Series
382
BAB 301 — KEBENARAN TERAKHIR
Darrien dan Kaguya masih bertarung.
Tidak ada jarak yang benar-benar aman di antara mereka.
CLANG!
Serangan kembali bertemu.
Kaguya bergerak cepat, mencoba menekan Darrien dari sisi kanan.
Darrien menghindar.
Serangan berikutnya datang.
Ia menangkis.
Kemudian membalas.
BOOM!
Keduanya kembali terpisah beberapa meter.
Namun kali ini—
Kaguya tidak langsung menyerang.
Tatapannya tetap tertuju kepada Darrien.
“Jawab aku.”
Darrien mengatur napasnya.
“Apa?”
“Koga.”
Darrien terdiam.
Kaguya mengepalkan tangannya.
“Kau mengenalnya.”
“Ya.”
“Kau berada di Waterfall Valley.”
“Ya.”
Kaguya menatapnya tajam.
“Dan kau tahu bagaimana adikku mati.”
Darrien tidak menjawab.
Namun di sisi lain medan—
Elyon dan Elarion masih berlutut di samping Fiona.
Mereka tidak punya waktu untuk memperhatikan pertarungan terlalu lama.
Napas Fiona masih lemah.
Elyon terus menyalurkan energi penyembuhan.
“Fiona…”
Tidak ada jawaban.
Elarion memeriksa lukanya lagi.
Darah memang telah berhenti.
Namun kondisi Fiona masih belum sepenuhnya pulih.
“Kita harus tetap melanjutkan.”
“Aku tahu.”
Elyon memperkuat sihirnya.
***
Kaguya kembali menyerang.
Darrien menangkis.
CLANG!
“Jawab!”
Darrien menghindar dari serangan berikutnya.
Kemudian berkata,
“Aku tidak membunuh Koga.”
Kaguya terdiam sesaat.
“Apa?”
Darrien menatapnya.
“Aku memang bertemu dengannya.”
Ia kembali menangkis serangan.
“Tapi ketika dia mati…”
Darrien berhenti sepersekian detik.
“…aku sudah tidak sadar.”
Kaguya membeku.
“Lalu siapa?”
Darrien tidak menjawab.
Namun suara Elarion terdengar dari kejauhan.
“Fiona.”
Kaguya langsung menoleh.
Elarion masih sibuk menyembuhkan Fiona ketika menjelaskan.
“Darrien tidak melakukan serangan terakhir.”
Kaguya menatapnya.
“Lalu gadis itu?”
“Light Magic-nya bereaksi ketika dia kehilangan kendali.”
Elarion menarik napas.
“Kami melihatnya sendiri.”
Kaguya menatap Fiona.
Gadis yang kini bahkan tidak sadar.
“Dia membunuh adikku?”
Elarion menggeleng.
“Tidak dengan sengaja.”
Darrien kembali berbicara.
“Jangan salahkan dia.”
Kaguya tertawa kecil.
Namun tawanya terdengar pahit.
“Bagaimana mungkin aku tidak menyalahkannya?”
Darrien menatapnya.
“Karena dia tidak tahu apa yang dia lakukan.”
Kaguya kembali menyerang.
***
BOOM!
Darrien menahan serangannya.
Kaguya menyerang lagi.
Darrien bergerak.
Keduanya bertukar serangan dengan cepat.
Namun kali ini—
Darrien tidak lagi hanya bertahan.
Ia mulai menekan.
Satu langkah.
Dua.
Tiga.
Kaguya terdorong mundur.
“Kau…”
Kaguya mulai merasakan tekanan yang berbeda.
Aura Darrien semakin dalam.
Semakin pekat.
Semakin sulit dibaca.
Kaguya teringat bagaimana mereka menemukan aura itu.
Berbulan-bulan.
Mencarinya.
Mengikutinya.
Mereka mengira aura tersebut hanya milik seorang pengguna Dark Magic yang kuat.
Namun sekarang—
ia akhirnya memahami.
Mereka bahkan belum mengetahui kedalamannya.
“Kau sebenarnya…”
Kaguya belum sempat menyelesaikan kalimatnya.
Darrien sudah bergerak.
***
Di sisi lain—
Elyon tiba-tiba mengangkat kepala.
Ia merasakan perubahan besar pada aura Darrien.
Elarion juga menyadarinya.
Namun keduanya kembali fokus kepada Fiona.
“Biarkan dia menyelesaikannya.”
Elyon mengangguk.
“Kita fokus pada Fiona.”
***
Kaguya mengangkat seluruh kekuatannya.
“Aku tidak akan kalah!”
Aura vampire meledak.
Hutan kembali bergetar.
Darrien berdiri di hadapannya.
Tenang.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada mantra.
Hanya dark magic yang perlahan berkumpul di sekeliling tubuhnya.
Kaguya menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya—
ketakutan muncul di matanya.
“Ini…”
Darrien mengangkat tangannya.
“Sudah cukup.”
Dark Magic menghilang dari pandangan.
Kemudian—
meledak.
**BOOOOOOOOM!**
Gelombang kegelapan menyapu seluruh medan.
Tanah retak.
Pepohonan tumbang.
Udara bergetar hebat.
Mufasa yang masih berhadapan dengan Kevin terpaksa mundur.
Ace dan Rowan menghentikan gerakan mereka.
Semua perhatian tertuju kepada pusat ledakan.
Ketika debu perlahan menghilang—
Kaguya berdiri dalam keadaan terluka parah.
Tubuhnya tidak lagi mampu menahan kekuatan tersebut.
Ia menatap Darrien.
Kemudian tertawa pelan.
“Jadi…”
Napasnya semakin lemah.
“…inilah aura yang kami cari.”
Darrien tidak menjawab.
Kaguya menatap Fiona dari kejauhan.
Kemudian kembali kepada Darrien.
“Adikku…”
Ia terdiam.
“Setidaknya sekarang aku tahu kebenarannya.”
Tubuh Kaguya perlahan kehilangan kekuatan.
Kemudian—
ia jatuh.
Pertarungan berakhir.
***
Darrien langsung berbalik.
Tidak menunggu.
Tidak melihat Kaguya lagi.
Fiona.
Itulah satu-satunya yang ada di pikirannya.
Ia kembali menuju Elyon dan Elarion.
“Bagaimana?”
Elyon menjawab,
“Lukanya sudah berhenti berdarah.”
Darrien menatap Fiona.
“Namun?”
“Dia masih belum sadar.”
Darrien mengangguk.
“Bawa dia kembali ke Istana Lunaris.”
Elarion berdiri.
“Kita perlu melanjutkan perawatannya di sana.”
Darrien mengangkat Fiona perlahan ke dalam pelukannya.
Ia memastikan tubuh Fiona tidak terguncang.
Kemudian—
mereka mulai bergerak.
***
Tidak jauh dari sana—
Mufasa masih berdiri.
Ia melihat tempat Kaguya jatuh.
Kemudian menatap Darrien yang semakin jauh.
Tidak ada lagi senyum.
Tidak ada lagi keyakinan.
Hanya kesadaran pahit bahwa mereka telah memilih lawan yang salah.
Namun tidak ada pengejaran.
Tidak ada rencana baru.
Tidak ada ancaman lain.
Pertempuran malam itu—
telah berakhir.
***
Darrien terus berjalan menuju Istana Lunaris.
Fiona masih berada dalam pelukannya.
Napasnya masih lemah.
Namun stabil.
Elyon berjalan di sampingnya.
Elarion mengikuti.
Yang lain menyusul di belakang.
Tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa di balik pakaian Fiona—
kalung dan gelang dengan simbol daun perak masih menyimpan cahaya yang sangat samar.
Dua benda itu telah membantu menghentikan luka Fiona.
Dan sekarang—
keduanya kembali diam.
Seolah tidak pernah melakukan apa pun.
Namun rahasia mereka belum berakhir.
Dan malam itu—
perjalanan mereka menuju Istana Lunaris akhirnya dimulai.
Share this novel