Series
154
Langit pagi itu berwarna biru bersih, seakan langit sendiri merestui hari itu. Di kediaman Pradana, sejak fajar menyingsing, hidup sudah berdenyut cepat.
Pagar besi tempa setinggi dua orang dilapisi karangan bunga putih melambai tertiup angin. Jalan masuk beraspal hitam bersih hingga memantulkan cahaya matahari. Di sepanjang jalan menuju aula utama, tiang-tiang batu dihiasi kain sutra krem yang jatuh lembut, berkilau lembut saat cahaya menyentuhnya. Aula utama — ruang megah berlantai marmer putih, dinding berlukisan sejarah klan, lampu gantung kristal berbaris seakan bintang turun ke bumi — sudah dipenuhi tamu.
Orang-orang penting. Pengusaha, pemimpin klan sekutu, tokoh berpengaruh. Mereka berdatangan dengan mobil mewah, pakaian rapi, senyum di wajah. Suara percakapan rendah, tawa sopan, denting gelas — semuanya menyatu menjadi musik kemakmuran yang tak terputus.
Haris Pradana berdiri di lantai teras aula, menyambut setiap tamu dengan senyum bangga, tegap, penuh wibawa. Di sampingnya, Darma berdiri. Pakaiannya jas hitam yang dipotong sempurna, kainnya berkilau halus. Wajahnya tenang, ramah saat menyapa, berjabat tangan, menanggapi ucapan selamat — namun matanya sesekali melirik ke arah gerbang, seakan ada sesuatu yang mengganjal di dadanya.
"Selamat, Tuan Muda Pradana!" sapa seorang tetua sekutu. "Pengantin pasti cantik seperti bidadari."
Haris tertawa rendah, menepuk bahu putranya.
"Tentu saja. Darma memilih dengan bijak."
Darma tersenyum sopan, tapi tidak menjawab. Sesosok bayangan tak tenang terus bergerak di hatinya. Dia tahu — Ardika runtuh. Dia tahu mereka menderita. Dan semakin jam mendekat, semakin perasaan itu menguat — sebuah firasat tajam menusuknya: gadis itu tidak akan datang dengan kereta kencana.
Dia berbalik pada ayahnya.
"Ayah."
Haris menoleh. "Ada apa, Darma? Tamu masih berdatangan."
"Aku akan menjemputnya sendiri." Suara Darma tenang namun tidak bisa ditolak. "Bukan karena mereka tidak akan mengantarnya. Tapi karena... aku ingin memastikan dia datang dengan baik."
Haris menatap putranya lama, lalu perlahan mengangguk. Dia mengerti.
"Pergilah. Jangan terlambat."
Darma membungkuk sedikit, lalu berbalik. Langkahnya cepat, mantap. Dia tidak menunggu jawaban lain. Dia harus pergi. Sekarang.
*****************
Di kediaman Ardika, suasana tidak seperti pesta. Tidak ada musik. Tidak ada bunga. Tidak ada tawa. Hanya keheningan yang tegang, berbau debu dan keputusasaan.
Di kamar kecil di lantai atas, Kirana berdiri di depan cermin. Gaun yang diberikan Ardika — kain sisa pabrik, krem pudar, jahitan kasar, tanpa renda, tanpa manik, tanpa hiasan apa pun — menyelimuti tubuhnya. Kainnya terasa kaku dan panas di kulit. Bahkan baunya apek, tersimpan terlalu lama di gudang sebelum diambil untuknya.
Larasati berdiri di ambang pintu, bersedekap di dada, bibirnya melengkung mengejek. Matanya menyapu Kirana dari ujung rambut hingga ujung kaki — dan setiap inci yang dilihatnya membuatnya semakin puas.
"Lihatlah dirimu," suaranya tajam, penuh penghinaan. "Kain sisa yang tidak lulus standar. Yang kami seharusnya buang. Dan itu... itu yang paling pantas untukmu. Karena kau pun seperti kain ini — sisa. Tidak bernilai. Hanya cukup untuk dibuang atau diberikan kepada siapa pun yang mau mengambilnya."
Kirana menatap pantulannya di cermin. Tidak marah. Tidak sedih. Hanya diam. Dia menyadari satu hal — di rumah ini, di mata mereka, dia tidak pernah lebih dari barang. Dan hari ini, barang itu dikirim ke pembeli.
Larasati melangkah maju sedikit, senyumnya melebar.
"Kau seharusnya bersyukur kami masih memakaikan sesuatu padamu. Bisa saja kami mengirimmu dengan pakaian lusuh yang kau pakai kemarin."
Kirana menghela napas pelan, lalu berbalik perlahan. Tatapannya datar, seakan mendengar suara angin, bukan kata-kata manusia.
"Cukup."
Suaranya rendah, namun ada sesuatu di dalamnya yang membuat Larasati terhenti seketika.
Kirana berjalan melewatinya, menuju pintu.
"Ayah. Di mana kendaraan yang akan mengantarku?"
Dimas berdiri di lorong, tampak cemas, keringat mulai menetes di pelipisnya. Dia membuka mulut hendak menjawab — namun kalimatnya mati di tenggorokan saat suara mobil terdengar berhenti tepat di depan gerbang.
Pintu utama kediaman Ardika terbuka.
Darma berdiri di sana. Jas hitamnya rapi, tegak, tinggi. Cahaya matahari pagi menyinari bahunya, membuatnya tampak lebih besar, lebih gagah, lebih — tidak di tempatnya. Dia tidak seharusnya berada di rumah ini. Dia adalah raja yang masuk ke gubuk.
Larasati yang berdiri di belakang Kirana — matanya membelalak. Mulutnya ternganga. Darah seakan mengalir keluar dari wajahnya. Dia melangkah mundur selang, tidak percaya matanya.
Dia datang sendiri? pikirnya berteriak. Dia — Tuan Muda Pradana — datang menjemputnya sendiri? Gadis sampah ini?!
Matanya menyala cemburu yang membakar. Tangannya mengepal erat hingga kuku menancap di telapak. Dia ingin berteriak. Ingin bertanya kenapa bukan dia yang berdiri di sana. Tapi mulutnya kaku. Tidak ada suara yang keluar.
Darma melangkah masuk. Matanya langsung jatuh pada Kirana. Dan saat dia melihat gaun yang dikenakannya — jantungnya terasa diremas.
Kain itu. Kain sisa. Kain murah. Kain yang tidak pantas dikenakan bahkan oleh pelayan di rumahnya. Dan gadis itu — berdiri tenang di tengahnya, seakan tidak tahu betapa hina pakaian itu, seakan tidak tahu betapa dalam penghinaan yang ditimpakan padanya.
Darah mendidih di pembuluh darah Darma. Amarah yang dingin, dalam, mematikan. Bagaimana bisa? Bagaimana mereka memberinya kain sisa? Bagaimana mereka membiarkannya berdiri di sini, di rumah ini, diperlakukan seperti debu, padahal dia adalah Phoenix yang dilindungi takdir sendiri?!
Dimas melangkah maju cepat, menyela tatapan mereka berdua. Dia tersenyum — senyum yang berusaha ramah, berusaha penting, berusaha memanfaatkan momen ini.
"Tuan Muda Pradana! Sungguh kehormatan! Aku... aku ingin berbicara dengan Ayahmu... tentang kontrak... tentang penundaan pembayaran..."
Darma menatapnya. Diam. Dingin. Matanya tajam menembus jiwa Dimas. Tidak tersenyum. Tidak menjawab. Hanya menatap — dan dalam keheningan itu, Dimas merasakan kebencian yang begitu berat hingga kakinya gemetar.
Darma tidak berkata sepatah kata pun pada Dimas. Dia melangkah melewatinya, seakan lelaki itu tidak ada. Matanya hanya pada Kirana.
Lalu dia berbicara — suaranya rendah, namun terdengar jelas di seluruh ruangan.
"Tunggu jawabanmu setelah upacara selesai."
Tangannya terulur — tidak memaksa, tidak kasar.
"Mari, Kirana."
Kirana menatap tangannya sejenak. Lalu meletakkan tangannya di sana.
Darma membalut genggamannya — erat, hangat, melindungi. Dia berbalik, menariknya perlahan bersamanya keluar. Melewati Dimas yang terdiam terpaku. Melewati Larasati yang gemetar menahan amarah dan air mata. Melewati ruang tamu yang terlalu kecil untuk menampung mereka.
Mobil meluncur pergi. Tinggal debu yang tertinggal di gerbang Ardika.
Share this novel