Completed
202
Langit di ruang dimensi itu bukanlah langit biasa. Warnanya ungu lembut yang perlahan berubah menjadi keemasan, seakan ikut bernapas mengikuti perasaan gadis yang berdiri di tengah hamparan tanah luas itu. Angin berhembus lembut, membawa aroma bunga yang tak pernah tumbuh di dunia luar, dan udara di sini terasa lebih murni, lebih hidup. Kirana berdiri diam di tengah ruang terbuka yang tak bertepi ini — tempat yang sepenuhnya miliknya, tempat di mana setiap aturan diciptakan oleh kehendak hatinya.
"Aku di rumah..." bisiknya pelan.
Di sini, di ruang dimensi yang ia kuasai sepenuhnya, tidak ada yang menyembunyikan apa pun. Tidak ada ketakutan. Tidak ada bahaya yang datang tiba-tiba. Hanya ada dirinya, kekuatannya, dan ruang yang tak terbatas untuk berkembang.
Kirana menarik napas panjang, memejamkan mata sejenak. Saat kelopak matanya terbuka kembali, cahaya keemasan perlahan menyelimuti tubuhnya. Ia merentangkan kedua tangan, dan di hadapannya, tanah kosong perlahan berubah bentuk. Asap keemasan naik perlahan, memadat, menyusun bentuk perlahan demi perlahan — hingga akhirnya berdiri sesosok patung yang menyerupai prajurit tinggi tegap, terbuat dari cahaya padat dan batu bercahaya. Wajahnya tak terlihat jelas, namun postur tubuhnya kuat dan kokoh, memegang sebilah pedang yang berkilat samar.
"Inilah lawanku," ucap Kirana tegas. "Bukan orang lain. Tapi bayangan kekuatan yang harus kucapai."
Tanpa menunggu lebih lama, Kirana melangkah maju. Dengan satu gerakan tangan, ia melepaskan gelombang api keemasan ke arah sosok itu. Namun sosok buatan dimensi itu melangkah ke samping dengan gerakan yang cepat dan tepat, menghindari serangan itu tanpa kesulitan. Seketika itu pula, ia membalas dengan ayunan pedang yang lebar dan cepat.
Kirana melompat mundur, menghindari ujung pedang yang melesat begitu dekat hingga menyapu helai rambutnya. Napasnya tersengal sedikit. Matanya melebar takjub sekaligus waspada.
"Cepat..." gumamnya. "Jauh lebih cepat dari yang kubayangkan."
Pertarungan pun dimulai. Di ruang yang luas itu, dua sosok terus bergerak — satu terbuat dari daging dan darah yang membawa api Phoenix murni, satu lagi terbuat dari cahaya dan kemauan keras yang tak kenal lelah. Setiap kali Kirana melepaskan serangan, sosok itu belajar dan bergerak lebih cepat. Setiap kali Kirana menghindar, ia menyadari celah yang sempat ia biarkan terbuka.
Ia melatih serangan demi serangan yang telah ia pelajari selama ini — pedang yang tercipta dari api Phoenix, gelombang angin yang terbakar panas, bola api yang meledak dahsyat saat menyentuh sasaran. Namun kali ini, ia tidak sekadar melepaskannya. Ia berlatih agar gerakannya lebih luwes, lebih tenang, lebih terarah. Ia belajar tidak membuang tenaga pada gerakan yang tidak perlu. Ia belajar membiarkan kekuatan itu mengalir keluar dengan sendirinya, seakan menjadi perpanjangan dari gerakan tangannya sendiri.
Saat ia melatihkan gelombang api yang melesat cepat dan membelah udara, ia menyadari sesuatu yang penting. Selama ini ia selalu melepaskan kekuatan itu dengan emosi yang meluap-luap — amarah, ketakutan, keinginan melindungi. Namun di sini, saat ia tenang dan fokus sepenuhnya, ia menyadari bahwa kekuatan Phoenix justru mengalir lebih lancar, lebih kuat, dan lebih terkendali saat hatinya tenang.
"Api bukan untuk meledak begitu saja..." bisiknya di sela-sela pertarungan. "Api harus mematikan, namun juga harus terkendali. Sehingga aku yang memegang kendali... bukan api itu sendiri."
Ia mencoba kembali. Kali ini, saat ia melambaikan tangan, api tidak meledak seketika. Ia membentuk aliran yang halus namun mematikan, melesat lurus dan cepat, membelah udara tanpa suara. Saat menghantam sosok buatan itu, api itu menyelimuti perisai cahayanya dengan panas yang luar biasa — tanpa ledakan yang membuang tenaga, namun dengan suhu yang perlahan namun pasti menghancurkan pertahanan.
Sosok buatan itu mundur perlahan, seakan mengakui peningkatan itu.
Kirana tersenyum tipis. Keringat mulai membasahi pelipisnya, namun hatinya terasa semakin jernih. Di sela-sela gerakan dan napas yang memburu, bayangan hari itu kembali melintas di benaknya — saat Durga melarikan diri terluka, namun tetap berkata dengan penuh keyakinan yang mengerikan.
"Ini belum selesai... Aku akan kembali..."
Kirana memperlambat gerakannya sedikit, matanya tetap terpaku pada sosok lawan di hadapannya, namun pikirannya melayang jauh.
Saat itu, Durga terluka parah. Namun ia tidak tampak takut. Ia tampak yakin bahwa suatu hari nanti ia akan kembali lebih kuat. Dan sekarang... Kirana tahu alasannya. Ada kekuatan lain berdiri di belakangnya. Kekuatan yang jauh lebih tua dan jauh lebih dahsyat. Cahaya ungu pekat yang terasa begitu dingin dan mencekam.
"Kau lari hari itu..." pikir Kirana dalam hati sambil terus bergerak, menghindari serangan pedang yang menghunjam ke arahnya. "Kau lari karena belum siap. Kau menunggu kekuatan yang baru saja kau peroleh. Dan saat kau kembali... kau akan datang dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari sebelumnya."
Kirana melompat tinggi di udara, kedua tangannya menyatu di depan dada. Cahaya keemasan berkumpul dengan cepat, membentuk bola api yang padat dan terkendali. Dengan satu gerakan kuat ke bawah, ia melepaskannya tepat ke arah dada sosok buatan itu. Ledakan yang teratur dan terkendali menyelimuti tubuh lawannya. Cahaya itu perlahan meredup, dan sosok buatan itu berdiri diam sejenak sebelum akhirnya hancur menjadi butiran cahaya yang melayang dan lenyap di udara.
Kirana mendarat dengan lembut di atas tanah, napasnya teratur meski sedikit berat. Ia berdiri diam di tengah hamparan luas itu, membiarkan sisa cahaya di tubuhnya perlahan meredup.
"Kau berpikir kau punya waktu untuk menjadi lebih kuat..." ucapnya pelan ke udara kosong, seakan berbicara kepada seseorang yang berdiri di hadapannya. "Namun kau lupa... aku juga tidak berdiri diam."
Kirana menatap ke arah cakrawala yang berwarna keemasan lembut. Matanya bersinar penuh tekad yang tenang namun tak tergoyahkan.
"Kau kembali dengan kekuatan baru. Maka aku pun akan menyambutmu dengan kekuatan yang baru pula. Api Phoenix tidak akan pernah padam. Dan setiap kali kita bertemu... aku akan berdiri lebih kuat dari sebelumnya."
Ia menarik napas panjang, lalu memejamkan mata sejenak. Di dalam hatinya, rencana mulai tersusun perlahan. Saat mereka bertemu kembali nanti, ia tidak akan lagi sekadar menangkis serangan dan bertahan. Ia harus belajar menyerang dengan lebih tepat, lebih cepat, dan lebih mematikan. Ia harus memahami kelemahan kekuatan gelap itu. Ia harus belajar menyalurkan kekuatannya tanpa terganggu oleh emosi apa pun. Karena pertempuran yang akan datang... bukan sekadar pertarungan kekuatan. Itu adalah pertarungan kemauan dan keteguhan hati.
"Datanglah..." bisiknya pelan. "Aku akan menunggumu di sini. Dan saat hari itu tiba... aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa melarikan diri untuk kedua kalinya."
Kirana mengangkat tangannya perlahan. Di hadapannya, sosok buatan dari cahaya kembali terbentuk — kali ini lebih besar, lebih kuat, dan lebih cepat dari sebelumnya. Senyum tipis terukir di bibirnya.
"Latihan belum selesai."
Share this novel