Series
154
⏳ DUA HARI YANG TERASA BERTAHUN
Kesunyian menyelimuti aula utama kediaman Pradana sejenak setelah mata mereka semua beralih dari kalender digital ke wajah satu sama lain.
Haris masih menatap angka tanggal di layar dengan pandangan yang tak percaya.
"Dua hari..." bisiknya pelan, seakan masih belum bisa menerima kenyataan. "Kalian masuk ke sana kemarin sore... dan sekarang baru dua hari berlalu. Padahal rasanya... seolah kita telah melewati berbulan-bulan di dalam sana."
Bima Sena mengangguk perlahan, tangannya menepuk-nepuk debu halus yang tak terlihat dari lengan bajunya.
"Waktu di alam yang berbeda memang tak bisa diukur dengan jam biasa. Yang terasa lama bagi kita... bisa saja hanya sekejap bagi dunia luar."
Aran Aruna tersenyum bangga, matanya berkilau seperti bintang di langit malam.
"Bukankah itu hal yang indah? Kalian mendapatkan kekuatan dan pengetahuan berbulan-bulan... tanpa menyia-nyiakan waktu di dunia nyata. Hadiah yang paling berharga, bukan?"
Kirana menyentuh gelang cahaya di pergelangan tangannya, merasakan kehangatan lembut yang masih menyala di bawah kulit. Ia menatap wajah mereka satu per satu — Haris yang tampak lega, Darma yang menatapnya dengan pandangan penuh perlindungan, Bima yang tenang, Aran yang ceria, dan Arga yang sejak tadi berdiri diam di sudut ruangan, jari-jemarinya perlahan mengetuk pelan ke pinggangnya seakan sedang menyusun rencana di dalam kepala.
JEJAK YANG HILANG
Arga akhirnya melangkah maju, tatapannya tertuju langsung pada Aran Aruna.
"Aran..." suaranya rendah namun tegas, khas seseorang yang terbiasa bergerak dalam diam. "Kau tahu banyak hal. Hal-hal yang bahkan catatan tertua di perpustakaan Klan Bayu tidak mencatat. Aku ingin bertanya sesuatu padamu."
Aran mencondongkan tubuh sedikit, senyumnya masih tak hilang dari wajah.
"Tanyakan saja. Selama itu tidak melanggar aturan leluhurku... aku akan menjawab."
Arga menatapnya lurus ke mata.
"Juragas Ardika. Sesepuh Klan Ardika yang dulu bersumpah bersama leluhur kita. Dan putra kandungnya... Kesuma Ardika. Yang dikatakan hilang tanpa jejak puluhan tahun lalu. Di mana mereka sebenarnya? Atau... setidaknya di mana Kesuma berada saat ini?"
Aran terdiam seketika. Matanya yang berwarna keperakan menyipit perlahan, seakan sedang menimbang sesuatu yang berat. Ia memiringkan kepala sedikit, lalu menghela napas panjang yang berbau seperti hutan purba.
"Itu adalah nama yang seharusnya tidak lagi disebut dengan sembarangan..." ucapnya pelan. "Aku bisa saja memberitahumu lokasinya secara langsung. Tapi... apakah kau benar-benar ingin tahu jawabannya begitu saja?"
Arga tersenyum tipis, senyum yang jarang terlihat di wajahnya yang biasanya dingin.
"Tidak. Aku hanya butuh petunjuk. Cukup satu petunjuk saja. Biarkan anak buahku yang bekerja mencari sisanya. Mereka butuh tugas agar tidak menjadi terlalu malas."
Aran tertegun sejenak, lalu tiba-tiba tertawa renyah.
"Kau benar-benar orang yang menarik, Arga Bayu. Baiklah... jika itu yang kau minta."
Ia melangkah mendekat, jari telunjuknya bersinar lembut dengan cahaya keperakan. Cahaya itu melayang pelan di udara, membentuk pola samar sebelum perlahan memudar.
"Cari di tempat di mana tanah menyerap air namun tak pernah terlihat mengalir keluar. Di tempat di mana pohon-pohon tua tumbuh memeluk batu besar yang bertuliskan nama-nama leluhur. Di sana... ia menunggu. Menunggu saat yang tepat untuk kembali."
Arga mengangguk pelan, menyimpan petunjuk itu di dalam ingatannya seakan mengukirnya di atas batu.
"Terima kasih. Itu sudah cukup."
RENCANA BERSAMA
Arga kemudian berbalik menatap Kirana, lalu beralih ke Haris dan yang lainnya.
"Kesuma Ardika adalah pewaris sah Klan Ardika yang sebenarnya. Dia adalah penjaga yang seharusnya berdiri di garis depan melindungi garis keturunan Phoenix. Jika kita ingin mengungkap semua kebenaran... kita harus menemukannya. Dan kita harus memastikan dia berada di pihak kita."
Kirana mengerjap pelan.
"Kau yakin dia akan membantu?" tanyanya lembut. "Selama ini... aku tidak pernah mendengar namanya disebut di rumahku."
"Itu karena Dimas tidak ingin kau tahu." jawab Arga tegas. "Dimas bukan pewaris sah. Dia mengambil alih tempat yang seharusnya milik Kesuma. Dan jika Kesuma masih hidup... dia adalah satu-satunya orang yang bisa membuktikan semua kebenaran tentang masa lalumu."
Darma melangkah maju berdiri di samping Kirana.
"Aku setuju. Semakin banyak kita tahu tentang masa lalu... semakin kuat posisi kita menghadapi apa pun yang datang."
Bima Sena juga mengangguk.
"Dan kekuatan Klan Ardika sebagai penjaga tidak akan kembali sepenuhnya tanpa pemimpin yang sah. Kita butuh dia."
Arga menatap Kirana dengan pandangan yang serius namun tidak kasar.
"Aku akan mencari Kesuma. Tapi aku memintamu satu hal, Kirana. Jangan bertindak sendiri terlebih dahulu. Biarkan kami bekerja bersamamu. Empat penjaga... seharusnya bergerak bersama. Jika kau menyerang duluan... kita tidak akan bisa saling melindungi."
Kirana menatap mereka satu per satu — wajah-wajah yang kini berdiri di sisinya, bukan untuk mengambil sesuatu darinya, melainkan untuk melindunginya. Ia mengangguk perlahan, hatinya terasa lebih tenang dari sebelumnya.
"Baiklah. Aku akan menunggu. Aku percaya pada kalian."
SATU MINGGU
Arga sedikit tersenyum mendengar jawaban itu.
"Aku hanya butuh waktu satu minggu. Petunjuk dari Aran sudah sangat jelas. Wilayah yang dimaksud tidak terlalu luas. Dalam tujuh hari... aku akan membawa kabar tentang Kesuma Ardika."
Ia menoleh sekali lagi pada Aran.
"Terima kasih atas petunjukmu. Jika kau benar... aku akan mengucapkan terima kasih lagi setelah tugas ini selesai."
Aran melambaikan tangan ringan.
"Pergilah. Semoga angin selalu berpihak padamu."
Arga menunduk hormat pada Haris, lalu menatap Kirana sekali lagi sebelum berbalik melangkah keluar dari aula. Langkahnya cepat dan tenang, seketika lenyap di balik pintu besar seakan tak pernah ada di sana.
Haris menatap ke arah pintu yang tertutup, lalu menoleh pada mereka yang masih tinggal.
"Satu minggu. Selama itu... kita bersiap. Kita tidak tahu apa yang akan ditemukan Arga. Dan kita tidak tahu apa yang sedang direncanakan di seberang sana."
Kirana kembali menyentuh gelang di tangannya, merasakan aliran hangat yang perlahan menyatu dengan kulitnya.
Satu minggu. Tunggu sebentar lagi... Ayah, Ibu... dan Kesuma Paman... aku akan segera menemukan kalian.
Share this novel