103. Harga Perjanjian Dan Cahaya Dirasakan

Romance Series 154

Di kedalaman hutan yang lebat dan sepi, di sebuah bangunan sederhana yang baru saja tersedia secara ajaib, Dimas berdiri memandang keluar jendela dengan wajah yang masih menyimpan sisa kepuasan. Rekening perusahaannya kembali penuh. Namanya perlahan kembali disebut. Segala sesuatu yang ia inginkan kini terpenuhi. Namun di ruangan sebelah, suasana terasa jauh lebih dingin dan suram.
Serena duduk di tepi tempat tidur, tangannya gemetar menyentuh pipinya sendiri. Kulitnya yang dulu halus dan kencang kini terasa kering, kusam, dan tampak lebih keriput dari biasanya. Napasnya terasa berat, tubuhnya terasa lemah seolah tenaganya perlahan disedot keluar dari dalam.
Larasati masuk dengan langkah gontai. Gaun sutra termahal yang baru saja ia pesan tampak mewah di tubuhnya, namun wajahnya pucat pasi. Ia berhenti di depan cermin tua di sudut ruangan, menatap pantulannya sendiri dengan mata terbelalak. Lingkaran gelap samar mulai terlihat di bawah matanya. Wajahnya yang biasanya berseri-seri kini tampak lesu dan tak bercahaya.
"Ibu..." suaranya bergetar. "Apa yang terjadi pada kami? Uang itu datang... tapi kenapa aku merasa semakin lemah? Setiap malam aku bermimpi buruk. Aku melihat bayangan gelap berdiri di samping tempat tidurku..."
Serena menunduk, air mata jatuh perlahan.
"Itulah harganya, Larasati... Kekayaan yang datang tanpa usaha... selalu memiliki harga yang tak terlihat di awal. Tubuhku terasa semakin ringan, tenagaku perlahan hilang... seolah-olah sesuatu sedang mengambil masa muda dan kekuatan hidup kita sedikit demi sedikit."
Larasati mundur selangkah, matanya berkaca-kaca bercampur amarah dan ketakutan.
"Kita hanya berjanji membawanya Kirana! Kita tidak pernah setuju untuk kehilangan diri kita sendiri!"
"Apakah perjanjian itu pernah dibacakan dengan jelas kepada kita?" Serena menatap putrinya dengan pandangan penuh penyesalan yang mendalam. "Kita terlalu buta akan kemewahan dan dendam... kita tidak pernah bertanya apa yang sebenarnya harus kita bayar."
Tiba-tiba udara di ruangan itu menjadi sangat dingin. Dari sudut paling gelap, bayangan hitam perlahan terbentuk menjadi sesosok samar. Sosok itu tampak tidak sepenuhnya utuh — bayangannya bergoyang samar, seolah-olah tubuhnya belum sepenuhnya pulih. Namun sepasang mata merah menyala di dalamnya tetap menatap mereka dengan tajam. Suaranya terdengar berat, parau, dan penuh amarah yang tertahan — jelas terasa ia belum sembuh dari luka bakar akibat api Phoenix.
"Kalian... mulai... mengeluh?" suara itu terdengar tertahan, seolah setiap kata menyakitinya. "Kalian... menikmati... apa yang kuberikan... lalu kini... menolak membayar harganya?"
Serena dan Larasati terdiam ketakutan, tubuh mereka gemetar hebat.
"Kami... tidak tahu..." Serena berusaha bicara, suaranya nyaris tak terdengar. "Kau berkata hanya akan membantu kami..."
"Aku memang... membantu..." Bayangan itu tertawa rendah, namun tawanya terdengar terputus-putus dan penuh rasa sakit. "Manfaat... telah kalian nikmati. Maka harganya... harus dibayar. Jangan berpikir... untuk lari. Karena semakin kalian berusaha melepaskan diri... semakin cepat... kalian akan kehilangan sisa jiwa kalian."
Sosok itu sedikit condong ke depan, seolah berusaha menahan rasa sakit yang menyerang tubuhnya.
"Bawakan aku... Kirana. Bawakan aku... darah Phoenix-nya. Maka mungkin... aku akan memperlambat... pengambilan harganya."
Sebelum mereka sempat menjawab, bayangan itu perlahan lenyap seketika, seolah ditarik kembali oleh kegelapan itu sendiri. Hanya tersisa hawa dingin yang menusuk tulang dan keheningan yang mencekam.
Serena jatuh berlutut di lantai, menangis tanpa suara. Larasati berdiri terpaku, menggenggam tangannya erat hingga kuku menancap ke daging. Ia menyadari — sosok itu terluka, namun tetap saja mengerikan. Dan pintu jalan pulang... telah tertutup rapat. Mereka tidak punya pilihan selain terus melangkah di jalan gelap yang telah mereka pilih.
 
Sementara itu, jauh dari hutan yang suram itu, di kediaman keluarga Surya yang megah, suasana terasa jauh lebih tenang namun penuh pemikiran yang dalam.
Bagas Surya berdiri di jendela ruang kerjanya, menatap ke arah kejauhan. Di langit di atas Pradana Mansion, samar-samar terlihat cahaya lembut keemasan yang membentang luas — perlindungan sihir yang tak pernah ada sebelumnya. Di sebelahnya berdiri Susanti, putrinya, yang baru saja kembali dari perjamuan bangsawan. Wajahnya yang biasanya penuh senyum kini tampak serius dan penuh keraguan.
"Ayah..." panggil Susanti pelan. "Semua orang membicarakan apa yang terjadi. Cahaya itu... kehadiran para Penjaga... dan Kirana Ardika."
Bagas berbalik perlahan. Wajahnya yang biasanya penuh kebanggaan dan keangkuhan kini tampak berpikir dalam.
"Aku juga merasakannya, Susanti. Sesuatu yang besar sedang bergerak. Dan gadis itu... Kirana... dia berada di pusat semuanya."
Susanti melangkah maju selangkah, suaranya tegas namun lembut.
"Tadi di perjamuan... tidak ada yang berani lagi mengejeknya. Mereka berbisik... bahwa kekuatan yang melindunginya adalah kekuatan kuno yang telah lama hilang. Bahwa keempat Penjaga berkumpul demi melindunginya. Bahwa Pradana Mansion kini tak tertembus oleh kekuatan mana pun."
Susanti menatap ayahnya lekat-lekat.
"Ayah... selama ini kita terus merendahkan keluarga Ardika. Kita terus mengejek Kirana. Tapi bukankah itu berarti... selama ini kita salah menilai? Dimas Ardika memang pantas direndahkan. Tapi Kirana... dia berbeda. Cahaya yang melindunginya... terasa begitu murni dan hangat. Bukan cahaya yang sombong, melainkan cahaya yang melindungi."
Bagas terdiam. Kata-kata putrinya menyentuh sesuatu yang selama ini ia rasakan namun tak ingin akui. Selama bertahun-tahun ia memandang rendah Ardika dan Kirana. Namun kini, melihat cahaya perlindungan yang membentang di langit itu... hatinya mulai merasa gelisah.
"Kau benar." ucap Bagas pelan, suaranya rendah namun penuh kesadaran yang baru datang. "Aku terlalu sibuk membenci Dimas hingga lupa melihat apa yang sebenarnya ada di hadapanku. Cahaya itu... bukan sesuatu yang bisa dibuat-buat."
Ia berjalan perlahan menuju meja, lalu menatap peta kerajaan yang terbentang di sana.
"Mulai hari ini..." lanjut Bagas dengan suara tegas, "Jangan lagi ada kata-kata merendahkan tentang Kirana di mulut siapa pun dari keluarga kita. Jangan pula menyebarkan cerita buruk tentangnya. Sebaliknya... perhatikan dengan saksama. Jika dia benar-benar dilindungi oleh takdir dan kekuatan sebesar itu... maka kita tidak boleh berdiri di sisi yang salah."
Susanti tersenyum lega.
"Jadi... kita tidak lagi menjadi musuhnya?"
"Kita tidak akan menjadi musuhnya." Bagas menatap putrinya. "Namun kita juga tidak akan terburu-buru menjadi sekutunya. Kita tunggu dan lihat. Karena satu hal yang aku yakini... Dimas Ardika dan keluarganya telah memilih jalan yang kelam. Dan Kirana... dia sedang melangkah di jalan yang jauh lebih terang dan lebih besar dari siapa pun yang kita kenal."
Bagas menatap kembali ke arah jendela, ke arah cahaya samar di kejauhan.
"Siapa pun yang berdiri di sisi cahaya itu... kelak akan menjadi pelindung kerajaan. Dan siapa pun yang tetap berdiri dalam kegelapan... akan hilang ditelan zaman. Kita harus memastikan... ke mana arah langkah kita."
Susanti mengangguk pelan.
"Aku mengerti, Ayah. Kita akan menunggu dengan bijaksana."
Di luar jendela, angin malam berhembus lembut. Di dua tempat yang berbeda itu, dua keluarga berdiri di persimpangan jalan. Satu keluarga telah terjebak dalam kegelapan bersama sosok yang terluka namun tetap mengerikan, dan mulai membayar harganya dengan penyesalan yang mendalam. Keluarga yang lain masih berdiri di persimpangan, menyadari bahwa pandangan lama mereka telah keliru, dan mulai bersiap untuk memilih jalan yang benar.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience