50. Air Mata Dan Pintu Tertututp

Romance Series 154

.DI BALIK PINTU RUANG KERJA
Pintu ruang kerja Haris Pradana tertutup rapat. Tidak ada suara yang keluar. Cahaya lampu gantung yang hangat menyinari meja kayu jati besar, di mana tiga lelaki berdiri dalam keheningan yang berat. Hingga Haris memberi isyarat tangan.
"Silakan duduk, Tuan Arga. Katakanlah. Apa yang kau temukan?"
Arga Bayu berdiri tegak di hadapan meja itu, wajahnya tetap tenang namun matanya tak pernah menyembunyikan beban yang dipikulnya. Ia meletakkan gulungan tersegel di atas meja, lalu bercerita — perlahan, jelas, tanpa menyembunyikan sedikit pun.
"Raka dan pasukannya melacak jejak Sariya hingga ke ujung terjauh kerajaan. Jejaknya tidak lenyap. Ia berakhir di bawah Gunung Suci, wilayah yang dilarang didatangi siapa pun — Tanah Terlarang."
Haris berdiri tegak, napasnya tertahan.
"Gunung Suci... tempat yang ditinggalkan leluhur. Di sana?"
"Di bawah gunung itu, ada gua tersembunyi. Di dalamnya... Sariya hidup." Arga berhenti sejenak, membiarkan kata-kata itu meresap. "Ia masih hidup. Namun terpenjara. Dibelenggu rantai sihir gelap tertinggi. Sihir itu tidak bisa dipatahkan dengan kekuatan biasa. Tidak dengan pedang. Tidak dengan mantra yang kita miliki."
Darma mengepalkan tangan erat di sisi tubuhnya.
"Lalu bagaimana cara membebaskannya?"
Arga menatap keduanya dengan tatapan berat.
"Lokasinya terlalu jauh. Dijaga oleh kekuatan yang lebih tua dari kerajaan ini. Sebelum kita bahkan sempat melangkah mendekat... kita harus bersiap. Butuh waktu. Butuh perencanaan panjang. Dan butuh kekuatan yang tidak dimiliki satu klan saja."
"Sihir gelap yang mengikatnya... rantai itu tidak bisa diputus dengan kekuatan api semata." Arga melanjutkan perlahan. "Kita membutuhkan kekuatan Bumi dan Perisai — agar kita bisa mendekat tanpa hancur oleh sihir penjaga itu. Dan kita membutuhkan Aran Aruna — kekuatan Cahaya dan Nubuat, yang memahami sihir kuno itu lebih dari siapa pun."
Haris menyandarkan tubuh ke sandaran kursi, menatap jendela yang gelap di luar.
"Bima Sena... Aran Aruna... Dua klan terakhir yang memegang warisan kuno. Maka kita harus meminta bantuan mereka."

AIR MATA DAN RAHASIA YANG TERUCAP
Pintu terbuka perlahan. Dan di sana — di ambang pintu, berdiri Kirana. Ia tidak bermaksud menguping. Hanya hatinya yang berdebar tak tenang, membawa kakinya melangkah tanpa disadari. Setiap kata yang terdengar menghantam dadanya satu per satu.
Hidup. Ibuku hidup.
Kakinya melemah. Air mata jatuh deras sebelum ia sempat menahannya — hangat, membasahi pipi, bukan duka kehilangan, melainkan syukur yang memilukan. Ia melangkah masuk perlahan, tangan menekan dadanya seakan jantungnya akan meledak keluar.
"Siapa..." suaranya pecah, matanya memandang mereka satu per satu. "Siapa yang berani mengurung ibuku? Mengapa rantai kegelapan begitu kuat menahannya? Apakah... apakah mereka takut pada darah yang mengalir di nadinya? Apakah mereka takut karena ia adalah Phoenix? Apakah mereka mengurungnya agar api itu tidak pernah bangkit?!"
Keheningan yang mendadak menyelimuti ruangan itu begitu berat hingga napas pun terasa tertahan.
Kirana terengah-engah, matanya masih basah namun menyala, belum menyadari apa yang baru saja ia ucapkan. Namun tiga lelaki di hadapannya — Arga, Haris, dan Darma — semuanya terdiam terpaku, mata mereka melebar sama besar, menatapnya seakan baru saja melihat matahari terbit di tengah malam.
Mereka tidak pernah menyebut kata itu. Tidak satu pun dari mereka yang mengucapkan nama kuno itu. Kirana mengatakannya sendiri. Secara tidak sadar. Dari kedalaman darahnya sendiri.
Haris Pradana menarik napas panjang, napas yang terasa bergetar. Ia menatap gadis itu dengan pandangan yang bercampur takjub dan haru.
"Kau tahu..." gumamnya pelan, suaranya penuh kekaguman yang tak mampu disembunyikan. "Kau tahu siapa dirinya... meski tak ada satu pun yang pernah mengucapkannya kepadamu."
Arga Bayu berdiri tegak, matanya tak lepas dari wajah Kirana. Tatapannya bukan lagi sekadar menyelidiki. Ada rasa hormat yang dalam, dan sesuatu yang menyerupai kepasrahan takdir.
"Kau mengatakannya sendiri," ujarnya perlahan, jelas, setiap kata tertimbang. "Kau tidak diberitahu. Kau mengetahuinya. Dari dalam dirimu sendiri."
Kirana mengerjap, baru menyadari apa yang baru saja meluncur dari bibirnya. Mulutnya terbuka sedikit, ia menatap mereka satu per satu — bingung, terkejut, seakan baru saja mendengar suaranya sendiri dari kejauhan.
"Aku..." suaranya hilang sesaat. "Aku tidak tahu... kata itu... terasa begitu milikku. Seperti selalu ada di sana, menunggu di ujung lidahku."
 
PENJAGA DAN KETIDAKPERCAYAAN
Arga melangkah selangkah mendekat, namun tetap menjaga jarak. Wajahnya serius, matanya menatap lurus ke dalam mata Kirana seakan ingin memastikan ia memahami setiap kata.
"Maka dengarkanlah hal lain yang belum kau ketahui," ujarnya dalam nada rendah namun berat. "Sejak zaman dahulu, sejak Phoenix pertama kali terbang di langit ini... selalu ada Penjaga. Empat Klan yang bersumpah menjaga darah itu, melindunginya, mendampinginya hingga api menyala kembali."
Kirana menatapnya, napasnya tertahan.
"Klan Pradana — Penjaga Darah dan Takdir. Klan Bayu — Penjaga Bayang dan Kebenaran. Klan Sena — Penjaga Bumi dan Perisai. Dan Klan Aruna — Penjaga Cahaya dan Nubuat. Keempat klan ini telah menunggu turun-temurun. Menunggu kedatanganmu."
Arga berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang berubah sedikit — menjadi lebih berat, lebih hati-hati.
"Dan ada satu hal lagi... Klan Ardika juga tercatat sebagai salah satu garis keturunan Penjaga kuno. Mereka yang mengambil alih menjaga ibumu dan dirimu selama bertahun-tahun ini."

Kata-kata itu belum selesai terucap ketika Kirana tertawa — tawa yang pahit, tajam, matanya menyala dengan amarah yang tiba-tiba meluap.
"Ardika? Penjaga?!" suaranya meninggi, penuh kepercayaan yang hancur berkeping-keping. "Mereka yang mengurungku? Yang menindasku? Yang menjualku seolah aku barang dagangan? Yang bahkan menyembunyikan siapa ibuku selama ini?!"
Ia melangkah maju, dadanya naik turun, matanya basah namun tajam seperti belati.
"Jika mereka adalah penjaga... maka penjaga seperti apa yang membiarkan tuannya dipenjara?! Yang membiarkan Sariya menderita sendirian di dalam kegelapan?! Yang bahkan tidak memberitahuku satu hal pun tentang siapa aku?!"
Kirana menarik napas panjang, menatap mereka dengan pandangan yang teguh, tak tergoyahkan.
"Biarkan catatan kuno berkata apa pun. Aku tidak mempercayainya. Terutama Dimas Ardika. Dia tidak akan menyelamatkan ibuku. Dia tidak akan menyelamatkan siapa pun selain dirinya sendiri. Jika dia pernah tahu di mana ibuku berada... dia pasti diam. Diam dan membiarkannya menderita, karena itulah yang paling menguntungkan baginya."
Suaranya jatuh perlahan, namun ketegasan di dalamnya tidak berkurang sedikit pun.
"Jangan andalkan mereka. Jangan harap pada mereka. Saat kami bebas... kami akan bebas dengan kekuatan kami sendiri. Bukan karena belas kasihan mereka."

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience