83. Perangkap Darah

Romance Series 154

Matahari akhirnya sepenuhnya tenggelam di balik dinding batu hitam. Cahaya terakhir yang kemerahan perlahan lenyap, digantikan oleh kegelapan yang menyelimuti seluruh lembah. Angin berhembus lebih kencang, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang.
Kirana mundur selangkah lagi, kakinya menyentuh sesuatu yang membuatnya tertegun. Tanah di bawah kakinya terasa hangat. Ia menunduk perlahan, dan napasnya tertahan seketika.
Dari setiap goresan di lengan, pipi, dan telapak tangannya, setetes demi setetes darah perlahan jatuh ke tanah. Darah itu tidak meresap ke dalam tanah, melainkan mengalir perlahan mengikuti garis samar yang sudah ada di sana. Garis-garis itu mulai berpendar cahaya merah lembut, menyatu satu sama lain hingga membentuk lingkaran besar yang sempurna, mengurungnya di tengah-tengah.
Darah yang menetes dari luka-luka kecil itu ternyata adalah bahan utama yang melengkapi pola kuno yang telah digambar sebelumnya. Setiap langkah yang ia ambil, setiap tetes darah yang jatuh, tanpa sadar telah mengaktifkan perangkap yang menunggu sejak lama.
"Ini..." bisiknya pelan, matanya membelalak tak percaya. "Apa yang kalian lakukan?"
Dimas tersenyum lebar, senyum yang penuh kemenangan dan kebencian yang lama terpendam.
"Kau memang polos, Kirana. Terlalu polos untuk dunia ini."
Lingkaran merah itu semakin terang benderang. Cahayanya naik perlahan setinggi pinggang, membentuk dinding tak kasat mata yang terasa padat dan panas. Kirana mencoba melangkah keluar, namun kakinya terasa berat seolah tertanam di tanah. Ia mencoba mengangkat tangan, namun seluruh tubuhnya kaku, seakan ditarik oleh kekuatan tak terlihat yang datang dari segala arah.
"Jangan berusaha." ucap Serena dengan nada yang kini tidak lagi gemetar, melainkan penuh kepuasan. "Darahmu sudah menyentuh garis kuno. Sekarang kau tidak bisa pergi ke mana pun."
Larasati tertawa keras, suaranya bergema di seluruh lembah.
"Kau pikir kami benar-benar ingin memberitahumu soal ibumu? Kau pikir kami akan berbaik hati padamu? Kami hanya membuang waktu! Membuatmu berdiri di sini cukup lama agar darahmu menetes dan melengkapi lingkaran ini!"
Kirana menatap mereka bertiga bergantian. Rasa sakit dan kecewa bercampur dengan amarah yang mulai membara.
"Kalian menggunakan nama Ibu... hanya untuk menjebakku?"
"Kau sendiri yang datang dengan mudah." jawab Dimas dingin. "Kau terlalu terburu-buru demi ibumu. Kau tidak memeriksa tanah di bawah kakimu. Kau tidak menyadari bahwa setiap tetes darahmu adalah kunci yang kami butuhkan."
Cahaya merah semakin terang hingga menyilaukan mata. Di dalam lingkaran itu, udara terasa berat dan panas. Kirana merasakan kekuatannya perlahan disedot keluar dari tubuhnya, mengalir mengikuti garis-garis yang berpendar. Ia mencoba memanggil kekuatan Phoenix di dalam dirinya, namun api itu terasa tertekan, seakan ada kekuatan yang jauh lebih kuat menekannya ke dalam.
"Untuk apa?" tanyanya dengan suara yang bergetar, bukan karena takut, melainkan karena amarah yang menahan napasnya. "Apa yang kalian inginkan dariku?"
Dimas melangkah mendekat hingga berdiri tepat di batas lingkaran. Matanya menyala dengan cahaya yang sama dengan garis merah di tanah.
"Kami ingin apa yang seharusnya menjadi milik kami. Kami ingin nama yang abadi, kekayaan yang tak habis-habis, dan kekuasaan yang tidak bisa dirampas oleh siapa pun. Dan semua itu bisa kami dapatkan... asalkan kau ada di sini."
"Kau tidak akan mendapat apa-apa dariku!" bentak Kirana, matanya menatap tajam ke arah mereka. "Kalian hanya alat bagi orang lain! Kalian tidak menyadari bahwa kalian juga sedang dimanfaatkan!"
Larasati tertawa sinis.
"Kau masih berani membual? Lihatlah dirimu! Terkurung tak berdaya! Dan lihatlah kami! Kami akan menjadi orang-orang paling berkuasa di seluruh kerajaan! Kau hanyalah jembatan menuju kemenangan kami!"
"Kemenangan?" Kirana tersenyum pahit. "Kalian menyebut perbudakan sebagai kemenangan? Kalian tidak tahu dengan siapa kalian bersekutu."
Di balik bayangan tebing batu yang gelap, di tempat yang tidak bisa dilihat oleh Dimas dan keluarganya, berdiri kelima orang yang menyaksikan segala sesuatu berlangsung. Darma mengepalkan tangannya erat, siap melompat turun kapan saja. Namun Aran mengangkat tangan perlahan, memberi isyarat agar mereka tetap diam.
"Jangan bergerak dulu." bisik Aran pelan. "Pola itu belum selesai sepenuhnya. Kita harus tahu siapa yang sebenarnya mengendalikan ini."
Di bawah sana, Dimas tersenyum bangga menatap Kirana yang semakin sulit bergerak.
"Semuanya sudah berakhir. Kau tidak punya jalan keluar."
"Belum tentu."
Suara itu tidak berasal dari salah satu dari mereka. Suara itu berat, dalam, dan bergema dari setiap sudut lembah seakan dinding batu sendiri yang berbicara.
Dimas dan keluarganya menoleh cepat. Dari balik kabut tebal yang berputar di tengah lembah, muncul sosok tinggi besar yang perlahan melangkah keluar. Wajahnya samar, namun sepasang mata merah menyala terang menatap lurus ke arah Kirana yang terkurung di dalam lingkaran.
"Benar-benar pemandangan yang indah." ucap sosok itu pelan. "Darah Phoenix sudah mengalir. Gerbang kekuatan mulai terbuka. Dan semua berjalan persis seperti yang kurencanakan."
Dimas segera menunduk hormat, Serena dan Larasati ikut membungkuk gemetar.
"Tuan..." ucap Dimas pelan. "Ritual sudah siap. Sesuatu yang kau minta..."
Sosok itu melangkah mendekat, matanya tidak menatap Dimas sedikit pun. Tatapannya hanya tertuju pada Kirana.
"Kerja bagus." ucapnya dingin. "Dan sekarang... saatnya aku mengambil apa yang menjadi milikku."
Kirana menatap sosok itu dengan mata melebar. Dari kejauhan, di atas tebing, Aran meremas tangannya erat.
"Durga..." bisiknya pelan. "Dia akhirnya muncul."

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience