65. Rahsia Terbuka Dan Tempat Diluar Waktu

Romance Series 154

CELAH DARI KEBENCIAN
Di kediaman yang terbuat dari batu hitam dan kabut abadi, Durga berdiri di hadapan bayangan-bayangannya. Matanya menyala merah gelap, penuh ketidaksabaran yang semakin memuncak.
"Phoenix itu telah bangkit sepenuhnya. Kekuatannya semakin kuat setiap detik." suaranya rendah dan menggelegar. "Kita tidak bisa menyerangnya secara langsung. Carilah kelemahannya. Setiap makhluk hidup punya satu titik lemah. Dan milik Phoenix... adalah orang yang ia sayangi."
Pasukan bayangan melesat keluar seperti angin malam yang dingin. Mereka tak bisa mendekat ke kediaman Pradana karena perisai Elf yang memancarkan cahaya menyilaukan. Jadi mereka menyebar, mencari sumber emosi gelap yang bisa mereka manfaatkan.
Sementara itu... jauh di dalam gua yang lembap dan gelap... Sariya bersandar pada batu dingin. Rantai besi hitam masih melilit tubuhnya, darah perlahan menetes ke tanah. Namun tiba-tiba... ia tersenyum tipis. Senyum yang begitu lembut, begitu tulus, hingga matanya berkaca-kaca.
Ia merasakannya — aliran darah yang sama, denyut api yang semakin terang, kekuatan yang perlahan tumbuh dan menyebar ke seluruh penjuru.
Anakku... kau sudah bangkit. Kau sudah kuat.
Di tempat lain... bayangan-bayangan itu berhenti di balik pohon besar yang rimbun, memandang jauh ke arah kediaman Ardika. Dari luar tembok tinggi itu, mereka bisa merasakannya — gelombang kebencian yang pekat, kecemburuan yang membara, dan amarah yang tak kunjung padam. Lebih kuat dari mana pun.
"Energi kebencian... begitu pekat di sini." bisik salah satu bayangan. "Lebih kuat dari yang pernah kurasakan. Ada kecemburuan yang membakar jiwa seseorang di dalam rumah itu."
Mereka menyelinap lebih dekat, bersembunyi di balik bayangan jendela yang terbuka sedikit. Suara terdengar jelas dari dalam.
"Kenapa dia?! Kenapa harus dia?!" suara Larasati melengking penuh amarah, benda berat terdengar jatuh ke lantai. "Kirana tidak pantas mendapatkan semua itu! Dia bukan bagian dari keluarga ini! Dia hanya anak yang diambil dari entah di mana!"
"Cukup, Larasati!" suara Serena terdengar tajam namun penuh kepahitan. "Kau mau seluruh rumah mendengar omonganmu? Memang benar, dia bukan anak kandungku... tapi Dimas melindunginya seolah dia adalah harta paling berharga. Dan sekarang... dia bahkan menjadi istri pewaris Pradana!"
"Itu semua tidak adil!" Larasati menangis marah. "Aku yang seharusnya ada di posisinya! Aku yang seharusnya menjadi istri Darma! Kenapa Kirana?! Kenapa dia yang mendapatkan segalanya?!"
Suara Dimas terdengar kemudian — berat, gelisah, dan penuh kemarahan yang tak bisa dijelaskan.
"Diamlah kalian! Jangan sebut nama itu lagi!" bentaknya. "Kirana... dia bukan siapa-siapa! Akan kubuktikan pada semua orang... dia tidak pantas berada di tempat yang tinggi!"
Bayangan itu tersenyum lebar, tawa yang tak bersuara namun penuh kejam.
"Nama mereka... Kirana. Dan keluarga yang seharusnya melindunginya... justru membencinya dengan segenap jiwa."
Mereka kembali terbang secepat kilat menuju kediaman Durga.
"Tuan... kami menemukan kelemahan Phoenix." lapor bayangan itu sambil berlutut. "Keluarga yang seharusnya melindunginya... justru menjadi sumber kebencian yang paling dalam. Mereka bahkan menyebut namanya dengan penuh keinginan untuk menghancurkan."
Durga tertawa lebar, suaranya bergema memenuhi ruangan gelap itu. Matanya menyala penuh kegembiraan yang mengerikan.
"Luar biasa... luar biasa!" ia bertepuk tangan pelan. "Siapa yang menyangka? Bahwa kelemahan terbesarnya bukan musuh dari luar... melainkan orang yang seharusnya melindunginya dari dalam!"
Ia melangkah maju, senyumnya semakin lebar dan kejam.
"Jika mereka begitu membencinya... maka kita akan gunakan mereka. Kita akan berikan mereka apa yang mereka inginkan. Dan saat mereka menyerang Phoenix... kita akan menonton dari samping."
 
KEBENARAN YANG MENGUNCANG DUNIA
Di ruang tengah kediaman Pradana... Kirana duduk di hadapan Darma, Haris, Arga, Bima, dan Aran. Wajahnya tenang namun teguh, matanya jernih dan penuh keyakinan.
"Ada hal yang harus kukatakan pada kalian. Hal yang baru saja aku ketahui dari Ayahku."
Ia menarik napas panjang, lalu mulai bercerita dengan suara yang tenang namun setiap kata terasa berat dan penting.
"Dimas Ardika... bukanlah keturunan sejati Klan Ardika."
Suasana seketika hening. Darma melongo tak percaya. Haris mundur selangkah, matanya membelalak. Bima mengerutkan kening lekat-lekat seakan tidak percaya mendengarnya. Arga bangkit berdiri tak sengaja, wajahnya penuh syok.
"Apa maksudmu?!" seru Arga. "Bukan darah Ardika? Tapi bagaimana mungkin? Selama ini semua orang percaya dia adalah pewaris tunggal!"
"Karena itu sengaja disembunyikan." Kirana menatap mereka satu per satu. "Sesepuh Ardika saat itu, Juragas... memiliki seorang pewaris sejati bernama Kesuma Ardika. Namun Kesuma hilang tanpa jejak bertahun-tahun lalu. Tidak ada yang tahu ke mana dia pergi. Tidak ada mayat, tidak ada jejak."
"Karena tak ada penerus... Juragas membawa Dimas dari luar. Mengangkatnya sebagai pewaris." Kirana menelan ludah, suaranya sedikit bergetar. "Dan yang paling mengerikan... Juragas menggunakan sihir kuno terlarang untuk mengubah ingatan Dimas. Sehingga Dimas percaya sepenuhnya bahwa dia adalah pewaris sejati Klan Ardika. Bahwa dia berhak atas segalanya."
Keheningan yang panjang dan mencekam menyelimuti ruangan. Bima menggeleng perlahan, wajahnya penuh ketidakpercayaan dan kesedihan.
"Jadi... seluruh hidupnya... dia hidup dalam kebohongan yang ditanamkan sendiri ke dalam kepalanya?"
"Benar." Kirana menunduk pelan. "Dia mencintai Ibuku, merasa berhak atasnya, merasa berhak atas kekuatan Phoenix... semua itu tumbuh dari ingatan yang bukan miliknya. Dia adalah korban... sekaligus pelaku yang menghancurkan segalanya."
Saat itu... Aran Aruna tersenyum tipis. Tawa kecil yang terdengar lembut namun penuh arti.
Arga menoleh cepat padanya, alisnya terangkat tinggi.
"Kenapa kau tertawa?!"
"Karena..." Aran menatap Kirana dengan pandangan kagum. "Aku sebenarnya sudah mengetahui hal ini sejak lama. Aku hanya belum sempat memberitahu kalian. Aku berencana menunggu Arga menyelesaikan penyelidikannya terlebih dahulu." Ia menatap Arga sambil tersenyum miring. "Tapi ternyata... Kirana mengetahuinya lebih dulu. Bahkan sebelum penyelidikanmu selesai, Arga."
Wajah Arga memerah seketika. Ia melangkah mendekat pada Aran, suaranya terdengar sedikit tidak terima.
"Jadi kau sudah tahu sejak awal?! Dan kau diam saja?!"
"Aku tahu." Aran tetap tersenyum tenang. "Tapi mengetahui dan membuktikan adalah dua hal yang berbeda. Aku ingin melihat seberapa jauh kebenaran itu akan terungkap dengan sendirinya."
"Kau selalu seperti ini... menyembunyikan informasi hanya untuk bersenang-senang!" Arga menatapnya tajam. "Kau tahu betapa berharganya waktu sekarang!"
"Tenanglah, Arga." Aran tertawa pelan. "Sekarang kebenaran sudah terungkap. Dan itu berasal dari sumber yang paling tepat — dari darah sendiri. Bukankah itu lebih baik?"
Arga mendengus kasar, memalingkan wajah namun tidak membantah lagi. Kirana menatap mereka berdua, lalu tersenyum tipis.
 
ALAM DI LUAR WAKTU
Kirana menarik napas panjang, menatap mereka semua dengan mata yang menyala teguh.
"Sekarang aku tahu di mana Ibuku ditahan. Dan aku tahu siapa yang melakukannya. Kita harus segera pergi ke tempat itu dan menyelamatkannya."
Ia bangkit berdiri, siap untuk melangkah keluar. Namun tangan besar Bima menahannya perlahan di bahu.
"Tunggu dulu, Kirana." suaranya tegas namun lembut. "Kekuatanmu baru saja bangkit sepenuhnya. Kau belum terlatih. Kau belum menguasai cara menggunakannya. Jika kita pergi sekarang... kau akan membahayakan dirimu sendiri. Dan itu justru akan membahayakan Ibumu."
Kirana terdiam. Ia tahu Bima benar. Namun hatinya gelisah, ingin segera bergerak.
"Kalau begitu... di mana kita bisa melatihnya dengan cepat?" tanya Darma. Matanya menatap Aran.
Saat itu... Aran tersenyum lebar. Ia mengangkat tangannya perlahan, dan sepasang anting telinga yang tak pernah mereka sadari keberadaannya di telinga Kirana bersinar lembut dengan cahaya perak pucat.
"Aku punya tempat."
Cahaya putih lembut menyelimuti mereka semua. Saat pandangan kembali jernih... mereka sudah berada di tempat yang sama sekali berbeda.
Langit di atas berwarna ungu lembut yang perlahan berubah menjadi biru tua, bintang-bintang berkelap-kelip terang meski cahaya terang masih menyebar di kejauhan. Tanahnya berwarna keemasan lembut, udaranya terasa begitu murni dan segar, seakan penuh kekuatan yang bisa dihirup langsung.
Semua orang ternganga.
"Di mana kita ini?" tanya Haris tak percaya, menatap sekelilingnya.
"Ini adalah Alam Ruang yang kubuat khusus." Aran berjalan di depan mereka dengan langkah santai. "Di sini... hukum waktu berjalan berbeda."
Arga melangkah cepat mendekat, menatap langit dengan mata terbelalak.
"Sihir ruang-waktu... itu sihir yang sangat kuno dan hampir punah. Hanya sedikit yang bisa menguasainya."
"Bukan hanya itu." Aran menunjuk ke sekeliling. "Di luar sana... mungkin hanya berlalu satu jam. Namun di dalam sini... kalian bisa melatih diri selama berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Waktu bisa aku atur sesuai kebutuhan."
Kirana menatap sekelilingnya tak percaya.
"Dan apa lagi fungsi tempat ini?" tanyanya.
"Aku juga bisa menciptakan medan perang, bayangan musuh, dan segala kondisi yang mungkin kau hadapi di dunia nyata." Aran menatapnya lekat-lekat. "Kau bisa bertarung di sini, terluka, jatuh, bangkit kembali... tanpa risiko nyawa yang hilang. Sehingga saat kau kembali ke dunia nyata... kau sudah siap menghadapi apa pun."
Aran menatap Bima, Arga, dan dirinya sendiri.
"Kita bertiga — Bima yang menjaga bumi dan perisai, Arga yang menjaga bayang dan kecepatan, dan aku yang menjaga nubuat dan sihir — akan melatihnya bersama-sama."
Lalu ia menatap Darma dan Haris yang berdiri sedikit di belakang.
"Dan kalian berdua... bisa mengamati dari sini. Memberi pandangan dari luar medan latihan. Melihat apa yang tidak terlihat oleh mata yang sedang bertarung."
Kirana menarik napas panjang, menghirup udara penuh kekuatan itu. Ia menatap mereka semua, matanya berkaca-kaca namun penuh tekad.
"Terima kasih. Terima kasih semuanya."

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience