagian yang menyenangkan.”

Darrien menarik napas panjang.

“Kevin…”

“Hm?”

“Kenapa kau terlihat bahagia?”

Kevin tersenyum lebar.

“Karena liburanku dibatalkan.”

Darrien terdiam.

“Itu alasannya?”

“Ya.”

Kevin langsung melesat.

“Jadi kau akan membayarnya.”

**BOOM!**

Pertarungan kembali meledak.

Darrien menahan serangan.

Kemudian membalas.

Keduanya bergerak semakin cepat.

Fiona hanya bisa melihat dari luar barrier.

Untuk pertama kalinya—

ia menyadari bahwa Kevin benar-benar menikmati pertarungan ini.

Bukan karena ingin menyakiti Darrien.

Melainkan karena akhirnya—

ia memiliki kesempatan untuk menguji kemampuan murid yang sudah dilatihnya selama bertahun-tahun.

Darrien kembali menyerang.

Kevin menangkis.

Kemudian tertawa.

“Bagus!”

Darrien mengertakkan gigi.

“Aku tidak akan kalah!”

Kevin tersenyum.

“Itulah yang ingin kudengar.”

Dan pertarungan antara sang pangeran—

dan sang “Boss”—

terus berlangsung di bawah barrier yang semakin bergetar.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience