47. Jalan Pulang Yang Berbeda

Romance Series 154

SARAPAN & RENCANA HARI ITU
Sarapan di meja makan Pradana berbeda dari yang pernah Kirana kenal seumur hidupnya. Tidak ada tatapan tajam. Tidak ada desisan komentar yang menyengat lebih tajam daripada pisau. Hanya suara piring dan sendok yang beradu lembut, aroma teh melati yang mengepul, dan cahaya matahari pagi yang menyinari meja kayu jati panjang tanpa terhalang awan.
Darma duduk di hadapannya, tenang seperti biasa, namun hari ini ada sesuatu yang lebih ringan di bahunya — seakan beban yang ia pikul sedikit berkurang. Dia menuangkan teh hangat ke cangkir Kirana, lalu bertanya pelan:
"Bagaimana perasaanmu pagi ini?"
Kirana menyentuh cangkir yang hangat di telapak tangannya, merasakan kehangatan itu menjalar ke lengan, ke dada, ke tempat di mana mimpi semalam masih berdenyut lembut. Dia tersenyum — senyum yang perlahan mulai terasa lebih alami, lebih ringan.
"Lebih baik. Seperti... tubuhku akhirnya beristirahat dengan benar."
Darma mengangguk, sudut bibirnya terangkat samar.
"Maka hari ini jangan pikirkan tugas. Jangan pikirkan masa lalu. Ayah sudah berangkat ke kantor pagi-pagi — ada urusan yang tidak bisa ditunda. Dan aku... hari ini aku menemanimu. Ke mana pun kau mau."
Mata Kirana berbinar sedikit. Seluruh hidupnya, ke mana pun ia pergi, selalu diatur orang lain. Selalu diantar, selalu diatur, selalu dikawal. Hari ini — untuk pertama kalinya — dia bisa memilih.
"Bisakah kita berjalan-jalan? Melihat kota ini? Dan... mungkin melihat tempat di mana Bapak Haris bekerja?"
Darma tersenyum lebar kali ini.
"Tentu saja. Mari kita pergi."
 
GEDUNG PRADANA GEMILANG
Mereka berjalan menyusuri jalan utama kota. Kirana memperhatikan segala hal — gedung-gedung tinggi yang menjulang, toko-toko dengan jendela yang memancarkan cahaya, orang-orang yang berjalan dengan tujuan, dengan harapan, dengan kehidupan yang tidak berkutat di dalam empat dinding rumah yang penuh kepura-puraan. Udara di sini terasa lebih segar. Langit lebih luas. Dunia ternyata jauh lebih besar daripada halaman rumah Ardika.
Setelah berjalan cukup lama, Darma menunjuk ke depan — ke arah sebuah menara kaca yang menjulang paling tinggi di pusat kota, memantulkan cahaya matahari hingga tampak seakan terbuat dari berlian raksasa. Papan nama di lobi utama bertuliskan huruf emas yang berkilau: PRADANA GEMILANG — KONSULTASI & PERDAGANGAN INTERNASIONAL.
"Ini perusahaan keluarga kami," ujar Darma. "Pradana Gemilang. Ayah mendirikannya puluhan tahun lalu — bermula dari perdagangan tekstil dan barang kerajinan, kini merambah ke investasi properti, ekspor-impor, dan mitra strategis dengan klan-klan terpercaya. Prinsip Ayah sederhana: Kualitas tanpa tipu daya. Kemitraan tanpa penindasan. Itulah sebabnya nama Pradana berdiri tegak ketika nama lain runtuh."
Kirana menatap gedung itu kagum. Bukan karena kemegahannya — tapi karena setiap batu yang menyusunnya dibangun di atas kejujuran. Sangat berbeda dengan Ardika, yang dibangun di atas utang, kepura-puraan, dan penipuan.
"Bapak Haris... dia bekerja di sini setiap hari?" tanyanya pelan.
"Hampir setiap hari. Dia memimpin rapat, memeriksa laporan, berbicara dengan mitra. Dia tidak duduk di atas takhta — dia bekerja di lantai yang sama dengan semua orang. Karena baginya, Pradana Gemilang bukan miliknya semata. Milik semua yang bekerja di sini."
Kirana menelan ludah. Begitu berbeda. Dimas Ardika tidak pernah tahu siapa nama karyawannya. Haris Pradana tahu mereka adalah alasan perusahaan berdiri. Perbedaan itu begitu nyata hingga terasa menyakitkan.
Mereka tidak masuk — Haris sedang dalam rapat penting, dan mereka tidak ingin mengganggu. Kirana hanya berdiri di halaman depan, menatap gedung itu, memahami di mana posisi keluarganya yang baru. Dia tidak menikah dengan uang. Dia menikah dengan martabat.
 
PERTEMUAN YANG TIDAK DIINGINKAN
Matahari mulai condong ke barat saat mereka berjalan pulang. Langit berwarna jingga lembut, dan Kirana merasa hatinya penuh — bukan dengan harta, tapi dengan pengalaman. Hari ini sederhana, namun maknanya dalam. Dia mulai belajar: hidup bukan sekadar bertahan. Hidup juga menikmati cahaya matahari.
Namun di tikungan jalan utama, di depan toko kain yang dulu sering dikunjungi keluarga Ardika — sosok yang paling tidak ingin ia temui berdiri di sana, seakan menunggu tepat di jalannya.
Serena dan Larasati.
Mereka tampak berantakan. Pakaian Serena kusut, rambutnya kurang rapi. Wajah Larasati memerah, matanya bengkak — seolah habis menangis karena cemburu. Mereka berhenti berjalan begitu melihat Kirana, dan bibir Serena melengkung ke atas — bukan senyum, melainkan seringai penuh racun.
"Jadi ini dia," seru Serena, suaranya cukup keras hingga beberapa orang lewat menoleh. "Gadis yang lupa asal-usulnya begitu mengenakan gaun yang lebih bagus daripada yang pernah kami belikan untuknya."
Larasati melangkah maju, dadanya naik turun. Tatapannya membakar kebencian.
"Kau terlihat terlalu nyaman, Kak. Terlalu berkilau. Padahal seharusnya kau berlutut memohon kami tidak mengusirmu — bukan berjalan laksana nyonya kaya di bawah perlindungan mereka."
Darma hendak melangkah maju, namun Kirana meletakkan tangan di lengannya — pelan namun tegas. Dia menggeleng sedikit. Ini bukan pertempuran yang membutuhkan pedang. Ini pertempuran yang dimenangkan dengan tidak berhenti berjalan.
Kirana berhenti, menatap mereka — tatapannya tenang, tidak takut, tidak rendah hati, hanya... datar. Seakan mereka adalah orang asing yang meminta waktu yang tidak ingin ia berikan.
"Aku tidak lupa siapa aku," ujarnya pelan namun jelas. "Aku hanya tidak lagi menjadi siapa yang kalian inginkan."
Serena tertawa sinis.
"Berlagak mulia! Kau pikir mereka benar-benar menginginkanmu? Kau hanyalah jaminan kesepakatan bisnis! Begitu mereka tidak butuh lagi — kau akan kembali ke pintu kami, dan kami akan menutupnya tepat di hadapan mukamu!"
"Biarkan mereka yang tahu," jawab Kirana tenang. "Yang aku tahu — aku tidak lagi harus mendengarkan kata-kata yang menyakiti setiap hari. Dan itu sudah cukup bagiku."
Larasati maju selangkah, wajahnya memerah menahan amarah.
"Kau mencuri pernikahanku! Kau mencuri tempatku! Darma seharusnya milikku! Semua ini — seharusnya milikku!"
"Jika itu milikmu," ujar Kirana lembut namun tajam, "mengapa tidak ada yang memintanya dariku? Larasati... bukan aku yang mengambil apa pun darimu. Kau yang tidak pernah memiliki tempat di mana pun."
Kata-kata itu menembus lebih dalam daripada teriakan mana pun. Larasati terdiam, mulutnya terbuka namun tidak ada suara keluar. Serena melotot, tangannya terangkat seakan ingin menampar — namun Darma melangkah maju satu langkah saja, dan kehadirannya yang tinggi dan tegas membuat Serena mundur selangkah.
"Pergilah," ujar Darma. Suaranya rendah, tidak berteriak, namun ancamannya jelas. "Kalian tidak disambut di sini. Dan Kirana tidak berutang penjelasan apa pun pada kalian."
Serena menatap Darma, lalu kembali ke Kirana — matanya menyala penuh dendam dan kepahitan.
"Kau pikir kau menangis? Ini baru permulaan, Kirana. Darah tidak bisa dibohongi. Kau tetap sama — barang yang kami ambil, dan barang yang bisa kami ambil kembali."
Kirana tidak menjawab. Dia tidak menatap mereka lebih lama lagi. Dia hanya memegang lengan Darma pelan, lalu berbalik — dan berjalan pergi.
Di belakangnya, teriakan Serena masih terdengar. Makian Larasati masih melayang di udara. Tapi suara-suara itu tidak lagi menembus dadanya. Mereka hanya suara di jalan. Bukan lagi suara di dalam rumahnya.
Mereka berjalan pulang dalam diam. Langit semakin gelap, namun lampu-lampu kota mulai menyala, menerangi jalan di depan mereka. Kirana menarik napas panjang — napas yang tidak lagi terasa terikat.
"Kau tidak berhenti," ujar Darma pelan.
"Karena berhenti berarti memberi mereka kekuasaan atas waktuku. Dan waktu ini... milikku."
Darma menatapnya — benar-benar melihatnya. Dan di bawah cahaya lampu jalan, dia tersenyum.
"Milikmu sepenuhnya."

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience