33. Tangan Yang Menyambut Api

Romance Series 154

‍ BAGIAN I — LORONG YANG TAK BERUJUNG
Lorong itu panjang. Marmer putih berkilau di bawah cahaya kristal, memantulkan bayangannya — satu sosok berjalan sendirian, di tengah ratusan pasang mata yang menatap. Setiap langkah terdengar jelas, seakan berdetak berirama dengan jantungnya sendiri. Tuk. Tuk. Tuk.
Kirana melangkah sendirian. Tidak ada ayah yang menuntunnya. Tidak ada ibu yang berjalan di sampingnya. Dia berjalan sendiri — sama seperti dia menanggung setiap hari di rumah Ardika sendirian.
Di dadanya, pikiran berputar kacau, saling bertabrakan tanpa jawaban.
Apakah ini pilihan yang benar?
Menikah dengan pria yang berdiri diam saat napas terakhirku terhenti?
Apakah aku melompat dari satu penjara ke penjara lain? Atau... apakah ini pintu menuju kebebasan?
Aku tidak tahu. Aku hanya tahu — kembali ke Ardika tidak mungkin. Dan jalan di depanku... adalah satu-satunya jalan yang terbuka.
Dia tidak tahu apakah ini keputusan yang baik. Dia hanya tahu — ini keputusan yang ada. Dan dia melangkah.
 
BAGIAN II — TANGAN YANG TERULUR
Darma berdiri di depan altar. Tapi saat melihatnya berjalan sendirian — bahu tegak, kepala diangkat, mata lurus ke depan namun seakan menembus dinding — dia tidak bisa berdiri diam.
Dia melangkah turun dari panggung altar. Langkahnya cepat, mantap, tanpa ragu. Ratusan mata mengikuti pergerakannya — tapi Darma tidak melihat siapa pun selain gadis yang mendekat.
Saat mereka berpapasan di tengah lorong, Darma berhenti. Dia menatapnya sesaat — melihat keraguan di matanya, beban di bahunya — lalu perlahan mengulurkan tangan. Telapak tangannya besar, hangat, terbuka. Tidak memaksa. Hanya menawarkan.
"Izinkan aku menemanimu sisanya."
Kirana berhenti. Matanya jatuh pada tangan itu. Dia menatapnya lama — seakan meneliti apakah itu jebakan, apakah itu janji, apakah itu hal yang sama yang dia lihat di hari kematiannya. Ingatan itu masih hidup — tatapan kosong, tidak bergerak, tidak menolong. Tapi tangan ini... terasa berbeda.
Perlahan, sangat perlahan, dia mengangkat tangannya sendiri — jari-jemari sedikit gemetar — dan meletakkannya di telapak tangan itu.
Darma menggenggamnya. Erat. Hangat. Pastinya. Seakan dia takut jika melonggarkan sedikit pun, gadis ini akan lenyap menjadi asap.

Mereka berjalan bersama menuju altar. Langkah mereka selaras. Di bawah atap itu, di hadapan semua orang — untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Kirana tidak berjalan sendirian.
 
BAGIAN III — HARIS PRADANA: PERTOLONGAN YANG TERLAMBAT
Saat mereka sampai di hadapan Haris, kepala klan Pradana menatap mereka — tangan bersatu, tatapan Darma penuh tekad, dan Kirana... tenang namun rapuh seperti kaca yang retak tapi belum pecah.
Haris menghela napas pelan, mata sedikit berkaca — bukan karena cinta pada gadis ini, tapi karena lega. Lega karena gadis ini, yang diperlakukan seperti sampah di rumah orang lain, akhirnya berdiri di tempat di mana dia akan dihormati. Lega karena dia tidak lagi milik Ardika.

Mereka membiarkannya kelaparan, menderita, diabaikan — dan tidak pernah menyadari harta karun yang tidur di bawah atap mereka, pikir Haris. Tapi sekarang... dia di sini. Bersama kami. Dan kami akan melindunginya dengan nyawa kami.
Haris menatap Kirana, lalu ke putranya. Bibirnya melengkung senyum tulus — senyum yang tidak pernah diberikan kepada Ardika. Bukan karena dia pengantin Pradana. Tapi karena dia Phoenix yang akhirnya berlindung di bawah sayap mereka.
 
BAGIAN IV — RACUN DI BARIS BELAKANG
Di kursi paling belakang, Larasati duduk terpaku. Matanya terpaku pada tangan yang bersatu itu.
Darma menunduk ke tingkatannya. Darma mengulurkan tangan. Darma menggenggamnya lembut namun pasti. Hal yang tidak pernah dia lakukan untuk siapa pun. Hal yang Larasati bermimpi setiap malam — dilakukan untuk gadis yang mereka anggap tidak berharga.
Darah mendidih di urat lehernya. Tangannya mengepal begitu erat hingga kukunya menancap dan meninggalkan bulan sabit merah di telapak. Dadanya sesak, napasnya pendek dan panas. Cemburu bukan lagi perasaan — itu api yang membakarnya dari dalam.
Seharusnya itu aku. Seharusnya dia menatapku seperti itu. Seharusnya tangan itu milikku.
Larasati memalingkan wajah kasar, menelan rasa pahit yang naik ke tenggorokan. Dia tidak bisa melihat mereka. Tidak bisa melihat kebahagiaan yang bukan miliknya. Dan setiap detik dia tidak bisa berhenti melihatnya — semakin membunuhnya perlahan.
 
BAGIAN V — DUA PENJAGA: MENGENAL TUHANNYA
Di sudut aula yang sunyi, dua pria berdiri di tempat yang berbeda — namun matanya tertuju pada satu titik yang sama.
ARGA BAYU — Penjaga Bayang
Dia tidak bergerak. Tidak tersenyum. Tidak bertepuk tangan. Dia hanya menatap — meneliti setiap gerakan, setiap tatapan, setiap tarikan napas Phoenix-nya.
Akhirnya, pikirnya. Daging dan darah. Bukan legenda. Bukan cerita kuno. Dia berdiri di sana — hidup, bernapas, terluka, namun tetap berdiri.
Namun keraguan menyelinap masuk. Bagaimana aku akan muncul di hadapannya? Bagaimana aku berkata — aku adalah Penjagamu, sumpah leluhurku milikmu — tanpa dia mengusirku? Dia tidak tahu siapa aku. Dia tidak tahu siapa dirinya. Jika aku datang terlalu cepat... mungkin dia akan takut. Mungkin dia akan menolak.
Aku akan menunggu. Mengamati. Saat dia membutuhkan — aku akan ada di sana. Dan saat itu tiba... dia akan tahu — aku tidak datang untuk menuntutnya. Aku datang untuk melindunginya.
BIMA SENA — Penjaga Perisai
Tangannya masih mencengkeram pilar marmer di sampingnya. Matanya tidak berkedip sejak dia melangkah masuk. Dia melihat beban di bahu gadis itu. Dia melihat keraguan di matanya. Dia melihat — dia tidak bersinar karena bahagia. Dia bersinar karena dia bertahan.
Dia tidak membutuhkan pahlawan yang menyapukan masalahnya pergi, pikir Bima. Dia membutuhkan seseorang yang berdiri di depannya saat badai datang. Seseorang yang berkata — aku menahan ini. Kau boleh bernapas.
Tapi dia juga ragu. Bagaimana aku mendekat? Dia terlihat rapuh seperti kaca. Jika aku terlalu keras... mungkin dia akan pecah. Jika aku terlalu lembut... mungkin dia tidak percaya.
Aku akan menemukan caranya. Pelan-pelan. Dia tidak perlu terburu-buru mengenaliku. Yang penting — dia tahu dia tidak sendirian lagi. Bahkan jika dia belum tahu nama kami — dia sudah dilindungi oleh kami.
 
BAGIAN VI — BISIKAN YANG BERUBAH
Bisikan tamu tidak lagi berisi penghinaan. Mereka berubah — beragam, dalam satu ruangan yang sama.
Yang Takjub:
"Lihat cara dia berjalan... seperti ratu yang kembali ke kerajaannya."
"Dia tidak cantik seperti bunga. Dia cantik seperti badai — kuat, tak tergoyahkan."
"Darma menunduk untuknya... dia bukan sekadar menikah. Dia menyembahnya."
Yang Bersyukur:
"Klan Pradana membuat pilihan yang benar. Dia akan menjadi kekuatan mereka."
"Aura-nya... damai namun membara. Ini pertanda baik untuk semua klan."
"Semoga dia menyembuhkan luka yang lama terbelah."
Yang Iri:
"Entah apa yang dia miliki... tapi dia berjalan seakan dia tahu dia lebih tinggi dari kita semua."
"Darma terlalu cepat menyerahkan hatinya. Dia belum tahu apa yang dia bawa ke dalam rumahnya."
"Kita lihat saja. Cahaya yang terlalu terang... bisa membakar siapa pun yang terlalu dekat."
Kirana tidak mendengar mereka semua. Atau mungkin dia mendengar — dan tidak lagi peduli. Dia berdiri di samping Darma, tangan masih digenggamnya, dan menatap Haris. Pikirannya masih berputar — tapi satu hal sudah jelas. Langkah ini diambil. Dan mundur... bukan pilihan.
Haris tersenyum. Dalam senyum itu — harapan, janji, dan perlindungan.
"Mari kita mulai."

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience