Completed
594
BAB 500 — DOSA YANG AKAN DIBAWA SELAMANYA
“...Aku minta maaf.”
Suara Raizen terdengar sangat pelan.
Hampir tenggelam di antara sisa-sisa energi sihir yang masih memenuhi udara.
Namun semua orang mendengarnya.
“Maafkan aku... Fiona.”
Raizen masih berdiri di tempatnya.
Tangannya yang tadi melepaskan serangan terakhir perlahan turun ke samping tubuhnya.
Jari-jarinya bergetar.
Ia menatap telapak tangannya.
Lalu menatap Fiona.
Darah.
Itulah hal pertama yang dilihatnya.
Darah Fiona.
Darah yang keluar karena serangannya.
Karena tangannya.
Karena kemarahannya.
Karena dirinya.
Raizen tidak berkedip.
Seolah jika ia tidak berkedip, pemandangan di hadapannya mungkin akan berubah.
Mungkin luka itu akan menghilang.
Mungkin darah itu akan kembali ke tubuh Fiona.
Mungkin Fiona akan kembali berdiri tanpa rasa sakit.
Mungkin...
semuanya hanya mimpi.
Namun tidak.
Fiona masih berada dalam pelukan Darrien.
Tubuhnya lemah.
Wajahnya pucat.
Napasnya tipis.
Dan setiap tarikan napasnya membuat dada Raizen terasa seperti dihantam sesuatu yang jauh lebih kuat daripada sihir apa pun.
“...Tidak.”
Raizen menggeleng perlahan.
Satu langkah kecil ia mundur.
Kemudian satu langkah lagi.
Tatapannya masih tertuju pada Fiona.
“Aku...”
Suaranya terhenti.
Ia mencoba lagi.
“Aku tidak bermaksud...”
Kalimat itu terdengar begitu lemah.
Begitu tidak berarti.
Karena apa pun niatnya—
Fiona tetap terluka.
Raizen menatap tangannya lagi.
Tangan yang selama ini ia gunakan untuk menyentuh rambut Fiona.
Menyentuh wajahnya.
Menggenggam tangannya.
Membawanya ke taman mawar hitam.
Memeluknya ketika ia tidur.
Tangan yang pernah menyuapinya makanan.
Tangan yang pernah mengusap kepalanya dengan lembut.
Tangan yang selalu ia gunakan untuk melindunginya.
Kini—
tangan yang sama telah menjadi sumber luka terburuk yang pernah diterima Fiona.
Raizen perlahan mengepalkan tangannya.
Kemudian langsung membukanya kembali.
Seolah ia sendiri merasa jijik melihat tangannya.
“...Aku yang melakukan ini.”
Napasnya bergetar.
“Dengan tanganku sendiri.”
Tidak ada yang menjawab.
Tidak ada yang berani.
Mufasa berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Ia hanya memperhatikan rajanya.
Untuk pertama kalinya sejak mengenal Raizen—
ia melihat sang raja benar-benar kehilangan arah.
Raizen tidak sedang memikirkan kerajaan.
Tidak sedang memikirkan musuh.
Tidak sedang memikirkan kemenangan.
Bahkan tidak sedang memikirkan Darrien.
Pikirannya hanya tertuju pada satu hal.
**Fiona.**
Dan luka yang telah ia berikan kepadanya.
Mufasa menundukkan kepala sedikit.
Ia ingin mengatakan sesuatu.
Namun tidak ada kata yang terasa cukup.
“Yang Mulia...”
Raizen tidak menjawab.
Mufasa berhenti.
Ia mengenal rajanya.
Terlalu lama.
Ia tahu bagaimana Raizen sebelum Fiona datang.
Dingin.
Tenang.
Tidak membutuhkan siapa pun.
Kesendirian bukan sesuatu yang ditakutinya.
Itulah hidup yang telah dijalaninya selama ribuan tahun.
Kemudian Fiona datang.
Perempuan itu perlahan mengubah sesuatu dalam diri Raizen.
Raizen mulai menikmati hal-hal kecil.
Tawa Fiona.
Suara langkahnya.
Makanan yang ia sukai.
Taman mawar hitam.
Malam yang biasanya terasa kosong.
Bahkan kehadiran seseorang di sisinya.
Raizen yang dahulu tidak membutuhkan siapa pun...
akhirnya menemukan seseorang yang tidak ingin ia kehilangan.
Dan sekarang—
justru tangannya sendiri yang telah menyakiti orang itu.
Mufasa tahu.
Tidak ada kata yang bisa menenangkan Raizen sekarang.
Karena bahkan jika ia berkata,
*“Ini kecelakaan.”*
Raizen tidak akan menerimanya.
Jika ia berkata,
*“Yang Mulia tidak sengaja.”*
Raizen akan tetap mengingat bahwa tangannya yang melepaskan serangan itu.
Jadi Mufasa memilih diam.
Membiarkan rajanya menghadapi kenyataan itu sendiri.
***
Di sisi lain—
Darrien masih memeluk Fiona.
Tubuh Fiona terasa terlalu ringan di dalam pelukannya.
“Fiona...”
Darrien menundukkan kepala.
“Bertahanlah.”
Fiona tidak menjawab.
Napasnya semakin pelan.
Darrien langsung merasakan kepanikan menjalar ke seluruh tubuhnya.
“Fiona?”
Ia menyentuh pipinya.
Dingin.
“Fiona.”
Tidak ada jawaban.
Kelopak mata Fiona hanya bergerak sedikit.
Kemudian kembali tertutup.
Darrien menarik napas tajam.
“Tidak...”
Ia mengangkat tubuh Fiona sedikit lebih tinggi.
“Jangan tidur.”
Suaranya mulai bergetar.
“Kau baru saja mengingatku.”
Darrien menatap wajah Fiona.
“Jangan pergi sekarang.”
Fiona tetap diam.
Darrien menekan bibirnya.
Ia ingin menggunakan magicure untuk menyembuhkan Fiona.
Namun luka itu terlalu parah.
Dan tubuh Fiona sudah terlalu lemah.
Ia bahkan takut menggunakan terlalu banyak kekuatan padanya.
“Fiona...”
Darrien memeluknya lebih erat.
“Please...”
***
Raizen melihat itu.
Ia melihat cara Darrien memeluk Fiona.
Melihat kepanikan di wajah pria itu.
Melihat tangan Darrien yang berusaha menjaga tubuh Fiona agar tidak semakin terluka.
Dan untuk pertama kalinya—
Raizen tidak merasa marah.
Tidak merasa cemburu.
Tidak merasa ingin menyerang Darrien.
Ia hanya merasa...
hancur.
Karena sekarang ia mengerti.
Fiona telah memilih Darrien.
Dan lebih buruk lagi—
Fiona memilih Darrien tepat setelah Raizen mencoba menghabisinya.
Raizen menutup matanya.
Ketika membukanya kembali—
tatapannya tertuju pada Fiona.
“...Kau sudah mengingatnya.”
Ia berbicara begitu pelan.
Raizen tahu.
Segel ingatan yang ia buat telah hilang.
Semua kenangan Fiona tentang Darrien telah kembali.
Ia tahu karena cara Fiona memandang pria itu.
Cara ia menyebut namanya.
Cara ia berdiri di depan Darrien tanpa ragu.
Raizen telah kehilangan satu-satunya hal yang selama ini ia gunakan untuk mempertahankan hubungan mereka.
Kenangan palsu itu.
Namun anehnya—
yang paling menyakitkan bukanlah kehilangan itu.
Melainkan kenyataan bahwa meskipun semua kenangan Fiona tentang Darrien kembali...
Raizen masih mencintainya.
Ia masih ingin menjaganya.
Masih ingin mendengar tawanya.
Masih ingin melihatnya berjalan di taman mawar.
Masih ingin bangun dan menemukan Fiona berada di sisinya.
Namun sekarang—
ia tahu bahwa dirinya sendiri mungkin sudah menghancurkan kesempatan itu.
Raizen kembali mundur.
Satu langkah.
Lalu satu lagi.
Tangannya gemetar.
“Aku minta maaf...”
Air mata tidak jatuh.
Raizen bukan seseorang yang mudah menangis.
Namun matanya terlihat kosong.
“Fiona...”
Ia menatap perempuan itu untuk terakhir kalinya.
“Maafkan aku.”
Kemudian ia mengangkat satu tangan.
Sebuah lingkaran teleportasi crimson-black muncul di tanah.
Cahaya perlahan membesar.
Mufasa langsung memahami maksudnya.
“Yang Mulia...”
Raizen tidak menoleh.
“Bawa mereka pergi.”
Mufasa terdiam.
“Ke Veyth.”
Raizen menarik napas panjang.
“Fiona harus mendapatkan pertolongan.”
Mufasa menatapnya.
“Dan Anda?”
Raizen diam.
Pertanyaan itu tidak perlu dijawab.
Ia tidak akan ikut.
Ia tidak mampu berdiri di dekat Fiona setelah ini.
Setidaknya...
bukan sekarang.
Raizen menatap Fiona sekali lagi.
Fiona masih berada dalam pelukan Darrien.
Wajahnya pucat.
Tidak sadar.
Namun masih bernapas.
Itu satu-satunya hal yang membuat Raizen masih mampu berdiri.
“Pastikan dia hidup.”
Suaranya rendah.
“Pastikan dia mendapatkan pertolongan.”
Mufasa mengangguk.
“Baik, Yang Mulia.”
Raizen menatap lingkaran sihir itu.
Kemudian menatap Fiona untuk terakhir kalinya.
“...Jaga dia.”
Tidak jelas apakah kalimat itu ditujukan kepada Mufasa.
Atau kepada Darrien.
Mungkin keduanya.
Cahaya teleportasi semakin terang.
Darrien mempererat pelukannya pada Fiona.
Kelima anggota Veyth mulai berkumpul.
Kevin membantu memastikan tidak ada seorang pun tertinggal.
Rowan memeriksa kondisi Fiona.
Elarion dan Elyon berdiri dekat lingkaran sihir.
Ace bahkan tidak mengeluarkan satu pun lelucon.
Tidak kali ini.
Mereka semua masih memproses apa yang baru saja terjadi.
Darrien menatap Raizen.
Untuk beberapa detik—
kedua pria itu saling menatap.
Tidak ada serangan.
Tidak ada ancaman.
Hanya keheningan.
Kemudian Darrien membawa Fiona masuk ke dalam lingkaran teleportasi.
Cahaya menelan mereka.
Raizen tetap berdiri.
Ia tidak bergerak.
Tidak berkata apa-apa.
Sampai akhirnya—
cahaya itu menghilang.
Fiona pergi.
Darrien pergi.
Veyth pergi.
Dan Shadowcresent kembali sunyi.
***
Raizen masih berdiri di tempatnya.
Tatapannya kosong pada ruang tempat Fiona tadi berada.
Ia perlahan mengangkat tangannya.
Tangan yang tadi melukainya.
Ia menatap telapak tangannya lama.
Sangat lama.
Kemudian—
jari-jarinya menutup perlahan.
“...Aku mencintaimu.”
Suaranya hampir seperti bisikan.
“Dan justru karena itu...”
Raizen menundukkan kepalanya.
“...aku menyakitimu.”
Mufasa berdiri di belakangnya.
Tetap diam.
Karena ia tahu—
luka yang sebenarnya tidak berada di tubuh Fiona.
Luka terbesar...
berada di dalam diri rajanya.
Dan luka itu mungkin tidak akan pernah benar-benar sembuh.
***
Di Veyth.
Cahaya teleportasi tiba-tiba memenuhi aula utama kerajaan.
DUUM!
Seluruh anggota Veyth muncul.
Beberapa hampir kehilangan keseimbangan.
Namun tidak ada yang memperhatikan.
Karena Darrien langsung berlutut sambil masih memeluk Fiona.
“Fiona!”
Tubuh Fiona tidak bergerak.
Matanya tertutup.
Wajahnya pucat.
Darah masih terlihat pada pakaiannya.
Kevin langsung berbalik.
“Panggil penyembuh!”
Rowan bergerak cepat.
“Sekarang!”
Ace yang biasanya paling banyak bicara hanya berdiri diam selama beberapa detik.
Kemudian ia berbalik dan berteriak sekeras mungkin—
“PANGGIL SEMUA HEALER!”
Elarion dan Elyon langsung bergerak.
Darrien tetap memeluk Fiona.
“Fiona...”
Suaranya nyaris tidak terdengar.
“Please...”
Ia menempelkan dahinya perlahan pada rambut Fiona.
“Jangan tinggalkan aku lagi.”
Tidak ada jawaban.
Hanya napas Fiona yang sangat tipis.
Dan di tempat yang sangat jauh—
di dalam Shadowcresent—
Raizen masih berdiri sendirian.
Dengan satu kesadaran yang tidak akan pernah bisa ia hapus dari pikirannya:
**Dialah yang telah melukai perempuan yang paling ia cintai.**
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya—
Raizen berharap ada seseorang yang bisa menghukum dirinya.
Namun tidak ada.
Karena tidak ada hukuman yang terasa cukup berat dibandingkan dengan rasa bersalah yang sudah terlanjur ia bawa.
Untuk selamanya.
Share this novel