Series
154
SURAT BERISI EMAS
Malam setelah pernikahan — dan hari ini, setelah berpapasan dengan Kirana di jalan — suasana di Ardika Mansion tidak pernah begitu gelap, begitu sesak, begitu penuh dengung kemarahan yang tak menemukan jalan keluar.
Dimas Ardika duduk di kursi besar di ruang kerjanya, tangan kanannya memegang selembar kertas yang hampir ia remas berkali-kali. Di atas meja di hadapannya — tumpukan uang kertas bernilai besar, cek bermeterai resmi Pradana, dan sebuah amplop tebal berisi perhiasan keluarga yang diwariskan dari generasi ke generasi. Semua itu — pembayaran. Harga yang dibayar Pradana agar Kirana menjadi menantu mereka.
Jumlahnya begitu besar — cukup untuk menutup utang pabrik kain yang nyaris runtuh, cukup untuk memulihkan nama Ardika, cukup untuk hidup mewah setidaknya sepuluh tahun tanpa bekerja. Namun saat Dimas menatap tumpukan itu, ia tidak merasa lega. Ia merasa dijual. Dan yang lebih menyakitkan — ia tahu ia menjualnya dengan sukarela.
Pintu terbuka dengan kasar. Serena masuk, wajahnya memerah, napasnya pendek. Di belakangnya Larasati melangkah — matanya bengkak, bibirnya terkatup rapat hingga memutih, tangannya mengepal begitu kuat hingga kuku menancap ke telapak tangan.
"Kenapa kau belum menghitungnya?" sergah Serena, suaranya melengking. "Uang itu ada di sana! Emas itu ada di sana! Lalu kenapa kau menatapnya seakan itu racun?"
Dimas menoleh perlahan. Matanya lelah, pucat.
"Karena itu memang racun, Serena. Kita mengambilnya, dan kita tahu — itu harga putriku. Harga Kirana."
Serena tertawa tajam, melangkah mendekat hingga berdiri tepat di tepi meja.
"Harga?! Itu kehormatan! Siapa yang mau gadis tidak jelas asal-usulnya itu? Pradana! Orang paling berkuasa! Mereka membayar mahal — dan kau menyebutnya racun? Bodoh! Tanpa uang ini, Ardika sudah runtuh minggu lalu!"
Larasati berdiri di samping ibunya, matanya menatap tumpukan emas itu — bukan dengan syukur, melainkan dengan kebencian yang dalam. Setiap keping emas itu terlihat seperti potongan mahkota yang seharusnya miliknya.
"Seharusnya aku," gumamnya, suaranya gemetar namun penuh amarah. "Seharusnya aku yang berdiri di sana. Seharusnya aku yang mengenakan gaun sutra, yang berjalan menyusuri lorong bunga, yang menjadi Nyonya Pradana. Itu seharusnya milikku!"
Dimas mendengus kasar, melempar kertas di tangannya ke meja.
"Cukup, Larasati! Sudah kubilang — perjodohan itu kesepakatan tertulis sebelum kau lahir! Bukan kehendakku, bukan kehendakmu!"
"Lalu kenapa dia?!" teriak Larasati, air mata kemarahan membanjiri pipinya. "Kenapa dia yang selalu diambil orang?! Dia tidak cantik! Dia tidak cerdas! Dia tidak punya apa-apa! Bahkan darahnya bukan darah Ardika! Lalu kenapa DARMA memilihnya?! Kenapa HARIS menerimanya?! Kenapa semua orang melihatnya dan melihat HARAPAN, sementara aku... aku tidak dilihat siapa pun!"
Suaranya pecah di akhir kalimat — bukan sekadar marah, tapi hancur. Karena di setiap kata yang ia teriakan, tersembunyi ketakutan terbesarnya: Kirana lebih berharga darinya. Dan itu kebenaran yang tidak bisa ia tolak.
Â
KEBENCIAN YANG TUMBUH SETIAP DETIK
Serena menarik napas panjang, lalu memeluk bahu putrinya — bukan untuk menenangkan, melainkan untuk menyalakan api lebih besar lagi. Matanya menyala dingin, tajam.
"Karena dia pandai berpura-pura, Sayang. Dia pandai bersikap lembut, patuh, malu-malu — padahal di dalamnya licik seperti ular. Dia memikat mereka dengan wajah tak bersalah itu. Tapi itu tidak akan bertahan. Pradana akan tahu siapa dia sebenarnya — tidak ada darah bangsawan, tidak ada keturunan terhormat. Hanya sampah yang kebetulan masuk ke pintu yang salah."
Larasati menyandarkan kepala ke bahu ibunya, namun matanya tidak menutup. Matanya terbuka lebar, menatap lurus ke dinding di seberang ruangan — seakan ia bisa melihat menembus dinding, menembus jarak, melihat Kirana yang berjalan bebas di luar sana. Dan setiap detik yang berlalu tanpa Kirana menderita, terasa seperti neraka baginya.
"Hari ini..." bisik Larasati, giginya bergemeretak. "Hari ini aku melihatnya. Di jalan. Bersama Darma. Dia tertawa, Ibu. Dia terlihat... bahagia. Dan gaunnya... kainnya lebih halus dari yang pernah kau belikan padaku. Dia berjalan laksana putri. Padahal dia tidak lebih dari pelayan yang mengambil tempatku!"
Serena mengusap punggung putrinya, tatapannya mengeras.
"Karena dia berpikir dia menang. Biarkan dia berpikir begitu sebentar. Emas Pradana ada di sini, ya? Perusahaan Ardika selamat, ya? Maka kita punya waktu. Dan selama kita punya waktu... kita akan mencari cara untuk mengambil apa yang seharusnya milikmu."
"Bagaimana?!" Larasati menegakkan tubuh, matanya berbinar liar. "Bagaimana cara mengambilnya kembali? Dia sudah menikah! Dia sudah masuk ke rumah mereka!"
Serena tersenyum — senyum yang tidak menyentuh matanya, senyum yang dingin dan berbahaya.
"Karena dia tidak tahu siapa dirinya. Dan tidak tahu dari mana asalnya. Suatu hari... kebenaran akan terungkap. Dan ketika itu terjadi... Pradana akan membuangnya seperti kain kotor. Dan saat pintu itu terbuka — kau akan berdiri di sana, menunggu."
Dimas mendengarkan semua itu dalam diam, kepalanya ditopang oleh kedua tangan. Hatinya terasa berat, namun ia tidak menyangkal. Ia tahu kebenaran itu — Kirana bukan milik mereka. Dan suatu hari, rahasia itu akan meledak. Dan ia tidak tahu apakah itu akan menghancurkan Kirana... atau menghancurkan mereka semua.
Â
MAKAN MALAM YANG BERACUN
Malam semakin larut, namun tidak ada yang tidur. Mereka duduk di meja makan — ketiganya — namun tidak ada yang menyentuh makanan. Cahaya lampu gantung menyorot ke bawah, menerangi wajah mereka yang penuh bayangan kebencian.
Larasati menatap kursi kosong di ujung meja — tempat yang dulu selalu diduduki Kirana. Tempat yang selalu paling jauh, paling kecil, paling tidak diinginkan. Sekarang kursi itu kosong. Dan bukannya bahagia, Larasati merasa semakin kosong di dalam dadanya.
"Dia tidak akan bahagia," ucapnya tiba-tiba, suaranya rendah namun penuh keyakinan yang menyakitkan. "Dia tidak pantas bahagia. Dia mengambil hidupku — maka hidupnya harus hancur."
"Dia tidak akan bertahan," tambah Serena, menuangkan anggur ke gelas, lalu menatap permukaan cairan merah itu. "Dia tidak memiliki akar. Tidak memiliki asal. Ketika Pradana menyadari mereka menikah dengan hantu... dia akan jatuh lebih keras daripada yang pernah dia bayangkan."
Dimas menengadah, menatap langit-langit.
"Dan jika dia tidak jatuh?" suaranya pelan, hampir berbisik. "Jika dia ternyata... lebih dari yang kita tahu?"
Serena menatapnya tajam.
"Jangan bicara omong kosong, Dimas. Dia tidak lebih dari apa yang kita buat. Dia tidak memiliki kekuatan. Tidak memiliki darah. Dia adalah ciptaan kita — dan kita bisa menghancurkannya kapan saja."
Larasati berdiri tiba-tiba, mendorong kursinya hingga berbunyi keras.
"Aku tidak akan menunggu selamanya," ucapnya dingin. "Jika takdir tidak membawanya jatuh... aku yang akan mendorongnya."
Dia berbalik dan melangkah keluar ruangan, punggungnya tegak, tangannya terkepal erat. Di belakangnya, Serena tersenyum puas — bukan karena bahagia, tapi karena putrinya akhirnya memiliki satu tujuan: menghancurkan orang yang berdiri di tempatnya.
Dimas duduk sendirian di meja makan yang luas dan dingin. Di hadapannya — tumpukan uang yang menyelamatkan mereka, namun di hati — beban yang semakin berat setiap detik. Emas itu tidak menyembuhkan apa pun. Emas itu hanya menunda kehancuran. Dan ketika kehancuran itu datang... ia akan datang lebih dahsyat karena mereka menukarnya dengan seorang gadis yang tidak bersalah.
Ia menatap ke arah pintu tempat Larasati menghilang.
"Kau tidak tahu siapa yang kau lawan, Larasati..." bisiknya sendirian dalam kegelapan. "Dan aku takut... suatu hari kau akan menyesal tidak membiarkannya pergi dengan damai."
Share this novel