Series
154
KEMBALI KE NERAKA SENDIRI
Mobil berhenti di halaman kediaman Ardika. Lampu-lampu sudah padam, hanya lampu teras yang menyala redup, seakan menatap mereka pulang dengan tatapan yang sama — dingin, tidak menyambut, menunggu apa yang mereka bawa pulang.
Pintu terbuka. Mereka melangkah masuk — tiga orang, tidak ada yang berbicara sepanjang perjalanan. Tapi saat pintu utama tertutup rapat di belakang mereka, Dimas melempar amplop tebal ke meja marmer di ruang tamu. Suara berdenting — bunyi uang. Bunyi yang lebih manis baginya daripada tawa anak kandungnya sendiri.
Dimas tertawa. Tawa pendek, kasar, penuh kepuasan yang tidak disembunyikan. Dia menyentuh amplop itu, menekannya dengan telunjuk seakan takut hilang.
"Lihat ini! Lihat! Mereka tidak berani membiarkan Ardika jatuh! Mereka tahu — tanpa kami, pernikahan itu tidak ada artinya! Mereka membayar apa yang pantas dibayar!"
Dia berbalik, wajahnya berseri-seri — bukan karena bahagia, tapi karena serakah.
"Pradana kuat. Kaya. Berkuasa. Tapi mereka butuh KAMI. Butuh darah Ardika. Dan sekarang... mereka membayar mahal untuknya!"
Serena berdiri di dekat tangga, menatapnya dingin. Tidak ada senyum di wajahnya.
"Kau pikir ini kemenangan, Dimas? Kami duduk di meja paling belakang malam ini. Di belakang semua orang. Di belakang keluarga yang tidak seberapa dibanding kami dulu."
"Itu hanya formalitas! Hanya untuk sementara!" Dimas melambaikan tangan, tidak peduli. "Besok, minggu depan, bulan depan — mereka akan kembali meminta sesuatu. Dan setiap kali mereka meminta... mereka akan membayar lebih banyak lagi! Kirana masih milik kami. Selama dia ada di sana, dia adalah dompet berjalan!"
*************Â
LARASATI MELEDAK
Larasati berdiri di tengah ruangan, tubuhnya gemetar dari ujung kepala hingga ujung kaki. Matanya merah, bukan karena menangis — tapi karena amarah yang mendidih, tidak menemukan jalan keluar.
"Uang?! Kau bicara uang saja?!" suaranya melengking, memecah kesunyian rumah itu. "Bagaimana dengan DARMA?! Bagaimana dengan aku?!"
Dia melangkah maju, menunjuk ke arah pintu yang baru saja mereka lewati — seakan Darma masih berdiri di sana.
"Dia tidak menatapku! Tidak sekali! Dia menatap Kirana seakan dia satu-satunya wanita di dunia! Dan aku... aku berdiri di sana — darah asli Ardika! Cantik! Terpelajar! Dan dia bahkan tidak melihatku!"
Air mata jatuh — tapi air mata itu panas, membakar pipinya. Bukan kesedihan. Itu kemarahan yang berubah menjadi racun di dadanya.
"Dia memilih Kirana! Kirana yang tidak punya apa-apa! Kirana yang pendiam! Kirana yang diadopsi! DIA MEMILIH GADIS YANG BUKAN DARAH KAMI DI ATASKU!"
Dimas mengerutkan dahi, terganggu.
"Cukup, Larasati. Ini soal bisnis. Pernikahan itu urusan klan. Kau akan mendapatkan yang lebih baik lagi."
"Lebih baik?!" Larasati tertawa sinis. "Tidak ada yang lebih baik dari Darma Pradana! Tidak ada yang lebih kaya, lebih berkuasa, lebih tampan! Dan dia seharusnya MILIKKU! KAU YANG BILANG ITU MILIKKU!"
*************Â
SERENA TIDAK PERNAH PUAS
Serena melangkah maju, wajahnya keras, tidak sedih — tapi penuh kebencian yang dingin dan dalam.
"Larasati benar. Ini bukan soal Darma saja. Ini soal penghinaan terbesar — Kirana, gadis yang tidak pernah kami anggap sama denganmu, kini berdiri di tempat yang seharusnya milikmu. Dia mengenakan gaun yang bahkan tidak bisa kami bayar. Dia berdiri di samping pria yang seharusnya milikmu. Semua orang melihatnya. Semua orang tahu — dia lebih unggul dari putriku sendiri."
Dia berhenti, menelan pahit.
"Dan aku tidak bisa menerimanya. Tidak akan pernah. Kirana tidak boleh lebih baik dari Larasati. Tidak boleh lebih bahagia. Tidak boleh lebih dihormati. Itu tidak adil. Itu tidak wajar."
"Dia bukan lebih baik," potong Dimas. "Dia hanya lebih berharga saat ini. Itu saja."
"TIDAK!" Serena memukul meja. "Kau tidak mengerti! Orang-orang melihatnya! Mereka membandingkan! Dan mereka melihat KIRANA lebih unggul! Putri angkat kami — mengalahkan putri kandungku sendiri! Itu memalukan! Itu... itu tidak bisa dibiarkan berlanjut!"
***************Â
DIMAS TIDAK PEDULI SIAPA PUN SELAIN DIRINYA
Dimas sudah tidak mendengarkan mereka. Dia meletakkan amplop itu di lemari besi di sudut ruangan, menguncinya dengan dua putaran kunci. Saat berbalik, wajahnya kembali tenang — tegas, bisnis, tidak ada ruang untuk emosi.
"Sudah. Cukup. Kembali ke kamar. Tidur."
"Tapi Ayah—" coba protes Larasati.
"KATAKU — TIDUR!" Dimas membentak, amarahnya meledak sekilas. "Aku belum selesai! Bukan saat ini! Bukan sekarang! Pergi!"
Dia berbalik, berjalan cepat menuju meja telepon di ruang tamu, mengangkat gagang telepon dengan tangan gemetar — bukan karena marah, tapi karena antusiasme yang membara. Dia menekan nomor cepat.
"Hubungkan ke rumah Sekretaris Fattah. Sekarang. Katakan padanya — datang ke sini. Sekarang juga. Tidak peduli jam berapa. Katakan ada rapat darurat. Dan bawa semua laporan keuangan bulan ini. SEKARANG."
Dia meletakkan gagang telepon, napasnya memburu, matanya berkilat. Dia tidak memikirkan perasaan putrinya. Tidak memikirkan penghinaan istrinya. Dia hanya memikirkan — uang ini bisa menjadi awal. Bisa diinvestasikan. Bisa berkembang. Bisa membuat Ardika kembali di atas.
Tanpa menoleh ke belakang, tanpa mengucapkan selamat malam, tanpa menatap wajah mereka — Dimas berjalan menuju ruang kerjanya, pintu tertutup rapat di belakangnya.
Meninggalkan dua wanita — bukan bersamanya, melainkan sendirian dengan kebencian yang kini tidak lagi punya saluran lain selain satu arah.
******************Â
PECAHAN DAN RENCANA RACUN
Larasati berdiri sendirian di ruang tamu yang tiba-tiba terasa terlalu besar. Matanya jatuh ke vas porselen mahal di meja — vas yang dibawa Dimas dari perjalanan bisnis ke luar negeri.
Dia melangkah, meraihnya — dan membantingnya ke lantai.
PRAK!!!
Pecahan porselen bertebaran. Dia tidak berhenti. Langkahnya gemetar, dia meraih vas kedua — dan lagi.
PRAK!!!
"Kenapa dia?! Kenapa BUKAN AKU?!" teriaknya pada ruangan kosong. "Aku lebih cantik! Aku lebih pintar! Aku darah kandung! Kenapa DIA?!"
Vas ketiga — hancur berkeping-keping di dinding.
Serena bergerak cepat, mencengkeram lengan putrinya — bukan untuk menenangkan, tapi untuk menahannya sebelum menghancurkan rumah itu sendiri.
"Cukup, Larasati! Jangan buang tenagamu di sini!"
Larasati meronta, air mata mengalir deras.
"Lalu di mana, Ibu?! Di mana aku bisa melampiaskan ini?! Dia mengambil semuanya! Darma! Kehormatan! Masa depanku! DIA MENGAMBIL SEMUANYA!"
Serena mencengkeram bahu putrinya, menatapnya lurus ke mata — matanya sendiri dingin, tajam, penuh bayangan gelap.
"Lalu ambil kembali."
Larasati tertegun, napasnya memburu. "Bagaimana? Mereka sudah menikah. Mereka sudah menandatangani kertas itu. Dimas bahkan senang..."
Serena tersenyum — senyum yang tidak menyentuh matanya, senyum yang lebih dingin daripada malam.
"Pernikahan di atas kertas... belum tentu pernikahan di hati. Dan kebahagiaan yang baru dimulai... bisa berakhir lebih cepat dari yang dimulai."
Dia melangkah mendekat, suaranya merendah, berbisik di telinga putrinya.
"Dimas sibuk dengan uangnya. Biarkan dia. Urusan hati... urusan reputasi... itu milik kita. Dan Kirana... dia pikir dengan pindah ke Pradana, dia aman? Dia pikir dengan tanda tangan di atas kertas, dia bebas?"
Serena menggeleng pelan, matanya menyala.
"Tidak ada tempat yang cukup jauh dari kebencian kita. Dan tidak ada perlindungan yang cukup kuat — jika kita tahu di mana menancapkan pisaunya."
Larasati menatap ibunya — dan perlahan, air matanya berhenti mengalir. Digantikan oleh tatapan yang sama. Tajam. Dingin. Berbahaya.
"Dia tidak akan tenang, Ibu. Tidak satu hari pun."
"Benar. Kita tidak bisa masuk ke Pradana Mansion. Tapi kita bisa... membiarkan dunia tahu siapa Kirana Ardika sebenarnya. Gadis yang tidak tahu tempatnya. Gadis yang tidak tahu bersyukur. Gadis yang... mungkin menyembunyikan sesuatu." Serena tersenyum tipis. "Dunia mudah percaya apa yang didengar. Terutama jika itu tentang wanita yang naik terlalu cepat."
Larasati mengangguk perlahan, kakinya menginjak pecahan vas di lantai — tidak peduli.
"Dia akan menyesal. Dia akan menyesal pernah dilahirkan."
Serena mencium dahi putrinya — ciuman yang bukan kasih sayang, tapi sumpah.
"Tidurlah. Besok bukan hari yang sama. Dan dia... akan mengetahui bahwa melepaskan diri dari Ardika... tidak berarti Ardika melepaskan diri darinya."
Mereka berjalan menuju tangga — bersama, namun tidak saling memeluk. Dua bayangan yang sama gelapnya. Dua racun yang sama asalnya.
Dan di lantai di belakang mereka — pecahan vas yang berkilau di bawah cahaya lampu. Sama seperti masa depan mereka — hancur. Dan mereka tidak menyadari — pecahan itu tajam, dan suatu hari nanti, mereka sendiri yang akan terluka.
Share this novel