56. Surat Dari Klan Serigala

Romance Series 94

BAB 56
SURAT DARI KLAN SERIGALA

Beberapa minggu berlalu.

Di wilayah Ardika, kehidupan Fiona semakin teratur.

Terlalu teratur.

Setiap pagi, para pelayan membawakan pakaian.

Setiap siang, ia harus belajar cara berbicara seperti seorang putri bangsawan.

Setiap sore, ia diberi pelajaran mengenai kebiasaan Lola.

Namun satu hal tidak pernah berubah.

Fiona tetap menolak menjawab ketika seseorang memanggilnya Lola.

“Aku Fiona.”

Itulah jawabannya.

Selalu.

***

Di ruang kerja Surya, sebuah surat baru tiba.

Marcus membawanya masuk.

“Tuan.”

Surya membuka surat itu.

Wajahnya berubah serius.

Susanti yang duduk di dekat jendela memperhatikannya.

“Dari Varian?”

Surya mengangguk.

“Ya.”

“Apa mereka meminta tanggal pernikahan?”

“Lebih dari itu.”

Surya menyerahkan surat tersebut kepada istrinya.

Susanti membacanya.

Mata Susanti membesar.

“Mereka ingin mengirim utusan.”

“Benar.”

Surya berdiri.

“Mereka mulai kehilangan kesabaran.”

Marcus menundukkan kepala.

“Berapa lama?”

“Kurang dari sebulan.”

Ruangan menjadi sunyi.

Susanti menatap suaminya.

“Kalau begitu mereka akan bertemu Lola.”

Surya mengangguk.

“Dan jika mereka bertemu Fiona…”

Ia tidak melanjutkan.

Marcus memahami maksudnya.

Jika keluarga Varian mengetahui bahwa gadis yang berada di kediaman Ardika bukan Lola—

semuanya akan runtuh.

“Bagaimana jika kita mengatakan Lola masih terlalu sakit?”

Susanti bertanya.

Surya menggeleng.

“Sudah terlalu lama.”

Marcus kemudian berkata,

“Kalau begitu kita harus segera menyelesaikan persiapan.”

Surya menatapnya.

“Berapa lama sampai dia bisa meniru Lola?”

Marcus terdiam.

“Secara penampilan, dia sudah cukup mirip.”

“Dan sikap?”

“Masih menolak.”

Surya menghela napas.

“Paksa pelajarannya.”

Susanti langsung menatapnya.

“Surya.”

“Kita tidak punya banyak waktu.”

Susanti menunduk.

Ia tahu suaminya benar.

Namun setiap kali melihat Fiona…

rasa bersalahnya semakin besar.

***

Di kamar Fiona, seorang pelayan sedang mengajarinya.

“Ketika seseorang menyapamu sebagai Nona Lola, kau harus tersenyum.”

Fiona menatapnya.

“Tidak.”

“Nona…”

“Aku bukan Lola.”

Pelayan itu menunduk.

“Tapi…”

Fiona berdiri.

“Aku tidak akan berbohong kepada mereka.”

Pelayan tersebut tidak menjawab.

Fiona kemudian melihat dirinya di cermin.

Pakaian yang dikenakan memang membuatnya terlihat seperti seorang bangsawan.

Namun wajah yang berada di cermin tetap miliknya.

Fiona.

Bukan Lola.

***

Sementara itu, jauh dari kediaman Ardika—

Darrien berdiri di tengah hutan.

Sebuah lingkaran sihir terbentuk di bawah kakinya.

Kevin berdiri beberapa langkah di depannya.

“Jangan bergerak.”

Darrien mengangguk.

Tiga kristal melayang di udara.

Yang pertama memancarkan cahaya biru.

Yang kedua merah.

Yang ketiga hitam.

“Bekukan semuanya.”

Darrien menarik napas.

Sihir dingin menyebar.

Kristal pertama membeku.

Kemudian kedua.

Ketiga.

Namun ketika ia hendak menyelesaikan yang terakhir—

kristal hitam bergetar.

Darrien langsung menghentikan sihir.

Kevin mengangguk.

“Bagus.”

Darrien mengerutkan kening.

“Bagus?”

“Kau berhenti sebelum kehilangan kendali.”

Darrien mengangguk.

Kevin kemudian melemparkan sebuah pisau latihan.

Darrien menangkapnya.

“Sekarang pertahanan.”

Tiga boneka sihir muncul dari tanah.

Mereka menyerang.

Darrien menghindar.

Satu.

Dua.

Tiga.

Ia bergerak jauh lebih cepat daripada setahun lalu.

Ia menangkis serangan pertama.

Membekukan kaki boneka kedua.

Kemudian berputar dan menghindari serangan ketiga.

Kevin memperhatikan.

“Lebih baik.”

Darrien mengatur napas.

“Aku masih lambat.”

“Tidak.”

Kevin menatapnya.

“Kau hanya belum selesai belajar.”

Darrien mengangguk.

“Aku akan terus belajar.”

Kevin terdiam sesaat.

Kemudian berkata,

“Besok kita mulai sihir tingkat ketiga.”

Darrien menatapnya.

“Seberapa sulit?”

Kevin tersenyum tipis.

“Cukup sulit untuk membuatmu berhenti memikirkan tidur siang.”

Darrien menghela napas.

“Guru…”

Kevin berbalik.

“Mulai besok.”

***

Malam itu, sebuah surat lain dikirim dari wilayah Wolf Beast.

Keith Varian memberikan perintah kepada bawahannya.

“Siapkan rombongan.”

Clark menatap ayahnya.

“Kita akan pergi?”

“Ya.”

“Untuk pernikahan?”

Keith menatap surat di tangannya.

“Untuk memastikan keluarga Ardika tidak menyembunyikan sesuatu.”

Clark tersenyum tipis.

“Menarik.”

Keith tidak tersenyum.

“Jangan membuat masalah.”

Clark mengangkat bahu.

“Aku hanya ingin bertemu calon istriku.”

Namun jauh di dalam pikirannya…

ia juga mulai penasaran.

Mengapa keluarga Ardika menunda pernikahan selama setahun?

Dan mengapa mereka terlihat begitu takut ketika keluarga Varian mulai bertanya?

Sementara itu, Fiona menatap bulan dari balik jendela kamarnya.

Darrien menatap bulan dari tengah hutan.

Dua tempat yang berbeda.

Dua kehidupan yang dipisahkan secara paksa.

Namun keduanya masih memikirkan satu sama lain.

Dan tanpa mereka ketahui…

rombongan Varian telah mulai bergerak.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience