Series
154
Empat hari telah berlalu sejak hari Kesuma kembali dan Dimas diusir dari kediaman Ardika. Satu minggu juga telah berlalu sejak kepergian Arga Bayu.
Janji yang diucapkan Arga sebelum berangkat adalah tujuh hari. Dalam waktu itu ia akan kembali membawa berita pasti tentang Sariya. Namun hari terakhir telah tiba, dan tidak ada pesan, tidak ada utusan, tidak ada satu pun tanda keberadaannya.
Kekhawatiran mulai menyelimuti seluruh kelompok. Di ruang kerja Pradana, wajah Haris terlihat serius. Darma berjalan mondar-mandir dengan tangan bergenggam di belakang punggung. Bima berdiri diam di dekat jendela, menatap ke arah hutan dalam dengan tatapan tajam. Aran berdiri di sudut ruangan, matanya tertutup seakan mendengarkan sesuatu yang tidak bisa didengar orang lain.
"Arga tidak pernah terlambat." ucap Bima dengan suara berat. "Jika ia belum kembali, berarti ada sesuatu yang menahannya."
Haris mengangguk pelan.
"Aku sudah mengirim tiga kelompok pengawas. Tidak ada jejak, tidak ada petunjuk. Seolah ia lenyap begitu saja."
Pintu ruangan terbuka perlahan. Seorang pelayan masuk dengan langkah tergesa-gesa, wajahnya pucat.
"Tuan... ada sesuatu yang ditemukan di depan pintu kamar Nona Kirana."
Darma segera berbalik.
"Apa itu?"
"Sebuah amplop. Tidak ada tanda pengirim. Hanya tertulis nama Nona Kirana."
Darma meraih amplop itu dengan cepat. Kertasnya kasar dan berbau apek, seolah disimpan lama di tempat yang lembap. Segelnya terbuat dari lilin hitam yang tidak memiliki lambang klan mana pun.
"Siapa yang meninggalkannya?" tanya Haris.
"Tidak ada yang melihat, Tuan. Pagi tadi sudah ada di sana saat pelayan datang membersihkan koridor."
Darma membalik amplop itu perlahan.
"Aku akan membawanya kepada Kirana."
Â
Di dalam kamar, Kirana duduk di tepi tempat tidur. Wajahnya terlihat tenang namun matanya menyiratkan kegelisahan yang mendalam. Ia juga merasakan hari ini adalah batas waktu yang dijanjikan Arga.
Darma masuk dan menyerahkan amplop itu tanpa banyak bicara.
"Ini ditemukan di depan pintumu."
Kirana menerima amplop itu dengan jari yang sedikit gemetar. Saat membukanya, aroma yang sama tercium — bau tanah basah dan sesuatu yang membusuk. Tulisan di dalamnya tegak dan tajam, ditulis dengan tinta berwarna merah gelap.
Kepada Kirana,
Jika kau ingin tahu di mana ibumu berada, dan dalam keadaan apa ia sekarang, datanglah sendirian ke lembah batu hitam di ujung perbatasan kerajaan. Datang sebelum matahari terbenam hari ini.
Jangan membawa siapa pun. Jika ada orang lain yang terlihat, kau tidak akan pernah melihat ibumu lagi.
Dimas Ardika.
Tangan Kirana gemetar hebat saat membaca baris terakhir. Kertas itu hampir terlepas dari genggamannya.
"Dimas..." bisiknya pelan. "Dia tahu di mana Ibu berada."
Darma melihat perubahan wajah Kirana.
"Apa isinya?"
Kirana menyerahkan surat itu dengan tangan yang masih bergetar. Saat Darma selesai membaca, rahangnya mengeras kuat.
"Ini jebakan." ucapnya tegas. "Tanpa keraguan sedikit pun."
"Namun dia menyebutkan Ibu." Kirana berdiri perlahan. "Dia tahu di mana Sariya ditahan. Bagaimana mungkin dia bisa mengetahui hal itu jika tidak benar-benar memiliki informasi?"
"Atau dia mendengar percakapan kita dan memanfaatkannya untuk memancingmu." Darma menatapnya tajam. "Lembah batu hitam itu bukan bagian dari kerajaan mana pun. Itu adalah tanah terlarang yang sudah lama dihindari semua klan."
Mereka segera berkumpul kembali di ruang kerja bersama Haris, Bima, dan Aran. Saat surat itu dibacakan kembali, suasana di ruangan berubah menjadi berat dan dingin.
"Lembah batu hitam." Aran membuka matanya perlahan. "Tempat itu dikelilingi kabut abadi yang memutar tanpa henti. Tanah di sana menyerap sihir dan energi. Tidak ada peta yang lengkap, dan banyak yang pernah masuk namun tidak pernah kembali."
Bima mengangguk setuju.
"Tanah itu berada di luar perlindungan hukum maupun kekuatan klan mana pun. Jika ada hal buruk yang terjadi di sana, tidak ada yang bisa membantu kita. Itu adalah tempat yang diciptakan untuk menyembunyikan sesuatu yang tidak boleh diketahui."
"Dan Dimas memintamu datang sendirian." Haris menatap Kirana dengan tatapan prihatin namun tegas. "Itu tanda yang paling berbahaya. Dia tahu bahwa ibumu adalah kelemahan terbesarmu. Dia tahu kau akan datang meskipun tahu itu jebakan."
Kirana menunduk sejenak, lalu mengangkat wajahnya dengan mata yang jernih namun penuh tekad.
"Aku tahu itu berbahaya. Aku tahu Dimas mungkin sedang menungguku bersama orang lain. Tapi jika ada kesempatan untuk mengetahui kebenaran tentang Ibu, aku tidak bisa membiarkannya lewat begitu saja. Jika aku tidak datang, aku mungkin tidak akan pernah mendapat kesempatan kedua."
Darma melangkah mendekat.
"Kau tidak akan pergi sendirian. Itu sudah diputuskan."
"Jika aku membawa orang lain, mereka akan menyakiti Ibu." Kirana menatap mereka satu per satu. "Surat itu jelas. Jika ada yang ikut, aku tidak akan pernah melihatnya lagi. Aku tidak bisa mengambil risiko itu."
"Dan jika kau pergi sendirian, kau akan jatuh ke dalam perangkap yang sudah disiapkan sejak lama." potong Bima. "Arga hilang. Dimas bersekutu dengan kekuatan gelap. Semua hal ini saling berhubungan. Mereka tidak hanya menginginkanmu. Mereka menginginkan darahmu."
Perdebatan berlangsung lama. Setiap orang menyampaikan alasan mengapa Kirana tidak boleh pergi, namun setiap alasan itu juga dijawab oleh keinginan Kirana untuk menyelamatkan ibunya. Akhirnya Aran bersuara dengan suara tenang namun memutuskan.
"Kau boleh pergi." ucapnya pelan. "Namun tidak sendirian. Dan tidak dengan cara yang mereka harapkan."
Semua mata beralih kepadanya.
"Mereka menyuruhmu datang sendirian agar mudah dikendalikan." lanjut Aran. "Maka kita akan membuat mereka percaya kau datang sendirian, padahal kita akan berada di dekatmu tanpa terlihat. Kita akan bergerak dengan hati-hati, memanfaatkan perlindungan yang bisa kita berikan tanpa diketahui mata-mata mereka."
Haris menarik napas panjang, lalu mengangguk perlahan.
"Baiklah. Itu jalan yang paling masuk akal. Namun kita harus bersiap sepenuhnya. Ini bukan sekadar pertemuan. Ini adalah perang yang dimulai oleh pihak lain."
Â
Persiapan dimulai segera setelah keputusan diambil.
Bima menyusun rute perjalanan dengan hati-hati, menghindari jalan terbuka dan memilih jalur tersembunyi yang hanya diketahui oleh penjaga tanah. Ia menjelaskan bahwa kabut di lembah batu hitam dapat membingungkan arah bahkan bagi mereka yang memiliki penglihatan tajam. Tanah di sana menyerap energi, sehingga kekuatan sihir akan melemah seiring berjalannya waktu.
"Semakin dalam kita masuk, semakin sulit bagi kita untuk menggunakan kekuatan kita." ucap Bima sambil menandai titik-titik di peta. "Dan semakin mudah bagi mereka yang sudah menyiapkan tempat itu untuk menyerang kita."
Aran menyiapkan perlindungan sihir halus yang akan menutupi jejak dan keberadaan mereka. Ia memberikan sepasang manik-manik kecil kepada Kirana.
"Jika kau merasa terjebak atau terpisah dari kita, remukkan salah satu manik ini. Kita akan segera tahu posisimu. Namun ingat, di tempat itu kekuatan sihir akan melemah, jadi gunakan hanya dalam keadaan paling darurat."
Darma menyiapkan perlengkapan perjalanan dan senjata yang disembunyikan dengan baik. Ia juga memberikan sebuah pisau kecil berwarna perak yang tajam.
"Jangan pernah menaruh belas kasihan pada mereka yang berniat mencelakaimu." ucapnya pelan saat menyerahkan pisau itu. "Dan jangan pernah berhenti berjuang. Apa pun yang terjadi, aku akan berada di dekatmu."
Saat matahari mulai turun ke arah barat, Kirana berdiri di halaman belakang Pradana. Ia mengenakan pakaian sederhana berwarna gelap agar mudah menyatu dengan bayangan. Di dadanya tersimpan surat dari Dimas, dan di dalam hatinya tersimpan tekad yang tak tergoyahkan.
Ia tahu bahwa di hadapannya mungkin menunggu bahaya yang lebih besar dari yang bisa ia bayangkan. Ia tahu bahwa ini mungkin adalah jebakan yang telah disiapkan dengan sangat rapi. Namun ia juga tahu bahwa di ujung perjalanan itu mungkin ada jawaban yang telah ia cari sejak lama.
Dan di belakangnya, di antara bayangan pohon dan dinding bangunan, berdiri orang-orang yang bersedia mengikutinya menembus kegelapan apa pun.
Perang dimulai bukan dengan bunyi terompet atau pedang yang beradu. Ia dimulai dengan sebuah surat, sebuah janji, dan langkah pertama yang diambil menuju tanah yang tidak pernah kembali.
Share this novel