28. Kesunyian Yang Menghukum

Romance Series 154

Empat hari.
Empat hari Larasati Ardika berdiri di luar pintu kamar itu, telinga menempel pada kayu dingin, menunggu. Menunggu suara yang dia hafal sejak kecil — isak tangis tertahan, panggilan memohon, ketukan lemah meminta ampun.
Selama dua puluh tahun, Kirana selalu menyerah lebih dulu. Selalu mengalah. Selalu menunduk. Selalu membiarkan dirinya dihina, diabaikan, diperlakukan seperti barang tambahan di rumah ini.
Larasati hafal pola itu. Kirana bertahan sehari — lalu menangis. Bertahan dua hari — lalu meminta maaf atas kesalahan yang tidak diperbuatnya. Hari ketiga — diam dan patuh. Hari keempat — berlutut.
Tapi hari keempat berlalu. Tidak ada tangisan. Tidak ada permohonan. Tidak ada ketukan. Hanya keheningan.
Larasati mondar-mandir di lorong, jari-jemari meremas gaunnya, wajahnya kerut karena ketidaknyamanan yang semakin menjadi kegelisahan. Setiap kali melewati pintu itu, dadanya terasa sesak. Bukan kasihan — kesal. Marah. Gadis itu seharusnya hancur. Seharusnya merendah. Seharusnya sadar siapa pemilik rumah ini.
Hari kelima tiba — hari terakhir sebelum pengantin dikirim ke Pradana. Persiapan di rumah sudah sibuk. Bunga, undangan, kendaraan — semuanya siap. Tapi satu hal belum selesai. Kirana belum minta maaf. Kirana belum menyerah.
Larasati berhenti di depan pintu itu, menatap gagang yang tidak pernah bergerak selama empat hari. Napasnya memburu.
Kalau dia mati di dalam... pikirnya, dan hatinya berdebar campuran takut dan harapan berdosa. Kalau dia mati... aku yang akan pergi ke Pradana.
Dia berbalik berlari menuju ruang tengah. Serena duduk di sana, memeriksa daftar pengiring pengantin, wajahnya tegang.
"Ibu!" Larasati memburu masuk. "Sudah hari kelima! Dia tidak bersuara! Tidak ada apa-apa dari balik pintu!"
Serena menurunkan kertas, alisnya berkerut.
"Mungkin dia akhirnya belajar sopan santun."
"Ibu... bagaimana kalau dia sudah mati?" Larasati mendekat, matanya membelalak. "Tidak makan, tidak minum, empat hari sendirian dalam gelap... bagaimana kalau mayatnya yang keluar nanti? Dan ayah — dan Pradana — mereka akan marah!"
Serena terdiam. Kertas di tangannya tertekuk. Bayangkan pengantin mati sebelum hari besar. Bayangkan Pradana mengetahui hal itu. Bayangkan kemarahan mereka yang baru saja menarik investasi.
"Ayo kita lihat." Serena berdiri tajam. "Sekarang."
***********
Kunci berputar. Bunyi mekanisme yang Larasati tunggu-tunggu — hari ini terdengar menakutkan.
Pintu didorong terbuka.
Cahaya pagi menyelinap masuk. Mata mereka jatuh serentak ke tempat tidur.
Kirana berbaring di sana. Selimut tipis ditarik rapi hingga menutupi bahu. Tangan diletakkan di atas selimut, tenang. Napasnya teratur, lembut, wajahnya damai — seakan dia sedang beristirahat di kamar terbaik di kediaman Pradana, bukan di sel pengasingan yang mereka berikan.
Di meja kecil di sudut — nampan makanan yang dikirim hari pertama masih berdiri di sana. Tutupnya belum dibuka. Air masih penuh. Tidak disentuh. Satu suapan pun tidak.
Larasati melangkah masuk, matanya terbelalak, rahangnya jatuh.
"Dia... dia tidur? Dia tidur nyenyak? Setelah empat hari tidak makan?!"
Serena berdiri di ambang pintu, mulutnya ternganga. "Itu tidak mungkin... manusia tidak bisa bertahan tanpa makan dan tetap tenang seperti itu."
Amarah Larasati meledak. Dia merasa dipermainkan. Selama empat hari dia cemas, menunggu, membayangkan kakaknya hancur — dan gadis itu tidur seakan tidak ada beban di dunia ini.
Larasati melangkah cepat ke tepi tempat tidur. Tangan kanannya terangkat tinggi, telapak terbuka, siap menghantam pipi pucat itu sekuat tenaganya.
"Bangun! Beraninya kau tidur saat kami cemas!"
Tangannya melesat turun — cepat, penuh kebencian yang terpendam dua puluh tahun.
Dan tepat sebelum menyentuh kulitnya — tangan kiri Kirana bergerak.
Tanpa membuka mata. Tanpa mengubah ekspresi wajah. Jari-jemari melingkar di pergelangan tangan Larasati — lembut namun sekeras besi yang ditempa api.
Larasati terhenti. Tubuhnya kaku. Dia menarik tangannya — tidak bergerak satu milimeter. Dia menghentak — genggaman itu tidak bergeming.
"Melepaskan! Lepaskan tanganku!" Larasati berteriak, wajahnya merah padam, kakinya menginjak lantai.
Gerakan tangan yang berjuang di genggamannya perlahan membuka mata Kirana. Perlahan. Kelopak matanya terangkat — dan di sana, mata cokelat jernih menatapnya. Bukan mata gadis yang mereka kenal. Mata itu tenang. Tajam. Seperti orang yang terbangun bukan dari tidur — tapi dari istirahat yang panjang.
Kirana duduk perlahan. Tangan masih memegang pergelangan Larasati — tidak melepaskan. Dia menatap gadis di hadapannya — gadis yang dia tumbuh bersama, yang dia anggap adiknya, yang kini menatapnya dengan mata penuh ketakutan yang baru lahir.
"Selamat pagi, Larasati," suaranya rendah, lembut, dan jauh lebih menakutkan daripada teriakan. "Kau terlihat lelah. Apakah kau tidak tidur nyenyak empat hari ini?"
Larasati tercekat. "Jangan... jangan bermuka manis denganku! Beraninya kau — tidak makan, tidak memohon, tidak berlutut — apa yang salah denganmu?!"
Kirana menatapnya lama, lalu melirik nampan makanan yang belum tersentuh.
"Aku tidak lapar."
"Tidak lapar? Empat hari tidak makan dan kau tidak lapar?!" Larasati tertawa histeris. "Kau gila! Kau pasti gila!"
"Aku tidak lapar karena aku tidak membutuhkan makanan ini untuk hidup." Kirana melepaskan pergelangan tangan Larasati perlahan. "Dan aku tidak memohon karena aku tidak membutuhkan belas kasihanmu untuk bertahan."
Serena melangkah masuk, suaranya bergetar berusaha tegas.
"Kirana! Berbicara dengan sopan! Ini rumah kami! Kau di sini karena kami mengizinkan!"
Kirana mengalihkan pandangan ke Serena. Tatapannya tidak menunduk. Tidak takut.
"Ibu... atau lebih tepatnya, Serena. Satu hari lagi. Lalu aku pergi. Dan semoga setelah aku pergi — kalian akhirnya bahagia. Karena tidak ada lagi bayang-bayang yang menutupi cahayamu."
Larasati memeluk pergelangan tangannya yang memerah, matanya berkaca — bukan karena sakit. Karena iri. Iri yang membakar dadanya. Selama ini dia berpikir Kirana lemah. Selama ini dia berpikir Kirana akan hancur tanpa mereka. Ternyata — Kirana tidak hancur. Kirana bebas. Dan kemerdekaan itu miliknya — bukan Larasati.
Satu hari lagi. Satu hari lagi dan gadis ini akan pergi menjadi Nyonya Pradana. Ratu klan paling kuat. Dan Larasati — darah murni Ardika — akan tetap di sini, di rumah yang runtuh, di bawah atap yang retak, menatap langit yang tidak pernah untuknya.
Larasati berbalik berlari keluar. Serena menatap Kirana sekali lagi — dan untuk pertama kalinya, dia tidak berani berbicara. Dia berbalik dan pergi.
Pintu tertutup. Kirana sendirian lagi. Dia menatap pintu itu, lalu melirik nampan makanan yang tidak tersentuh. Satu hari lagi. Dia tersenyum tipis. Bukan bahagia. Tapi siap.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience