Series
154
Durga menatap luka di tubuhnya dengan tatapan tak percaya. Selama ribuan tahun, belum pernah ada yang mampu melukainya sedalam ini. Api keemasan itu terasa membakar tidak hanya daging dan kulitnya, namun juga esensi kekuatan gelap yang menjadi sumber hidupnya.
"Kau... benar-benar membuatku murka!" raungnya hingga seluruh ruangan berguncang hebat.
Ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Dari celah-celah lantai batu, muncul asap hitam pekat yang berputar cepat. Asap itu menyatu membentuk sosok raksasa yang menyeramkan, dengan mata menyala merah dan cakar sepanjang tubuh manusia.
"Kau pikir sedikit api sudah cukup untuk mengalahkanku?" teriak Durga. "Aku akan menunjukkan padamu kekuatan yang sesungguhnya!"
Raksasa bayangan itu melangkah maju dengan hentakan yang menggetarkan tanah. Cakarnya yang besar menyambar ke arah Kirana dengan kekuatan yang mampu menghancurkan gunung.
Kirana tidak mundur. Ia menarik napas panjang, membiarkan kekuatan Phoenix mengalir sepenuhnya ke seluruh tubuh. Cahaya keemasan memancar semakin terang, hingga menyilaukan mata siapa pun yang melihatnya.
"Kekuatanmu hanyalah kumpulan ketakutan dan keserakahan orang lain." ucap Kirana lantang. "Sedangkan kekuatanku... adalah harapan yang tak akan pernah padam!"
Ia melesat maju menyambut serangan itu. Dengan satu ayunan pedang apinya, ia membelah cakar raksasa itu menjadi dua bagian. Bagian yang terpotong langsung terbakar menjadi abu sebelum sempat jatuh ke tanah.
Durga terkejut. Ia segera mengendalikan raksasa itu untuk menyerang kembali dengan pukulan bertubi-tubi. Namun Kirana bergerak dengan lincah, menghindari setiap serangan sambil terus melontarkan api yang membakar tubuh raksasa itu perlahan.
"Kau tidak bisa membakarnya!" teriak Durga. "Ia terbuat dari ketakutan yang tak berujung!"
"Ketakutan akan lenyap jika ada harapan!" balas Kirana.
Ia melompat tinggi ke udara, lalu mengangkat pedangnya ke atas. Cahaya keemasan berkumpul di ujung pedang itu, membentuk seberkas cahaya yang menyilaukan mata.
"Terimalah pembakaran yang sesungguhnya!"
Kirana menebas ke bawah dengan sekuat tenaga. Seberkas api raksasa melesat dari pedangnya, membelah tubuh raksasa bayangan itu menjadi dua bagian dari atas ke bawah. Diikuti dengan ledakan hebat yang menghancurkan seluruh wujud bayangan itu menjadi kepingan-kepingan asap yang lenyap tak berbekas.
Durga terhuyung mundur, wajahnya pucat pasi. Kekuatan yang ia bangun selama ribuan tahun hancur seketika di hadapan mata gadis itu.
"Tidak mungkin..." bisiknya gemetar. "Ini tidak mungkin terjadi..."
"Sudah berakhir." ucap Kirana pelan namun tegas, ia melangkah mendekat. "Kekejamanmu sudah berakhir."
Durga mendongak, matanya menyala penuh kebencian yang tak terlukiskan.
"Belum berakhir! Selama aku masih hidup, aku akan terus mencari cara untuk mendapatkan darahmu! Aku akan kembali lagi!"
Ia berniat melarikan diri ke dalam bayangan di sudut ruangan. Namun sebelum ia sempat melangkah, sebuah dinding cahaya emas muncul di hadapannya. Aran berdiri dengan tangan terulur, wajahnya tenang namun tatapannya tajam.
"Kau tidak akan pergi ke mana pun." ucap Aran pelan. "Kau sudah terlalu lama menyakiti dunia ini."
Darma, Bima, dan Kesuma segera mengepungnya dari segala arah. Tidak ada jalan keluar lagi bagi Durga.
Durga menatap mereka satu per satu, lalu menatap Kirana yang berdiri di tengah ruangan. Wajahnya berubah menjadi senyum miring yang penuh kebencian.
"Kau menang hari ini... tapi ingatlah... api yang terlalu besar pada akhirnya akan membakar dirinya sendiri..."
Seketika itu juga, tubuh Durga meleleh menjadi asap hitam yang perlahan lenyap, menyisakan hanya bau belerang yang perlahan hilang dari udara.
Â
Kirana tidak menunggu lebih lama. Ia segera berlari menuju altar batu tempat ibunya dan Arga terikat.
"Ibu!"
Saat ia mendekat, rantai-rantai tebal itu melepaskan diri sendiri saat terkena cahaya keemasan yang memancar dari tubuhnya. Sariya jatuh ke bawah, namun Kirana sudah menangkapnya dengan kedua tangan.
"Ibu..." air mata Kirana akhirnya jatuh membasahi pipinya.
Sariya membuka matanya perlahan, menatap wajah putrinya dengan mata yang berkaca-kaca. Ia mengangkat tangan gemetar, menyentuh pipi Kirana dengan lembut.
"Kirana... anakku..." suaranya terdengar lemah namun penuh kasih sayang. "Kau tumbuh menjadi wanita yang sangat kuat..."
"Aku di sini, Ibu. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Ibu lagi." Kirana memeluk ibunya erat, seakan takut jika melepaskannya, ibunya akan hilang lagi.
Darma segera mendekat dan melepaskan ikatan Arga. Arga berdiri dengan susah payah, tubuhnya penuh luka namun matanya tetap tajam. Ia menatap Kirana dan Sariya yang sedang berpelukan, lalu mengangguk pelan dengan senyum tipis di wajahnya.
"Kau melakukannya." ucap Arga pelan. "Kau benar-benar melakukannya."
Sementara itu, di bagian belakang ruangan, Dimas, Serena, dan Larasati berdiri diam menyaksikan segalanya. Wajah mereka penuh rasa malu dan penyesalan yang mendalam. Mereka menyadari betapa kecil dan keji keinginan mereka dibandingkan dengan kebaikan dan kekuatan yang dimiliki Kirana.
Dimas melangkah maju perlahan, berlutut di hadapan Kirana dengan kepala tertunduk dalam.
"Kirana..." suaranya pecah. "Kami... kami telah melakukan kesalahan yang sangat besar padamu. Kami tidak pantas meminta maaf..."
Kirana menoleh perlahan ke arah mereka. Matanya tidak lagi penuh amarah, namun juga tidak lagi penuh kehangatan seperti dulu.
"Kalian memang salah." ucapnya tenang. "Tapi hari ini, kalian juga melihat kebenaran. Kalian melihat siapa yang sebenarnya jahat dan siapa yang sebenarnya baik."
Ia menatap mereka satu per satu.
"Aku tidak akan membalas dendam pada kalian. Tapi mulai hari ini... jangan pernah lagi melangkah di jalan yang salah. Jika kalian melakukannya lagi... aku tidak akan sebaik ini."
Dimas mengangguk berulang kali, air mata jatuh membasahi lantai batu.
"Terima kasih... terima kasih..."
Kirana kembali menatap ibunya yang masih berada dalam pelukannya.
"Ayo kita pulang, Ibu."
Sariya tersenyum lemah, lalu mengangguk pelan.
"Ya... mari kita pulang."
Share this novel