76. Pesta Yang Membalikkan Segalanya

Romance Series 154

UNDANGAN YANG MENGUNDANG TANYA
Hari itu, utusan resmi dari Klan Utama Ardika datang membawa surat bersegel emas ke kediaman Pradana, dan juga ke rumah Dimas.
Isinya singkat dan tidak menyebutkan nama:
"Dengan hormat, hadirlah ke kediaman utama Klan Ardika pada malam ini. Akan diadakan pesta syukur atas kembalinya seseorang yang telah lama hilang. Kehadiran seluruh keluarga besar Ardika diharapkan."
Di ruang tamu Pradana, Kirana, Darma, Haris, Bima, Aran, dan Kesuma berkumpul.
"Mereka tidak menyebutkan namaku." ucap Kesuma pelan. "Mereka ingin Dimas datang tanpa rasa curiga."
Haris mengangguk.
"Ini langkah yang tepat. Kita akan ikut serta, namun tidak menampakkan diri di awal. Biarkan Dimas dan keluarganya datang dengan tenang... lalu hancurkan dunia mereka di hadapan semua orang."
 
HARAPAN YANG MELAMBUNG
Sore itu, di kediaman Dimas, suasana penuh kegembiraan yang keliru.
Serena berjalan mondar-mandir dengan wajah berseri-seri, memerintahkan pelayan menyiapkan pakaian terbaik dan perhiasan paling berkilau.
"Akhirnya! Akhirnya Klan Utama mengakui kita!" serunya penuh bangga. "Selama ini kita hanya dianggap sebagai cabang terpencil, tidak pernah diundang ke pesta besar di kediaman utama. Tapi malam ini... semuanya akan berubah!"
Larasati tersenyum lebar, memandang pantulan dirinya di cermin dengan pandangan penuh kepuasan.
"Benar, Ibu. Mulai malam ini, semua orang akan tahu bahwa kita adalah keluarga utama Ardika. Tidak ada lagi yang berani meremehkan kita. Kita akan dihormati, dipuja, dan tak ada yang berani menatap sinis pada kita lagi."
Dimas tersenyum bangga sambil melipat surat itu, dadanya terasa penuh dengan rasa puas.
"Pasti Klan Utama akhirnya menyadari betapa berharganya jasa-jasaku selama ini. Mereka pasti ingin mengukuhkan kembali kedudukanku sebagai pemimpin sah. Malam ini... nama kita akan tercatat kembali di halaman paling depan sejarah Ardika."
Mereka bertiga sama sekali tidak menoleh ke belakang, tidak pernah terlintas sedikit pun di benak mereka bahwa semua kemewahan, kehormatan, dan tempat yang mereka duduki selama bertahun-tahun itu... sebenarnya adalah milik orang lain.
Mereka lupa — bahwa gelar itu milik Kesuma. Bahwa rumah itu milik keluarga Ardika sejati. Bahwa kekuatan yang mereka banggakan... sebenarnya adalah hak waris yang seharusnya jatuh ke tangan Kirana.
Mereka lupa bahwa mereka hidup di atas tanah yang bukan milik mereka, memakai pakaian yang bukan ditenun untuk mereka, dan duduk di kursi yang tidak pernah diperuntukkan bagi mereka.
Siapa yang berani mempertanyakan hak kita? pikir Serena. Kita sudah berada di sini begitu lama... tempat ini sudah menjadi milik kita.
Mereka tidak akan pernah tahu kebenaran. pikir Larasati. Semua orang sudah lupa siapa yang seharusnya berdiri di tempat ini.
Aku adalah pemimpin. pikir Dimas. Aku sudah memimpin selama puluhan tahun. Tidak ada yang berhak mengambilnya dariku.
Dengan hati yang penuh harapan dan kepuasan, mereka bersiap pergi ke pesta itu, tanpa sadar bahwa mereka sedang berjalan menuju pengadilan yang sudah lama menanti.
 
MENGINTAI DARI BAYANGAN
Malam tiba. Aula utama Klan Utama Ardika dihiasi indah, lampu gantung berkilauan, meja-meja penuh makanan lezat. Namun suasana terasa berat, penuh ketegangan yang tak terlihat.
Di balik tirai tebal di lantai atas, tersembunyi dari pandangan siapa pun, berdiri Kirana, Darma, Haris, Bima, Aran, dan Kesuma. Mereka menyaksikan semua orang yang mulai berdatangan.
Tak lama kemudian, pintu besar terbuka lebar.
Dimas melangkah masuk dengan dada dibusungkan tinggi, wajahnya penuh keyakinan dan kesombongan. Di sebelahnya berjalan Serena dengan gaun mewah yang seharusnya dipakai oleh nyonya Ardika sejati, dan di belakangnya Larasati yang menatap sekeliling dengan pandangan bangga, seakan sudah menjadi tuan rumah yang sah.
Mereka tersenyum lebar, menyapa para tetua dengan anggukan yang terlalu percaya diri, seakan semua orang sudah seharusnya menghormati mereka.
Para tetua dan anggota klan lain menyambut mereka dengan senyum yang terpaksa. Tidak ada tepuk tangan yang tulus. Hanya keheningan yang dingin.
"Lihat mereka..." bisik Kesuma pelan, suaranya bergetar tertahan amarah. "Mereka berjalan seolah rumah ini milik mereka sendiri. Mereka tersenyum seolah tidak pernah mengambil apa pun dari orang lain."
Kirana menatap Larasati yang sedang tertawa riang bersama beberapa wanita bangsawan, lalu menunduk perlahan.
"Mereka lupa..." bisiknya pelan. "Mereka lupa bahwa semua yang mereka banggakan... dulunya adalah milikku."

Darma meletakkan tangan di bahu Kirana.
"Malam ini... mereka akan diingatkan kembali."
 
JURAGAS DAN WAGANDA MUNCUL
Tiba-tiba suara gong bergema tiga kali, memecah suara bisik-bisik tamu.
Dua orang tua berjalan masuk dari pintu utama — Juragas Ardika, sesepuh klan, dan Waganda Ardika, pemimpin dewan tetua. Wajah mereka serius, tanpa senyum sedikit pun.
Dimas segera melangkah maju, tersenyum ramah dan penuh harap. Serena dan Larasati berdiri tegak di belakangnya, menanti momen di mana mereka akan diakui secara resmi sebagai keluarga utama.
"Ayah... Waganda... Aku datang sesuai undangan." ucap Dimas dengan nada bangga. "Aku yakin malam ini kita akan mengumumkan hal yang membahagiakan. Bahwa aku dan keluargaku... akhirnya diakui sepenuhnya sebagai garis utama Ardika."
Namun Juragas tidak tersenyum. Ia menatap Dimas dengan pandangan dingin yang tajam.
"Malam ini kita berkumpul bukan untuk mengukuhkanmu, Dimas." suaranya berat dan bergema di seluruh aula. "Kita berkumpul untuk mengembalikan hak yang telah lama dirampas. Dan untuk mencabut kedudukan yang tidak pernah menjadi milikmu sejak awal."
Senyum di wajah Dimas membeku seketika. Serena dan Larasati saling pandang dengan wajah pucat.
"Apa maksud Ayah?" suaranya mulai gemetar. "Aku adalah pewaris Ardika! Aku telah memimpin selama bertahun-tahun! Mengapa tiba-tiba bicara seperti ini?"
Waganda melangkah maju, menatap Dimas lurus ke mata.
"Kau bukan pewaris sah. Kau hanya memegang jabatan yang bukan milikmu. Dan malam ini... jabatan itu diambil kembali. Secara resmi."
Dimas mundur selangkah, matanya membelalak tak percaya.
"Diambil kembali?! Mengapa?! Selama ini aku telah bekerja keras demi klan ini! Apa kesalahanku?!" teriaknya.
"Kau bertanya apa kesalahanmu?" Juragas melangkah mendekat, matanya berkaca-kaca namun suaranya tegas. "Kau telah mengambil tempat orang lain. Kau telah hidup dalam kebohongan selama puluhan tahun. Kau lupa... bahwa apa yang kau pegang... sebenarnya bukan milikmu."
Dimas menatap semua orang yang kini menatapnya dengan pandangan menghakimi. Serena menggenggam tangan Larasati erat, jantungnya berdebar kencang. Kebenaran yang coba mereka kubur selama bertahun-tahun... kini perlahan mulai terangkat ke permukaan.
"Siapa yang berhak menggantikanku?!" bentak Dimas dengan suara bergetar. "Siapa yang lebih pantas dariku?!"
Juragas menarik napas panjang, lalu menatap ke arah tirai di lantai atas.
"Orang itu... telah kembali."

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience