128. Luka Yang Lebih Tua Dari Dunia

Romance Completed 202

Tekanan yang diberikan Arya Adikara begitu berat hingga napas terasa seperti benda berat di dada. Setiap orang terdorong ke dinding batu, tak mampu bergerak satu inci pun. Darma mencengkeram gagang pedangnya hingga buku jarinya memutih, namun tangannya tak bisa diangkat sedikit pun. Wira dan Sariya berdiri berdampingan, berusaha menahan tekanan itu dengan kekuatan gabungan mereka — namun bahkan api dan cahaya pun tampak meredup di hadapan kehadiran sosok itu.
Di tengah ruangan, Kirana berlutut. Kakinya gemetar, namun ia tidak jatuh sepenuhnya. Sesuatu di dalam dirinya menolak untuk tunduk. Sesuatu yang lebih tua, lebih keras, dan lebih tak tergoyahkan daripada gunung mana pun.
"Kau menolak tunduk?" suara Arya terdengar tenang, namun penuh keheranan yang bercampur rasa jijik. "Begitu pun nenek moyangmu. Selalu sombong. Selalu yakin bahwa cahaya berada di pihak kalian. Padahal cahaya dan kegelapan — keduanya hanyalah dua sisi dari mata uang yang sama."
Kirana mendongak perlahan. Di matanya tidak ada ketakutan — hanya kebingungan yang mulai berubah menjadi pemahaman.
"Kau tidak hanya membenci kami..." ucapnya pelan namun jelas, suaranya terdengar di seluruh ruangan meski lirih. "Kau terluka."
Arya terdiam. Sesaat, bayangan di wajahnya bergetar.
"Terluka..." ulangnya pelan, seakan kata itu asing baginya. "Kau menyebut ini luka? Kau tidak tahu apa yang artinya terluka, Phoenix. Kau tidak tahu apa artinya dikhianati oleh orang-orang yang kau anggap saudara. Dikurung di dalam kegelapan selama ribuan tahun, sementara dunia di luar terus berputar tanpa pernah memikirkan apakah kau masih hidup atau sudah mati."
Ia melangkah maju selangkah, dan di sekelilingnya, bayangan-bayangan mulai membentuk pemandangan lama — bukan ruang batu ini, melainkan lembah hijau yang luas, di mana cahaya matahari bersinar lembut dan orang-orang berjalan dengan pakaian yang kuno namun indah. Kenangan itu — bukan sihir ilusi, melainkan memori yang begitu kuat hingga menembus ruang dan waktu.
 
KENANGAN YANG TERKUBUR — RATUSAN TAHUN LALU
"Namaku Arya Adikara," suaranya bergema, bukan lagi suara tuan kegelapan, melainkan suara seorang pemuda yang penuh harapan ratusan tahun silam. "Aku bukan selalu seperti ini. Dulu... aku adalah Penjaga juga. Sama seperti kalian."
Pemandangan di sekitar mereka berubah — mereka seakan berdiri di lembah yang penuh kehidupan. Di sana, berdiri sosok pemuda yang rupa-rupanya sama dengan Arya — namun matanya bersinar hangat, bukan hitam pekat. Di sampingnya berdiri dua orang lain — sosok yang wajahnya mirip dengan Wira, dan sosok lain yang wajahnya menyerupai Sariya. Mereka tertawa bersama, berbagi makanan, berlatih sihir di bawah sinar bulan purnama.
"Aku adalah Penjaga Keseimbangan," cerita Arya pelan. "Tugas-ku bukan untuk memerangi kegelapan, tapi untuk menjaganya agar tidak menelan cahaya — dan menjaga cahaya agar tidak membutakan segalanya. Klan Wirabuana dan Klan Lembayung — mereka bersumpah bersamaku. Kita bersumpah untuk menjaga dunia bersama-sama, sebagai tiga pilar yang tak terpisahkan."
Suara itu bergetar, dan pemandangan berubah — menjadi ruang sidang yang dingin dan penuh kebencian. Arya berlutut di tengah, diikat dengan rantai sihir cahaya. Di depannya berdiri para tetua kuno — dan di antara mereka, sosok yang mirip leluhur Kirana.
"Tapi mereka takut," bisik Arya, dan kepedihan dalam suaranya begitu dalam hingga membuat hati semua orang yang mendengarnya terasa perih. "Mereka takut akan kekuatanku. Mereka berkata — kekuatan keseimbangan itu terlalu berbahaya, bisa jatuh ke tangan yang salah. Jadi sebelum itu terjadi... mereka menjatuhkanku lebih dulu."
"Dituduh mengkhianati perjanjian. Dituduh berniat mengambil kekuatan Phoenix untuk diriku sendiri. Tidak ada sidang yang adil. Tidak ada pembelaan. Mereka hanya butuh alasan — dan mereka mendapatkannya. Aku dihukum bukan dengan kematian... karena kematian terlalu ringan. Aku dikurung di tempat yang tidak ada waktu, tidak ada cahaya, tidak ada suara — sendirian. Selamanya."
Air mata hitam jatuh perlahan dari mata Arya — bukan air mata kesedihan semata, melainkan air mata ribuan tahun kesepian yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata.
"Dan selama ribuan tahun itu... aku merenungkan satu hal. Jika cahaya begitu mudahnya berubah menjadi kezaliman... lalu apa bedanya dengan kegelapan? Jika mereka yang menyebut dirinya penjaga kebenaran mampu melakukan hal keji seperti itu... maka seluruh sistem ini busuk dari akarnya. Dan ia harus dihancurkan."
 
PERTANYAAN YANG TAK TERJAWAB
Kenangan itu perlahan memudar, kembali ke ruang batu yang gelap dan dingin. Namun suasana di ruangan itu telah berubah. Tidak ada yang merasa Arya sebagai iblis murni. Mereka melihatnya — manusia yang dikhianati, yang dikunci, yang dibiarkan hancur sendirian dalam kegelapan.
Kirana berdiri perlahan. Tekanan di dadanya masih berat, namun hatinya kini dipenuhi bukan amarah, melainkan kesedihan yang mendalam.
"Aku tidak membela apa yang dilakukan leluhurku," ucapnya pelan namun tegas. "Aku tidak tahu alasannya. Mungkin mereka takut. Mungkin mereka salah. Tapi dua kesalahan tidak menjadi satu kebenaran, Arya. Menghancurkan dunia karena orang-orang dulu menyakitimu... itu tidak akan menyembuhkan lukamu. Itu hanya akan menambah luka baru."
Arya menatapnya lama sekali. Untuk sesaat, tatapan matanya melembut — seakan melihat bukan musuh, melainkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang hilang bersamaan dengan dirinya.
"Kau berbicara dengan bijaksana untuk anak kecil," ucapnya pelan. "Tapi kau tidak tahu apa yang telah mereka sembunyikan. Ada hal lain... hal yang lebih mengerikan dari pengkhianatanku. Dan saat kau mengetahuinya... kau mungkin akan berterima kasih padaku karena menghancurkan semuanya."
Ia mengangkat tangan kanannya perlahan, dan bayangan di sekelilingnya bergerak kembali — tajam, dingin, dan mematikan.
"Tapi pembicaraan ini sudah selesai. Pilihlah, Phoenix — datang bersamaku dengan tenang, atau saksikan semua orang yang kau cintai hancur di depan matamu. Aku tidak memaksa. Aku hanya memberi pilihan — seperti yang dulu pernah mereka berikan padaku."
Kirana menatap Darma, Wira, Sariya, semua orang yang berjuang di sisinya. Lalu matanya beralih ke sangkar di sudut ruangan — di mana Larasati dan Serena masih terbaring lemah, nyawa mereka perlahan memudar. Dan di sanalah ia menyadari — Arya bukan musuh yang bisa dikalahkan hanya dengan pedang atau sihir. Ia adalah luka terbuka dari masa lalu yang terus berdarah hingga hari ini.
Namun itu tidak berarti ia boleh menyerah. Bukan sekarang. Bukan saat segalanya bergantung pada keberaniannya untuk berdiri.
"Jika aku ikut denganmu..." ucap Kirana pelan, namun suaranya tegas dan jelas. "Apakah kau akan melepaskan mereka semua?"
"Kirana!" seru Darma panik. "Jangan!"
Arya diam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Aku tidak butuh mereka. Aku hanya butuhmu. Ya. Mereka akan bebas."
"Tapi ada satu syarat," lanjut Kirana, dan di saat itu juga, cahaya mulai menyala di belakang punggungnya — samar pada awalnya, lalu semakin terang, semakin panas, semakin megah. "Kau harus mendengarkan apa yang kukatakan. Dan melihat apa yang leluhurku takut untuk tunjukkan padamu."
 
SAYAP PHOENIX MEKAR PENUH
Cahaya ungu-emas itu meledak dari tubuh Kirana, menyelimuti seluruh ruangan batu itu hingga tak ada sudut yang tersisa dalam kegelapan. Di belakang punggungnya, sayap yang selama ini tersembunyi akhirnya terbentang luas — besar, indah, dan bersinar seperti bintang yang jatuh ke bumi. Panasnya bukan membakar — melainkan menghangatkan, menyembuhkan, dan memberi kekuatan. Tekanan yang menindih semua orang perlahan hilang. Mereka bisa berdiri tegak lagi. Mereka bisa bernapas lagi.
Kirana melayang perlahan ke udara, sayapnya mengembuskan angin yang menyapu debu dan kegelapan dari ruangan itu. Matanya bersinar dengan cahaya yang sama — bukan amarah, bukan kesombongan, melainkan kasih sayang yang begitu besar hingga mampu menahan kegelapan apa pun.
"Ini bukan kekuatan untuk menghancurkan," ucapnya, suaranya terdengar lembut namun bergema di hati setiap orang yang mendengarnya. "Ini kekuatan untuk melindungi. Dan kau... kau juga pernah memiliki kekuatan seperti itu, Arya. Kau juga pernah ingin melindungi dunia ini. Jangan biarkan rasa sakit yang lalu mengambil alih apa yang tersisa di hatimu."
Arya menatap sayap itu — keindahan yang begitu menyilaukan, begitu murni. Dan untuk sesaat, di balik wajah tuan kegelapan itu, terlihat bayangan wajah pemuda yang dulu pernah bersinar bersama matahari. Bayangan yang rindu akan cahaya itu.
Namun bayangan itu segera lenyap, digantikan oleh kebencian yang semakin dalam.
"Kau pikir cahaya ini cukup untuk menyembuhkan ribuan tahun kesepian?" suaranya rendah dan mengancam. "Kau salah, Phoenix. Cahaya ini... hanya akan menjadi bahan bakar untuk api yang jauh lebih besar."
Ia mengangkat kedua tangannya, dan kegelapan di luar semakin pekat, semakin dalam, seakan seluruh malam dunia itu berkumpul di ruangan itu.
"Maka tunjukkanlah seberapa kuat cahayamu itu. Karena hari ini... kita akan melihat siapa yang akan bertahan — cahaya yang lahir kembali, atau kegelapan yang telah menunggu ribuan tahun untuk balas dendam."

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience