70. Akar Kebencian Yang Tumbuh

Romance Series 154

HADIAH YANG TIDAK PERNAH DATANG
Ingatan itu kembali terang seketika, seolah baru saja terjadi kemarin.
Larasati berusia lima tahun saat itu. Ia berdiri di samping ibunya, mata kecilnya berkaca-kaca penuh kecewa. Di tangannya, ia memegang boneka kain yang sudah kusam dan berlubang di beberapa bagian — satu-satunya mainan yang ia miliki.
"Ibu..." suaranya serak tertahan tangis. "Kenapa Kakak Kirana selalu dapat hadiah dari Klan Utama setiap bulan? Pakaian baru yang indah, sepatu yang berkilau, perhiasan kecil yang cantik, makanan lezat yang bahkan Ayah jarang beli... kenapa aku tidak pernah dapat apa-apa? Apakah aku bukan anak Ayah?"
Serena menatap putrinya dengan mata yang memancarkan ketidakpuasan yang dalam, namun tetap tersenyum tipis sambil mengusap kepala Larasati.
"Jangan menangis, sayang. Tanyakan saja pada Ayahmu nanti. Dia pasti akan menjelaskan padamu."
Sore itu, Serena membawa Larasati kecil masuk ke ruang kerja Dimas yang berbau buku tua dan kayu cendana. Dimas sedang menandatangani tumpukan dokumen di atas meja besar, namun segera berhenti saat melihat putrinya yang masuk dengan mata bengkak.
"Apa yang terjadi, putri kesayangan Ayah?" tanyanya lembut, langsung mengangkat Larasati ke pangkuannya.
"Ayah..." Larasati memeluk leher ayahnya erat, air mata kembali menetes di pipi. "Kenapa Kakak Kirana selalu dapat hadiah dari Klan Utama setiap bulan, tapi aku tidak pernah? Aku juga anakmu! Aku juga berhak mendapatkannya!"
Wajah Dimas seketika berubah kaku. Tatapannya beralih ke jendela yang terbuka sedikit, lalu kembali menatap putrinya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Hadiah itu... hanya untuk Kirana. Tidak ada untukmu." suaranya terdengar dingin dan tegas, tanpa sedikit pun keraguan.
"Kenapa?!" Larasati mulai meronta di pangkuannya, menangis lebih keras. "Aku mau juga! Aku mau pakaian bagus! Aku mau perhiasan! Aku mau hadiah itu! Kenapa harus dia yang selalu mendapatkannya?!"
Dimas terdiam sejenak. Rasa sayang pada anak kandungnya perlahan mengalahkan sumpah yang pernah ia ucapkan. Ia menghela napas panjang, lalu berbisik pelan di telinga putrinya.
"Baiklah... Ayah akan atur. Mulai bulan depan... Ayah akan ambil sebagian dari hadiah itu untukmu. Jangan menangis lagi, ya?"
Sejak hari itu, setiap bulan hadiah yang tiba untuk Kirana perlahan menjadi semakin sedikit. Kain sutra berubah menjadi kain biasa, perhiasan berharga berubah menjadi perhiasan murah, dan makanan enak yang seharusnya diterima Kirana kini menjadi milik Serena dan Larasati. Kirana tidak pernah protes, hanya diam menerima apa yang tersisa. Namun Larasati... ia menerima semua itu dengan senang hati, merasa bahwa apa yang ia lakukan adalah benar.
 
MATA YANG MENGINTAI DARI JAUH
Rumah besar Klan Utama Ardika berdiri megah di tengah kota, jauh dari kediaman Dimas. Di ruang sidang yang luas, Waganda Ardika duduk di kursi utama, wajahnya berkerut penuh keraguan.
"Sudah tiga bulan terakhir..." ucapnya pelan sambil menatap tumpukan laporan di atas meja. "Laporan mengatakan barang-barang yang kami kirim untuk Kirana... tidak pernah terlihat dipakai atau digunakan oleh gadis itu. Sebaliknya... putri kandung Dimas, Larasati, terlihat mengenakan pakaian dan perhiasan yang persis seperti yang kami kirim."
Seorang tetua lain mengangguk setuju.
"Saya juga mendengar hal yang sama. Para pedagang di pasar melaporkan bahwa Dimas dan istrinya sering menjual barang-barang berharga yang dikirim dari sini. Sepertinya... dia tidak menepati janjinya."
Wajah Waganda perlahan berubah menjadi merah padam karena marah.
"Kirim pengintai. Yang paling terpercaya. Pergi ke kediaman Dimas. Lihat dengan mata kepala sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Jangan biarkan dia tahu."
Tiga hari kemudian, pengintai itu kembali dengan laporan yang membuat seluruh dewan tetua bergemuruh.
"Benar, Tuan." kata pengintai itu dengan suara gemetar. "Barang-barang yang dikirim Klan Utama... sebagian besar diambil oleh Serena dan Larasati. Kirana hanya menerima sisa yang tidak layak. Bahkan... saya melihat Dimas sendiri memberikan kotak perhiasan yang dikirim bulan lalu kepada putrinya, sambil berkata bahwa itu adalah haknya."
Waganda membanting telapak tangannya ke meja hingga seluruh ruangan bergetar.
"Berani sekali dia! Dia bersumpah di hadapan leluhur akan menjaga anak itu seperti anak sendiri! Dan sekarang dia berani mencuri haknya demi anak kandungnya sendiri?!"
"Harus kita panggil dia ke sini!" seru salah satu tetua. "Dia harus menjelaskan semuanya!"
"Tidak." Waganda berdiri tegak, matanya memancarkan kemarahan yang tak tertahankan. "Aku yang akan pergi ke sana. Aku akan melihat sendiri wajah orang yang berani mengkhianati sumpahnya."
 
KEBENARAN YANG TERDENGAR DI BALIK PINTU
Hari itu, Waganda datang sendiri ke kediaman Dimas. Langkah kakinya berat dan penuh wibawa, membuat seluruh rumah seketika menjadi sunyi.
Serena segera menyembunyikan diri di balik tirai ruang tamu, menarik Larasati kecil ikut bersembunyi di sampingnya. Dari celah kain, mereka melihat Waganda berdiri tegak di tengah ruangan, wajahnya penuh amarah yang tak tertahankan.
"Dimas! Apa yang kau lakukan?!" bentak Waganda dengan suara bergema di seluruh ruangan. "Kau berani mengambil hak yang bukan milikmu? Kau berani mengkhianati sumpah yang pernah kau ucapkan di hadapan leluhur?!"
"Hak apa?!" bantah Dimas dengan suara yang juga meninggi. "Kirana bukan darah dagingku! Dia bukan bagian dari keluarga ini! Kenapa harus dia yang menerima semua keistimewaan itu? Kenapa bukan anak kandungku sendiri?!"
"Diamlah, kau yang tidak tahu diri!" Waganda melangkah maju satu langkah, matanya menatap tajam lurus ke mata Dimas. "Kau tahu betul perjanjian leluhur! Klan Ardika bersumpah akan menjaga anak garis keturunan Phoenix selama mereka hidup! Kirana dipercayakan padamu karena kau pernah bersumpah akan merawatnya seperti anak sendiri! Kau berjanji akan melindunginya, tidak akan menyakitinya, tidak akan mengambil apa yang menjadi haknya!"
"Tapi dia bukan anakku!" Dimas tetap tidak mau mengalah, tangannya mengepal erat di sisi tubuh. "Sumpah itu tidak berlaku jika dia bukan darah dagingku!"
"Itu bukan urusanmu!" Waganda menunjuk dada Dimas dengan jari gemetar. "Kau melanggar sumpahmu. Kau mencuri apa yang seharusnya menjadi milik anak itu. Dan karena itu... mulai saat ini, Klan Utama tidak akan lagi membantumu! Tidak ada dana, tidak ada perlindungan, tidak ada nama! Kau dikeluarkan dari Klan Ardika! Kau berdiri sendiri sekarang!"
Dimas terbelalak tak percaya. Serena menutup mulutnya erat agar tidak berteriak. Larasati kecil menatap dengan mata terbuka lebar, setiap kata yang mereka dengar tertanam dalam di hatinya.
Jadi... Kakak Kirana bukan saudara kandungku? Dia hanya dititipkan? Ayah mencuri haknya untukku? Dan Klan Utama tidak lagi mau membantu kami karena dia?
Hati kecil Larasati tidak merasa bersalah sedikit pun. Sebaliknya, rasa benci pada Kirana semakin dalam.
Kalau begitu... kenapa dia masih ada di sini? Kenapa dia masih menjadi penyebab Ayah dikeluarkan dari klan? Kenapa dia tidak pergi saja dan tidak mengganggu kami lagi?
 
KEHIDUPAN YANG SEMAKIN KEJAM
Sejak hari itu, kehidupan Kirana di kediaman Ardika berubah menjadi jauh lebih buruk.
Dimas yang merasa kehilangan dukungan dari Klan Utama melampiaskan seluruh amarahnya pada Kirana. Ia tidak lagi membiarkannya tinggal di kamar yang layak, melainkan memindahkannya ke ruangan kecil di bawah tangga yang lembap dan gelap. Serena menganggap Kirana sebagai beban yang tidak berguna, sehingga ia hanya memberikan sisa makanan di atas piring kotor.
Larasati semakin berani menindasnya. Setiap kali melihat Kirana, ia akan menarik rambutnya, memukulnya dengan sapu tangan, atau menumpahkan air kotor ke bajunya.
"Kau anak pembawa sial!" teriak Larasati suatu hari sambil menendang kaki Kirana. "Karena kau, Ayah dikeluarkan dari klan! Karena kau, kami menderita! Kau seharusnya tidak pernah lahir ke dunia ini!"
Kirana hanya duduk diam di lantai yang dingin, memeluk lututnya erat, air mata menetes tanpa suara. Ia tidak membalas, tidak membela diri, hanya menatap lantai dengan pandangan yang perlahan menjadi kosong.
Apa kesalahanku? Mengapa semua orang begitu membenciku?
Dimas melihat semua itu namun tidak pernah menegur. Ia bahkan berkata pada Larasati:
"Biarkan saja dia. Dia memang tidak pantas diperlakukan seperti keluarga kita."
Setiap hari, setiap jam, setiap menit... kebencian Larasati pada Kirana terus tumbuh dan tumbuh, menjadi akar yang kuat dan dalam di hatinya. Ia berjanji pada dirinya sendiri suatu hari nanti ia akan membuat Kirana membayar semua rasa sakit yang telah ia sebabkan.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience