Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 444 — MEREKA MASIH BERJALAN
Hari berikutnya datang.
Dan Veyth masih berada di pegunungan.
Ace bangun dari tempat tidurnya dengan rambut berantakan.
Ia duduk.
Menatap api kecil di depan.
Lalu menatap yang lain.
"Apakah kita benar-benar masih melakukan ini?"
Kevin sedang memeriksa perlengkapan.
"Ya."
Ace menghela napas panjang.
"Baik."
Ia berdiri.
"Aku hanya ingin memastikan aku tidak sedang mengalami mimpi buruk yang sama selama empat hari."
Elarion tersenyum kecil.
"Kalau ini mimpi, kau seharusnya sudah bangun."
Ace menatapnya serius.
"Jangan memberi harapan palsu."
Darrien tidak ikut percakapan.
Ia sedang memandang pegunungan di depan.
Ada sesuatu yang berbeda.
Bukan pada jalannya.
Bukan pada udara.
Melainkan pada pola energi.
"Perangkap berikutnya."
Elyon berdiri.
"Kau yakin?"
"Ya."
Mereka bergerak lebih hati-hati.
Kali ini tidak ada rune.
Tidak ada batu aneh.
Tidak ada bayangan bergerak.
Justru karena itu mereka semakin waspada.
Beberapa menit kemudian...
mereka menemukan sebuah sungai kecil.
Airnya jernih.
Mengalir perlahan di antara batu-batu.
Kevin berjongkok.
"Air biasa."
Elarion memeriksanya.
"Secara fisik, ya."
Ace menatap sungai.
"Secara fisik?"
"Di Shadowcresent, jangan terlalu cepat menyimpulkan."
Ace mengangguk.
"Benar."
Darrien mendekat.
Ia merasakan udara di atas permukaan air.
Tidak ada gangguan.
Ia mengambil batu kecil dan menjatuhkannya.
Pluk.
Batu itu tenggelam.
Tidak terjadi apa-apa.
Ace mengangkat alis.
"Benar-benar aman?"
Darrien menatap air.
"Belum tahu."
Mereka mencoba melempar ranting.
Tidak terjadi apa-apa.
Kemudian Rowan memperhatikan sesuatu.
"Airnya mengalir ke atas."
Semua menoleh.
Benar.
Sangat perlahan...
aliran sungai bergerak berlawanan arah.
Ace langsung mundur.
"Ah."
Kevin menatapnya.
"Kenapa?"
"Aku sudah tidak mau menyentuh air itu."
Elyon memperhatikan arus.
"Ini bukan sungai."
Elarion mengangguk.
"Ini jalur ruang."
Airnya bukan benar-benar mengalir.
Ruang di sekitarnya sedang dilipat.
Mereka menyadarinya hampir bersamaan.
Jika mereka menyeberang sembarangan...
mereka tidak akan tiba di sisi lain.
Mereka mungkin tiba di tempat yang sama sekali berbeda.
Darrien mengamati arus.
"Kita harus mengikuti arah lipatan."
Kevin mengangguk.
Mereka tidak langsung bergerak.
Kali ini mereka mempelajari sungai tersebut terlebih dahulu.
Satu jam.
Kemudian dua jam.
Mereka mencari pola.
Akhirnya Elyon menunjuk sebuah titik.
"Di sana."
Ada bagian air yang tidak berubah.
Satu-satunya titik yang tetap stabil.
Mereka menyeberang melalui sana.
Tidak ada teleportasi.
Tidak ada serangan.
Mereka berhasil.
Ace mengangkat kedua tangan.
"YES!"
Tidak ada yang menahannya.
Bahkan Kevin tertawa kecil.
Untuk sesaat...
mereka benar-benar menikmati kemenangan kecil itu.
Namun dari kejauhan, Mufasa melihat semuanya melalui kristal.
"Mereka melewatinya."
Salah satu penjaga mengangguk.
"Haruskah kita menutup jalur berikutnya?"
Mufasa terdiam.
Kemudian menggeleng.
"Biarkan."
"Yang Mulia?"
"Mereka sudah mulai memahami aturan."
Mufasa tersenyum.
"Kalau kita terus membuat mereka gagal tanpa memberi mereka kesempatan..."
Ia menatap Veyth yang semakin jauh.
"...mereka mungkin akan berhenti belajar."
"Dan jika mereka berhenti belajar?"
"Mereka akan berhenti bergerak."
Mufasa menghela napas.
"Justru aku ingin melihat apa yang mereka lakukan setelah berhasil."
Ia mulai mengerti sesuatu.
Veyth tidak hanya mengejar Fiona.
Mereka juga sedang berusaha memahami Shadowcresent.
Dan setiap kali mereka berhasil melewati satu bagian...
kepercayaan diri mereka bertambah.
Mufasa mulai curiga bahwa mereka akan terus seperti itu.
Sampai benar-benar mencapai batas.
Sore mulai turun.
Veyth berhenti untuk beristirahat.
Darrien duduk di atas sebuah batu.
Ia menatap langit yang mulai berubah warna.
Sudah berhari-hari.
Namun satu pikiran tidak pernah berubah.
Fiona.
Ia mengepalkan tangan perlahan.
"Aku akan menemukanmu."
Tidak keras.
Tidak dramatis.
Hanya sebuah janji.
Di tempat lain...
Mufasa menerima laporan terakhir.
Mereka masih bergerak.
Ia menatap langit.
"Sepertinya mereka belum menyerah."
Dan untuk pertama kalinya...
Mufasa mulai berharap sesuatu yang sederhana.
Semoga besok mereka akhirnya sadar...
bahwa gunung ini tidak akan membiarkan mereka lewat dengan mudah.
Namun jauh di dalam dirinya...
ia sudah tahu jawabannya.
Mereka mungkin memang tidak akan menyerah.
