7. Benang Yang Mulai Tertahan

Romance Series 17

Matahari pagi menyelinap masuk melalui jendela kaca besar ruang makan, membelah udara yang terasa berat dan hening. Di ujung meja yang panjangnya hampir sepuluh meter itu, Kirana duduk di kursi paling jauh dari kepala meja — posisi yang sengaja ditetapkan untuknya, seolah keberadaannya pun tidak boleh terlalu mencolok.
Gaunnya sederhana, berwarna biru muda lembut, tanpa renda, tanpa mutiara. Rambutnya diikat rapi di belakang kepala, sehelai saja yang dibiarkan jatuh lembut di pipi kirinya. Tangan terlipat tenang di pangkuan. Punggung tegak, namun bahu sedikit merosot ke bawah — sikap yang selalu mereka puji. Sikap yang membuat mereka lupa menatap matanya.
Langkah berat terdengar mendekat. Dimas Ardika masuk duluan, wajahnya kelam, rahang mengeras seakan menahan amarah yang bisa meledak kapan saja. Di belakangnya Serena berjalan tegak, punggung lurus, wajahnya datar tanpa ekspresi — topeng yang tidak pernah ia lepaskan. Terakhir Larasati melangkah masuk, gaun sutra merah muda yang berkilau, perhiasan berkilat di leher dan telinga, senyum yang sengaja diperlebar — hari ini ia bertekad memastikan semua orang tahu siapa yang sebenarnya berharga di rumah ini.
Sarapan berjalan dalam keheningan yang menyakitkan. Bunyi sendok menyentuh piring terdengar berlebihan, memantul di dinding tinggi. Kirana makan pelan, rapi, tidak bersuara. Sesekali ia melirik ke arah mereka, lalu cepat menunduk seakan takut tertangkap melanggar batas.
Larasati meletakkan cangkir teh porselen dengan bunyi keras, sengaja memecah keheningan.
"Kau tampak sangat tenang pagi ini, Kak Kirana," ucapnya manis, namun nada suaranya menusuk tajam. "Seakan tidak ada yang terjadi kemarin. Seakan kata-katamu tidak membuat seluruh rumah ini gelisah semalaman."
Kirana mengangkat wajah perlahan. Matanya bening, sedikit bingung, seakan pertanyaan itu tidak masuk akal baginya.
"Membuat gelisah?" suaranya lembut, hampir berbisik. "Maafkan saya, Adik. Saya tidak bermaksud begitu. Saya hanya... berkata apa yang saya pikir benar. Itu yang selalu diajarkan kepada saya — berkata jujur."
"Benar?" Larasati tertawa pendek, suara yang tajam dan tidak menyenangkan. "Kau pikir kata-kata gadis sepertimu bisa dianggap benar? Kau harus tahu tempatmu, Kirana. Ada hal-hal yang tidak pantas kau ucapkan di hadapan orang penting. Ada batas yang tidak boleh kau lewati."
Serena menyela tenang, namun matanya tidak berkedip, menatap tajam dari seberang meja.
"Cukup, Larasati. Kirana memang tidak mengerti dunia luar. Dia tumbuh terlindung, sederhana. Dia hanya berkata apa yang terlintas di kepalanya tanpa berpikir panjang. Bukan maksudnya menyinggung."
Kirana menunduk seketika, bahu sedikit merosot lebih rendah.
"Benar, Ibu. Saya memang tidak banyak tahu tentang dunia. Terima kasih sudah mengingatkan saya. Saya akan lebih berhati-hati ke depannya."
Dimas memperhatikannya dari seberang meja. Matanya menyipit, mencari — mencari tanda kesombongan, tanda kemenangan tersembunyi di balik kerendahan hati itu, tanda dia sengaja menjatuhkan Larasati kemarin. Tapi tidak ada. Tidak ada kilatan mata, tidak ada senyum tersembunyi. Hanya kepatuhan. Hanya kerendahan hati yang tulus.
Dan justru itulah yang membuatnya makin marah — karena kau tidak bisa menghukum seseorang yang begitu patuh. Kau tidak bisa membenci seseorang yang hanya menunduk dan berkata maaf. Dia terjebak dalam kemarahannya sendiri, sementara Kirana duduk tenang, murni, tidak bersalah.
Setelah sarapan selesai, Serena dan Larasati berjalan duluan keluar ruangan. Dimas memberi isyarat tangan kasar.
"Kirana, tinggal sebentar. Aku ingin berbicara denganmu."
Kirana berhenti di ambang pintu, berbalik perlahan, menunduk hormat.
"Ya, Ayah."
Dimas melangkah mendekat, berdiri di hadapannya — lebih tinggi, lebih lebar, berusaha menekannya hanya dengan kehadirannya. Ia menatapnya lama, mencari celah, lalu berbicara rendah, tegas, penuh peringatan yang tidak tersembunyi.
"Kemarin di hadapan Tuan Haris dan Tuan Muda Darma... kau berbicara dengan sangat lancar. Sangat berani."
"Saya minta maaf jika saya berlebihan, Ayah," jawabnya lembut, matanya tetap menatap lantai di dekat sepatunya. "Saya hanya... tidak ingin berbohong. Seperti yang Ayah selalu ajarkan — kejujuran adalah hal yang baik."
Dimas tertekan. Mulutnya sedikit terbuka. Dia tidak pernah mengajarkan itu. Tidak pernah sekalipun. Tapi dia tidak bisa menyangkalnya sekarang — itu akan terdengar seperti kebohongan. Seperti dia yang salah.
"Kejujuran ada tempatnya," Dimas menekan, suaranya makin berat, makin dalam. "Dan di hadapan orang penting, ada sopan santun. Ada tata krama. Ada hal-hal yang tidak perlu dikatakan, sekalipun itu benar. Kau mengerti maksudku?"
"Saya mengerti, Ayah. Bahwa ada kebenaran yang lebih baik tetap tersimpan di dalam hati. Agar tidak menyakiti siapa pun." Kirana mengangkat wajah sedikit, matanya jernih, polos, menatap lurus ke matanya. "Tapi... bukankah menyembunyikan kebenaran juga sama dengan kebohongan? Dan jika kebohongan itu menjadi dasar persatuan... apakah persatuan itu akan bertahan lama?"
Dimas terdiam. Lidahnya terasa berat. Dia ingin membentak, ingin mengatakan itu bukan urusannya, ingin menyuruhnya berhenti berpikir — tapi dia tidak bisa. Karena pertanyaan itu sederhana. Sangat sederhana. Dan jawabannya menghancurkan seluruh alasan mereka menyatukannya dengan Darma. Seluruh kebohongan yang menjadi fondasi kesepakatan ini.
"Kau..." Dimas berdeham kasar, mundur selangkah, berusaha mengambil kembali kendali yang tergelincir dari tangannya. "Jangan terlalu banyak berpikir. Kau cukup melakukan apa yang diperintahkan. Tahu tempatmu. Dan jangan mencoba menjadi apa yang bukan dirimu. Kau mengerti?"
"Saya mengerti sepenuhnya, Ayah. Saya hanyalah Kirana. Saya tidak bermaksud menjadi siapa pun lain." Dia tersenyum malu-malu, senyum yang membuat Dimas ingin menggebrak meja — tapi dia tidak bisa. Tidak ada yang bisa dia katakan. Tidak ada yang bisa dia tuduhkan.
"Baik. Pergi." Dimas melambaikan tangan kasar, seakan kehadirannya saja sudah menodai ruangan itu. "Dan ingat — jangan berani-berani melampaui batasmu lagi."
"Saya ingat, Ayah. Terima kasih sudah mengingatkan saya." Kirana menunduk hormat dalam, lalu berjalan pergi — langkahnya lembut, tenang, seakan tidak ada beban di pundaknya.
Dimas menatap punggungnya yang menjauh. Tangan mengepal erat di sisi tubuhnya, kuku menancap di telapak hingga terasa sakit. Dia merasa kalah. Kalah telak — tanpa sekali pun diserang. Tanpa sekali pun dimaki. Gadis itu hanya berdiri, berbicara lembut, dan seluruh dunianya terasa goyah.
Kirana berjalan menyusuri lorong luas menuju kamarnya. Di koridor belakang, dekat pintu dapur, dia berpapasan dengan dua pelayan yang sedang menyapu lantai marmer. Mereka berhenti seketika, menunduk dalam.
"Selamat pagi, Nona Kirana."
"Selamat pagi," jawabnya lembut, senyumnya melebar tulus. "Jangan terlalu lelah ya. Hari ini cukup panas."
Wajah kedua pelayan berseri-seri. "Terima kasih, Nona Kirana."
Tepat saat itu Larasati muncul dari tikungan koridor. Matanya menyipit melihat pemandangan itu — senyum, rasa hormat, kehangatan yang tidak pernah ditujukan padanya. Darah mendidih di pembuluh darahnya. Ia melangkah cepat mendekat, tumit sepatunya menghentak lantai.
"Kau!" Larasati menegur keras, suaranya melengking. "Apa yang kau katakan pada mereka? Mencoba membeli hati pelayan dengan kata-kata manis murahan? Kau pikir dengan begitu kau setara dengan mereka? Atau setara dengan kami?"
Kedua pelayan menunduk gemetar, menyapu lebih cepat seakan bisa menghilang di lantai.
Kirana berdiri tenang, tidak mundur selangkah pun. Matanya lembut, tidak marah, tidak tersinggung.
"Saya hanya menyapa mereka, Adik. Mereka juga manusia. Mereka juga lelah bekerja seharian."
"Mereka pelayan!" Larasati meninggikan suara, meludah kata itu seakan itu kotoran. "Mereka di sini untuk melayani kita, bukan untuk berteman! Jangan berpura-pura baik hati! Semua orang tahu kau tidak lebih dari..."
Larasati berhenti tiba-tiba. Mulutnya ternganga. Dia hampir mengatakannya — hampir melontarkan kebencian yang selama ini ditelannya. Hampir mengungkapkan kebenaran yang dilarang diucapkan.
"Jangan lebih dari apa, Adik?" Kirana bertanya pelan, matanya bulat, polos, menatapnya tepat di mata. "Jangan lebih dari apa?"
Larasati menelan ludah dengan susah payah. Wajahnya merah padam, lalu pucat.
"Jangan berpura-pura! Kau tidak tahu apa-apa tentang kehidupan ini! Tentang dunia yang akan kau masuki!"
"Saya tidak tahu banyak," Kirana mengakui pelan, rendah hati. "Tapi saya tahu satu hal — memandang rendah orang lain tidak membuat seseorang menjadi lebih tinggi."
Dua pelayan di dekat mereka menunduk makin dalam, bahu gemetar — tapi mereka mendengar. Setiap kata. Dan mereka tahu. Mereka tahu siapa yang kejam. Dan mereka tahu siapa yang berhati lembut.
Wajah Larasati terbakar. Ia menunjuk pintu dapur. "Kalian! Pergi! Sekarang!"
Pelayan buru-buru berlari pergi. Larasati berbalik menatap Kirana, matanya menyala penuh kebencian.
"Jangan pikir kau menang hari ini. Atau kemarin. Aku akan memastikan Tuan Muda Darma melihat siapa yang sebenarnya layak berdiri di sampingnya. Dan saat dia melihat... kau akan kembali ke tempatmu. Di bawah kami."
"Semoga Tuan Muda Darma menemukan kebahagiaannya, siapa pun yang mendampinginya," jawab Kirana tenang, tulus, lalu menunduk hormat. "Permisi, Adik."
Dia berjalan melewati Larasati — perlahan, sopan, tanpa terburu-buru. Larasati berdiri di koridor yang kini kosong, napasnya memburu, tangan mengepal. Sekali lagi — sekali lagi — dia yang terlihat buruk. Dia yang terlihat kejam. Dan Kirana? Kirana bahkan tidak berusaha.
Kirana masuk ke kamarnya, menutup pintu perlahan di belakangnya. Belum sempat ia duduk, terdengar ketukan lembut.
"Nona Kirana... ada kiriman untuk Nona."
Kirana membuka pintu. Pelayan muda berdiri di sana, tangan memegang amplus kecil berwarna krem, disegel dengan lilin berukir bunga teratai — lambang keluarga Pradana. Matanya berbinar berbisik.
"Dari Rumah Pradana, Nona. Katanya... dari Tuan Muda Darma."
Wajah Kirana tidak berubah. Tidak melebar. Tidak berseri. Hanya anggukan kecil.
"Terima kasih."
Ia menutup pintu, berjalan ke meja dekat jendela. Perlahan memecahkan segelnya, mengeluarkan selembar kertas tebal. Tulisan tangan rapi, tegas, tidak berhias — setiap huruf berdiri tegak, tidak miring, tidak berlebihan.
Nona Kirana,
Saya memikirkan kata-katamu kemarin. Tentang kepercayaan. Tentang fondasi yang membangun persatuan. Kata-kata itu singkat, namun maknanya dalam. Saya ingin mendengar lebih banyak pikiranmu — jika kau bersedia berbagi.
Saya akan berkunjung ke rumah Ardika lusa sore. Saya berharap dapat berbincang denganmu sebentar.
— Darma Pradana
Tidak ada pujian manis. Tidak ada pernyataan perasaan. Hanya pengakuan — dia memikirkannya. Dia mengingatnya. Dan dia ingin lebih.
Kirana meletakkan kertas itu di atas meja. Menatapnya lama. Lalu senyum tipis menyentuh sudut bibirnya — bukan senyum bahagia, bukan senyum gembira. Senyum kepuasan yang tenang.
Mereka semua bergerak persis seperti yang dia duga.
Dimas berusaha menekannya — dan justru memosisikannya sebagai korban yang patuh. Serena menatapnya dengan curiga — dan ketakutannya membuatnya buta terhadap hal yang sebenarnya terjadi. Larasati berusaha menjatuhkannya — dan setiap kali melakukannya, dia menjatuhkan dirinya sendiri.
Dan Darma... Darma mulai melihat. Bukan kecantikannya. Bukan namanya. Tapi dia.
Kirana berdiri, berjalan ke cermin besar di sudut kamar. Menatap pantulan gadis lembut, sopan, tidak mencolok. Gadis yang mereka pikir bisa mereka bentuk sesuka hati. Gadis yang mereka pikir tidak tahu apa-apa.
"Pertandingan belum selesai," bisiknya tanpa suara, napasnya tidak memburu. "Ini baru babak kedua."
Ia melipat surat itu rapi, menyimpannya di laci paling dalam meja, lalu duduk di tepi tempat tidur. Matahari makin tinggi, cahayanya menyinari lantai kamarnya.
Mereka menyusun rencana. Mereka menyusun strategi. Mereka berdebat siapa yang seharusnya berdiri di samping Darma Pradana.
Tidak satu pun dari mereka menyadari — papan catur sudah tersusun. Dan Kirana bukan bidak catur.
Dia yang memegang bidak.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience