29. Malam Sebelum Pernikahan

Romance Series 154

Malam merayap perlahan di kediaman Ardika. Cahaya lampu ruang tamu menyala redup, seakan rumah ini sendiri tahu ia tidak layak bersinar terang. Di atas meja panjang — satu bungkusan berdiri sendirian. Kertas cokelat murah, pita yang terlihat kusut. Hadiah pengantin dari keluarga yang menjualnya.
Dimas berdiri di hadapan meja itu, tangan terlipat di belakang punggung, wajahnya tegang. Di sampingnya, Serena berdiri kaku, bibirnya terkatup rapat, menahan setiap kata yang ingin meledak. Mereka tidak gembira. Tidak bangga. Tidak merayakan. Mereka memberinya sesuatu karena terpaksa — dan mereka memastikan Kirana tahu itu.
Pintu terbuka perlahan. Kirana melangkah masuk. Gaun tidurnya sederhana, rambutnya terurai lembut di bahu. Dia tidak bertanya. Tidak terkejut. Hanya berdiri menunggu, tenang seperti biasa — dan ketenangan itu yang membuat Dimas semakin kesal.
"Ini untukmu," ucap Dimas kasar, menunjuk bungkusan itu dengan dagu. "Gaun pengantin tambahan. Jubah upacara. Sesuai permintaan Pradana."
Kirana melangkah maju, membukanya perlahan. Kainnya kasar. Jahitannya tidak rapi. Warnanya krem pudar — bukan putih bersih seperti yang seharusnya dikenakan pengantin utama. Ini kain sisa dari pabrik Ardika. Kain yang tidak lulus standar. Kain yang ditolak pembeli.
Dia menyentuh permukaannya. Dingin. Kasar. Tidak sutra. Tidak renda. Tidak permata. Hanya kain yang mereka tidak mau jual — dan sekarang mereka berikan padanya.
"Kain ini..." gumamnya pelan, tidak menatap mereka.
"Sisa produksi!" Serena menyambar tajam, tidak bisa menahan diri. "Kau pikir kami masih mampu membelikan sutra impor setelah Pradana mencabut semua investasi?! Setelah mereka menghancurkan perusahaan kami dalam empat hari?! Kau beruntung kami masih memberimu ini!"
Kirana melipat kain itu kembali rapi. Tidak ada amarah di wajahnya. Tidak ada air mata. Hanya pengakuan dingin di matanya.
"Aku mengerti. Terima kasih."
Kata itu jatuh lembut — dan itu lebih menyakitkan daripada teriakan. Karena dia tidak berterima kasih dengan tulus. Dia berterima kasih karena tidak berharap lebih dari awal.
Dimas melangkah maju, menelan ludah. Keangkuhannya retak. Matanya berkedip gelisah. Dia tahu posisinya. Dia tahu dia berdiri di tepi jurang. Dan satu-satunya tangan yang bisa menariknya kembali — adalah tangan gadis yang dia perlakukan seperti beban seumur hidupnya.
"Kirana..." suaranya melemah, kehilangan ketegasannya. "Besok... saat kau berada di sana... di hadapan Pradana... bisakah kau berbicara pada Haris? Bisakah kau memintanya... memberi kami waktu? Memberi kami kesempatan menjelaskan?"
Dia berhenti, napasnya tersendat.
"Mereka mendengarkanmu sekarang, bukan? Kau akan menjadi istrinya. Kau punya pengaruh. Katakan padanya... minta mereka bertemu denganku sekali saja. Aku harus berbicara dengan Haris. Aku harus menjelaskan!"
Kirana menatapnya lama. Lelaki yang mengangkatnya. Lelaki yang tidak pernah membelainya. Lelaki yang menjualnya. Dan sekarang — dia memohon padanya.
"Aku akan mencoba yang terbaik."
Empat kata. Sederhana. Tenang. Tidak berjanji. Tidak berharap mereka percaya. Dan Dimas tahu — matanya berkata lebih jujur daripada mulutnya: Aku akan mencoba. Tapi aku tidak berjanji berhasil. Karena aku tidak berutang apa pun padamu.
Namun Dimas mengangguk cepat, seakan itu sudah cukup. Seakan kata-katanya adalah jangkar yang menyelamatkan kapal yang tenggelam.
"Terima kasih... terima kasih, Kirana. Kau anak baik. Selalu anak baik."
Kirana tidak menjawab. Dia memeluk kain kasar itu ke dada, berbalik perlahan, dan berjalan keluar ruangan. Langkahnya berat — bukan karena kain di pelukannya, tapi karena beban di pundaknya yang baru saja mereka tambahkan. Mereka memberinya kain sisa, lalu meminta kerajaan sebagai balasannya.
******************
Pintu kamarnya baru saja tertutup di belakangnya, ketika Larasati meledak.
"Anak baik?! Dia anak baik?!" Larasati berteriak di ruang tamu, napasnya memburu, matanya menyala cemburu yang tak terpadamkan. "Dia tidak melakukan apa-apa! Tidak memohon! Tidak menangis! Bahkan saat Ayah memohon padanya — dia hanya berkata 'aku akan mencoba' dengan wajah datar itu! Seakan dia ratu yang mengabulkan permohonan rakyat kecil!"
Serena merangkul bahu putri kandungnya, menatap pintu yang baru saja ditutup Kirana dengan tatapan tajam.
"Dia tidak tahu berterima kasih. Itu sebabnya dia begitu tenang. Karena dia tidak pernah mengerti betapa beruntungnya dia."
"Dia seharusnya yang memohon!" Larasati menendang kaki meja, matanya berkaca. "Dia seharusnya bersyukur kami masih mengizinkannya berdiri di tanah ini! Tapi lihat dia — berjalan seakan dia memiliki rumah ini! Dan besok... besok dia akan menjadi Nyonya Pradana. Dia akan hidup di istana makan enak tidur empuk — sementara kami... kami mungkin bangkrut!"
Serena menarik Larasati ke pelukannya, mengusap punggung putrinya.
"Jangan menangis, sayang. Ingat — dia tidak lebih baik darimu. Dia hanya... ditakdirkan lebih beruntung. Tapi keberuntungan tidak bertahan selamanya. Dan ingat — dia pergi. Dia tidak akan kembali. Rumah ini... ini milikmu. Selalu milikmu."
Larasati menyandarkan kepalanya di bahu ibunya, tapi matanya tidak tenang. Tatapannya terpaku pada pintu kamar Kirana di kejauhan. Besok. Besok gadis itu pergi. Dan Larasati harus menunggu — menunggu kejatuhannya. Karena dia yakin... kejatuhan itu pasti datang.
*************
Sementara di kediaman Ardika mereka bertengkar tentang kain murah dan permohonan terlambat — di dua tempat lain, dua pria berdiri menatap ke arah yang sama.
KLAN BAYU
Arga Bayu berdiri di balkon lantai tertinggi, angin malam menerpa jubah hitamnya. Di tangannya — secarik kertas tua yang diturunkan leluhurnya. Gambar burung bersayap api.
"Phoenix..." gumamnya pelan, matanya tajam menembus kegelapan. "Aran Aruna tidak pernah berbohong. Dan jika dia berkata gadis itu akan menikah di Pradana... maka di sanalah dia."
Dia melipat kertas itu perlahan, menyimpannya di dalam jubah dekat dadanya.
"Aku akan pergi ke upacara itu. Bukan sebagai tamu. Sebagai penjaga. Aku ingin melihatnya — melihat api yang bangkit dari abu dunia yang kejam ini. Dan jika dia benar-benar yang dikatakan legenda... aku akan berdiri di sisinya."
KLAN SENA
Bima Sena duduk di meja batu di ruang leluhur, di sekelilingnya lilin menyala menerangi wajah-wajah kuno lukisan di dinding. Dia memejamkan mata, mengingat kata-kata Elf yang datang di tengah malam.
"Dia lahir kembali. Waktu telah tiba."
Bima membuka mata — teguh, tak tergoyahkan. Dia berdiri, tubuhnya tegap seperti gunung yang menjadi lambang klannya.
"Aku akan hadir di pernikahan itu. Aku harus melihatnya sendiri — gadis yang memikul beban dunia di pundak muda. Dunia ini kejam padanya... tapi mungkin itulah yang membuatnya kuat. Dan jika dia butuh perisai... sumpah leluhurku berlaku mulai hari ini."
Dua pria. Dua klan. Satu tujuan. Mereka tidak tahu siapa gadis itu. Mereka tidak tahu namanya. Tapi mereka tahu — mereka akan mengenalinya saat melihatnya. Karena api tidak bisa disembunyikan.
*****************
Di kamarnya yang sunyi, Kirana duduk di tepi jendela. Kain kasar yang mereka berikan tergeletak di atas tempat tidur — dilipat rapi, tidak bernilai, tapi tidak dibuang juga.
Angin malam menyapu masuk membawa aroma bunga melati dari kebun depan. Di langit — bulan purnama bersinar besar, putih, bulat sempurna. Seperti mata yang mengawasinya.
Dia menatap bulan itu. Dan perlahan — bayangan wajah itu muncul di permukaan cahaya.
Wajah Darma Pradana. Bukan Darma yang dia temui kemarin. Bukan Darma yang bicara tenang dan tegas. Wajah Darma di kehidupan sebelumnya.
Hari kematiannya. Di aula pesta. Saat darah mengalir dari dadanya. Saat dia jatuh ke lantai marmer dingin. Saat matanya mencari seseorang — siapa pun — yang akan membelanya. Dan matanya bertemu mata Darma.
Wajahnya dingin. Tajam. Tidak berperasaan. Tidak bergerak. Tidak simpati. Tidak marah. Hanya... kosong.
Saat itu — saat dia memohon dengan pandangan matanya, memohon bantuan, memohon keadilan — Darma tidak melangkah maju. Dia berdiri diam. Menonton. Seakan kematiannya adalah hal yang wajar. Seakan dia pantas mati.
Dan ekspresi itu — kedinginan itu, ketidakpedulian itu — membeku di ingatannya hingga detik ini.
Kirana menutup matanya rapat-rapat, napasnya sedikit bergetar.
Dia tidak tahu itu dia. Dia tidak tahu dia yang mati di pelukannya sendiri.
Dia membuka matanya kembali, menatap bulan purnama. Besok. Besok dia akan melangkah ke rumah pria itu. Menikah dengannya. Tidur di atap yang sama. Makan di meja yang sama. Dan dia harus melihat wajah itu setiap hari — wajah yang menyaksikan kematiannya tanpa mengulurkan tangan.
"Aku tidak bisa lari," bisiknya pelan ke kegelapan. "Aku tidak akan lari. Tapi Darma... jangan berharap aku melupakan wajahmu saat itu. Jangan berharap aku melupakan siapa yang berdiri diam saat aku berdarah di kakinya."
Dia menyandarkan pipinya ke bingkai jendela yang dingin. Angin menyentuh wajahnya — sejuk, tenang. Bulan bersinar terang di langit.
Besok matahari terbit. Dan hari itu — hari pernikahannya — juga hari pertama dari pembalasannya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience