Series
17
Darah. Itu hal pertama yang kulihat saat pandanganku mulai kabur.
Darah membasahi gaun pesta putih bersih yang baru saja kugenakan untuk pertama kalinya — gaun yang seharusnya melambangkan kebahagiaanku, masa depanku, persatuanku dengan pria yang kucintai. Kini merah pekat merambat perlahan dari dada ke bawah, menyebar bagai bunga maut yang mekar di atas kain sutra mahal. Setiap detik warnanya semakin pekat. Semakin gelap. Semakin dingin.
Rasa sakit itu bukan sekadar nyeri biasa. Itu api yang menjalar dari lubang peluru di dadaku, melalap paru-paruku, membuat setiap tarikan napas terasa seperti menelan serpihan kaca tajam dan panas. Aku terjatuh berlutut di lantai marmer yang dingin licin. Lututku membentur batu keras — namun rasa sakit itu tak ada artinya dibandingkan luka yang mengiris hatiku. Tubuhku merosot hingga bersandar pada pilar besar di sudut aula. Napasku tersengal-sengal, terputus-putus, seakan ada tangan kekar mencekik leherku dari dalam.
Aku mendongak perlahan, dengan sisa tenaga yang menipis. Di sana — di bawah lampu gantung kristal yang berkilauan mewah, di tengah hiasan bunga yang harumnya kini bercampur bau anyir darah — berdiri mereka semua.
Berjejer. Menatapku yang sekarat. Tak satu pun wajah tampak berduka. Wajah-wajah yang selama ini kukenal, kucintai, kuanggap keluargaku — kini terlihat begitu asing. Begitu kejam. Seakan aku tak pernah menjadi bagian dari hidup mereka.
Di depan berdiri Larasati, saudara tiriku. Wanita yang selama ini kuanggap sahabat baik, yang selalu tersenyum manis dan memelukku hangat. Kini ia berdiri tegak. Gaun merahnya menyala, bersih sempurna, tak ternoda setetes pun darahku. Tak ada air mata. Yang ada hanya senyum — terukir semakin lebar, semakin terang, penuh kemenangan yang tak lagi disembunyikan. Matanya menatapku yang tergeletak berdarah, dan di balik kilauannya terpancar kebencian yang begitu dalam, begitu lama dipendam — seakan selama ini ia menahan rasa jijik setiap kali melihatku bernapas.
Di sampingnya berdiri Serena, ibu tiriku. Wanita yang menikah dengan ayahku setelah ibuku meninggal, yang selalu berjanji akan menganggapku seperti anak kandungnya sendiri. Kini ia berdiri tenang, tangan bersilang di perut, wajah dingin seakan menonton pertunjukan yang membosankan. Tak ada kerut di dahi. Tak ada getar di suaranya.
Di belakang mereka berdiri Dimas Ardika — pria yang kusebut ayah. Kepala Keluarga Ardika. Pria yang dulu pernah mengangkatku tinggi-tinggi dan berkata aku adalah putri kesayangannya. Kini ia berdiri diam. Tangan mengepal erat di sisi tubuh — namun bukan karena marah kepada mereka yang melukai aku. Ia menatapku jatuh berdarah dengan wajah pucat namun tak bergerak. Tak melangkah maju seujung jari. Tak memanggil namaku. Tak berteriak meminta pertolongan.
Di sebelahnya berdiri Paman Bayu, saudaranya sendiri. Tangan kanannya masih memegang senjata yang baru saja menembus dadaku. Asap tipis masih mengepul dari ujung laras. Matanya menatapku tanpa rasa bersalah. Tanpa ragu. Seakan ia baru saja membunuh binatang pengganggu yang tak berharga.
Aku menatap mereka satu per satu. Napasku semakin pendek. Darah mengalir deras dari dadaku hingga membasahi lantai marmer berkilauan itu. Rasa dingin merambat dari ujung kaki, naik perlahan menembus perut dan dada, mendekati jantung yang berdetak semakin lemah. Namun rasa dingin itu tak sebanding dengan rasa perih di hatiku — jauh lebih tajam daripada peluru yang menembus tubuhku.
Dengan tenaga yang hampir habis, aku membuka bibir. Suara yang keluar hanyalah bisikan parau, terputus-putus, bercampur bunyi darah yang mendesak dari kerongkongan.
"Kenapa..." suaraku pecah. Air mata mulai mengalir membasahi pipi yang kian dingin. "Kenapa harus hari ini... hari pertunanganku..."
Pertanyaanku menggantung di udara. Larasati melangkah maju perlahan, sepatunya beradu pelan di lantai berdarah di hadapanku. Ia berjongkok, menyamakan tingginya dengan tubuhku yang lemah, lalu mengangkat tangan halusnya dan menyentuh pipiku yang basah oleh keringat dan air mata. Jari-jarinya terasa dingin — namun senyum di bibirnya jauh lebih menyakitkan daripada luka di dadaku.
"Karena hari ini adalah harimu, Kakak," ucapnya pelan, lembut persis seperti nada bicaranya selama ini — namun setiap kata bagai pisau yang diputar perlahan di dalam luka terbukaku. "Hari ini, di hadapan semua kerabat dan sekutu, namamu resmi dicatat sebagai Pewaris Keluarga Ardika. Kau resmi menjadi tunangan Darma Pradana. Kau akan memiliki kekuasaan yang tak bisa lagi kami renggut dengan mudah."
Ia berhenti sejenak, lalu menyeringai. Matanya menyala penuh kebencian yang tak pernah kulihat sebelumnya.
"Kami tak bisa membiarkan itu terjadi, Kirana. Selama kau hidup, akulah anak kedua — yang tak berhak atas apa pun. Namun jika kau mati... akulah satu-satunya putri Ardika. Akulah yang menggantikan posisimu. Akulah yang menikah dengan Darma. Akulah yang mewarisi seluruh kekayaan, kekuasaan, dan nama besar Ardika. Semua yang seharusnya menjadi milikmu... akan menjadi milikku. Semua."
Darahku terasa membeku di pembuluh. Aku menatap wajah yang selama ini kuanggap penuh kasih itu — dan akhirnya paham. Setiap senyumnya. Setiap pelukannya. Setiap kata manisnya selama belasan tahun. Semuanya adalah kebohongan yang disusun rapi agar aku tak pernah menyadari bahwa aku berdiri di tepi jurang yang telah mereka siapkan sejak lama.
Pandanganku beralih perlahan kepada Serena. Wanita itu melangkah maju, berdiri tegak, menatapku yang sekarat dengan tatapan dingin seakan aku hanyalah debu yang tak layak diinjak.
"Kau seharusnya tidak pernah lahir, Kirana," ucapnya pelan namun tegas. Suaranya tak bergetar sedikit pun. "Ibumu... wanita itu... mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Ia memiliki Dimas. Ia memiliki kekuasaan. Ia memiliki posisi yang seharusnya kugenggam. Dan yang terburuk... ia melahirkan kau. Gadis yang membawa darah yang bahkan Dimas sendiri tak paham sepenuhnya. Selama kau hidup, ancaman itu tak pernah hilang. Selama kau hidup, warisan sejati keluarga ini tetap berada di tangan orang asing."
Ia menatapku dengan jijik yang tak lagi disembunyikan.
"Hari ini adalah hari pertunanganmu — hari di mana hak warismu akan dikukuhkan secara resmi. Jika itu terjadi, terlalu sulit untuk menyingkirkannya. Maka... hari inilah saat yang paling tepat. Kau mati sebelum namamu dicanangkan sebagai pewaris. Larasati akan menggantikanmu. Semua orang akan mengerti. Semua orang akan menerima. Dan tak ada yang akan bertanya-tanya."
Aku menatap Dimas. Ayahku. Pria yang dulu memanggilku putri kesayangannya. Mataku penuh permohonan. Penuh rasa tak percaya. Air mata mengalir tanpa henti.
"Ayah..." panggilku. Suaraku nyaris tak terdengar. Napasku semakin lemah. "Kau tahu rencana mereka... kau tahu mereka akan membunuhku... dan kau membiarkannya..."
Dimas melangkah maju perlahan. Langkahnya lambat. Berat. Seakan setiap langkah menuju anak perempuannya yang sekarat adalah pengorbanan yang berat baginya. Namun saat ia berhenti tak jauh dari tubuhku yang berdarah itu — tak ada air mata di matanya. Tak ada rasa bersalah. Tak ada penyesalan. Yang ada hanyalah tatapan datar, dingin, seakan melepaskan sesuatu yang selama ini membebani hatinya.
Ia menatapku lurus ke dalam mataku. Dan dengan suara rendah namun begitu tegas hingga menghancurkan seluruh jiwaku, ia berkata:
"Maafkan aku, Kirana. Kau tidak cukup kuat untuk memimpin klan ini. Hatimu terlalu lembut. Pikiranmu terlalu sederhana. Kau tidak akan mampu bertahan di dunia gelap tempat kami hidup. Larasati... ia lebih kuat. Lebih cerdik. Lebih pantas berdiri di posisimu."
Hening. Satu detik. Dua detik. Dunia terasa berhenti berputar.
Lalu ia mengucapkan kalimat yang menghancurkan duniaku seketika — kalimat yang akan terngiang-ngiang di telingaku hingga napasku putus, dan bahkan setelah itu.
"Dan satu hal lagi... kau bukan anak kandungku."
Darah yang mengalir dari dadaku seketika terasa berhenti. Napasku tercekat di tenggorokan. Mataku terbelalak menatapnya. Tak mampu berkata apa pun. Tak mampu bernapas. Tak mampu memahami apa yang baru saja kudengar.
"Bukan... anak kandung..." bisikku lemah. Rasa sakit di dadaku seketika tak berarti dibandingkan hatiku yang hancur berkeping-keping.
"Darah yang mengalir di tubuhmu bukanlah darah Ardika," lanjut Dimas dengan tenang yang mengerikan. "Ibumu menyembunyikan kebenaran itu hingga akhir. Aku menikahinya, mengira ia jandaan yang tak memiliki ikatan apa pun. Namun ternyata... ia membawa rahasia besar. Dan kau... kau adalah buah dari rahasia itu. Selama ini aku membiarkanmu hidup karena ibumu meninggalkanmu di sisiku dan aku tak tega. Namun aku tak pernah menganggapmu anak kandungku. Dan kau... tak pernah benar-benar berhak atas apa pun di rumah ini."
Dunia seketika gelap. Segala kasih. Segala kenangan. Segala harapan yang kugenggam seumur hidup. Semuanya runtuh seketika. Aku bukan putrinya. Aku bukan siapa-siapa. Anak dari rahasia ibuku. Anak dari pria yang tak pernah kukenal. Dibesarkan dalam kemewahan namun tak pernah memiliki hak apa pun. Dan itulah alasan mereka membunuhku. Alasan ayahku sendiri menyerahkanku kepada maut. Karena baginya... aku tak pernah benar-benar ada.
Dengan sisa tenaga yang hampir habis, mataku beralih perlahan. Mencari satu orang lagi. Satu-satunya harapan terakhir yang tersisa di hatiku.
Di ambang pintu aula yang megah, berdiri seorang pria.
Tubuhnya tegap dan tinggi. Berpakaian resmi berwarna gelap yang menonjolkan perawakannya yang gagah. Wajahnya tampan namun dingin. Matanya tajam dan tenang. Menatap pemandangan di hadapannya tanpa sedikit pun bergerak. Itu Darma Pradana. Tunanganku. Pria yang akan menikah denganku hari ini. Pria yang beberapa hari lalu memegang tanganku dan berjanji akan melindungiku seumur hidup. Pria yang kucintai dengan segenap jiwaku.
Ia berdiri di sana. Menatapku yang sekarat.
Mataku memandangnya. Penuh harapan. Penuh permohonan. Air mata terus mengalir membasahi wajahku yang semakin pucat dan dingin. Aku memanggil namanya dengan napas yang hampir tak ada lagi.
"Darma..." suaraku begitu pelan, hampir tak terdengar kecuali olehnya sendiri. "Tolong... kumohon... tolong aku..."
Matanya yang tajam menatap lurus ke mataku. Aku menunggu. Yakin ia akan berlari mendekat. Mengangkat tubuhku yang lemah. Memanggil namaku dengan cemas. Melawan semua orang demi menyelamatkanku.
Namun ia tak bergerak.
Ia hanya berdiri diam. Tegak. Tenang. Matanya menatapku yang jatuh berdarah tanpa berkedip. Tanpa air mata. Tanpa kemarahan. Tanpa rasa iba. Seakan aku hanyalah orang asing yang tergeletak mati di hadapannya. Seakan aku bukanlah wanita yang akan menjadi istrinya hari ini. Seakan semua janji yang pernah ia ucapkan tak pernah ada.
Dan saat itu... perlahan, dengan tenang yang mengerikan... ia memalingkan wajahnya.
Pandangannya beralih dari tubuhku yang sekarat menuju Larasati yang berdiri tersenyum penuh kemenangan. Dan dalam tatapan itu... aku paham segalanya.
Ia tahu. Ia menyetujui semuanya. Ia memilih berpihak pada mereka. Daripada menyelamatkanku... ia memilih Larasati. Memilih kekuasaan. Memilih keamanan posisinya. Dan aku... dikorbankan demi semua itu.
Rasa sakit yang kurasakan saat peluru menembus dadaku tiba-tiba hilang sama sekali. Yang tersisa hanyalah kekosongan yang dingin dan gelap. Hati yang hancur berkeping-keping hingga tak ada lagi yang tersisa untuk dihancurkan.
Serena melangkah maju satu langkah lagi. Suaranya terdengar dingin dan tegas, memecah keheningan yang mencekam.
"Singkirkan dia. Buat seakan ia mati karena kecelakaan. Malam ini... tak ada yang boleh tahu bahwa Kirana pernah ada di sini."
Paman Bayu melangkah maju. Langkahnya berat dan mantap. Ia menatapku yang masih bernapas tipis dengan tatapan tanpa perasaan sama sekali.
Pandanganku mulai kabur. Cahaya lampu kristal di atas kepalaku perlahan memudar menjadi bintik-bintik cahaya yang samar. Suara-suara di sekitarku mulai terdengar jauh, seakan datang dari tempat yang sangat jauh. Rasa dingin telah mencapai jantungku. Napasku terasa semakin sulit ditarik. Semakin pendek. Semakin lemah.
Namun sebelum gelap sepenuhnya menutup pandanganku... aku menatap mereka satu per satu untuk terakhir kalinya. Wajah ayahku yang tak berani menatap mataku lagi. Senyum Larasati yang semakin lebar. Mata Serena yang penuh kemenangan. Dan terakhir... punggung Darma yang telah berpaling sepenuhnya dariku.
Di detik-detik terakhir hidupku, di tengah rasa sakit yang luar biasa dan kesepian yang mencekik, aku bersumpah di dalam hatiku yang perlahan berhenti berdetak.
Jika ada kehidupan setelah kematian... jika aku diberi kesempatan untuk kembali...
Aku akan kembali. Aku akan menghancurkan mereka semua. Merobohkan menara kesombongan yang mereka bangun di atas darahku. Membuat mereka merasakan rasa sakit seribu kali lebih berat dari yang mereka berikan padaku. Membuat mereka menyesal telah membiarkanku hidup... lalu membunuhku dengan begitu kejam.
Aku bersumpah — demi darahku yang tumpah di lantai ini, demi nama ibuku yang mereka hina, demi kematianku yang penuh pengkhianatan ini...
Aku akan kembali. Dan aku akan membakar dunia mereka hingga tak tersisa satu pun.
Pandanganku akhirnya gelap sepenuhnya. Napasku berhenti. Jantungku berhenti berdetak. Tubuhku yang dingin tergeletak di atas lantai marmer yang berkilauan, berlumuran darah sendiri — di bawah langit yang sama, di hadapan keluarga yang membunuhku, di hari pertunanganku sendiri.
Share this novel