15. Gaun Yang Dijanjikan

Romance Series 17

Pagi itu, cahaya matahari menyelinap masuk lewat jendela kaca besar di ruang tamu utama kediaman Ardika — ruangan yang jarang dibuka, yang lantainya marmer putih bersih hingga memantulkan bayangan siapa pun yang berdiri di atasnya. Hari ini ruangan itu terbuka lebar. Karena hari ini bukan sekadar hari biasa. Hari ini, secara resmi, Kirana adalah tunangan dari cucu klan Pradana — keluarga tertua, paling kaya, paling berpengaruh di seluruh Kerajaan Nusantara Agung.
Di mata dunia, ini adalah kemenangan terbesar yang pernah diraih keluarga Ardika. Di mata Serena dan Larasati, ini adalah kemenangan — tapi bukan kemenangan Kirana. Kemenangan mereka.
Serena duduk di sofa beludru berwarna krem, punggung tegak, dagu terangkat tinggi. Di sebelahnya, Larasati memilin ujung gaunnya, bibirnya tersenyum miring — senyum yang tidak sampai ke mata. Di hadapan mereka, berdiri dua penata busana paling bergengsi di ibu kota, membawa sampel kain, buku desain, dan kotak perhiasan yang bertumpuk. Dimas berdiri di dekat jendela, tangan di belakang punggung, wajahnya tanpa ekspresi. Dan aku — Kirana — duduk di kursi paling sederhana di sudut ruangan, tangan terlipat di pangkuan, tenang. Seperti yang mereka mau.
"Kerajaan Nusantara Agung tidak pernah melihat pernikahan yang lebih penting dari ini," ucap Serena, suaranya lembut namun penuh penekanan, seakan sedang membacakan dekrit. "Pernikahan antara Ardika dan Pradana. Penyatuan dua nama yang akan mengguncang peta bisnis negeri ini. Dan Kirana — kau adalah wajah penyatuan itu."
Ia menoleh padaku, senyumnya manis, begitu manis hingga menyakitkan.
"Jadi tentu saja... kau pantas mendapatkan yang terbaik. Gaun sutra putih impor dari seberang lautan, permata bersih seharga satu gedung perkantoran, mahkota bunga emas yang dibuat khusus — semuanya. Kita akan membelikannya untukmu, Kirana. Semuanya atas namamu."
Aku mengangguk pelan, tidak tersenyum, tidak menolak. "Terima kasih, Ibu."
Larasati tertawa kecil, nada yang terdengar ramah namun berisi ribu jarum. Ia melangkah mendekat, menyentuh sampel kain renda paling halus dengan ujung jari seakan ia takut kain itu kotor — lalu menatapku.
"Bayangkan, Kak Kirana... Kau akan berjalan masuk ke Aula Agung, di hadapan semua Pilar Kerajaan. Pradana, Bayu, Sena, Aruna — semuanya akan menatapmu. Kau akan memakai gaun yang paling indah. Permata yang paling berkilau. Semua orang akan memanggilmu Nyonya Muda Pradana. Semua orang akan menunduk." Ia berhenti, lalu menambahkan sangat pelan, hanya kami bertiga yang mendengar — "Sayang sekali... mereka tidak tahu siapa yang sebenarnya pantas memakai semua itu."
Jantungku tidak berdenyut lebih cepat. Aku sudah mendengar kalimat seperti itu ribuan kali dalam hidupku sebelumnya — dan di detik kematianku, kata-kata itu masih bergaung di telingaku. Hari ini, kata-kata itu sama persis. Hanya saja, kali ini aku tidak lagi membiarkannya merobek hatiku. Aku hanya menyimpannya. Seperti menyimpan arang panas — untuk saat yang tepat, membakar segalanya.
Serena melambaikan tangan pada penata busana. "Tunjukkan desain terbaik. Yang paling megah. Yang paling berkilau. Yang membuat semua orang menoleh saat melangkah."
Penata busana membuka lembaran demi lembaran — gaun berlapis renda, dihiasi berlian kecil yang membentuk pola bunga, kerah tinggi, ekor panjang yang membentur lantai. Mahkota bunga emas bertabur berlian murni. Kalung air mata yang jatuh tepat di tulang selangka. Semuanya begitu indah. Semuanya begitu mahal.
Larasati menatap desain itu, matanya berkilau rakus. Ia menelan ludah, lalu menoleh ke Serena.
"Ibu... desain ini... ini yang aku mau. Ini yang pantas untuk masuk ke keluarga Pradana. Ini yang pantas berdiri di samping Darma Pradana. Bukan untuk seseorang yang..." Ia melirikku sekilas, lalu memotong kalimatnya sendiri, seakan kata-kata selanjutnya terlalu menyakitkan untuk diucapkan. "Tapi tidak apa-apa. Kirana akan memakainya. Dan dia akan terlihat... sopan."
Serena tersenyum penuh pengertian. Ia mengusap lengan putri kandungnya sendiri, lembut, penuh kasih sayang — kasih sayang yang tidak pernah jatuh kepadaku.
"Tentu saja, Sayang. Semua ini — gaun, perhiasan, undangan, kursi tamu — semuanya dipikirkan untukmu. Kirana hanya... pembawa nama. Dia akan memakainya sebentar, berjalan di lorong sekali, lalu berdiri di samping pria itu. Setelah itu... kau akan berada di tempat yang seharusnya kau tempati sejak awal. Percayalah."
Aku duduk diam. Tangan kananku di bawah meja, perlahan mengepal. Panas halus mulai menjalar dari telapak tanganku — hangat, terkontrol. Tidak membakar. Hanya menunggu.
Dimas yang berdiri di dekat jendela akhirnya berbicara. Suaranya rendah, tidak menoleh.
"Cukup. Gaun itu atas nama Kirana. Undangan atas nama Kirana. Pernikahan atas nama Kirana. Itu kesepakatan dengan keluarga Pradana. Jangan sampai ada yang mendengar kalian bicara seperti ini."
Serena mendengus, melipat tangannya di dada.
"Kesepakatan?! Dimas, jangan bodoh! Kau pikir Pradana benar-benar menginginkannya? Mereka tidak tahu asal-usulnya! Mereka tidak tahu siapa ibunya! Mereka hanya melihat nama Ardika! Dan begitu urusan bisnis selesai, begitu kerjasama menguntungkan terjalin... siapa yang mereka butuhkan? Anak kandungmu. Darahmu. Larasati. Bukan dia." Ia menunjukku dengan dagu, seakan aku benda mati. "Kita butuh kerjasama Pradana untuk mempertahankan gaya hidup kita. Untuk menjaga rumah ini, mobil ini, nama kita di masyarakat. Kirana adalah pintu masuk. Itu saja. Dan begitu pintu terbuka... Larasatilah yang akan masuk."
Larasati tersenyum lebar, penuh kemenangan. Ia berjalan mendekat ke meja, menyentuh desain gaun itu — mengusapnya seakan itu miliknya, bukan milikku.
"Bayangkan, Kak... gaun sutra putih ini... terasa begitu halus di kulit. Berlian ini... berkilau seperti bintang. Mahkota ini... terasa begitu berat di kepala. Kau akan memakainya. Kau akan melangkah. Semua orang akan melihatmu. Dan mereka akan berpikir — betapa beruntungnya gadis itu. Tidak ada yang tahu... kau hanya menjaganya untukku. Terima kasih, Kak. Kau begitu baik padaku."
Ia menunduk sedikit, nada suci dan penuh kemenangan. Aku menatap matanya. Dalam hati aku berkata — Kau bisa memakai gaun itu. Kau bisa memakai mahkota itu. Tapi kau tidak bisa memakai api di dalam dadaku. Dan api itulah yang sebenarnya mereka cari.
Larasati melanjutkan, tidak menunggu jawabanku.
"Dan setelah upacara... setelah semua orang pulang... aku akan memakai gaun itu lagi. Aku akan menyimpannya di lemari pakaianku. Karena pada akhirnya... barang yang berharga selalu jatuh ke tangan yang benar, bukan?"
Serena tertawa renyah. "Benar sekali. Kirana tidak akan keberatan, kan? Dia tidak butuh kemewahan ini. Dia tidak tahu nilainya. Baginya, gaun ini hanyalah kain. Bagimu... itu adalah takdirmu."
Mereka berdua tertawa. Tawa yang bergema di ruangan luas itu, menabrak dinding marmer, lalu kembali kepadaku — tajam dan dingin. Penata busana berdiri canggung, menunduk, berpura-pura tidak mendengar. Mereka tahu. Semua orang di rumah ini tahu. Hanya satu orang yang tidak boleh tahu — Kirana. Atau setidaknya, mereka mengira aku tidak tahu.
Aku berdiri perlahan. Mata mereka beralih kepadaku — Serena siap membentak, Larasati siap mengejek. Tapi aku hanya tersenyum. Senyum tipis, tenang, tidak terganggu.
"Pilihlah yang paling indah," ucapku lembut, namun mataku menatap lurus ke mata Larasati hingga ia terdiam. "Pilihlah yang paling berkilau, yang paling megah. Karena... kau benar. Aku akan memakainya. Aku akan melangkah. Dan semua mata akan menatapku."
Aku berhenti sejenak, lalu menambahkan sangat pelan — cukup untuk mereka paham, tapi tidak cukup untuk mereka protes.
"Tapi ingatlah satu hal... saat aku berdiri di hadapan mereka semua... di hadapan Pradana, di hadapan kerajaan... saat itu tiba... tidak ada yang bisa mengambil tempatku. Bahkan kau sekalipun."
Aku berbalik dan berjalan keluar ruangan. Tidak menunggu jawaban. Tidak melihat reaksi mereka. Aku tahu di belakangku, Serena dan Larasati saling pandang — bingung, kesal, mungkin tertawa mengejek. Biarkan mereka tertawa. Biarkan mereka bersiap. Biarkan mereka bermimpi.
Karena saat pintu itu tertutup di belakangku, aku tahu satu hal yang tidak mereka ketahui.
Mereka mengira mereka sedang menyiapkan panggung untuk ratu pengganti. Padahal mereka sedang menyiapkan takhta untuk Phoenix.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience