Series
154
"Jika kau mengandalkan perasaan, kau akan hancur!" bentak Durga. Ia melambaikan tangan dengan cepat, gelombang asap hitam pekat melesat menuju Kirana dengan kecepatan luar biasa.
Kirana tidak mundur. Dari pelatuk bahunya, ia melontarkan sayatan angin yang terbakar api — teknik yang telah ia latih berulang kali di ruang dimensi. Lidah api menyambar ke depan, membelah asap hitam itu menjadi dua bagian yang terbakar menjadi abu sebelum sempat menyentuhnya.
"Perasaan bukan kelemahan!" balas Kirana lantang. "Ia adalah sumber kekuatanku!"
Durga terkejut sejenak melihat serangan itu.
"Kau sudah menguasai teknik api angin? Mustahil... belum ada Phoenix yang bisa menggunakannya secepat ini!"
"Karena aku tidak belajar hanya untuk menguasainya." jawab Kirana sambil melangkah maju. "Aku belajar agar bisa melindungi orang yang kucintai."
Ia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Di atas telapak tangannya, bola api keemasan yang padat dan panas perlahan terbentuk, memancarkan cahaya yang membuat seluruh ruangan menjadi terang benderang. Ini adalah teknik bola api yang sempat gagal berkali-kali saat latihan, namun kini terasa begitu ringan dan kuat di tangannya.
"Kau pikir api kecil itu bisa melawanku?" Durga tertawa dingin, lalu mengeluarkan tangan kiri. Dinding bayangan tebal muncul di hadapannya, menyerap panas dan cahaya yang datang. "Api hanya akan padam jika bertemu kegelapan yang tak bertepi!"
"Api Phoenix tidak akan pernah padam!"
Kirana melemparkan bola api itu dengan sekuat tenaga. Bola itu melesat membelah udara, menabrak dinding bayangan yang kokoh. Terjadi ledakan hebat yang mengguncang seluruh ruangan. Dinding batu di sekitarnya retak-retak, debu beterbangan ke mana-mana. Saat asap perlahan hilang, terlihat dinding bayangan itu retak-retak dan mulai hancur.
Durga mundur selangkah, matanya membelalak tak percaya.
"Kekuatan ini..."
"Kau tidak akan pernah mengerti." ucap Kirana. Ia melompat tinggi ke udara, dan di tangannya kini terbentuk pedang yang terbuat dari api murni keemasan. Cahayanya menyilaukan mata siapa pun yang melihatnya. "Kau hanya tahu cara mengambil. Kau tidak pernah tahu rasanya melindungi. Itulah sebabnya kekuatanmu tidak akan pernah bisa menandingi kekuatanku."
"Jangan sombong!" teriak Durga. Ia melesat maju dengan kecepatan yang nyaris tak terlihat, tangan kanannya berubah menjadi cakar tajam berwarna hitam pekat yang mengarah langsung ke dada Kirana.
Kirana menangkis serangan itu dengan bilah pedang apinya. Bunyi dentuman keras terdengar hingga ke telinga semua orang yang menyaksikan. Setiap kali cakar Durga menyentuh pedang itu, api akan menyambar ke arah lengan Durga, membuatnya harus menarik kembali serangannya.
"Gerakanmu terlalu kaku!" seru Durga sambil terus menyerang bertubi-tubi. "Kau baru saja belajar bertarung! Kau tidak akan bisa mengimbangi ribuan tahun pengalamanku!"
"Pengalamanmu hanya untuk menyakiti orang lain!" balas Kirana sambil menangkis serangan demi serangan. "Sedangkan setiap gerakanku... setiap kekuatanku... tujuannya hanya satu!"
Kirana memutar tubuhnya dengan lincah, menghindari serangan samping yang hampir menyambar pinggangnya. Ia kemudian melompat mundur, mengangkat kedua tangannya ke arah langit-langit ruangan.
"Untuk melindungi!"
Dari dalam bayangan di sekeliling ruangan, muncul bayangan naga raksasa yang terbuat dari api keemasan. Naga itu meraung keras, suaranya mengguncang tanah dan batu. Kepalanya menunduk tajam, mengarah langsung ke arah Durga.
Durga mundur terhuyung, wajahnya penuh kekaguman bercampur amarah yang luar biasa.
"Api Naga Phoenix... teknik yang sudah hilang ribuan tahun... bagaimana mungkin kau bisa melakukannya?!"
"Aku tidak melakukannya dengan kemampuanku sendiri." jawab Kirana dengan suara yang tenang namun berwibawa. "Aku melakukannya dengan kekuatan yang dititipkan oleh leluhurku. Kekuatan yang tidak akan pernah jatuh ke tangan orang sepertimu!"
Naga api itu melesat ke bawah dengan kecepatan kilat. Durga berusaha menangkis dengan dinding kegelapan terkuatnya, namun api itu membakar lapisan demi lapisan perlindungan yang ia bangun. Saat api itu menyentuh tubuhnya, Durga berteriak kesakitan. Tubuhnya terbakar, asap hitam mengepul dari punggung dan lengannya.
"Kau..." geram Durga dengan wajah penuh amarah dan rasa sakit. "Kau benar-benar membuatku marah!"
Ia mengangkat kedua tangannya, dan seluruh ruangan tiba-tiba menjadi gelap gulita. Cahaya dari api Kirana perlahan teredam seakan disedot oleh tanah itu sendiri.
"Kau pikir api saja sudah cukup?" suara Durga bergema dari segala arah. "Aku akan menunjukkan padamu apa itu kegelapan yang sesungguhnya!"
Dari lantai, dinding, hingga langit-langit, muncul ribuan tangan bayangan yang menjulur keluar, berusaha meraih kaki dan tangan Kirana. Kirana berusaha membakarnya, namun tangan itu terus muncul tanpa henti.
"Kau tidak bisa membakar kegelapan jika kau tidak tahu di mana letaknya!" ejek Durga.
Kirana berhenti sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata. Ia tidak lagi mencari Durga dengan mata, melainkan dengan perasaan dan ikatan darah yang mengalir di dalam dirinya. Ia merasakan di mana letak kebencian, di mana letak keserakahan, dan di mana letak sumber kekuatan gelap itu berada.
"Aku tidak perlu melihatnya." ucap Kirana pelan, matanya terbuka kembali bersinar terang. "Karena api Phoenix akan selalu menemukan sumber kegelapan dengan sendirinya."
Ia menunjuk satu titik di tengah kegelapan yang paling pekat.
"Di sana!"
Kirana melesat menuju titik itu dengan kecepatan penuh. Pedang apinya menyambar ke depan, dan tepat di sana, bayangan Durga terpaksa muncul untuk menangkis serangan itu.
"Kau menemukan aku..." desis Durga. "Tapi kau tidak akan bisa mengalahkanku!"
"Belum selesai!"
Kirana memutar pedangnya, lalu melontarkan gelombang api yang menyebar ke segala arah. Cahaya keemasan itu kembali menerangi seluruh ruangan, membakar setiap tangan bayangan yang menjulur keluar. Durga terpaksa mundur jauh, wajahnya kini penuh goresan dan luka bakar.
Mereka berhadapan lagi di tengah ruangan yang kini kembali terang. Napas mereka sama-sama memburu, namun tatapan mata mereka berbeda. Kirana menatap dengan tekad yang membara, sementara Durga menatap dengan kebencian yang tak terlukiskan.
"Kau kuat..." ucap Durga pelan, napasnya berat. "Tapi ini belum berakhir. Kekuatan yang kau miliki itu... suatu hari nanti akan menjadi milikku."
"Kau tidak akan pernah mendapatkannya." jawab Kirana tegas. "Karena kekuatan ini adalah milik mereka yang berhati murni. Dan hatimu sudah lama tertutup kegelapan."
Di sisi lain ruangan, Darma, Bima, Aran, dan Kesuma sedang bertarung melawan pasukan bayangan yang terus muncul. Namun mereka pun berhenti sejenak saat melihat pertarungan di tengah ruangan itu.
Darma menatap Kirana dengan mata berbinar penuh rasa bangga.
"Lihatlah... dia tidak lagi hanya seorang gadis yang membutuhkan perlindungan." ucapnya pelan. "Dia kini menjadi pelindung bagi kita semua."
Share this novel