86. Amarah Di Dalam Gua Batu

Romance Series 154

Di dalam gua batu yang jauh di dalam perut bumi, udara terasa sedingin es dan berat seakan menekan setiap inci tubuh. Cahaya hanya berasal dari lilin berapi ungu yang menancap di dinding kasar, memantulkan bayangan yang menari-nari dengan menyeramkan.
Di ruangan paling dalam, Sariya duduk di sudut ruangan dengan rantai tebal yang melilit pergelangan tangan dan kakinya. Wajahnya pucat, namun matanya tetap tenang menatap dinding batu. Di ruangan yang terpisah namun hanya dibatasi oleh jeruji besi tebal, Arga terbaring di atas tanah batu yang keras. Tubuhnya penuh luka, namun matanya tetap terbuka, menatap ke arah ruangan tempat Sariya berada.
Tiba-tiba, pintu batu berat terbuka dengan dentuman keras. Angin dingin menyapu masuk, dan di ambang pintu berdiri sosok yang wajahnya kini terlihat penuh kemarahan yang meluap-luap.
Durga melangkah masuk dengan langkah berat. Setiap langkahnya membuat lantai batu bergetar pelan. Wajahnya yang biasanya tenang dan penuh keyakinan kini berubah merah padam, matanya menyala merah menyala dengan amarah yang tak tertahankan.
"Kau tertawa..." suaranya mengaum menggema di seluruh ruangan, membuat debu batu jatuh dari langit-langit. "Kau pasti tertawa di dalam hatimu melihatku pulang dengan tangan kosong!"
Ia melangkah langsung ke depan sel Sariya. Tangan kanannya terangkat, dan gelombang kekuatan gelap menghantam dinding batu di dekat kepala Sariya hingga hancur berkeping-keping.
"Gadis itu... gadis yang lemah dan tidak berpengalaman... dia berani menentangku!" bentaknya lagi, napasnya memburu karena marah. "Dia berani menghancurkan rencanaku yang telah kususun selama ribuan tahun!"
Sariya mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya tenang namun tajam, menembus kemarahan yang membakar di hadapannya.
"Aku sudah memperingatkanmu." ucapnya pelan namun jelas. "Api Phoenix tidak bisa dipadamkan. Semakin kau mencoba menekannya, semakin besar ia akan berkobar."
Dengan satu gerakan cepat, tangan Durga mencengkeram leher tak kasat mata Sariya, mengangkat tubuhnya hingga tergantung di udara.
"Jangan berani-berani menasihatiku!" desisnya dengan suara serak. "Karena dia, rencanaku gagal! Karena dia, aku terluka! Dan sekarang... kau akan menanggung semua kekalahanku!"
Ia melempar Sariya ke dinding batu dengan keras. Sariya jatuh ke tanah dengan suara berat, namun ia tetap tidak mengeluarkan suara kesakitan.
Di ruangan sebelah, Arga mengguncang jeruji besi sekuat tenaga.
"Jangan sentuh dia!" teriaknya dengan suara parau. "Jika kau berani menyakiti dia, aku akan menghancurkanmu!"
Durga berbalik perlahan menatap Arga. Senyum miring yang kejam terukir di wajahnya.
"Kau? Kau yang terikat dan tidak berdaya? Apa yang bisa kau lakukan?"
Ia melangkah mendekat ke arah Arga, lalu mengangkat tangan. Rasa sakit yang luar biasa langsung menyerang seluruh tubuh Arga, seakan ada ribuan jarum tajam yang menusuk dari dalam. Arga menggertakkan gigi menahan rasa sakit itu, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
"Ini semua karena gadis itu." ucap Durga pelan namun penuh ancaman. "Dan karena kau gagal membawanya kepadaku. Kalian semua adalah bagian dari kegagalanku. Dan kegagalan harus dibayar dengan rasa sakit."
Ia terus melampiaskan amarahnya, menyakiti mereka berdua dengan kekuatan gelap yang tak terlihat. Namun di tengah rasa sakit itu, Sariya justru tersenyum tipis.
"Kau marah..." ucapnya pelan, suaranya terdengar lemah namun penuh keyakinan. "Itu berarti... Kirana sudah bangkit. Dia sudah bisa melawanmu."
Kata-kata itu membuat Durga semakin marah. Namun sebelum ia sempat melakukan hal lain, ia merasakan sesuatu. Dari kejauhan, di arah lembah batu hitam, ada pergerakan yang mendekat. Bukan satu atau dua orang. Melainkan sekelompok orang yang bergerak cepat menuju ke arahnya.
Ia berbalik menatap ke arah pintu gua.
"Mereka datang..." gumamnya. "Mereka datang untuk menyelamatkanmu. Baiklah... biarkan mereka datang. Kali ini aku tidak akan membiarkan satu pun dari mereka pergi hidup-hidup."
 
Sementara itu, di jalan yang berliku dan berbahaya menuju ke arah pegunungan terlarang, Kirana berjalan di depan. Di belakangnya mengikuti Darma, Bima, Aran, dan Kesuma. Udara semakin lama semakin dingin, dan tanah di bawah kaki mereka semakin terasa tidak stabil.
"Kekuatan yang kita rasakan dari arah sana semakin kuat." ucap Aran sambil menatap ke arah puncak gunung yang tertutup kabut hitam pekat. "Dan di dalamnya tercampur rasa sakit dan amarah yang sangat besar."
Kirana menatap jalan setapak yang menanjak tajam di hadapannya. Dadanya terasa sesak. Ia bisa merasakan keberadaan ibunya dari jauh. Bukan karena suara atau tanda apa pun, melainkan karena ikatan darah yang mengalir di dalam dirinya.
"Ibu ada di sana." ucapnya pelan, matanya berkaca-kaca namun tegas. "Dan Arga juga. Mereka berdua masih hidup."
Darma berjalan di sampingnya, menatapnya dengan perhatian penuh.
"Kita akan sampai di sana. Kita akan menyelamatkan mereka berdua."
Kesuma berjalan di belakang mereka, pandangannya tajam mengawasi setiap gerakan di sekitar.
"Tanah di sini sudah rusak oleh kekuatan gelap." ucapnya pelan. "Kita harus berhati-hati. Setiap langkah bisa saja menjadi jebakan."
Di belakang kelompok itu, berjalan Dimas, Serena, dan Larasati dengan langkah tertatih-tatih. Mereka terlihat lelah dan takut, namun tetap berjalan mengikuti.
Dimas mempercepat langkahnya hingga sejajar dengan Darma.
"Maaf... aku tahu aku tidak berhak meminta apa pun darimu." ucapnya dengan suara rendah dan penuh rasa malu. "Tapi... apakah perjanjian yang kubuat dengan Durga masih berlaku? Apakah dia masih akan menagih janji itu padaku?"
Darma menatapnya sekilas dengan tatapan dingin.
"Kau telah bersekutu dengan iblis atas kehendakmu sendiri. Tidak ada yang bisa menjamin apa yang akan terjadi nanti. Namun jika kau ingin terbebas dari ikatan itu, ada satu cara."
"Apa itu?" tanya Dimas cepat.
"Berjuanglah bersama kami." jawab Darma tegas. "Buktikan bahwa kau tidak sepenuhnya buta oleh keserakahan. Bantu kami mengalahkannya, dan mungkin... mungkin saja ikatan itu bisa diputus."
Dimas terdiam sejenak, lalu menatap ke arah Kirana yang berjalan di depan. Punggung gadis itu terlihat kecil namun kokoh di tengah kabut tebal. Rasa malu dan penyesalan kembali menyelimuti hatinya.
"Aku akan melakukan apa saja." ucapnya pelan. "Aku tidak akan membiarkan kejahatan itu terus berlanjut."
Serena dan Larasati hanya bisa mendengarkan dengan kepala tertunduk. Mereka tidak berani berbicara apa pun. Mereka tahu betapa besar dosa yang telah mereka perbuat, dan betapa sulitnya mendapatkan pengampunan.
Perjalanan berlanjut perlahan namun pasti. Setiap langkah membawa mereka semakin dekat ke tempat di mana orang-orang yang mereka cintai ditahan. Dan di dalam hati setiap orang yang berjalan itu, tumbuh satu tekad yang sama: kali ini, mereka tidak akan membiarkan kejahatan menang.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience