Series
154
Saat mereka melangkah keluar dari batas hutan terlarang, deru mesin terdengar jelas dari kejauhan. Tiga mobil mewah berwarna hitam mengkilap berhenti tepat di garis batas kerajaan, lampu-lampunya menyala lembut menembus sisa kabut. Di depan mobil paling utama, Haris Pradana sendiri berdiri menunggu bersama puluhan pengawal yang bersiaga ketat di sekelilingnya.
Darma tersenyum tipis saat melihat ayahnya.
"Aku sudah menelepon sebelumnya." ucapnya pelan kepada Kirana. "Ayah pasti akan datang menjemput kita."
Haris segera melangkah mendekat, matanya langsung tertuju pada Sariya yang disangga Kirana. Wajahnya tegang namun penuh kekhawatiran yang mendalam.
"Kalian kembali..." suaranya terdengar lega namun berat. "Cepat bawa mereka masuk. Siapkan kamar perawatan dan obat terbaik."
Pengawal segera membantu membawa Sariya masuk ke mobil paling belakang yang paling luas dan nyaman. Kirana ikut masuk bersamanya, tidak mau berpisah sedetik pun dari ibunya. Darma naik ke mobil yang sama untuk menemani, sementara yang lain menaiki mobil lainnya.
Perjalanan menuju Pradana Mansion berjalan tenang dan mulus. Di dalam mobil yang sejuk, Sariya akhirnya terlelap setelah diberikan ramuan penenang. Wajahnya masih pucat, namun napasnya sudah teratur dan tenang. Kirana duduk di sampingnya, tangan kanannya terus menggenggam tangan ibunya erat. Matanya sesekali menatap wajah ibunya, seakan takut jika ia berkedip, ibunya akan hilang lagi.
Darma duduk di seberang mereka, tidak banyak bicara namun matanya terus mengawasi Kirana dengan perhatian penuh.
"Ibu akan baik-baik saja." ucapnya pelan. "Dia hanya butuh istirahat dan perawatan yang cukup."
Kirana mengangguk pelan, namun pandangannya tidak beralih dari wajah ibunya.
"Aku tidak akan meninggalkannya lagi."
Â
Sesampainya di Pradana Mansion, Sariya segera dibawa ke kamar utama yang sudah disiapkan khusus untuk perawatan. Kirana menolak untuk berpisah, ia duduk di tepi tempat tidur sepanjang waktu, menyeka keringat di dahi ibunya dan memastikan tidak ada yang mengganggu tidurnya.
Sementara itu, di sayap lain mansion, Arga dibawa ke kamar yang sudah disiapkan khusus untuknya. Bima, Aran, Kesuma, dan Haris berkumpul di sana. Luka-luka Arga sudah dibersihkan dan dibalut, namun wajahnya masih terlihat lelah dan pucat.
Arga duduk di tepi tempat tidur, menatap mereka satu per satu dengan pandangan yang berat.
"Kalian ingin tahu apa yang terjadi di sana?" tanyanya pelan, memecah keheningan.
"Kami ingin tahu segalanya." jawab Haris tegas. "Siapa sebenarnya Durga? Dan apa yang dia lakukan kepada kalian selama ini?"
Arga menarik napas panjang, lalu mulai bercerita dengan suara yang pelan namun jelas.
"Durga bukan orang biasa. Dia adalah makhluk kuno yang lahir dari kegelapan dan keserakahan ribuan tahun lalu. Selama ini dia bersembunyi di dalam bayangan, menunggu momen yang tepat untuk bangkit kembali."
Ia menunduk sejenak, lalu melanjutkan.
"Ratusan tahun yang lalu, dia hampir berhasil menguasai seluruh dunia. Namun leluhur Phoenix mengalahkannya dan menyegel kekuatannya. Tapi dia tidak pernah benar-benar mati. Dia hanya menunggu... menunggu sampai darah Phoenix kembali muncul dengan kekuatan yang cukup untuk membuka kembali segel itu."
Bima mengerutkan kening.
"Jadi tujuan utamanya adalah darah Kirana?"
"Benar." Arga mengangguk. "Dia butuh darah Phoenix untuk kembali berkuasa sepenuhnya. Itulah sebabnya dia menangkap Sariya sejak lama — sebagai umpan, sekaligus untuk memantau kapan Kirana akan cukup kuat untuk dijadikan sasaran."
"Dan selama kau di sana..." tanya Aran pelan. "Apa yang kau lihat?"
Arga menatap ke arah jendela yang tertutup tirai, seakan melihat kembali bayangan masa lalu yang mengerikan.
"Aku melihat penderitaan Sariya selama bertahun-tahun. Aku melihat bagaimana dia bertahan hanya karena memikirkan putrinya. Durga terus menyiksanya, mencoba memaksa dia menyerahkan rahasia kekuatan Phoenix. Tapi Sariya tidak pernah menyerah. Dia selalu berkata... Kirana akan datang. Kirana akan menyelamatkan semua orang."
Suara Arga bergetar sedikit.
"Dan dia benar. Kirana datang. Dia datang bukan sebagai gadis yang lemah, tapi sebagai Phoenix yang membakar segala kegelapan."
Keheningan menyelimuti ruangan sejenak. Haris menghela napas panjang, wajahnya penuh kekaguman sekaligus kekhawatiran.
"Jadi bahaya belum sepenuhnya hilang?" tanyanya.
Arga menggeleng pelan.
"Durga terluka parah, tapi dia belum mati. Dia bersembunyi di tempat yang jauh, menyusun rencana baru. Dan sekarang... dia tahu seberapa kuat Kirana. Dia tidak akan menyerah begitu saja."
Kesuma yang sedari tadi diam akhirnya bersuara.
"Artinya, kita harus bersiap menghadapi serangan yang lebih besar lagi."
"Benar." Arga menatap mereka dengan tatapan tajam. "Kita harus melindungi Kirana dan Sariya dengan segala cara. Karena jika Durga berhasil kembali... tidak ada satu pun dari kita yang akan selamat."
Â
Di kamar perawatan, Kirana masih duduk setia di samping tempat tidur ibunya. Tangan Sariya perlahan bergerak, lalu menggenggam jemari putrinya.
Kirana segera menunduk mendekat.
"Ibu... Ibu sudah bangun?"
Sariya membuka matanya perlahan, menatap wajah putrinya dengan pandangan yang lembut namun penuh kelelahan.
"Kirana..." suaranya masih sangat lemah. "Kau... tidak pergi ke mana-mana?"
"Aku tidak akan pergi ke mana pun." jawab Kirana dengan suara bergetar. "Aku akan selalu di sini, di samping Ibu."
Sariya tersenyum lemah, lalu mengangkat tangan perlahan menyentuh pipi putrinya.
"Kau sudah tumbuh... anakku sayang. Kau sudah menjadi wanita yang hebat."
"Aku hebat karena Ibu." air mata Kirana jatuh di pipinya. "Aku tidak akan membiarkan siapapun lagi menyakiti Ibu."
Sariya menarik tangan putrinya perlahan, menggenggamnya erat di dalam kedua tangannya.
"Aku tahu. Tapi kau harus berjanji satu hal padaku."
"Apa itu, Bu?"
"Jangan pernah membiarkan kekuatan itu mengubah hatimu." ucap Sariya pelan namun tegas. "Api Phoenix bisa membakar musuh, tapi ia juga bisa membakar dirimu sendiri jika hatimu dipenuhi amarah. Tetaplah menjadi Kirana yang baik, yang tulus, dan yang penuh kasih sayang. Itulah kekuatan terbesarmu."
Kirana menatap mata ibunya yang jernih, lalu mengangguk pelan dengan tekad yang membara di dalam hatinya.
"Aku janji, Bu. Aku akan selalu menjadi diriku sendiri."
Share this novel