55. Latihan Dan Kebangkrutan Yang Tersembunyi

Romance Series 154

IZIN DAN PERSETUJUAN
Bima Sena melangkah masuk ke ruang kerja Haris Pradana dengan langkah yang tetap tenang dan tegap. Haris telah berdiri menunggu di dekat meja kayu jati yang besar, wajahnya penuh rasa hormat. Ia tahu siapa lelaki di hadapannya ini — bukan sekadar utusan klan lain, melainkan Penjaga yang telah berdiri sejak lama, yang memikul beban sumpah leluhur di pundaknya.
Bima memberi salam hormat dengan cara kuno — mengepalkan tangan kanan di dada, sedikit membungkukkan tubuh.
"Salam hormat, Tuan Haris. Aku datang membawa sumpah yang telah lama tertunda."
Haris segera melangkah maju, mempersilakannya duduk.
"Selamat datang, Tuan Bima. Terima kasih telah sudi datang. Jujur... kami merasa tak layak meminta bantuanmu. Karena sejujurnya... kami tidak tahu caranya. Tidak ada catatan. Tidak ada panduan. Kami tidak tahu bagaimana melatih Phoenix. Kekuatan itu kuno, jauh lebih tua dari pengetahuan yang kami miliki." Haris menatap Bima dengan tulus, suaranya penuh kerendahan hati. "Maka kedatanganmu... adalah pertolongan yang tak ternilai harganya. Tanpamu... kami tak tahu harus memulai dari mana."
Bima mendengarkan dengan tenang, lalu mengangguk pelan. Matanya yang jernih menatap Haris dengan tegas namun lembut.
"Itu bukan bantuan. Itu tugasku. Sejak leluhur kita bersumpah... tanggung jawab ini sudah tertulis. Phoenix telah bangkit. Maka Penjaga Bumi harus berdiri di sampingnya. Aku akan melatihnya. Tidak dengan kekuatan semata... melainkan dengan keteguhan. Agar apa pun yang menghantamnya... ia tidak akan goyah."
Haris tersenyum lega.
"Terima kasih. Terima kasih telah bersedia memikul beban ini."
"Sebagai persiapan," lanjut Haris, "Aku telah menyiapkan tempat latihan di halaman belakang — tanah yang luas dan terbuka, tak mudah rusak oleh kekuatan. Dan kamar tamu yang nyaman untukmu. Juga untuk Arga Bayu, jika ia bermalam di sini. Jadikan rumah ini seakan rumahmu sendiri."
Bima mengangguk tanda berterima kasih.
"Terima kasih atas kebaikanmu. Aku akan memulainya hari ini."
 
LANGKAH PERTAMA DI LUAR PINTU
Bima keluar dari ruangan dan menuju halaman belakang. Di sana, Kirana telah menunggu. Ia berdiri tegak, kedua tangannya di belakang, matanya menyambut kedatangan Bima dengan tatapan yang siap belajar.
Bima berhenti di hadapannya, tidak terlalu dekat, tidak pula terlalu jauh.
"Mulainya sederhana," ujar Bima pelan namun tegas. "Sebelum api berkobar... tanah harus kokoh berdiri. Jika pondasi goyah... sekuat apa pun apinya... ia akan runtuh."
Kirana mengangguk, mendengarkan dengan saksama.
"Maka hari ini... kita tidak akan melatih api. Kita melatih DIRI. Berdirilah. Tarik napas. Rasakan tanah di bawah kakimu. Biarkan bumi menjadi bagian dari kekuatanmu. Sehingga apa pun yang datang... kau tidak akan tergoyahkan."
Kirana menarik napas panjang. Menutup mata perlahan. Dan di halaman yang luas itu... di bawah langit yang mulai senja... latihannya pun dimulai. Tanpa api yang menyala. Tanpa cahaya yang memancar. Hanya keteguhan. Hanya kesabaran. Hanya ketenangan yang menjadi pondasi segala kekuatan yang kelak akan tumbuh.
 
KEMEWAHAN YANG TIRIS
Sementara itu, jauh dari kediaman Pradana... suasana di kediaman Ardika semakin terasa sempit dan gelap.
Dimas Ardika duduk di ruang kerjanya, menatap tumpukan kertas di meja. Jarinya meremas lembaran perhitungan keuangan itu pelan. Mas kawin dari pernikahan Kirana — jumlah yang ia kira akan menopang keluarga bertahun-tahun — ternyata menipis jauh lebih cepat daripada yang ia bayangkan. Tagihan yang menumpuk, gaji yang belum dibayar, utang pemasok yang terus mendesak... dalam hitungan minggu, separuh lebih uang itu telah lenyap. Dan sisa yang tersisa... tidak akan bertahan lama.
Saham perusahaan terus merosot tajam. Bahkan setelah pernikahan dan mas kawin itu masuk... uang itu habis begitu saja tanpa meninggalkan jejak. Namun Serena dan Larasati seakan tidak melihatnya. Mereka tetap pergi berbelanja seperti biasa — menghabiskan waktu di butik-butik termahal, mengenakan pakaian terbaik, seakan kekayaan keluarga itu tidak akan pernah berkurang.
Dimas memijat pelipisnya yang berdenyut sakit. Kepalanya terasa berat. Setiap hari keluhan terdengar. Setiap hari pengeluaran terus mengalir keluar. Dan di tengah kepusingannya... bayangan wajah Sariya sesekali melintas di benaknya — wajah yang tenang, yang cerdas, yang selalu mengatur segalanya dengan rapi dan hemat. Wajah yang kini hilang... dan digantikan oleh keributan yang tak pernah usai.
 
AIR MATA DI DEPAN BUTIK
Di sebuah butik mewah yang menjual gaun pesta terbaru dengan harga selangit, Larasati berdiri terpaku di depan kaca pajangan. Matanya tak lepas dari sehelai gaun sutra berwarna merah muda yang berkilau indah.
"Ibu... aku ingin gaun itu. Belikan aku," pinta Larasati, suaranya penuh kepastian. Sejak kecil, apa pun yang ia inginkan... pasti menjadi miliknya.
Serena melirik harga yang tertera di label. Napasnya tertahan. Wajahnya berubah canggung.
"Larasati... harganya terlalu mahal. Keuangan keluarga... tidak seperti dulu. Kita tidak bisa membelinya sekarang."
Wajah Larasati seketika berubah masam.
"Apa maksud Ibu?! Ayah mendapat mas kawin kan?! Kenapa tidak bisa?! Aku ingin gaun itu! Aku harus memilikinya!"
"Sudah kubilang... tidak bisa!" Serena mulai meninggikan suara, takut diperhatikan orang lain.
Namun Larasati tidak mendengar. Ia terus merajuk, terus menuntut, terus bersikeras. Dan di tengah keributan mereka... seseorang berdiri tak jauh dari sana, tersenyum sambil membetulkan sarung tangannya yang halus.
Susanti Surya. Putri saingan terbesar Ardika. Bagas Surya.
Susanti melangkah mendekat, suaranya terdengar lembut namun penuh makna pedas.
"Wah... bukankah itu Larasati Ardika? Katanya keluarga kaya raya... tapi gaun seharga itu saja ternyata tak mampu dibeli? Kasihan sekali..."
Wajah Larasati memerah padam.
"Apa katamu?! Kami kaya! Kami bisa membelinya kapan saja!"
"Oh begitu? Kalau begitu... silakan saja. Jangan sampai orang mengira keluarga Ardika sudah bangkrut hingga tak sanggup membelikan gaun untuk putri kesayangannya..." Susanti tersenyum lebar, menatap mereka dengan tatapan menghina.
Wajah Larasati berubah pucat lalu merah padam menahan marah dan malu. Matanya berkaca-kaca. Ia tidak sanggup membalas. Hanya mampu membalikkan badan dan berlari menangis meninggalkan tempat itu.
Serena menatap Susanti dengan tatapan tajam namun tak berdaya. Ia segera menyusul putrinya, berusaha menenangkan namun wajahnya penuh amarah dan malu yang tak terlukiskan.
 
KERIBUTAN YANG TAK USAI
Malam itu, tangisan Larasati terdengar hingga ke ruang kerja Dimas. Ia memijat keningnya yang semakin sakit. Kepalanya terasa seakan akan pecah.
Dimas berdiri di jendela, menatap kegelapan luar. Di benaknya, tanpa sengaja... bayangan Kirana melintas kembali. Kirana yang tenang. Yang tidak pernah menuntut gaun mahal. Yang tidak pernah menangis dengan suara memecah telinga. Yang selalu diam di kamarnya, tidak menyusahkan siapa pun.
Dan kata-kata itu meluncur dari bibirnya tanpa ia sadari — pelan, namun cukup terdengar oleh Serena yang baru saja melangkah masuk.
"Lihatlah... Kirana tidak pernah seperti ini. Tenang saja. Diam saja. Tidak pernah menyusahkan hati."
Kalimat itu baru saja terucap... dan seketika udara di ruangan itu berubah. Serena berhenti melangkah. Matanya membelalak menatap Dimas, seakan baru saja mendengar penghinaan terbesar dalam hidupnya.
"Kirana?! Kirana lagi?!" Serena melangkah maju, suaranya melengking penuh amarah. "Anak tidak tahu diuntung itu?! Kau memujinya di depan anak kandungmu sendiri?! Dia yang pergi begitu saja tanpa mengucap terima kasih?! Dia yang hidup mewah di rumah orang lain sementara putrimu menderita di sini?! Dan kau berani membandingkan Larasati dengannya?!"
Dimas mengusap wajahnya dengan kedua tangan, napasnya berat dan lelah.
"Aku hanya berkata... Kirana tidak pernah menuntut ini-itu. Tidak pernah membuat keributan seperti ini. Kalau saja kalian bisa seperti dia..."
"Seperti dia?!" Serena tertawa sinis, matanya menyala penuh kebencian. "Anak yang tidak berharga itu?! Kau lebih menghargai dia daripada darah dagingmu sendiri?! Dimas, kau benar-benar..."
Pertengkaran itu terus berlanjut. Suara meninggi. Amarah meluap. Dan Dimas hanya bisa duduk di kursinya... memijat kening yang semakin sakit... menyadari betapa hancurnya rumah ini... betapa cepat sisa kekayaan itu habis... dan betapa baru sekarang ia menyadari siapa yang sebenarnya berharga di antara mereka. Terlambat.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience