57. Ragam Dan Bayangan Yang Bergerak

Romance Series 154

ISTIRAHAT DI BALIK BATU
Sariya terkulai lemas setelah teriakan terakhirnya. Tubuhnya gemetar hebat, napasnya tersengal-sengal menyakitkan. Kekuatan yang ia kerahkan sepenuhnya tadi seakan menyedot sisa tenaga yang tersisa di dalam dirinya. Perlahan, ia membiarkan punggungnya bersandar pada dinding batu yang dingin dan lembap. Batu itu terasa keras dan tak berperasaan, namun menjadi satu-satunya sandaran yang ia miliki.
Darah perlahan kembali berdenyut pelan di pelipisnya. Rasa sakit merambat ke seluruh tubuh, namun hatinya... hatinya tetap tegak. Napasnya memburu, namun matanya perlahan terpejam. Di dalam keheningan yang gelap itu... pikirannya melayang jauh.
Ayah Kirana. Ia memanggil namanya dalam hati — Wira.
Wira... nama yang tak akan pernah ia lupakan. Wira yang gagah berani, yang berdiri di sampingnya saat dunia terasa berat. Wira yang... pada hari-hari kelam itu... hilang.
Sariya menarik napas panjang, rasa perih menyelinap di dadanya.
Kata-kata yang mereka sampaikan kepadaku... begitu singkat, begitu dingin. batinnya mengingat kembali. "Terjatuh dari tebing terjal. Hilang di kedalaman kabut. Tidak ditemukan."
Tidak ada jenazah. Tidak ada pakaian. Tidak ada jejak darah yang tak lagi mengalir. Hanya kata-kata. Hanya laporan yang tak disertai bukti.
Dan Sariya tahu. Sejak hari itu, di lubuk hatinya yang terdalam... ia tahu.
Tidak ada mayat... berarti tidak ada kematian.
Wira masih hidup. Di mana pun dia berada. Terjebak. Terluka. Mungkin tak mampu kembali. Namun napasnya masih mengalir. Hatinya masih berdetak. Dan suatu hari... ia akan kembali.
Sariya tersenyum tipis di tengah kegelapan. Bayangan wajah Wira melintas di benaknya — senyum yang hangat, pandangan yang teguh. Lalu perlahan... bayangan itu berganti wajah lain. Wajah mungil yang masih terbungkus selimut lembut. Bayi yang baru saja lahir, matanya tertutup, napasnya halus dan lemah. Kirana.
Sariya teringat hari itu. Saat ia harus menyerahkan bayinya. Saat ia harus membiarkan putrinya pergi ke kediaman Ardika — tempat yang ia percaya akan melindunginya. Saat itu, Kirana masih begitu kecil. Kulitnya lembut, rambutnya halus, matanya belum terbuka sepenuhnya.
Sekarang... bagaimana rupa anakku kini?
Apakah ia tumbuh tinggi? Apakah matanya... sama seperti matanya? Atau sama seperti mata Wira? Apakah ia tersenyum saat tenang? Apakah ia kuat? Apakah... ia masih hidup?
Sariya mengangkat tangan yang terbelenggu, menyentuh udara kosong di hadapannya seakan dapat menyentuh wajah putrinya dari jauh.
Tumbuhlah kuat, anakku. Jangan takut. Dan ingatlah... ibu sedang menunggumu. Ayahmu... mungkin juga sedang menunggumu. Kami berdua... masih menunggu.
 
DURGA DAN KECURIGAAN YANG TUMBUH
Sementara itu, bayangan itu melangkah kembali ke kediamannya dengan langkah yang berat dan penuh amarah yang tertahan.
Aula Agung Kegelapan. Tempat di mana Durga berdiri. Ruangan itu luas namun tak bercahaya. Dinding-dindingnya tampak hitam pekat, seakan menyerap setiap sinar yang berani masuk. Di tengah ruangan berdiri singgasana batu gelap yang dingin, dihiasi ukiran ular yang saling melilit. Di sekelilingnya, lilin-lilin menyala dengan api yang berwarna kebiruan pucat — cahaya yang tidak memberi kehangatan, melainkan justru membuat suasana semakin dingin dan mencekam. Udara di sini terasa tebal, seakan penuh dengan sesuatu yang tak terlihat namun terus mengawasi setiap gerakannya.
Durga melangkah menuju singgasananya. Punggungnya tegak, namun tangannya mengepal erat di sisi tubuh. Kata-kata Sariya terus bergaung di telinganya — tajam, menghina, dan membuatnya gelisah.
"Putrimu... ia akan datang..."
Durga berhenti di depan singgasana, menatap lurus ke arah bayangan di lantai. Keraguan yang sempat ia tepis kini kembali merayap di hatinya. Kirana. Nama itu. Anak terakhir Phoenix.
Ia mengira garis keturunan itu lemah. Ia mengira gadis itu tak berarti. Namun kata-kata Sariya... keyakinan di matanya... itu bukan sekadar harapan kosong.
Durga berbalik perlahan, menatap dua sosok yang berdiri diam di bayang-bayang tiang.
"Pergilah." Suaranya rendah namun penuh tekanan. "Cari gadis bernama Kirana. Telusuri jejaknya. Amati siapa dia. Sejauh mana kekuatannya. Dan bawakan laporan kepadaku. Aku ingin melihat dengan mataku sendiri... apakah gadis itu benar-benar ancaman... atau sekadar harapan terakhir seorang ibu yang tak berdaya."
Dua sosok itu membungkuk dalam, lalu lenyap seketika bersama bayangan.
Durga kembali duduk di singgasananya. Cahaya api biru memantul di wajahnya yang tampak gelisah.
Jika gadis itu benar-benar memiliki kekuatan itu... batinnya bergumam. Maka rencana ini... mungkin tidak semudah yang kubayangkan.
 
KEBENARAN PERTAMA DAN TANDA KEDATANGAN
Di tempat lain, di ruangan yang diterangi cahaya lampu yang redup... Arga Bayu berdiri diam. Tangan kanannya mencengkeram selembar kertas tua yang baru saja diselidikinya. Ujung kertas itu terlihat sudah lapuk dimakan waktu, namun tulisan di dalamnya masih terbaca jelas.
Wajah Arga pucat. Napasnya tertahan. Dan perlahan... kemarahan yang begitu dalam merambat naik ke dadanya.
Apa yang tertulis di sana... sungguh mengerikan.
Klan Ardika... ternyata bukanlah keturunan Penjaga yang sah. Gelar itu... dicuri. Direbut. Diambil alih secara paksa puluhan tahun silam. Dan sejak saat itu... mereka hidup menumpang pada nama yang bukan milik mereka. Menyalahgunakan kekuasaan yang bukan hak mereka. Sementara garis keturunan yang sebenar-benarnya... adalah Sariya. Dan Kirana.
Arga meremas kertas itu pelan, lalu meletakkannya kembali di atas meja. Matanya menyala dingin.
"Kirimkan lebih banyak orang," ujarnya kepada pengawal yang menunggu di sudut ruangan. "Selidiki lebih dalam. Jangan tinggalkan satu pun jejak yang terlewat. Kebohongan ini... harus dibongkar sepenuhnya."
Pengawal itu pergi. Arga berdiri sendirian di ruangan yang sunyi. Kemarahannya masih berkecamuk. Namun belum sempat ia tenang... seseorang melangkah masuk dengan tergesa-gesa.
Seorang penjaga perbatasan — yang tugasnya menjaga batas wilayah dari gangguan sihir gelap. Wajahnya tampak pucat dan penuh kecemasan. Langkahnya terburu-buru, seakan sesuatu yang buruk baru saja ia saksikan.
"Tuan Arga..." suaranya bergetar. "Aku datang membawa kabar yang tak menyenangkan."
Arga berbalik perlahan.
"Bicara."
Penjaga itu menelan ludah, lalu berkata dengan suara yang penuh ketakutan.
"Di perbatasan kerajaan... di tempat yang seharusnya bersih dari jejak kegelapan... aku merasakannya. Jejak yang pekat. Dingin. Dan kuno. Seperti bayangan yang telah lama hilang... namun kini kembali melintas." Penjaga itu menatap lurus ke mata Arga. "Kegelapan itu... sudah mulai bergerak, Tuan. Ia sudah melangkah masuk."
Arga terpaku. Matanya membelalak perlahan. Tubuhnya seakan kehilangan tenaga seketika.
Kegelapan itu... nyata. Bukan dongeng. Bukan mitos. Bayangan kuno yang ditakuti leluhur... telah kembali. Dan ia sudah melangkah masuk.
Arga mundur selangkah, tangannya mencengkeram tepi meja agar tidak goyah. Pikirannya melesat cepat. Sariya terkurung. Kirana baru saja bangkit. Dan kini... bayangan itu sendiri... telah mulai bergerak.
Dunia... perlahan mulai berubah. Dan pertempuran yang sesungguhnya... baru saja dimulai.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience