105. Maaf Dan Peringatan Tersembunyi

Romance Series 154

Suasana di ruang tamu utama perlahan kembali tenang setelah kepergian keluarga Surya. Pintu besar tertutup pelan, menyisakan keheningan yang hangat di antara mereka. Kirana masih berdiri di tempatnya, jari-jemari lembut menyentuh permukaan kotak kayu berukir halus yang baru saja ia terima. Tatapannya menerawang jauh, seakan menelusuri kembali jejak-jejak masa lalu yang kelam dan sepi.
Darma melangkah mendekat perlahan, berdiri di samping gadis itu tanpa menyela keheningannya. Ia menatap wajah samping Kirana yang tenang namun penuh renungan, membiarkannya menyusun kembali pikiran-pikirannya sendiri.
"Aku baru saja menyadarinya..." suara Kirana terdengar pelan namun jernih, memecah keheningan. "Selama ini aku mengira semua orang memandang rendah kepadaku, semua orang ikut merendahkanku. Namun ternyata... kebanyakan dari mereka hanya tidak tahu. Mereka hanya melihat apa yang diperlihatkan kepada mereka — anak yang tidak diinginkan, yang tidak memiliki siapa pun, yang tidak berharga."
Ia menunduk sedikit, pandangannya jatuh pada kotak di tangannya.
"Mereka tidak membenciku. Mereka hanya tidak tahu siapa aku sebenarnya. Dan karena itu... permintaan maaf keluarga Surya tadi... membuatku menyadari satu hal. Yang benar-benar jahat bukanlah mereka yang berdiri diam dalam ketidaktahuan. Yang benar-benar jahat adalah mereka yang mengetahui kebenaran namun sengaja menyembunyikannya. Yang sengaja membuatku tampak tidak berharga agar kebenaran tidak pernah terungkap."
Darma menatapnya lekat-lekat, nada bicaranya tenang namun penuh penegasan.
"Kau benar sekali. Banyak orang keliru karena mata mereka sengaja ditutupi. Namun ada perbedaan yang sangat jelas antara mereka yang tidak tahu dan tetap bersikap sopan... dan mereka yang sengaja menindas dan menyakiti meskipun mereka mengetahui kebenaran sejak awal."
Wajah Kirana perlahan berubah lebih tegas.
"Maksudku... Dimas, Serena, dan Larasati. Mereka tahu. Mereka selalu tahu siapa ibuku. Mereka tahu bahwa aku bukan anak biasa. Namun mereka memilih menyembunyikannya, memilih menyiksaku, memilih membiarkan semua orang memandang rendah kepadaku agar rahasia itu tetap terjaga. Dan sekarang... mereka telah memilih jalan yang jauh lebih gelap demi keuntungan semata."
Ia menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan bersama segala perasaan yang memenuhi dadanya.
"Jadi... maaf yang tadi kuberikan kepada keluarga Surya... adalah karena mereka salah karena tidak membela kebenaran. Tapi mereka tidak menyembunyikannya. Sedangkan Ardika... mereka menyembunyikan segalanya. Dan itu... adalah pengkhianatan yang jauh lebih besar."
Darma meletakkan tangannya perlahan di atas bahu Kirana, menatapnya dengan pandangan yang dalam dan penuh perhatian.
"Kemaafanmu menunjukkan kebesaran hatimu, Kirana. Dan itu adalah kekuatan terbesarmu. Namun jangan pernah melupakan perbedaan itu. Jangan pernah melupakan siapa yang berdiri diam karena tidak tahu... dan siapa yang sengaja melukaimu meskipun mereka tahu segalanya. Jangan pernah lengah terhadap mereka yang menyembunyikan kebenaran demi keuntungan sendiri."
Kirana menatapnya, mata jernihnya memantulkan tekad yang semakin kuat.
"Aku tidak akan lupa. Aku sudah paham... siapa yang pantas diberi kesempatan untuk memperbaiki diri... dan siapa yang tidak pantas dipercaya sedetik pun."
 
Saat langkah kaki Haris perlahan menjauh menuju ruang kerjanya dan hanya tersisa mereka berdua di ruangan itu, Kirana perlahan meletakkan kotak kayu berukir itu di atas meja kayu jati yang lebar. Ia ingin melihat apa yang ada di dalamnya — hadiah dari keluarga Surya yang diserahkan dengan penuh ketulusan sekaligus sedikit kecemasan yang tersembunyi.
Tutup kotak itu terbuka perlahan. Di dalamnya, terbaring seuntai kalung sederhana namun memancarkan keindahan yang tenang. Sebuah batu giok berwarna hijau tua, bening dan jernih, terpasang rapi di atas perak yang tidak berkilau berlebihan. Bentuknya sederhana, tidak rumit, namun terasa sejuk memancarkan hawa segar begitu pandangan mata jatuh ke atasnya.
Namun saat jari Kirana hampir menyentuh batu itu, sebuah suara lembut namun jernih tiba-tiba terdengar dari arah jendela yang terbuka.
"Jangan terburu-buru menyentuhnya, Kirana."
Kirana menoleh seketika. Aran Aruna berdiri di sana, seakan baru saja melangkah keluar dari bayang-bayang cahaya bulan. Wajahnya yang biasanya tenang kini tampak sedikit serius. Ia melangkah mendekat, matanya terpaku lekat-lekat pada batu giok di dalam kotak itu.
"Ini..." bisik Aran pelan, seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia mengulurkan tangan perlahan, jarinya melayang di atas permukaan batu itu tanpa menyentuhnya.
Batu giok itu tiba-tiba berubah warna. Hijau tua yang tenang perlahan berdenyut menjadi hijau terang, lalu samar-samar memancarkan kabut putih yang tipis. Cahaya itu lembut, namun Aran menarik napas dalam-dalam seakan baru saja menyadari sesuatu yang sangat penting.
"Batu ini..." Aran menatap Kirana dengan mata yang melebar sedikit. "Batu ini bukan sekadar perhiasan biasa. Ini adalah Batu Penenang — batu kuno yang telah diproses dengan sihir cahaya kuno sejak ratusan tahun silam. Sifatnya adalah mendeteksi keberadaan sihir gelap."
Kirana terkejut mendengarnya.
"Mendeteksi... sihir gelap?"
"Benar." Aran mengangguk mantap. "Di hadapan orang yang memiliki niat baik dan hati yang tulus, batu ini akan tetap berwarna hijau tenang seperti air danau. Namun jika berada di dekat sihir gelap atau makhluk kegelapan... batu ini akan berubah menjadi merah menyala dan terasa panas hingga membakar kulit pemakainya. Bahkan bisa mengeluarkan bunyi peringatan halus yang hanya bisa didengar oleh pemiliknya."
Kirana kembali menatap batu itu dengan pandangan yang berbeda sekarang.
"Jadi... hadiah ini..."
"Hadiah ini bukan sekadar permintaan maaf." Aran menatapnya lekat-lekat, matanya memancarkan pemahaman yang mendalam. "Bagas Surya memberikannya kepadamu sebagai peringatan tersembunyi. Dia tidak berani mengatakannya secara langsung di hadapan semua orang. Namun dia tahu. Dia sudah lama menyadari bahwa ada kekuatan gelap yang bergerak di dalam kerajaan ini, menyembunyikan jejak dan menyusun rencana. Dia tidak berani mengatakannya secara terbuka karena takut. Maka dia memberikannya kepadamu... agar kau selalu waspada."
Aran menatap batu itu yang perlahan kembali berwarna hijau tenang.
"Permintaan maafnya tulus. Namun hadiah ini... adalah pesan sesungguhnya yang tidak berani diucapkan dengan lisan. 'Berhati-hatilah. Bahaya yang kau hadapi lebih besar dari yang kau duga.' Begitulah maksud sesungguhnya dari pemberian ini."
Kirana terdiam lama. Jantungnya berdetak perlahan namun terasa berat. Bagas Surya yang selama ini dikenal sombong dan penuh perhitungan ternyata menyadari bahaya itu sejak lama. Ia tidak berani berbicara secara terbuka karena takut menjadi sasaran berikutnya. Namun ia memilih untuk memberi tahu Kirana dengan cara yang paling aman — melalui batu kuno yang tidak akan menarik perhatian siapa pun kecuali mereka yang mengerti maknanya.
"Dia tahu..." bisik Kirana pelan, matanya berkaca-kaca. "Dia tahu bahayanya... dan dia memperingatkanku."
"Dan itu berarti satu hal lagi." Aran menatapnya dengan tatapan yang semakin serius. "Bahaya yang kau hadapi tidak hanya datang dari keluarga Ardika. Bahaya itu jauh lebih besar, jauh lebih tua, dan jauh lebih gelap dari yang kau bayangkan. Bagas Surya tidak berani berbicara secara terbuka tentang bahaya itu... karena dia takut kekuatan gelap itu akan mendengar dan datang kepadanya."
Kirana perlahan mengangkat batu itu dari dalam kotak. Terasa sejuk di tangannya, menenangkan sekaligus memberi kekuatan. Ia memandang batu hijau itu lekat-lekat, seakan melihat di dalamnya kehati-hatian Bagas, ketulusan Susanti, dan peringatan yang tidak sempat terucap.
"Terima kasih..." ucapnya pelan kepada batu itu, seakan berbicara kepada keluarga Surya yang sudah pulang jauh ke kediaman mereka. "Aku mengerti maksud kalian. Dan aku akan berhati-hati."
Darma yang sedari tadi mendengarkan dalam diam melangkah maju, menatap batu di tangan Kirana dengan pandangan yang tajam namun penuh penghargaan.
"Mulai hari ini..." ucapnya pelan namun tegas, "Kau tidak akan pernah sendirian menghadapinya. Dan batu itu... akan menjadi saksi setiap kali bahaya mendekat. Selama batu itu tetap hijau tenang... berarti aman. Namun jika ia berubah warna... maka kita harus siap menghadapi apa pun yang datang."
Kirana mengangguk mantap. Ia menggenggam batu giok itu erat di dadanya, merasakan kesejukan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Di luar sana, bahaya memang bersembunyi dalam kegelapan. Namun kini ia tidak hanya memiliki kekuatan api Phoenix dan cahaya Lembayung. Ia juga memiliki peringatan setia dari seseorang yang memilih untuk berdiri di sisi kebenaran dengan cara yang bijaksana. Dan ia tahu... selama batu itu tetap tenang di dadanya, ia tidak akan pernah lengah. Karena setiap kali bahaya mendekat... batu itu akan memberitahunya lebih dulu.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience