68. Kesedihan Dan Bayangan Yang Hadir

Romance Series 154

SEPULUH HARI YANG MENGHANCUR
Sepuluh hari berlalu di dunia luar. Sepuluh hari yang terasa seperti sepuluh tahun bagi keluarga Ardika.
Pagi itu, Dimas berdiri di ruang kerjanya, tangan gemetar memegang tumpukan laporan keuangan yang kian menipis. Keringat dingin menetes di pelipisnya. Telepon berdering berturut-turut — pemasok menagih hutang, pengurus perusahaan melaporkan penurunan saham yang tak terkendali, dan bank mulai mengirim surat peringatan.
Pintu terbuka kasar. Serena masuk dengan wajah masam, diikuti Larasati yang berjalan dengan langkah berat dan wajah merah padam.
"Dimas! Kenapa kartu kreditku ditolak lagi?!" seru Serena, suaranya meninggi. "Tadi pagi aku mau beli kain sutra baru, dan kasir bilang saldo tidak mencukupi! Apa maksudnya?!"
Dimas menutup mata sejenak, menekan pelipisnya yang terasa sakit sekali.
"Perusahaan sedang mengalami kesulitan, Serena. Permintaan barang menurun drastis. Mitra bisnis menarik diri satu per satu. Kita harus berhemat dulu."
"Berhemat?!" Larasati tertawa sinis, matanya berkaca-kaca penuh amarah. "Kenapa harus aku yang berhemat?! Kenapa bukan dia? Kirana yang pergi dengan harta dan perjodohan itu! Dia yang seharusnya membantu kita! Tapi dia malah menikmati kemewahan di rumah Pradana!"
"Jangan sebut nama itu!" bentak Dimas tiba-tiba, tangannya mengepal erat di atas meja. Rasa sakit kepala itu semakin hebat, seakan ada sesuatu yang berputar di dalam kepalanya. "Dia bukan bagian dari keluarga ini lagi! Kita akan bangkit kembali! Aku janji!"
Namun janji itu terdengar lemah bahkan di telinganya sendiri.
 
KEBANGGAAN YANG DIHANCURKAN
Siang itu, Larasati pergi ke pusat perbelanjaan terbesar di kota. Ia berusaha tampil seolah tidak ada yang berubah — mengenakan gaun yang masih terlihat bagus, memakai perhiasan yang tersisa. Namun saat ia melangkah masuk ke butik pakaian mewah, suara tawa halus terdengar dari arah samping.
Susanti Surya berdiri di sana, ditemani beberapa temannya. Ia menatap Larasati dari ujung kepala hingga kaki, lalu tersenyum miring penuh ejekan.
"Bukankah itu Larasati Ardika?" ucap Susanti dengan suara yang cukup didengar semua orang di sana. "Wah... sudah lama tidak melihatmu. Katanya... keluarga Ardika sedang kesulitan ya? Sampai-sampai kau tidak membeli gaun baru lagi?"
Teman-teman Susanti tertawa pelan. Wajah Larasati memerah padam, rasa malu dan marah membakar dadanya.
"Kau tidak tahu apa yang kau bicarakan!" bentaknya. "Kami hanya sedang mengatur keuangan! Ardika masih..."
"Masih apa?" Susanti melangkah mendekat, menatapnya tajam. "Masih kaya? Atau sudah bangkrut? Aku dengar Pradana memutuskan kerja sama dengan kalian. Dan sekarang... tidak ada satu pun keluarga besar yang mau berurusan dengan Ardika. Kasihan sekali... padahal kau selalu membanggakan dirimu."
Larasati tidak sanggup menahan lagi. Ia berbalik dan berlari keluar dari butik itu, meninggalkan tawa dan bisikan yang terus mengekor di belakangnya.
 
KEBENCIAN YANG MENJADI MAKANAN GELAP
Larasati pulang dengan mata bengkak dan wajah basah oleh air mata. Ia melemparkan tasnya ke lantai dan duduk di sofa ruang tamu, menangis sejadi-jadinya. Serena datang menghampiri, memeluk bahu putrinya, namun air mata juga mengalir di pipinya sendiri.
"Kenapa... kenapa harus begini?!" isak Larasati. "Kirana mengambil semuanya! Dia mengambil perjodohan, kekayaan, dan masa depanku! Semua ini terjadi karena dia!"
"Benar..." Serena mengepalkan tangan erat. "Jika dia tidak pernah datang... jika dia tidak ada di antara kita... semua ini tidak akan terjadi. Dia pembawa sial!"
Mereka berbicara dengan penuh kebencian, menyalahkan Kirana atas segala kemalangan yang menimpa mereka. Mereka tidak tahu... di sudut ruangan yang gelap, di balik tirai jendela yang tebal... sesosok bayangan hitam berdiri diam, mendengarkan setiap kata dengan senyum yang perlahan melebar.
Bayangan itu menyerap setiap tetes kebencian, setiap rasa iri, setiap amarah yang meluap. Dan semakin mereka membenci Kirana... semakin terang bercahaya mata merah di dalam bayangan itu.
 
BAYANGAN YANG MENJADI NYATA
Malam telah turun. Dimas baru saja pulang dari kantor dengan wajah pucat dan langkah gontai. Ia masuk ke ruang tamu, hendak berbicara dengan istri dan anaknya, namun tiba-tiba... suasana di ruangan itu berubah.
Udara menjadi dingin secara tiba-tiba. Cahaya lampu berkedip pelan, lalu meredup sepenuhnya. Suara angin berhembus pelan di dalam ruangan yang tertutup itu.
Dimas berhenti melangkah. Serena dan Larasati bangkit berdiri dengan wajah pucat ketakutan.
"Siapa di sana?!" seru Dimas, mencoba menahan getaran di suaranya. "Keluarlah!"
Suara rendah dan berat terdengar dari segala arah sekaligus, seakan memenuhi seluruh ruangan.
"Betapa menyenangkannya... kebencian yang begitu murni dan membara."
Darah mereka membeku. Suara itu tidak terdengar seperti suara manusia biasa.
Perlahan, di tengah ruangan, bayangan hitam mulai berkumpul, memadat, dan perlahan membentuk sosok manusia. Sosok tinggi dengan jubah hitam pekat yang seakan menyerap semua cahaya di sekelilingnya. Wajahnya tertutup bayangan, namun sepasang mata merah menyala menatap mereka dari kegelapan.
Serena dan Larasati mundur berpegangan tangan, napas mereka tercekat. Dimas berdiri tegak meski kakinya gemetar hebat.
"Siapa kau?!" tanyanya dengan suara bergetar. "Apa yang kau inginkan dari keluarga kami?!"
Sosok itu melangkah maju perlahan. Setiap langkahnya membuat lantai bergetar pelan.
"Namaku... Durga."
Nama itu terasa asing namun menakutkan di telinga mereka.
"Aku datang... karena aku mendengar doa hati kalian." Durga menatap Dimas lekat-lekat, seakan melihat sesuatu yang tersembunyi di dalam dirinya. "Dan kau... Dimas Ardika. Kau memiliki sesuatu yang sangat menarik. Sisa jejak sihir kuno yang tertanam di dalam darahmu. Sangat menarik..."
Dimas mengerutkan kening, bingung dan takut.
"Sihir? Apa maksudmu? Aku tidak mengerti..."
"Tidak perlu mengerti." Durga tersenyum miring, senyum yang membuat bulu kuduk berdiri. "Yang perlu kau tahu... aku bisa mengembalikan semuanya. Kekayaan, kehormatan, dan posisi yang dulu kalian miliki. Bahkan... lebih dari itu."
Mata Larasati dan Serena membelalak. Mereka saling pandang, seakan tidak percaya mendengarnya. Dimas menatap Durga dengan tatapan curiga namun penuh harap.
"Apa yang harus kami lakukan sebagai gantinya?" tanya Dimas pelan.
Durga tertawa pelan, suaranya bergema dingin di ruangan itu.
"Sangat sederhana." Ia menatap mereka satu per satu. "Kalian hanya perlu... membantuku mendapatkan seseorang. Gadis bernama Kirana."
Wajah Dimas berubah seketika. Larasati melangkah maju tanpa ragu.
"Apa saja yang kau minta! Kami akan melakukannya!" seru Larasati cepat. "Asalkan Kirana mendapatkan apa yang pantas dia terima!"
"Dan kekayaan?" tanya Serena dengan suara bergetar penuh harap. "Kau berjanji akan mengembalikannya?"
Durga tersenyum lebar, sepasang mata merahnya menyala semakin terang.
"Tentu saja. Kekayaan, kemewahan, dan segala yang kalian inginkan... akan menjadi milik kalian. Asalkan... kalian menepati janji kalian."
Dimas menatap sosok itu lama. Rasa sakit kepalanya tiba-tiba hilang seketika. Di dalam hatinya, ada sesuatu yang gelap perlahan terbangun. Ia mengangguk pelan.
"Baiklah. Kami setuju."
Durga tertawa puas. Cahaya merah di matanya menyala terang sekali, seakan merayakan perjanjian yang baru saja terjalin.

"Bagus sekali." Suaranya berubah menjadi lebih dalam dan bergetar. "Namun perjanjian ini tidak sah hanya dengan kata-kata. Kita harus mengikatnya dengan sihir kuno — agar tidak ada yang bisa melanggarnya."
Ia mengangkat tangan kanannya perlahan. Cahaya merah pekat mengalir dari telapak tangannya, membentuk lingkaran bercahaya di udara di antara mereka.
"Dimas Ardika, Serena, dan Larasati..." Durga menyebut nama mereka satu per satu dengan nada yang berat. "Apakah kalian bersumpah setia padaku? Apakah kalian bersedia memberikan jiwa dan kesetiaan kalian sebagai jaminan, sebagai ganti kekayaan dan kekuasaan yang kuberikan?"
Serena dan Larasati saling pandang, lalu mengangguk tanpa ragu. Dimas menatap cahaya merah itu sejenak, rasa sakit kepalanya kembali muncul namun kali ini terasa berbeda — seperti ada sesuatu yang lama tertidur di dalam dirinya ikut terbangun.
"Ya, kami bersumpah." jawab Dimas.
"Maka dengan ini..." Durga melambaikan tangan, dan tiga benang cahaya merah melesat dari lingkaran itu, menembus dada mereka masing-masing tanpa melukai kulit. "Perjanjian ini sah. Terikat dengan darah dan jiwa kalian. Tak bisa diputus, tak bisa diingkari."
Cahaya itu menyatu dengan tubuh mereka. Sesaat... mereka merasakan sesuatu yang dingin namun kuat merambat di dalam dada, menyatu dengan detak jantung mereka.
"Perjanjian telah berhasil." Durga tersenyum puas. "Mulai saat ini... kalian bekerja untukku. Dan apa yang kalian inginkan... akan segera datang."
Dimas merasakan beban berat yang selama ini memikul pundaknya seketika hilang. Serena dan Larasati merasakan harapan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Mereka tidak sadar... dengan sumpah itu, mereka telah menyerahkan sebagian jiwa mereka kepada kegelapan selamanya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience