95. Persiapan Para Penjaga

Romance Series 154

Hari-hari berlalu dengan ketenangan yang terasa berat. Di Pradana Mansion, setiap sudut tampak tenang, namun di dalam ruangan-ruangan utama, suasana penuh keseriusan yang tak terlihat sebelumnya. Semua orang tahu: Durga belum binasa, dan saat dia kembali, kekuatannya akan jauh lebih dahsyat dari sebelumnya. Maka persiapan pun dilakukan satu per satu, dengan teliti dan penuh tekad.
 
1. DARMA PRADANA — PERISAI DARAH DAN TAKDIR
Di ruang kerja utama, Haris dan Darma duduk berhadapan di meja besar yang penuh dengan peta kuno dan dokumen rahasia.
"Kekuatan Phoenix yang dimiliki Kirana terus tumbuh." ucap Haris pelan sambil menunjuk peta wilayah kerajaan. "Dan seiring dengan itu, Durga pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk memburunya. Tugasmu bukan hanya mendampinginya, tapi menjadi benteng yang tak bisa ditembus."
Darma mengangguk perlahan. Di tangannya, ia memegang kalung pusaka klan Pradana yang telah disiapkan. Batu permata merah di tengah kalung itu berdenyut lembut, seakan memiliki nyawa sendiri.
"Aku tahu." jawab Darma tegas. "Aku sudah bersumpah akan melindunginya dengan nyawaku. Sekarang aku harus memastikan aku mampu melakukannya."
Ia mengenakan kalung itu di lehernya. Seketika itu juga, aura perlindungan kuno menyebar ke seluruh tubuhnya. Kalung itu akan mengalirkan separuh kekuatan leluhur Pradana kepadanya setiap kali Kirana dalam bahaya, membuatnya menjadi perisai hidup baginya.
"Aku akan memperkuat pengawalan di seluruh wilayah Pradana." lanjut Darma. "Setiap jalan masuk akan dijaga ketat. Tidak ada satu pun bayangan yang bisa masuk tanpa terdeteksi."
Haris menatap putranya dengan pandangan penuh kebanggaan.
"Kau bukan hanya melindungi seorang gadis, Darma. Kau melindungi harapan seluruh dunia. Jangan biarkan apa pun menghalangimu."
 
2. ARGA BAYU — MATA-MATA DAN KEKUATAN BAYANGAN
Di ruangan sayap barat, Arga berdiri di tengah peta besar yang menutupi seluruh dinding. Di sekelilingnya berdiri puluhan pengawal elit Klan Bayu, siap menerima perintah.
"Durga terluka, tapi dia tidak akan diam." ucap Arga dengan suara rendah namun tegas. "Dia pasti sedang menyusun kekuatan baru di tempat yang jauh. Tugas kita adalah menemukannya sebelum dia menyerang."
Ia menunjuk beberapa titik di peta yang ditandai dengan tanda hitam.
"Kirim pasukan pengintai ke wilayah-wilayah yang pernah terkontaminasi kekuatan gelap. Periksa setiap gua, setiap hutan tua, setiap tempat yang tersembunyi. Catat setiap keanehan, sekecil apa pun."
Salah satu pengawal maju selangkah.
"Kapten, jika dia bersembunyi di tempat yang tidak tercatat di peta?"
"Maka kita akan mencium baunya." jawab Arga tajam. "Kekuatan gelap seperti miliknya selalu meninggalkan jejak. Ia merusak tanah, mengubah udara, dan membunuh kehidupan di sekitarnya. Kalian tidak perlu melihatnya, cukup rasakan ketidakberesan di tempat itu."
Arga berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada lebih berat:
"Dan waspadalah. Dia mungkin memiliki mata-mata di antara kita. Jika ada yang berperilaku aneh, atau tiba-tiba menghilang... segera laporkan kepadaku. Jangan tunggu."
Para pengawal mengangguk serentak, lalu bergegas melaksanakan perintah. Arga kembali menatap peta, matanya menyapu setiap sudut wilayah. Ia tahu, musuhnya licik dan sabar. Namun kali ini, Arga tidak akan membiarkannya menyergap secara tiba-tiba.
 
3. BIMA SENA — KEKUATAN TANAH DAN PERISAI
Di halaman belakang yang luas, Bima berdiri di atas tanah yang terbuka. Di hadapannya bertumpuk batu-batu besar dan logam keras yang dibawa dari pegunungan terdekat.
"Kekuatan gelap bisa menembus apa saja." ucap Bima kepada Kesuma yang berdiri di sampingnya. "Tapi tanah dan batu yang kuat tidak akan mudah hancur."
Ia mengangkat kedua tangannya perlahan. Tanah di sekelilingnya bergetar pelan, lalu batu-batu besar itu melayang perlahan di udara. Dengan gerakan tangan yang mantap, Bima menyusun batu-batu itu membentuk dinding tebal yang kokoh di sekeliling area utama Pradana Mansion.
"Kau memperkuat tanah tempat berdiri rumah ini." ucap Kesuma kagum.
"Ya." Bima mengangguk. "Aku menanamkan kekuatan bumi ke dalam tanah ini. Jika ada kekuatan gelap yang mencoba menyerang, tanah ini akan menolaknya. Dan jika pertempuran terjadi di sini, tanah akan menjadi sekutu kita."
Ia kemudian membuat perisai dari logam khusus yang ditempa dengan sihir bumi. Perisai itu terlihat sederhana namun sangat berat dan kokoh.
"Perisai ini akan kubuatkan untuk setiap orang yang akan bertempur bersama kita." ucap Bima sambil memegang perisai itu. "Ia tidak akan mematahkan serangan Phoenix, tapi akan menahan serangan kegelapan jauh lebih lama dari perisai biasa."
Kesuma menatap Bima dengan hormat.
"Kau benar-benar penjaga yang pantas dipercaya."
 
4. ARAN ARUNA — PENGETAHUAN DAN KEKUATAN CAHAYA
Di perpustakaan besar Pradana Mansion, Aran duduk di tengah tumpukan buku-buku kuno yang tinggi. Cahaya lembut dari tubuhnya menyinari halaman-halaman tua yang ia buka.
"Kita tahu apa yang diinginkan Durga." gumamnya pelan. "Tapi kita belum tahu sepenuhnya kelemahan yang ia miliki."
Ia terus membaca lembar demi lembar, mencari catatan kuno tentang asal-usul kekuatan gelap, tentang cara melawannya, dan tentang apa yang bisa menghancurkannya secara permanen.
Tak lama kemudian, ia menemukan sebuah catatan yang ditulis ribuan tahun lalu. Matanya melebar saat membaca isinya.
"Api Phoenix..." bisiknya. "Bukan hanya untuk membakar. Jika dipandu dengan pengetahuan yang benar, ia bisa memurnikan kegelapan hingga ke akar-akarnya."
Aran segera bangkit dan menuju ruang latihan tempat Kirana biasanya berlatih. Saat tiba di sana, ia melihat Kirana sedang berdiri diam memejamkan mata, merasakan aliran kekuatan di dalam dirinya.
"Kirana." panggil Aran pelan.
Kirana membuka matanya dan menoleh.
"Paman Aran..."
"Aku menemukan sesuatu yang penting." ucap Aran sambil duduk di hadapan gadis itu. "Kekuatanmu sangat besar. Tapi selama ini kau hanya menggunakannya untuk menyerang. Kita harus belajar cara mengarahkannya agar bisa menghancurkan Durga sepenuhnya."
Ia membuka buku kuno di hadapan mereka.
"Api Phoenix adalah api kehidupan. Ia membakar kejahatan, tapi melindungi yang baik. Jika kau bisa memahami sifat aslinya, kau tidak perlu lagi takut kekuatanmu akan melukai orang yang kau sayangi."
Kirana menatap tulisan kuno itu dengan saksama, matanya perlahan bersinar penuh semangat baru.
"Aku akan belajar." ucapnya tegas. "Aku akan menguasainya sepenuhnya."
 
5. KESUMA ARDIKA — KEBENARAN DAN TANAH
Di ruang tamu, Kesuma duduk bersama Haris. Di atas meja terbentang dokumen-dokumen lama yang baru saja ia bawa dari kediaman utama Klan Ardika.
"Ada hal yang harus kita ketahui." ucap Kesuma sambil menunjuk salah satu dokumen. "Dimas bukan satu-satunya yang bersekutu dengan kegelapan. Ada jejak lama yang menunjukkan bahwa nenek moyang kita pernah berhubungan dengan kekuatan gelap itu demi keuntungan sesaat."
Haris mengerutkan kening.
"Jadi..."
"Jadi Durga sudah lama mengincar klan-klan pelindung." lanjut Kesuma. "Dia menyusup perlahan, memanfaatkan keserakahan dan kelemahan hati manusia. Itulah sebabnya dia bisa begitu dekat tanpa kita sadari."
Kesuma menarik napas panjang.
"Aku akan membersihkan sisa-sisa pengaruh gelap di seluruh wilayah Klan Ardika. Aku akan memastikan tidak ada lagi jalan yang bisa digunakan musuh untuk masuk kembali."
Haris menatapnya dengan hormat.
"Terima kasih, Kesuma. Tanpa kebenaran ini, kita mungkin masih berjalan dalam kegelapan."
 
Malam itu, semua persiapan telah berjalan. Pengawalan diperketat, informasi dikumpulkan, kekuatan dilatih, dan tanah diperkuat. Setiap orang melakukan bagiannya dengan sepenuh hati.
Dan di tengah semua itu, Kirana berdiri di balkon menatap langit malam. Ia merasakan kekuatan dari setiap orang yang bersamanya. Ia tahu, perang besar sedang menanti. Namun untuk pertama kalinya, ia tidak merasa takut. Karena ia tidak lagi berjuang sendirian.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience