19. Laporan Yang Menghancurkan

Romance Series 17

KLAN BAYU: TEMBOK TAK TERLIHAT & MALU YANG MEMBAKAR
Tiga hari. Tiga hari penuh — jaringan Klan Bayu yang merambah ke setiap sudut kota, setiap kantor catatan, setiap rumah sakit, setiap arsip tertutup — digerakkan habis-habisan.
Tiga hari, hasilnya: NOL.
Arga Bayu berdiri di depan jendela gelap. Tangannya memegang laporan terakhir — bagian atas kosong, bersih, seakan tidak pernah ditulis. Penyelidiknya berlutut di lantai batu, kepala menunduk sampai dahi menyentuh dinginnya lantai. Berani tidak mengangkat wajah.
"Kepala... kami tidak bisa. Semua catatan kelahiran — dihapus. Bukan dihapus. Tidak ada sejak awal. Seakan seseorang berdiri di depan Tuhan saat dia dicatat, dan berkata — ini milikku. Jangan tulis nama orang tua siapa pun."
Arga berbalik perlahan. Matanya dingin, tajam seperti ujung belati. Langkahnya berat, pelan, mendekati orang yang berlutut itu.
"Kau tahu artinya?" suaranya rendah, tidak berteriak — dan itu yang paling menakutkan. "Ada kekuatan yang berdiri DI ATAS KLAN BAYU. Di atas catatan sipil. Di atas hukum. Di atas semuanya. Dan dia melindungi gadis itu sejak hari pertama napasnya."
Ia berhenti tepat di hadapan penyelidik.
"Pergi. Jangan berhenti mencari. Tapi jangan mati mencarinya."
Pintu tertutup. Arga melempar laporan ke meja. Kertas berhamburan. Wajahnya gelap karena kemarahan — bukan pada anak buahnya. Pada dirinya sendiri. Klan Bayu yang ditakuti, yang bisa mencari siapa pun di malam hari — tidak bisa menyentuh masa lalu seorang gadis.
Ia mengambil pena. Tinta hitam pekat. Menulis laporan untuk Haris Pradana. Tembus kertas di beberapa tempat.
Asal-usulnya terkunci rapat. Tidak ada yang bisa membukanya. Bukan karena lemah — tapi karena dia dijaga oleh sesuatu yang lebih tua, lebih gelap, lebih kuat dari klan mana pun. Bahkan dari kita.
Kehidupan hariannya terlampir. Baca sampai habis. Jangan lewatkan satu baris.
— Arga Bayu.
Disegel dengan lilin merah. Dikirim. Tanpa kata sopan. Tanpa salam. Karena ini bukan urusan bisnis. Ini urusan DARAH.
********************
KEDIAMAN PRADANA: KEMARAHAN YANG MEMBUNUH
Surat sampai tepat saat matahari terbenam. Haris membukanya. Darma berdiri di sampingnya.
Halaman pertama — jadwal harian Kirana Ardika.
Pukul 04.30 bangun. Bersihkan lantai sendiri. Makan sisa roti. Dihina setiap pagi. Dihukum berdiri di teras tanpa payung saat hujan. Dilarang bicara. Dilarang tertawa. Dilarang menatap mata siapa pun di rumah itu. Dimas Ardika menyebutnya aset di depan tamu. Serena memukulnya jika berjalan terlalu cepat atau terlalu lambat. Larasati merobek pakaiannya di hadapan pelayan.
Haris membaca. Tangan kirinya mengepal begitu erat hingga urat biru menonjol di leher. Napasnya terdengar seperti api menyapu jerami.
Darma membaca di sebelahnya. Wajahnya tidak berubah — pucat, dingin, mati. Tapi tinjunya menghantam meja kayu keras. Duar!!! Bunyi gemuruh. Retakan menjalar di permukaan meja. Kertas-kertas melompat. Gelas berisi air jatuh, pecah berkeping-keping.
"Mereka memperlakukan calon menantu Klan Pradana seperti sampah!!!" Darma berteriak — bukan histeris. Suara dalam, menggelegar, membuat dinding ruang kerja bergetar. "Tujuh hari lagi. TUJUH HARI. Dan mereka menyiksanya selama bertahun-tahun seolah dia tidak bernapas!!!"
Haris meletakkan kertas perlahan. Matanya tidak merah karena sedih. Merah karena darah mendidih. Ia menatap putranya.
"Dengar baik-baik. Mulai detik ini — setiap perjanjian bisnis antara Pradana dan Ardika ditangguhkan. Semua pembayaran ditahan. Semua proyek bersama dihentikan. Katakan pada mereka — ada peninjauan ulang. Jangan beri alasan. Biarkan mereka panik. Biarkan mereka menelepon. Biarkan mereka memohon. Jangan angkat telepon."
Darma mengangguk. Matanya menyala dingin.
"Mereka pikir dia barang yang bisa dibeli, dipukul, dibuang," ucap Darma rendah. "Mulai hari ini, Ayah, aku akan membuat mereka berlutut di lantai yang sama tempat mereka menyuruhnya berdiri berjam-jam."
"Tujuh hari lagi pernikahan," Haris berkata pelan, tapi setiap kata berberat seperti besi. "Tujuh hari. Dan setiap hari sebelum hari itu — biarkan mereka merasakan sedikit dari apa yang dia rasakan seumur hidup. Ketakutan. Kebingungan. Kepanikan. Rasa tidak berdaya."
Ia berdiri. Tinggi, tegak, mengerikan.
"Dimas Ardika pikir dia menikahkan anaknya untuk mendapatkan kekayaan Pradana. Katakan padanya — dia baru saja menjual jiwanya. Dan pembelinya bukan kita. Pembelinya adalah gadis yang dia injak setiap hari."
Darma mengambil mantelnya. Langkahnya tidak terburu-buru. Tapi setiap langkah berarti.
"Saya akan pastikan mereka tahu rasa takut," ucapnya di ambang pintu. "Tanpa menyentuh sehelai rambut pun di kepala mereka. Hancurkan bisnis mereka dulu. Hancurkan reputasi mereka. Lalu biarkan mereka saling memakan."
Pintu tertutup. Haris menatap foto Kirana yang tergeletak di meja. Ia menyentuhnya dengan jari telunjuk.
Tujuh hari lagi. Bertahanlah. Neraka mereka sudah dimulai.
 ****************
KEDIAMAN ARDIKA: RASA TAKUT YANG BARU
Di kediaman Ardika, telepon berdering berkali-kali. Dimas menjawab. Tidak ada jawaban. Ia menelepon kembali. Disambung ke nada sibuk. Ke pesan suara. Ke diam.
Serena berjalan gelisah di ruang tamu. "Mereka tidak menjawab? Sudah tiga hari!"
Dimas melempar telepon ke sofa. Wajahnya gelap, berkeringat. "Tidak ada pesan. Tidak ada penjelasan. Semua pembayaran ditahan. Mitra bisnis menelepon bertanya apa terjadi. Mereka bilang — Pradana menahan semua aliran dana."
Larasati berdiri di sudut, bibirnya pucat. "Apakah... apakah ada sesuatu yang salah dengan pernikahan?"
Dimas menatapnya tajam. "Tidak ada yang salah dengan pernikahan. Yang salah adalah mereka tiba-tiba berubah sikap tanpa alasan!" Ia berjalan mondar-mandir. "Mereka butuh kita. Kita butuh mereka. Ini kesepakatan bisnis. Tidak bisa dibatalkan begitu saja!"
Serena mengepal tangannya. "Mungkin mereka menuntut mahar lebih rendah. Mungkin mereka ingin syarat lain."
"Atau mungkin..." Dimas berhenti, menelan ludah, "mungkin seseorang bicara sesuatu. Seseorang yang tidak seharusnya bicara."
Ketiganya menatap ke arah tangga. Ke arah pintu kamar Kirana di lantai atas.
Serena mencibir. "Dia? Apa yang bisa dia katakan? Dia tidak pernah keluar rumah. Dia tidak kenal siapa pun. Dia tidak berani menatap mata kami!"
Tapi suaranya bergetar. Dan Dimas tidak menjawab. Karena di lubuk hatinya — dia tahu. Sesuatu berubah. Dan perubahan itu bermula dari hari gadis itu pulang sendirian.
"Tujuh hari lagi," gumam Dimas, berusaha meyakinkan dirinya sendiri. "Tujuh hari dan pernikahan terjadi. Tidak ada yang bisa menghentikannya."
Tidak ada yang menjawab. Tapi di atas tangga, di balik pintu kamar yang tertutup — Kirana berdiri diam. Mendengar semuanya. Tidak bergerak. Tidak bersuara. Matanya terbuka.
Tujuh hari.
Satu minggu.
Dan neraka bukan tempat yang dituju setelah mati. Neraka adalah tempat yang mulai runtuh di bawah kaki mereka.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience