Completed
202
Langit sore mulai berubah menjadi ungu gelap, seolah langit itu sendiri sedang merenungkan beratnya peristiwa yang akan terjadi. Di jalan menuju Pradana Mansion, Aran Aruna berjalan dengan langkah ringan namun cepat. Sihir di dalam dirinya memberinya kemampuan untuk melihat jauh ke depan, merasakan getaran hati orang yang ia temui — dan saat itu, ia merasakan sesuatu yang membuatnya berhenti sejenak di tengah jalan.
Di depannya, berjalan perlahan namun pasti di jalan yang sama, sosok Dimas Ardika berjalan menuju arah yang sama — ke Pradana Mansion. Penampilannya jauh berbeda dari Dimas yang dulu ia kenal. Pakaiannya lusuh, wajahnya pucat dan lelah, matanya cekung namun penuh ketegangan yang tak terbayangkan. Ia berjalan bukan dengan langkah bangga seorang kepala klan, melainkan dengan langkah seseorang yang sedang memikul beban dosa yang terlalu berat untuk dibawa sendirian.
Aran berdiri diam di pinggir jalan, membiarkan Dimas mendekat. Saat jarak mereka tinggal beberapa langkah, Dimas berhenti, menatap sosok elf itu dengan tatapan yang tak bisa ia sembunyikan — tatapan penuh rasa malu dan kerendahan hati.
"Aran Aruna..." ucapnya pelan, suaranya serak. "Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini."
"Kau menuju ke tempat yang sama denganku," jawab Aran tenang, tanpa nada menghakimi. "Dan hatimu penuh keraguan serta ketakutan. Tapi di balik itu... ada ketulusan yang belum sepenuhnya mati. Itulah sebabnya kau berjalan ke sana, bukan ke arah yang lain."
Dimas menunduk, menatap tanah di bawah kakinya. "Aku datang untuk meminta sesuatu yang mungkin tidak pantas kuminta. Aku tahu aku tidak berhak. Tapi... tidak ada jalan lain. Tidak ada orang lain yang bisa kucari."
"Maka marilah bersama," ucap Aran pelan. "Mereka sudah menunggu. Dan mereka juga tahu kau akan datang."
Â
BAGIAN I — KEDATANGAN DAN PENYESALAN
Pintu utama Pradana Mansion terbuka sebelum mereka sempat mengetuk. Di ambang pintu, Kirana berdiri bersama Darma, Haris, dan Kesuma. Di belakang mereka, berdiri Wira dan Sariya — diam, tenang, namun kehadiran mereka membuat seluruh ruangan terasa penuh dan berat. Mereka tidak terkejut melihat Dimas. Mereka sudah merasakannya — ketulusan yang bercampur keputusasaan, bukan niat jahat.
Dimas melangkah masuk perlahan. Ruang utama itu hening, hanya terdengar suara langkah kakinya sendiri yang bergema pelan. Ia berhenti di tengah ruangan, di hadapan Kirana. Dan di saat itu, saat ia menatap wajah gadis yang dulu pernah ia besarkan — yang dulu ia anggap sebagai anaknya sendiri — lututnya perlahan melemas, dan ia berlutut di hadapan semua orang.
"Aku datang..." suaranya bergetar, namun ia berusaha tetap jelas. "Aku datang bukan untuk meminta maaf dengan kata-kata kosong. Aku datang untuk mengakui semua kesalahanku, dan semua kesalahan keluargaku. Larasati, Serena, dan aku — kami semua salah. Kami telah menyakitimu, Kirana. Selama bertahun-tahun, kami mengambil apa yang bukan milik kami, membenci apa yang tidak kami pahami, dan memperlakukanmu seolah kau bukan bagian dari keluarga itu sendiri."
Ia menarik napas panjang, menahan agar suaranya tidak pecah.
"Larasati... dia menangis tanpa henti akhir-akhir ini. Dia berkata — dia menyadari bahwa bukan kau yang mengambil apa pun darinya. Tapi dialah yang selalu berusaha mengambil apa yang bukan miliknya. Dan Serena... dia hanya mengikuti arah angin, tidak pernah benar-benar berpikir sendiri. Mereka berdua memintaku menyampaikan penyesalan yang sedalam-dalamnya. Mereka tahu kata maaf tidak cukup untuk menghapus semua luka yang telah kami sebabkan. Tapi mereka berharap... berharap suatu hari nanti, kau mungkin bisa memaafkan kami."
Keheningan menyelimuti ruangan itu. Tidak ada yang berbicara. Di sisi ruangan, Wira dan Sariya berdiri berdampingan, mendengarkan setiap kata dengan tenang. Mereka tidak ikut campur. Ini adalah urusan hati — urusan masa lalu Kirana, dan masa lalu Dimas. Mereka hanya menyaksikan, membiarkan kebenaran itu terucap sepenuhnya.
Dimas menatap lantai, matanya berkaca namun air matanya tidak jatuh — seakan ia sudah terlalu lama menahannya.
"Aku sendiri..." lanjutnya pelan, "Aku yang paling bersalah. Aku menerima kau sebagai anak semata wayangku, namun aku tidak pernah benar-benar memperlakukanmu seperti anakku sendiri. Aku membiarkan keserakahan dan ambisi butaku membutakan mataku. Aku membiarkan Dimas Ardika yang dulu — bukan aku — mengambil keputusan yang salah. Dan pada akhirnya... aku menjual semuanya. Nama, kehormatan, dan keluargaku sendiri — kepada kegelapan. Kepada Durga."
Ia mengangkat wajahnya, menatap Kirana dengan tatapan yang penuh permohonan.
"Dan sekarang... aku terikat. Seluruh keluargaku terikat. Ia tidak akan membiarkan kami pergi. Ia memaksa kami untuk melakukan hal-hal yang akan menyakiti orang-orang yang bahkan tidak pantas kami sakiti. Aku datang ke sini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Aku datang untuk meminta bantuan. Tolong... bantu kami memutus ikatan ini. Aku siap menerima hukuman apa pun. Aku siap kehilangan apa pun yang tersisa dariku. Tapi jangan biarkan aku menjadi alat untuk menyakitimu, Kirana. Jangan biarkan keluargaku menjadi alat kejahatan."
Â
BAGIAN II — PERTANYAAN DAN JAWABAN
Kirana berdiri diam mendengarkan. Hatinya terasa berat — bukan karena marah, tapi karena sedih. Di hadapannya bukanlah musuh yang ingin ia hancurkan. Di hadapannya adalah masa lalunya — orang yang pernah ia panggil Ayah, orang yang pernah memberi makan dan tempat tinggal saat ia belum tahu siapa dirinya sebenarnya.
Ia melangkah maju selangkah, lalu menatap Aran Aruna yang berdiri tenang di sisi ruangan.
"Aran..." suaranya lembut namun penuh harap. "Kau adalah yang paling memahami sihir dan ikatan kuno di antara kita. Apakah ada cara? Apakah ada cara untuk memutus perjanjian itu tanpa membunuhnya, tanpa membunuh keluarganya? Apakah ada kesempatan untuk membebaskan mereka dari belenggu itu?"
Semua mata tertuju pada Aran. Elf itu terdiam sejenak, menatap Dimas dengan tatapan yang dalam — seakan ia bisa melihat sampai ke dasar jiwa orang itu.
"Ada cara," jawab Aran pelan namun tegas. "Secara teori, perjanjian dengan makhluk gelap bisa diputus. Tapi bukan sekarang. Dan bukan dengan cara yang mudah."
Kirana mengerutkan kening. "Mengapa tidak sekarang? Jika kita bisa membebaskan mereka, mengapa harus menunggu?"
"Karena Durga sedang mengawasi," ucap Aran, suaranya menjadi lebih serius. "Perjanjian itu bukan sekadar janji. Itu adalah jangkar — ia terhubung langsung dengan kesadaran Durga. Jika kita mencoba memutuskannya sekarang, di sini, tanpa persiapan... ia akan langsung tahu. Ia akan merasakannya. Dan ia akan menyerang sebelum kita sempat bersiap. Lebih buruk lagi — jika kita memaksanya, ada risiko bahwa perjanjian itu akan membalikkan kekuatannya dan menghancurkan Dimas dan keluarganya dari dalam. Kita tidak bisa terburu-buru."
Dimas menunduk lagi, namun ia tidak terlihat putus asa sepenuhnya. "Jadi... aku harus terus menjadi alatnya?"
"Tidak selamanya," jawab Aran tegas. "Hanya untuk waktu yang singkat. Dia sudah menetapkan rencana — dia ingin kau memancing Kirana ke tempat yang ia tentukan. Dia ingin pertempuran terakhir. Dan di sanalah — di saat pertempuran itu berlangsung, di saat perhatiannya terbagi — itulah satu-satunya kesempatan kita. Saat itu, saat ia sedang sibuk berusaha mendapatkan apa yang ia inginkan... di saat itulah pertahanannya paling terbuka. Dan di saat itulah kita bisa memutus ikatan itu."
"Jadi..." Kirana menyimpulkan pelan, "Kita harus mengikuti rencananya. Kita harus pergi ke tempat yang ia tentukan. Kita harus membiarkan dia berpikir bahwa dia menang... hanya untuk membalikkan keadaan di saat yang tepat."
"Benar," ucap Aran mantap. "Ini adalah satu-satunya jalan untuk mengakhiri semua kekacauan ini sekaligus. Jika kita mencoba melawannya sekarang secara terpisah, ia akan terus bersembunyi, terus mengirim orang lain, terus mengancam dari bayang-bayang. Tapi jika kita menghadapinya secara langsung — di tempat yang ia pilih — kita bisa mengakhiri ini hari itu juga. Untuk selamanya."
Dimas menarik napas panjang, lalu mengangguk perlahan. Wajahnya terlihat lebih tenang — seakan beban yang terlalu berat itu sedikit berkurang, karena ia tahu ada harapan, dan ada orang yang bersedia mendengarkan.
"Maka aku akan melakukan apa yang ia minta," ucapnya tegas. "Aku akan membawamu ke sana. Aku akan berpura-pura masih di pihaknya. Dan di saat yang tepat... aku akan membantu kalian. Bahkan jika itu mengorbankan nyawaku sendiri. Aku tidak peduli lagi selama keluargaku selamat, dan selama kalian menang."
Â
BAGIAN III — KEPUTUSAN BERSAMA
Kirana menatap Dimas lama sekali. Banyak hal yang berlalu di benaknya — kenangan masa kecil, rasa sakit yang dulu ia rasakan, dan kini penyesalan yang tulus dari orang yang pernah menjadi bagian dari hidupnya. Ia tidak memaafkan semuanya begitu saja — luka itu masih ada. Tapi ia tidak membiarkan luka itu menjadi kebencian yang buta.
"Kau tidak perlu mengorbankan nyawamu," ucapnya pelan namun tegas. "Karena kita akan menyelamatkan kalian semua — Larasati, Serena, dan kau. Kita akan memutus ikatan itu. Dan kau akan melihat bahwa ada cara untuk menebus kesalahan tanpa harus mati."
Ia berbalik menatap semua orang yang ada di ruangan itu — Darma yang berdiri setia di sampingnya, Kesuma yang menatap sepupunya dengan tatapan penuh harapan, Haris yang tenang dan bijaksana, Aran yang siap dengan sihirnya, dan di belakang — Wira dan Sariya yang tersenyum bangga melihat putrinya bertindak dengan kebijaksanaan yang begitu besar.
"Maka kita bersiap," ucap Kirana lantang dan tegas. "Kita akan pergi ke tempat yang ia tentukan. Kita akan menghadapinya. Dan kita akan mengakhiri ini — bukan dengan kebencian, tapi dengan kekuatan yang menyatukan kita semua."
Wira melangkah maju selangkah, suaranya bergema penuh wibawa.
"Dan kita semua akan pergi. Tidak ada yang tertinggal. Tidak ada yang menunggu di sini sendirian. Karena ini bukan lagi pertempuran satu orang. Ini pertempuran untuk seluruh dunia yang kita cintai."
Dimas berdiri perlahan, kakinya kini lebih kuat dari sebelumnya. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia merasa bukan lagi orang yang bersembunyi dan takut. Ia merasa punya tujuan. Dan ia tahu — meskipun ia harus berpura-pura menjadi musuh, di sisi lain, ada orang-orang yang siap menerima dan membantunya.
"Terima kasih..." ucapnya pelan, matanya bersinar. "Terima kasih karena tidak menutup pintu bagi seseorang yang tidak pantas mendapatkannya."
"Kita semua pernah tersesat," jawab Kirana lembut. "Yang penting adalah keberanian untuk kembali."
Malam itu, Pradana Mansion tidak tidur. Semua orang bersiap — memeriksa perlengkapan, menyusun rencana, dan menguatkan hati masing-masing. Di luar sana, di tempat yang gelap dan jauh, Durga sedang menunggu, yakin bahwa ia sedang memegang kendali. Namun ia tidak tahu — bahwa di dalam hati Phoenix muda, bukan amarah yang tumbuh, melainkan keteguhan yang jauh lebih kuat dari api mana pun. Dan di sekelilingnya, ia tidak sendirian. Ayah, ibu, suami, sahabat, dan sekutu — semuanya berdiri bahu membahu, siap menghadapi apa pun yang akan datang.
Pertempuran terakhir semakin dekat. Dan kali ini, tidak ada yang akan mundur.
Share this novel